September 23, 2009

Bab 7

Bab 7
Up Close And Personal


Setelah Tono marah-marah hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari band kecil-kecilan bikinan Brian, Viona, Dennise, dan Velope, keenam personil asli dan keempat cewek tadi merasa lega. Minimal mereka bersepuluh nggak harus ngeluarin kocek buat beli penyumbat telinga. Atau, ngeluarin kocek yang lebih besar buat memeriksakan pendengaran ke THT. Maksimalnya adalah, peluang band kecil-kecilan itu untuk menjadi sukses menjadi besar...an. Kalo nggak ada Tono kan band itu bisa lebih di respect dong. Secara isinya nggak ada yang diluar batas normal. Mereka kalo mau jalan bareng-bareng juga nggak perlu khawatir lagi bakalan dikata-katain. Paling tinggal Dedi aja nih yang perlu di ‘sekolahin’ dulu. Di sekolah jaman sekarang. Biar dia nggak terlalu tua kayak yang sekarang ini.
Sekarang mereka bertujuh—minus Abe, Dimi, dan Dedi, lagi pada ngakak bareng-bareng soalnya lagi inget-inget kejadian pas tadi Tono lagi di sudutin. Empat cewek bengis dan tiga cowok sadis. Mereka semua tertawa terpingkal-pingkal karena menurut mereka kejadian itu lucu dan emang seharusnya ditertawakan. Nggak lupa sambil mencicipi minuman dan makanan yang mereka pesan selagi pada kayak gitu. Keliatannya sih emang wajar ya, tapi sebetulnya nggak. Ketiga cowok itu kan baru aja kenal—kecuali Adri dan Rendy yang emang udah kenal. Tapi Riri dan Adri? Rendy dan Riri? Mereka kan baru aja kenal hari itu juga, tapi udah langsung bisa ngakak bareng-bareng gitu. Kenapa mereka bisa kayak gitu? Soalnya keempat juri yang emang udah mereka kenal dalam hitungan minggu ikutan juga.
Pikirin deh, kalo ada seseorang yang baru kenal sama orang ataupun nggak kenal sama sekali ada dalem satu lingkup dengan seseorang yang emang udah kenal sama dia dan orang yang dia baru kenal ataupun yang dia nggak kenal itu. Pasti mau nggak mau ya bergaul juga dong. Ribet ya? nggak mudeng? Oke. Ini nih contohnya, A baru kenal sama B. Terus mereka berdua jalan bareng C, D, sama E. Nah C, D, sama E ini emang udah kenal sama A dan B. Ya otomatis A dan B jadi makin kenal dong. Sama kayak yang terjadi sekarang ini. Riri yang baru kenal sama Rendy dan Adri bisa kenalan dan ngakak bareng dalam satu hari itu karena ada Velope, Viona, Brian, dan Dennise yang emang dia, Adri, dan Rendy kenal. Jadi jangan berfikiran, “Ah lebay, masa sih bisa deket kayak gitu padahal baru kenal?”
Ah, balik ke ceritanya sekarang. Jadi pas itu bertujuh lagi pada ngakak, Dimi ngobrol sama Abe. Biasa, Dedi mengasingkan diri lagi. Akhirnya setelah sekian lamanya mereka bertujuh itu ngakak gara-gara inget-inget pas mereka nyudutin Tono, Brian berhenti tertawa. Dia inget, ada yang jauh lebih penting daripada ngerayain keluarnya Tono.
“Nah, sekarang kan pengganggunya udah nggak ada tuh, jadi kita bisa bebas sekarang,” kata Brian. Yang lainnyapun ikutan berenti ketawa. “Tadi lagi pada ngapain sih? Oh iya, pengenalan diri ulang. Sekarang gilirannya Dedi.” Katanya sambil menunjuk Dedi.
Dedi tampak kaget. Dia sedikit melotot. Badannya mulai berkeringat, ia menelan ludah. Dia gugup banget deh kayaknya. Ia lalu bergerak-gerak nggak jelas kayak cewek kalo lagi dapet yang terus aja gonta-ganti posisi duduk. “Emm, nama saya Idam Husni tetapi saya biasa dipanggil Dedi karena saya seperti bapak-bapak,” katanya. “Saya dilahirkan pada tanggal 20 Februari, hobi saya itu adalah belajar, mengerjakan tugas-tugas, dan membaca buku pengetahuan, terutama Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika. Sekian dari saya, terima kasih atas perhatian anda semua.”
Adri melipat tangannya. Kemudian ia memutar bola matanya, isyarat kalo dia juga nggak suka sama yang satu ini. Selain pola bahasanya yang terlalu baku dan penampilannya yang kuno, Adri juga nggak suka sama sikapnya yang berani ngeliatin orang yang lagi ngobrol dari deket. Padahal Dedi sendiri nggak ikutan.
“Erh, sama-sama Ded,” kata Viona. “Ada yang mau nanya sama Dedi? Apa kek gitu? Sesuatu yang salah dari dia? Atau mungkin kegiatan dia yang lain?” tanyanya sambil memandang kelima personil selain Dedi.
Abe mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Kenapa lo bisa dibilang kayak bapak-bapak? Siapa yang mulai duluan manggil lo Dedi?” tanyanya dengan suara cempreng-cempreng nyaring yang menjadi ciri khasnya.
Sekali lagi Dedi tampak gugup. Dia nggak langsung ngejawab pertanyaannya Abe tadi. “Emm, saya tidak tahu juga mengapa saya bisa dibilang seperti bapak-bapak, padahal menurut saya, saya itu cukup tampan,” katanya. Mendengar itu, Rendy mau muntah. “Yang memulai memanggil saya Dedi adalah ketiga teman satu kelas saya yang jahat dan kejam terhadap saya.”
Abe mengangguk tanda mengerti.
“Oi, gue tau kenapa lo bisa dibilang kayak bapak-bapak,” kata Rendy. “Pertama, gaya ngomong lo tuh. Baku banget! Masih jaman sekarang pake saya-sayaan? Kedua, penampilan lo. Vantovel? Ke kafe? Nggak banget, kecuali lo orang kantoran. Ketiga, selera lo. Anak jaman sekarang mana suka baca buku?”
Dimi tersenyum. “Setuju seratus persen.” Katanya. Kemudian ia meneguk cappuccino hangat pesanannya yang dituang ke dalam sebuah cangkir kecil berwarna hitam.
“Dengerin dia Ded, kalo lo nggak mau bernasib sama kayak Tono. Soalnya di dalem band itu nggak ada yang kayak lo gini. Yang jadul, yang kuno, yang katro.” Kata Riri sambil menunjuk Rendy.
Adri mengangkat tangannya. “Kok lo bisa sih hidup kayak gitu sehari-hari? Ngomong ribet begitu, nggak bisa milih baju yang bener, terus kegiatannya boring-boring semua lagi. Emang nggak ada ya yang nasehatin lo? Temen lo kek gitu mungkin? Apa jangan-jangan temen lo sama aja kayak lo?”
“Tentu saja saya bisa. Saya merasa baik-baik saja hidup seperti ini, kecuali untuk siksaan dari teman-teman sekelas saya yang tadi saya ceritakan itu. Terus terang saja ya, saya sudah tidak tahan sebenarnya,” kata Dedi. “Berbicara seperti ini sangat menyenangkan, budidayakanlah berbahasa Indonesia yang benar. Soal pakaian, saya jarang keluar rumah, sehingga hal itu tidak penting, dan tentang kegiatan, saya tidak paham maksud anda. Apa itu boring-boring?”
Yang lainnya diem. Nggak tau harus bilang apa lagi saking beratnya kata-kata Dedi barusan.
KRUK! Adri menggigit kacang dengan nikmat. “Nah itu dia,” katanya. “Kalo lo terus-terusan gini, gimana lo mau berenti disiksa sama temen-temen sekelas lo? Lo teriak ‘budidayakanlah berbahasa Indonesia yang benar’ sampe pita suara lo putus juga nggak bakalan ada yang peduli, Ded.” Lanjutnya sambil terus mengunyah kacang.
“Gue tau nih kenapa bisa tahan dia hidup begini nih,” kata Riri sambil menunjuk kecil Dedi berkali-kali. “Soalnya nggak ada yang ngasih dia ceramah gratis sebelumnya. Temennya bukannya sama aja kayak dia Dri, tapi dia nggak ada temennya.”
“Oh iya bener bener bener, pinter lo Ri,” kata Adri sambil menganggukan kepalanya. “Serius deh Ded, lo mesti berubah mulai dari sekarang, lo mana bisa begini terus-terusan? Ingetlah Ded, lo itu calon anak band sekarang, anak band mana ada yang... kayak lo?”
“Udah udah udah, itu gampang Dri urusan belakangan bisa diatur nanti,” kata Velope. “Sekarang yang penting kalian berenam bisa akrab dulu satu sama lain. Soalnya kalo personilnya aja belom akrab, gimana mau mulai ber-ka-rir?”
Keenam personil dan ketiga juri lainnya tersenyum.
“Oke, Dedi udah selesai, sekarang berarti gilirannya... Abe!” seru Dennise sambil menunjuk Abe yang tepat duduk di sebelah Dedi.
As usual, Abe nyengir. “Nama gue Saputra Jordan Poernama tapi dipanggilnya Abe, gue lahirnya tanggal 12 Mei, hobi gue ngotak-ngatikin gitar, baca komik Bleach sama main bola. Salam kenal ya semua.” Katanya. Tenang aja kok, Abe ini anak yang baik hati. Jadi nggak mungkin dia bakalan macem-macem.
Brian memakan pudding cokelatnya. Pudding cokelat lezat yang disiram sama saus cokelat yang lezat juga. Membuat yang lainnya drooling. “Ada pertanyaan buat Abe?”
“Gue, gue mau nanya,” kata Rendy. “Golongan darah lo apa?” tanyanya. Di sekitar mulutnya banyak coklat. Dia abis makan kue coklat soalnya.
Abe tampak berfikir sejenak. Oh bukan, bukan berfikir, tapi mengingat-ngingat. Matanya menyipit dan melihat ke atas. Setelah beberapa saat ia begitu, matanya menatap Rendy lagi. “Oh ya gue inget, AB!” serunya sambil tersenyum senang.
“Oh,” kata Rendy. “Terus, supermarket lo apaan?” tanyanya sekali lagi sambil terus membersihkan wajahnya dari coklat dengan tissue. Sebenarnya sih kedua pertanyaan Rendy tadi nggak nyambung ya, tapi liatin aja jawabannya.
Abe mengerutkan dahi. Senyumannya mengempis. “Hah? Supermarket gue apaan?” pekiknya kebingungan sendiri. Dia nggak ngerti kenapa Rendy bisa nanyain supermarketnya dia apaan.
Rendy mengangguk. “Iya, supermarket. Pasar swalayan.”
“Kenapa lo nanyain? Eh nggak nggak nggak, maksud gue oh ya gue ngerti, supermarket itu sama aja Pasar swalayan,” Kata Abe gelagapan. Kemudian ia tersenyum innocent. “Erh, supermarket gue itu Aneka Buana, AB.” Jawabnya.
Rendy nyengir. “Aha! Bingo! Ternyata emang bener dugaan gue, bukan cuma nama lo doang yang Abe. Golongan darah sama supermarket lo AB-AB juga.”
“Eh? Oh iya ya ehehehe.” Kata Abe sambil menggaruk kepalanya dengan senyum. Kapan sih Abe nggak senyum kalo lagi interaksi sama orang? Okelah, pasti pernah dia nggak senyum, cuma jarang banget. Pasti dia senyum terus deh.
Velope meletakkan cangkir yang berisi teh tariknya ke atas meja. “Udah itu aja? Apa masih ada yang mau nanya lagi sama Abe?”
Dimi, Riri, dan Adri mengangkat tangan kanan masing-masing secara serempak. Kemudian mereka saling menoleh satu sama lain.
“Buset, langsung tiga orang gitu yang mau nanya,” Kata Brian. “Siapa duluan nih? Riri, Adri, apa Dimi?” tanyanya sambil menunjuk ketiga orang itu sesuai dengan namanya ketika disebut.
“Tunggu deh tunggu deh,” kata Dennise. “Kayaknya gue tau apa yang mereka bertiga mau tanyain ke Abe. Gini aja deh, nggak usah satu-satu, kalian bertiga langsung aja nanya rame-rame ke Abe sekalian.”
Viona mengerutkan dahi. “Hah? Yang bener aja lo? Apa nggak bingung nanti Abe-nya? Yang satu nanya apa, yang satunya lagi nanya apa?”
Dennise tersenyum. “Entar dulu, coba deh sekaliiiiiiii aja. Bener nggak dugaan gue kira-kira. Kalo menurut gue sih, pertanyaan mereka bertiga sama.”
“Hmm ya udah deh,” kata Viona. “Adri Dimi Riri kalian bertiga nanyanya sekaligus aja ya.”
Alhasil ketiga cowok itu bertukar pandangan dengan bingung. Gimana caranya tiga orang nanya sekaligus ke satu orang? Emang pertanyaannya sama apa? Kalo sama sih ya sukur, tapi kemungkinannya kecil banget. Kalo beda ya bingung yang ditanyain jadinya.
“Kenapa lo dipanggilnya bisa Abe?” tanya Dimi, Adri, dan Riri secara serempak. Mereka udah reflek aja bisa barengan gitu ngomongnya. Nggak pake hitungan satu dua tiga dulu, langsung aja ngomong. Pas banget bisa barengan dan pertanyaannya sama persis gitu.
Tiga cowok itu kemudian bertukar pandangan sambil tersenyum heran gara-gara bisa kompakan banget tanpa direncanain sebelumnya. Pertanyaan itu emang terduga banget soalnya. Kalo tadi Dedi nyebutin alasannya kenapa dia bisa dipanggil Dedi segala padahal namanya aja Idam Husni, nah Abe tadi nggak nyebutin kenapa dia bisa dipanggil Abe padahal namanya aja Saputra Jordan Poernama, nggak ada Abe-Abenya sama sekali. Abe udah kebal ditanyain ini terus.
“Kata nyokap gue, gue dipanggil Abe biar orang nggak ribet kalo mau manggilin gue, soalnya nama gue tuh ribet gitu kan. Bener juga sih, ternyata orang jadi sering manggilin gue padahal nggak ada apa-apa, pas gue tanya kata mereka “Abis enak nyebut nama lo Be.” Jelas Abe panjang-lebar.
Dimi, Adri, dan Riri menganggukan kepala masing-masing tanda paham. Emang iya sih, nyebutin Abe seratus kali lebih enak daripada nyebut Putra atau Jordan atau Poer seratus kali. Abe itu nama yang simpel tapi enak disebutnya. Pinter nih nyokapnya Abe, nemu aja nickname yang tepat buat anak cowoknya yang murah senyum ini.
“Ada satu lagi Be,” kata Riri. “Itu tadi hobi lo yang ngotak-ngatikin gitar maksudnya apa? Lo bisa modifin gitar-gitar gitu maksudnya?” tanyanya penasaran. Oh ya jelaslah dia penasaran, kan dia gitaris juga.
Abe mengangguk sambil tersenyum. Wah, ternyata selama ini diem-diem Abe bisa modifin gitar-gitar. “Di rumah gue emang banyak gitar, soalnya bokap gue koleksi gitu. Terus gue dikasih beberapa-nya, ya udah deh akhirnya gue otak-atik sendiri.” Jelasnya. Kalo soal modifnya mungkin Abe jago, tapi kalo maininnya belom.
“Oh ya? lo pernah iseng gitu nggak fotoin di hp lo? Kalo pernah, lo bawa hp nggak sekarang?” tanya Riri dengan antusiasnya. Dia itu emang interested banget sama gitar, dan hal-hal yang berhubungan dengan benda yang sering dipegang Synyster Gates itu.
“Pernah kok, sering malah. Kebetulan hari ini gue bawa hp yang masih ada fotonya beberapa, soalnya ada juga yang udah gue masukkin ke komputer.” Kata Abe sambil merogoh saku celananya. Sebuah Nokia E63 warna merah berada di genggaman tangannya Abe sekarang. Setelah beberapa saat Abe mencet-mencet tombol hpnya, Abe ngasih hpnya itu ke Riri.
Riri melotot kaget. Yang lainnya langsung pada ikutan ngeliat ke layar hpnya Abe juga. “Anjrit! Keren banget! Hebat lo Be!” pekiknya. Lalu ia ngasih hpnya Abe ke Adri, yang udah dikerubungin sama yang lainnya. Dia kena juga soalnya duduknya di sebelahnya Riri. “Abe, lo mau modifin gitar gue nggak? Gue bayar mahal deh.”
Abe mikir. “Emm...,” katanya sambil menggerak-gerakan bola matanya. “Ya udah, tapi kapan nih bisanya? Terus lo yang ke rumah gue apa gue yang ke rumah lo apa ketemuannya di tempat lain aja?” tanyanya. Abe itu emang suka banget nanya. Nggak tau juga deh kenapa.
Riri berfikir sejenak, kemudian ia menjentikkan jarinya sambil tersenyum senang. “Atau nggak gini aja deh, gue minta nomer hp lo, nanti gue telpon lo.” Katanya sambil mempersiapkan hpnya untuk menyimpan nomer hpnya Abe.
Kemudian Abe nyebutin nomer hpnya. Ya tentu ajalah nggak dikasih tau, entar kalo dikasih tau nomer hp orang aslinya ada yang neror lagi. Kalo dikasih tau palsunya? Bisa nelpon hp kuli bangunan lagi hiiiii.
“Oke oke sip sip.” Kata Riri sambil mangangguk-anggukan kepalanya. Hmm, baru kenalan aja Riri sama Abe udah mau telpon-telponan segala, udah gitu mau ketemuan lagi. Kira-kira ketemuannya mereka ini lancar nggak ya? kalo lancar, itu artinya mereka makin akrab. Dan kalo nggak lancar? Itu artinya Tono lagi mengutuk mereka pake dukun.

***

“Ada yang masih mau nanya lagi nggak ke Abe? Hmm gue rasa udah cukup ya, yang nanya juga udah banyak soalnya,” Kata Brian. “Abis Abe... Dimi.”
Dimi duduk di sebelah Abe. “Nama gue Pratama Dimitri terus dipanggilnya Dimi, gue lahirnya tanggal 29 September. Hobi gue baca komik sama main game online. Jangan ketipu sama tampang gue ya, gue sama sekali nggak jutek kok.” Jelas Dimi.
Velope tertawa. “Nyindir kita-kita lo yaaa Dim gara-gara pas lo di audisi kita udah takut duluan sama lo gitu, itu kan gara-gara si Tono juga sebenernya.”
Adri melipat tangannya. “Udahlah nggak usah nyebut-nyebut Tono Tono lagi, udah nggak ada dia udah lenyap. Udah nggak jaman deh ngomongin dia lagi sekarang aduh.” Katanya sambil geleng-geleng kepala.
Dennise tertawa kecil. “Ada pertanyaan buat Dimi? Ayolah nggak usah malu-malu. Tanya apa kek gitu daripada nanti penasaran sendiri.” Bujuknya sambil mengunyah potongan kue brownies dengan es krim vanilla dan cherry.
Lagi-lagi, Abe mengangkat tangannya tinggi-tinggi, untung aja keteknya nggak basah atau bau. Mungkin ini salah satu faktor kenapa Abe suka sekali bertanya sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Lo suka baca komik apa?” tanyanya.
“Gue sih paling suka Death Note soalnya seru banget, terus gue juga suka Initial D. Fullmetal Alchemist sama Naruto juga gue suka, pokoknya yang gitu-gitu deh. Tapi yang paling gue suka komik “cowok” sih, hehe ngerti kan?” kata Dimi sambil menyenggol lengan Abe.
Para personil cowok lainnya mengangguk sambil nyengir. Sementara para cewek mengerutkan dahi. Kecuali Dedi. Bukan karena dia itu cowok, tapi karena Dedi itu nggak tau komik itu apa. Wah wah wah nggak beres nih kayaknya. Bukan Dedinya, ya itu juga sih, tapi yang lebih nggak beres lagi para cowok-cowoknya nih.
“Ya ya ya gue juga suka Dim. Cowok jaman sekarang mah emang wajib baca komik “cowok”, kalo belom baca bukan cowok namanya,” Kata Rendy. “Eh kalian berlima mau ke rumah gue nggak? Stok komik-komik “cowok” banyak banget. Anemia anemia deh lo semua pulang-pulang abis bacain semuanya.”
Riri, Adri, dan Dimi tertawa. Sedangkan Abe masih bingung. Dia nggak ngerti maksudnya komik “cowok” itu apaan, dia jadi kepikiran sama kata-katanya Rendy tadi, kalo belom baca komik “cowok” bukan cowok namanya. Sementara keempat cewek makin curiga.
“Baca komik cowok itu enaknya sambil tiduran, lebih kerasaaaaaaaaaaaaaaaaa, lebih nikmat jadinya. Mantep bo baca komik “cowok” tuh, hooooooooooooooooooo isinya men.” Kata Adri. Dia udah tau dari gelagatnya Abe kalo dia tuh nggak ngerti maksudnya komik “cowok” tuh apaan. Makanya dia ngasih petunjuk-petunjuk biar Abe jadi ngerti maksudnya apa. Para pembaca terutama yang cowok ngerti nggak maksudnya?
Riri nyengir. “Iya dong, komik “cowok” kan komik wajib baca setiap cowok, nggak afdol kalo sampe nggak baca. Apalagi kalo sampe nggak tau maksudnya komik “cowok” itu apaan.” Katanya. Dia nggak bermaksud sama sekali nyindir Abe kok.
“Suka keringetan gue kadang-kadang kalo lagi baca saking hotnya. Halaman-halamannya komik “cowok” kan panas-panas tuh, jadi bisa bikin yang baca keringetan.” Kata Rendy dengan tampang bokepnya. Oops, ketauan deh maksudnya komik “cowok” itu apaan.
Dimi tertawa. “Lebay lo Ren, itu sih lo keringetan gara-gara bacanya di luar rumah kali panas-panasan, udah gitu lo kan make sweater, jadinya makin gerah aja.” Katanya mencoba meluruskan.
“Eeeh udah udah udah! Ganti topik ganti topik ganti topik!” seru Velope. Lalu ia menoleh ke arah Dimi. “Dimi nih, bandel ya lo emang Dim, udah tadi nyindir-nyindir kita berempat, sekarang bikin omongan jadi bokep!” Omelnya lantang.
Dimi panik seketika. “Iya iya Vel sorry sorry maaf.” Katanya dengan tangan berbentuk tangan orang yang lagi mohon ampun.
Brian tertawa kecil akibat ulah Dimi dan Velope tadi. “Ada yang mau nanya lagi nggak selain Abe? Ayolah nanya-nanya dong masa Abe terus sih yang nanya?” Bujuknya.
Riri mengangkat tangannya rendah-rendah. Ngapain juga tinggi-tinggi lagian, pikirnya. “Lo suka main game online kan? Game apa yang lo suka? Ragnarok bukan?” tanyanya bertubi-tubi.
Dimi geleng-geleng kepala. “Bukan Ragnarok Ri, itu sih udah basi, gue sukanya Getamped. Seru banget tau nggak sih main itu, sampe-sampe kalo lagi online MSN suka gue tinggal saking serunya main.” Jawabnya dengan antusias.
“Oh ya ya ya bagus bagus bagus, berarti lo punya MSN,” kata Riri sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian ia segera bicara lagi biar Dimi nggak denger, nggak enak soalnya. “Kalo game biasa kayak PS, PSP, DS gitu-gitu lo suka juga nggak?”
Dimi mengangguk dengan semangat. “Iyalah Ri, yang namanya game mah mau online atau nggak tetep aja seru dua-duanya,” jawabnya. “Tapi diantara yang tadi lo sebutin itu gue paling suka sama PSP. Soalnya paling gede, tapi masih praktis. Bisa dibawa kemana-mana.”
Riri tersenyum. “Yoi, emang iya. Gue paling doyan tuh bawa-bawa PSP gue kemana-mana kalo gue lagi pergi. Apalagi kalo lagi nungguin kakak gue shopping, ugh, bisa mati kebosenan gue kalo nggak ada PSP.”
“Kenapa lo nggak ikutan belanja aja? Lumayan kali Ri daripada lo duduk mainin PSP doang. Emang sih lo cowok, tapi apa salahnya kalo cowok shopping juga? Dipikir nggak perlu baju apa?” kata Dennise. “Yang pasti bukan masalah bayarnya ya Ri.”
Riri tersenyum meremehkan. “Of course not, duh! I have a lot of money, dan itu tuh nggak bakalan abis sampe bertahun-tahun juga saking banyaknya,” jelasnya. “Satu-satunya alasan kenapa gue nggak belanja juga adalah, karena gue udah punya waktu buat belanja sendiri. Jadi ngapain mesti belanja lagi kalo lagi bareng-bareng sama keluarga? Dipikir ngondek?”
Keempat juri dan Rendy menelan ludah masing-masing. Lalu keempat cewek juri audisi itu bertukar pandangan dengan Rendy. Mereka berlima jadi sama-sama inget akan suatu kenangan buruk yang harusnya nggak usah diinget-inget lagi sampe kapanpun juga. Abis tukeran pandangan selama beberapa saat, mereka berlima langsung mau muntah. Mual jadinya inget lagi sama si... ah udah ah nggak usah disebut.
Viona berusaha melupakan soal ngondek-ngondek itu. “Emm, masih ada yang mau nanya lagi nggak sama Dimi? Apa udah sampe situ aja pertanyaannya?” tanyanya dengan senyum manisnya.
Para personil menggeleng.
“Udah nggak ada? Kalo gitu Dimi udah selesai, berarti sekarang giliran yang di sebelahnya Dimi, lo Ri.” Kata Velope sambil menunjuk Riri.
Riri berdehem. Ada lendir yang mengganjal pikiran dan kerongkongannya. Lendir itu lepas dari tempatnya semula dan menuju mulut Riri. Lalu lendir itu ditelen lagi oleh Riri bersama-sama dengan ludahnya kembali ke dalam kerongkongan kemudian diteruskan ke lambung dan seterusnya. “Nama gue sebenernya Aditya Rivano Putera, cuma nicknamenya Riri dari Rivano. Birthday gue 7 September, hobi gue banyak sih. Cuma yang paling gue suka itu ngitungin duit, main golf, main gitar, sama baca komik. Nice to know you guys.”
Viona tersenyum. “Nice to know you too.” katanya. Tapi dalem hati dia sambungin sendiri. Especially your money, gumamnya. “Ehm, ada yang mau nanya nggak sama Riri? Apa kek gitu yang kalian mau tau dari dia?”
Nggak bosen-bosennya Abe ngangkatin tangannya tinggi-tinggi. “Main golf? Kenapa lo suka main golf ya? maaf, soalnya menurut gue itu orangtua banget.”
Riri nyengir. “Well, emang iya, gue akuin golf itu old banget. Tapi jangan salah, golf itu juga hobi rutinnya orang-orang tajir, liat aja lapangan golf. Emang sih isinya bapak-bapak, cuma apa? Mereka semua itu berduit. Alat-alat golf itu mahal-mahal loh, jadi orang sembarangan nggak bakal bisa main.”
Abe mengangguk-anggukan kepalanya. “Hooo gitu ya hehe baru tau gue.” Katanya dengan tampang innocent alias tak bersalahnya itu.
“Terus? Ada yang mau tanya lagi nggak? Mumpung gilirannya masih nih, entar kalo udah lewat nggak boleh nanya lagi soalnya. Jadi kalo ada pertanyaan mesti tanya sendiri nanti.” Kata Brian.
Dimi mengangkat tangannya. “Ngitungin duit seberapa sering? Terus kalo udah diitung diapain lagi? Paling banyak dapet berapa?” tanyanya bertubi-tubi sekali tiga. Ya iyalah Dimi penasaran banget, soal duit sih semua orang juga penasaran kali.
“Tenang tenang tenang, satu satu bakalan gue jawab-jawabin,” kata Riri layaknya seorang artis yang lagi ngomong sama fans-fansnya yang udah menggila. “Seberapa sering? Kalo gue baru dapet duit—dan itu sering banget. Sehari bisa berbelas-belas atau berpuluh-puluh kali gue dapet duit. Kalo udah diitung ya gue simpenlah di brankas pribadi gue. Paling banyak berapa ya? emm sepuluh ribu... dollar US kalo nggak salah dari bokap gue.”
Diem. Nggak ada yang berkomentar atau bicara apapun. Semuanya selain Riri kaget dan seneng. Ada yang mangap, ada yang melotot plus mangap, ada juga yang melotot doang. Bahkan keempat juri yang udah tau kalo Riri itu emang tajir banget dari awal kaget juga sekarang. Yang bikin kaget para juri tuh pernyataannya yang bilang kalo dalam sehari dia bisa berbelas-belas bahkan berpuluh-puluh kali dapet duit. Wow.
Rendy membenarkan matanya yang tadinya melotot saking kagetnya abis denger kata-katanya Riri tadi. Gara-garanya, dia mau nanya sama Riri dan matanya mulai perih. Yang bener aja nangis gitu tiba-tiba di depan yang lainnya. Ia mengedip-ngedipkan matanya. Kemudian ia tersenyum jahat. “Eh Ri gue mau nanya deh, itu tadi kata lo kan sehari bisa dapet duit berbelas-belas sampe berpuluh-puluh kali, itu gimana caranya? Lo kerja apa gimana?”
“Oh itu, gue bisa kayak gitu soalnya gue kerja—yah nggak kerja juga sih sebenernya. I’m a webpreneur. Lo tau kan artinya webpreneur?” kata Riri. Sementara yang lainnya masih shock.
Rendy jadi ngerasa terganggu sama perilaku kaget yang lainnya itu, apalagi yang mangap segala. “Eh eh udah woi lo-lo pada stop dong kaget kayak gitu, mata nggak perih apa? Apalagi yang mangap segala. Nggak enak tau nggak sih diliatnya, lalet ketelen baru tobat deh,” tegurnya. Lalu dahinya yang mengkerut mulus lagi. Yang lainnya jadi berenti kaget gara-gara ditegor tadi. Kemudian ia kembali tersenyum manis, fokus bicara empat mata dengan Riri. “Iya dong jelas gue tau artinya webpreneur itu apa. Oooh pantesan aja, kalo gitu tajir banget dong lo berarti.”
Riri jadi ‘terbang’ ke udara. “Aduh Rendy, It’s so obvious. I’m rich, I have a lot of money. Nggak cuma dari situ aja sumber duit gue, tapi dari ortu gue yang sangat amat tajir banget-bangetan itu. Kadang-kadang gue juga suka dapet duit dari kakak atau adek-adek gue. Gue itu anak kedua dari empat bersaudara, kakak gue cewek, adek gue cewek cowok.”
Senyum evil Rendy semakin melebar. Ibaratnya, sekarang matanya itu berubah jadi hijau—dengan banyak huruf $ di dalamnya. Kalo dari cara ngomongnya, udah bisa keliatan dikit-dikit kalo Riri ini seorang spender. Orang yang sama sekali nggak keberatan kalo uangnya terbuang dengan sia-sia.
Riri mengerutkan dahi, melihat Rendy tersenyum jahat begitu. “Kenapa lo? Kok seneng banget kayaknya?” tanyanya. Dia udah mulai curiga. Jangan-jangan Rendy seneng gara-gara dia itu tajir banget jadinya bisa diporotin. Tapi dia udah kebal kalo ada orang yang begitu. Dia sih nggak peduli mau temen-temennya morotin dia apa nggak, orang duitnya banyak banget kok. Jadinya ya nggak masalah.
Rendy langsung sadar. “Hah? Oh, nggak, nggak kok nggak kenapa-kenapa,” katanya sambil geleng-geleng kepala. “Gue cuma inget kalo nenek gue bikin French Toast di rumah, makanan favorit gue. Hmm French Toast, jadi pengen cepet-cepet ke rumah deh. Nggak sabar mau makan itu jadinya.” Lanjutnya sambil tersenyum, senang.
Riri tersenyum juga. “French Toast tuh emang enak, apalagi yang cinnamon. Haduh, wanginya bikin ngiler. Kalo perut udah party (laper banget), susah deh nahannya buat nggak makan itu.” Katanya.
“Yoi, tapi gue lebih suka yang baked. Anjrit dipanggang enak banget ya Allah. Mudah-mudahan nenek gue hari ini bikinnya yang baked deh, jangan yang basic.” Kata Rendy. Riri sebenernya agak bingung sama Rendy. Kenapa bukan nyokapnya yang bikin? Tapi, kali aja nyokapnya terlalu sibuk kerja jadinya nggak bisa bikin.
“Ada yang mau nanya lagi nggak sama Riri? Apa semuanya udah jelas?” sambar Dennise yang udah tobat dari mangapnya sebelum lalet ketelen. Yang lainnya juga udah pada tobat daritadi.
Nggak ada yang ngangkat tangan lagi.
Viona menghela nafas. “Berarti soal Riri udah jelas semua ya, kalo ada yang masih belom jelas tanya aja sama orangnya langsung ya nanti,” katanya. “Gilirannya Riri udah lewat, berarti sekarang gilirannya yang di sebelah Riri... Adri.”
Adri membetulkan posisi duduknya. “Nama panjang gue Prasetyo Dwiadri Akbar tapi dipanggilnya Adri. Gue lahir tanggal 24 November. Hobi gue nggak tentu, kadang-kadang aja gue sukanya. Cuma yang paling sering gue suka itu baca komik.” Jelasnya.
“Kayaknya gue nggak perlu ngasih tau lagi ya kalo abis ada personil yang ngasih tau informasi diri terus gimana lagi.” Kata Velope. Maksudnya ya itu, kalo ada pertanyaan ya tanyalah langsung.
Abe mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Maksudnya apa? Kalo abis ada personil yang ngasih tau informasi diri sendiri terus gimana? Gue nggak ngerti.” Katanya. Kalo ada satu kata yang paling pas buat merespon ini, kata yang paling tepat adalah GUBRAK. Semuanya mengira kalo Abe itu udah ngerti apa yang semestinya ia lakukan. Semuanya tadi mikirnya Abe itu mau nanya sama Adri, eh taunya malah nggak ngerti dia.
“Aduh Abe, maksud gue itu kalo abis ada personil yang ngasih tau informasi diri yang ada pertanyaan langsung nanya aja, jadi gue nggak usah nyuruh-nyuruh lagi kayak yang tadi-tadi itu loh.” Jelas Velope.
“Oooh ya ya ngerti ngerti,” kata Abe sambil nyengir. Kemudian ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi lagi. “Apa maksudnya hobi lo nggak tentu?” tanyanya.
“Maksudnya ya hobi gue nggak pasti—bisa dibilang gue nggak punya hobi. Kalo orang yang hobinya tetep itu kan dia selalu suka ngelakuinnya, tapi kalo gue nggak. Semua hal gue kadang-kadang aja sukanya kalo lagi mood doang, kalo nggak gitu ya udah gue nggak suka.” Kata Adri panjang-lebar.
Abe berusaha mengerti. Dia mengangguk-anggukan kepalanya tanda kalo dia udah paham maksudnya kata-kata Adri tadi. Padahal dia masih belom gitu mudeng tuh maksudnya apa.
Dimi mengangkat tangannya. “Kenapa lo bisa kepincut sama komik? Lo paling sering sukanya baca komik kan? Kenapa bisa gitu?” tanyanya bertubi-tubi. Dimi emang hobi nih nanya bertubi-tubi sama orang-orang.
Adri tersenyum. “Yeah, well, i dunno juga deh. Urusan mood kalo itu sih, nggak tau kenapa gue paling sering mood-nya baca komik diantara kegiatan-kegiatan yang laen. Mungkin juga gara-gara komik itu kan praktis tapi menghibur, makanya baca komik itu enak.”
Dimi menganggukan kepalanya sambil tersenyum tanda seneng banget dengerin jawabannya Adri tadi. “Bener banget Dri,” Katanya. “Kalo di dunia ini nggak ada komik aduh, bisa kacau banget. Komik kan nggak butuh listrik, jadinya simpel. Bisa dibawa kemana-mana, udah gitu ada gambarnya lagi.”
Brian menggigit secuil cherry. “Ada pertanyaan lagi nggak? Aduh capek nih gue nanya-nanya melulu. Ini suruhan terakhir deh.” Katanya sambil mengunyah sebuah cherry manis bekas kue. Dia lagi nge-tes Abe, kira-kira dia ngerti nggak maksudnya apa.
Para personil cuma saling menoleh ke kiri dan ke kanan. Nggak ada yang ngangkat tangan lagi rupanya.
“Udah jelas ya berarti, kesalahan ditanggung sendiri kalo ada pertanyaan tapi nggak ditanyain sekarang,” kata Viona. Dia lagi nyindir Dedi. Dedi tuh udah sama aja kayak orang gagu tau nggak sih. “Orang terakhir lo Ren berarti.”
Rendy lagi ngedangak, tapi dia senderan di sofa. Jakunnya menonjol dengan jelas dari lehernya. “Hah? Oh gue ya sekarang?” tanyanya dengan kepala dalam posisi yang normal. Badannya dimajuin, jadi nggak senderan lagi. “Rendy. Rendy Iqbal, 29 Januari, nggak ada. Udah.”
Nggak pake disuruh lagi, Abe Riri Adri Dimi langsung mengangkat tangan masing-masing tinggi-tinggi. “Hobi nggak ada itu maksudnya apa?” tanya mereka berempat kompakan.
Rendy melotot. “Buset pada nggak nyantai banget sih, segitunya mau tau soal hobi gue yang nggak ada itu,” katanya. “Hobi nggak ada maksudnya ya gue nggak punya hobi. Abis gue males ngapa-ngapain sih.” Jelasnya.
Riri mengerutkan dahi. “Nggak punya hobi? Lo bener-bener nggak punya hobi?” tanyanya sekali lagi. Rendy ini emang nggak niat hidup apa gimana ya. Soalnya hidupnya itu berantakan sih—bukan berantakan sih, nggak berisi. Masa hobi aja nggak ada?
“Hmm hobi gue itu adalah kegiatan rutin setiap orang, kayak makan tidur mandi eek kencing minum. Itu semua adalah hobi gue. Nggak penting kan?” kata Rendy dengan agak sewot. Emang butuh penjelasan lebih lanjut kalo mau ngerti soal kehidupannya Rendy. Sekilas info ya, Rendy itu punya masalah sama orangtuanya. Itu adalah faktor besar yang mengakibatkan dia jadi males ngapa-ngapain. Jadi jelek terus bawaannya.
“Apa lo sebegitu nggak ada kegiatannya sampe kegiatan-kegiatan rutin aja jadi hobi lo? Kalo emang iya, terus lo sehari-hari gimana ngelewatinnya kalo cuma itu ber-enem aja kegiatan lo?” tanya Dimi si penanya bertubi-tubi.
Rendy menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Rambutnya jadi makin nggak karuan. Sumpah nih orang berantakan banget. “Iya. Sebenernya sih ya adalah Dim kegiatan-kegiatan laen, banyak banget malahan. Cuma, gue, males ngelakuin kegiatan-kegiatan yang laen-laen itu. Sehari-hari ya gue kebanyakan tidur biar satu hari kerasanya cepet banget.”
“Lo kenapa males ngelakuin kegiatan-kegiatan lain selain kegiatan-kegiatan rutin? Padahal kan asik loh Ren. Kayak misalnya ke Dufan, atau ke luar kota gitu terus nginep berapa hari, atau kalo perlu keluar negeri deh gitu ke Singapur kan deket.” Kata Abe sambil tersenyum manis.
Rendy geleng-geleng kepala. Keluar negeri? Jadi inget kenangan buruk, pikirnya dalam hati. “Nggak taulah Be, gue... gue males aja loh kayak gitu-gitu tuh, nggak minat aja ngelakuinnya. Udahlah, yang penting kan cuma makan tidur sama mandi aja. Gue sih hidup seadanya aja, nggak neko-neko.”
Adri mengerutkan dahi. “Gue jadi bingung deh sama lo. Kalo emang lo hidup seadanya aja sampe segitunya, terus kenapa lo mau ikutan audisi? Dan, kenapa lo mau dateng ke sini sekarang?”
“Nah justru itu Dri, gue ikutan audisi biar bisa dapet duit sekaligus biar bisa dapet kerjaan. Gue udah capek, udah bosen gue gini-gini terus. Hidup isinya cuma kegiatan rutin doang. Ternyata udah bertahun-tahun gue hidup gue lantang-luntung banget,” kata Rendy. “Jarang ke mall, jarang main bola, jarang nyobain makanan baru, jarang main komputer, jarang nonton TV, jarang baca majalah, ah, jarang ngapa-ngapain deh pokoknya. Jarang banget malahan. Makanya gue dateng ke sini buat ngelakuin semua hal-hal yang harusnya udah sering gue lakuin sejak dulu.” Kata Rendy panjang-lebar.
Pertanyaan terhenti. Nggak ada yang nyambung lagi abis Adri. Sekarang kan baru bab 7, 10 aja belom. Jadi mungkin baru basic-basicnya doang yang dikasih tau. Entar seiring sama jalannya cerita, satu per satu bakalan dikasih tau. Penjelasan sama rahasianya Rendy juga bakalan dikasih tau, cuma nggak sekarang. Gitu juga sama yang lain-lainnya. Intinya, hidup Rendy itu nggak ada isinya banget. Dan dia mau ikutan band kecil-kecilan ini biar umur 14 tahunnya sekarang nggak kebuang sia-sia lagi kayak umur-umur sebelumnya yang nggak berisi. Dia mau menikmati hidupnya sekarang. Dia mau berubah, nggak mau jadi si males-ngelakuin-kegiatan-lain-selain-kegiatan-rutin-lagi. Siapa tau dengan ikutnya dia dalem band ini pengalamannya plus-plus.
“Okey, kayaknya udah nggak ada pertanyaan lagi ya. Semuanya udah jelas.” Kata Dennise. Dia masih agak-agak kepikiran soal Rendy. Dia masih bingung, kok bisa gitu ya ada orang yang kerjaannya cuma kegiatan rutin doang tiap hari. Nggak ada kegiatan lain. No fun amat ya berarti hidupnya.
Viona meneguk Thai Ice Tea-nya sejenak, kemudian meletakkan gelas ke atas meja. “Semua personil udah ngelakuin pengenalan diri ulang, yang lainnya juga tadi pada nanya-nanya gue liat. Bahkan sebelum itupun kalian juga udah pada saling kenal ya kayaknya.” Katanya.
“Nah dengan pengenalan diri ulang itu, berarti kalian ber-enam resmi kenalan,” kata Brian. “Tadi emang pada nanya sih, apalagi Abe. Itu bagus kok Be daripada diem aja kayak Dedi,” katanya sambil menatap Dedi. “Kenapa lo diem aja sih Ded? Dari Abe sampe Rendy lo nggak nanya sama sekali deh. Lo kan bisa ngomong, nanya aja kali.”
Dedi menggeleng-gelengkan kepala. Dia nggak mau nanya soalnya logat bicaranya terlalu buruk. Dia jadi malu sama yang lainnya. Kemudian ia menunduk. “Saya tidak bertanya karena memang tidak ada yang mau saya pertanyakan.”
“Oh ya?” tanya Velope. “Kenapa gue nggak percaya ya? Apa gue yang terlalu strict atau emang lo yang boong?” tanyanya dengan nada menyindir.
Adri tertawa meremehkan. “Makanya, logat ngomong tuh dibenerin dulu. Kan lo jadi sungkan sendiri kalo mau nanya pake logat baku begitu.” Katanya sambil mengunyah beberapa kacang.
Dennise menjentikkan jarinya sambil tersenyum riang. “Nah itu dia! Ini juga jadi kerjaan kita nih, para cewek. Dedi harus berubah jadi anak jaman sekarang secepetnya sebelum terlambat. Enak aja dia nanti diwawancara ngomongnya kayak gitu, apa nanti kata orang-orang?” katanya.
Para cewek mengangguk tanda setuju.
Lagi-lagi Abe mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Diwawancara? Wawancara apa? Emang nanti kita semua bakalan diwawancara lagi gitu?” tanyanya penasaran.
Viona tertawa kecil. “Bukan kita berempat yang wawancarain Dedi. Maksud kita itu nanti kalo diwawancara sama wartawan, buat dimasukkin di majalah atau TV. Nanti, masih lama banget.” Jelasnya.
Abe mengangguk-anggukan kepala sambil tersenyum tanda paham.
“Hari ini udah selesai kan? Cuma sampe sini doang?” tanya Dimi sambil menatap layar hpnya. Pasti dia ngeliat jam deh. Soalnya dia nggak mencet-mencet tombol-tombol keypad hpnya. Jadi dia cuma ngeliatin layarnya aja.
“Iya Dim, sebentar lagi kalian semua boleh pulang. Emang kenapa?” tanya Brian sambil merapikan poninya yang berantakan dengan hati-hati. Poni Brian emang mengerikan, gampang acak-acakannya.
Dimi nyengir. “Gue mau pulang soalnya ada acara favorit gue bentar lagi. Tiap minggu gue pasti nggak ketinggalan nontoninnya.”
“Oh pantesan aja,” kata Velope. “Sebelum kalian pulang, inget ya Sabtu depan kita semua ketemuan lagi di E.K.E, tau kan E.K.E? kedai es krim itu loh yang di depannya ada nenek-nenek yang suka jualan gulali. Pokoknya di situ,” katanya. Kalian semua udah pada nyatetin nomer kita berempat kan? Kalo ada masalah atau pertanyaan langsung telpon salah satu dari kita berempat aja ya.” jelasnya. Kita berempat itu maksudnya ya dia, Viona, Brian, dan Dennise.
Keenam personil mengangguk. Sedikit bocoran ya soal ketemuan Sabtu depan. Ketemuan Sabtu depan itu mau ngenalin managernya ke para personil. Si manager ini kenalannya Velope. Kayak gimana sih si manager ini? Yang pasti, si manager ini cowok. Mau tau lengkapnya? Baca bab 8.
Lalu tiga dari sepuluh orang yaitu Dedi, Dimi, dan Dennise beranjak dari the it sofa. Mereka bertiga mau pulang. Dedi jalan kaki soalnya rumahnya deket, Dimi naik angkot, sedangkan Dennise dijemput. Soal bayaran sih ah, nggak usah khawatir. Kan ada Riri si brankas hidup. Setelah mereka bertiga pulang, sisanya ngobrol-ngobrol sambil pesen makanan dan minuman lagi buat nemenin ngobrol. Mereka bertujuh membicarakan banyak hal. Mereka ngobrol cukup seru. Semakin lama mereka-mereka ini semakin akrab.
Kemudian gilirannya Velope yang harus pulang soalnya dia udah dijemput. Hari semakin sore dan kepulangan Velope disusul oleh Adri dan Brian, Abe, Viona, baru yang paling belakangan Riri dan Rendy. Mereka pulangnya malem—tapi nggak nyampe tengah malem sih. Mereka pulangnya jam sembilanan. Mereka berdua emang doyan pulang malem kalo sekalinya keluar rumah. Rendy sih emang jarang banget keluar rumah, tapi kalo sekalinya keluar rumah sama temen-temennya aduh, bisa tengah malem lebih baru pulang. Riri bahkan lebih parah lagi. Dia itu sering banget keluar rumah sama temen-temennya. Kalo udah gitu, bisa-bisa jam 2 pagi atau lebih baru pulang.

***

Yah, begitulah cerita untuk pertemuan mereka bersepuluh yang pertama kali ini di Comic Cafe. Mereka bertujuh dari bersepuluh saling bekerjasama untuk menyingkirkan Tono Udin Wijoyo dari dalam band kecil-kecilan itu dengan cara terus-terusan menekan batin Tono. Akhirnya Tono berhasil out juga setelah sekian lama mengganggu. Barulah setelah itu para personil melakukan pengenalan diri ulang sebagai tanda bahwa mereka semua udah saling mengenal satu sama lain sekarang. Bab 7 berakhir di sini. Just wait for chapter 8!

0 opinions:

Post a Comment