September 25, 2009

Bab 8

Bab 8
Introducing Anggara Mirza Ilham 1 (Konferensi Kursi Deretan Belakang)

Kedai es krim dengan nama E.K.E yang kepanjangannya Es Krim Enak itu nggak pernah sepi. Kedai sederhana yang nggak begitu luas dan hanya memuat belasan kursi ini selalu dipadati oleh pengunjung-pengunjung. Biasanya sih, anak-anak sekolahan deket situ yang ke sana. Abis es krim di situ sesuai sama namanya sih, enak rasanya. Dan nggak cuma itu, kocek yang harus dikeluarin kalo mau nikmatin es krim-es krim di sana juga nggak banyak. Terus bukan cuma es krim aja yang ada di situ, ada juga kue-kue dan minuman-minuman yang pas banget buat anak remaja jaman sekarang.
Makanya tempat itu dipilih keempat cewek yang menjadi tokoh di cerita ini (disebutnya keempat juri) buat ngadain pertemuan yang kedua kali dengan para personil-personil band kecil-kecilan yang mereka bikin hasil seleksi audisi. Udah isinya enak, harganya murah, tempatnya juga bagus, letaknya strategis lagi. Kurang apalagi coba?
Mereka janjiannya ketemuan di situ jam 1 siang, biar panas-panas terus haus jadinya makan es krimnya lebih nikmat. Jam imut berbentuk kucing yang setiap detik tangannya goyang-goyang yang ada di kedai itu menunjukkan pukul 12.30 siang. Jarum panjang berada di angka 6 dan jarum pendek berada diantara angka 12 dan 1. Ini penting untuk diumbar, soalnya sekarang jam kucing itu lagi diliatin sama seorang anak cowok yang penampilannya lebih tua ketimbang usia aslinya. Dia udah dateng setengah jam sebelum waktu ketemuannya, padahal rumahnya deket dari situ. Lagian itu kan cuma acara santai, bukan acara-acara resmi-resmi gitu. Anak itu dijaga ketat oleh orangtuanya, terutama mamanya. Beruntunglah hari Sabtu itu dia boleh ke sana—bukan beruntung sih, emang kalo mau ke E.K.E selalu dibolehin karena letak E.K.E deket sama rumahnya, jadinya kalo pulang gampang. Dia dilarang pulang pas Maghrib apalagi kalo udah lewat. Harus sebelum Maghrib pulangnya. Kalo dari E.K.E dia bisa rada ngaret.
Kacamata yang dipakainya bundar dan tebal, tapi bukan mode-mode jaman sekarang. Rambutnya klimis dan poninya belah tengah. Ia memakai kemeja model bapak-bapak kantoran yang dikancing bahkan sampe ke bagian kerahnya. Lengannya panjang, menutupi seluruh tangan-tangannya, makanya ia melipat lengan kemejanya itu hingga telapak tangannya keliatan. Kemejanya itu dimasukkan ke dalam celana bahannya yang berwarna abu-abu. Dia juga memakai ikat pinggang. Bawahnya lagi, ia memakai kaos kaki cokelat dan sepatu vantovel. Celananya menggantung hingga kaos kaki yang nggak sepatutnya dipamerin itu keliatan dengan jelas. Whew, bayangin aja betapa jadulnya anak itu. Udah kayak bapak-bapak reinkarnasi tau nggak sih dia tuh.
Dari awal dia masuk sampe detik itu dia terus aja diliatin sama semua pengunjung kafe lainnya. Mereka semua heran, kok anak kayak gitu bisa tau E.K.E ya? Ngapain dia kesitu sendirian pake inisiatif sendiri mau makan es krim? Bukannya dia harusnya lebih tertarik baca-baca buku pelajaran di rumah daripada ke kedai es krim? Kalo emang impossible dia ke situ pake inisiatif sendiri, berarti cuma ada satu kemungkinan. Dia ke situ karena ada janji atau urusan sama orang, atau orang-orang. Kalo emang gitu, jadi penasaran deh, kayak gimana sih orang atau orang-orang yang punya urusan sama dia? Intelek-kah? Atau sama aja? Atau justru lebih buruk? Begitulah pikiran-pikiran yang muncul ke dalam benak semua pengunjung dan pelayan kedai es krim E.K.E itu. Sama persis seperti yang ada di Comic Cafe.
Anak yang kayak hasil reinkarnasi bapak-bapak itu terus menunggu sambil meminum air putih yang ia pesan. Sesekali malah ia mengaduk-ngaduknya. Nggak penting banget ya? kalo dia pesen jus gitu sih mending, lah ini air putih doang diaduk-aduk. Nggak ada ngaruhnya. Kadang-kadang ia pergi sebentar ke toilet. Sejauh ini udah tiga kali dia ke tempat kotor itu. Yang pertama buat kencing, yang kedua buat boker, yang ketiga buat ngaca. Abis ngelakuin yang ketiga, dia lari terbirit-birit ke mejanya sampe nabrak kursi sendiri gara-gara kaca tempat dia ngaca mau pecah, retak-retak gitu sendiri tiba-tiba. 99% hal itu disebabkan kacanya emang udah rapuh banget, dan 1% gara-gara kacanya lebih milih mati dengan cara pecahin diri sendiri daripada harus memantulkan bayangan wajah anak itu lebih lama lagi.
Image anak itu yang emang udah hancur dari awal sekarang lebih hancur lagi. Malu-maluin banget lari-lari dari toilet sampe nabrak kursi sendiri. Ckckck, malangnya nasib anak itu ya. Orang-orang se-kedai jadi makin penasaran, kayak gimana sih orang atau orang-orang yang berurusan sama si anak kayak hasil reinkarnasi itu? Kalo anak-anak gaul, ada urusan apa coba? Kok bisa-bisanya gitu urusannya sama orang kayak gitu? Kayak nggak ada orang lain aja sih.
Jarum jam terus berjalan dan akhirnya menunjukkan pukul 1 siang tepat. Jam kucing berbunyi, mengeluarkan suara dengan irama lagu Happy Birthday. Beberapa saat sebelum lagunya abis, sebuah Jaguar warna biru donker berhenti di depan kedai. Ini juga nggak kalah menyita perhatian orang-orang se-kedai. Satu per satu orang dalam kedai mengalihkan perhatian dari si anak reinkarnasi ke mobil Jaguar itu. Menunggu siapa yang akan turun. Biasanya sih, bokap-bokap gedongan gitu kan ya, tapi aneh aja kalo emang itu yang bakal keluar. Soalnya itu kan kedai es krim sederhana, mana mungkin orang macam itu tertarik?
Saat itu, semua pengunjung kedai E.K.E itu anak remaja semua. Nggak ada orangtua sama sekali. Paling pelayannya doang, itupun nggak tua, melainkan dewasa. Mobil itu masih nge-tem di depan kedai, yang bersangkutan belom mau turun rupanya. Aduh, ngapain sih di dalem mobil? Bikin penasaran aja. Akhirnya, pintu belakang mobil sebelah kanan terbuka. Kaki kanan dengan sneakers converse gold keluar dari dalam mobil, disusul dengan kepala berambut ikal, kemudian badan dengan kemeja motif tartan—nggak dikancing sampe kerah, lengannya panjang tapi panjangnya pas jadinya nggak dilipet, kemudian disusul dengan pinggangnya dengan celana pendek warna hitam, baru kaki kirinya menapak. Tangan kirinya menggenggam BlackBerry Magnum. Harusnya dia pake kacamata, cuma waktu itu dia lagi nggak pake. Bapak-bapak gedongan? Meleset amat jauh. Yang keluar dari mobil Jaguar biru donker itu hanyalah seorang remaja cowok, sama seperti yang lagi ngaduk-ngaduk air putih di dalam kedai. Bedanya, yang ini jauh lebih jaman sekarang daripada si pengaduk air putih.
Seisi kedai sedikit terkejut. Ternyata yang keluar dari mobil gedongan itu sama seperti mereka. Anak remaja. Sewaktu anak gedongan itu jalan dari mobilnya menuju ke dalam kedai hingga ketika dia berada di dalam kedai, mata-mata nggak henti-hentinya mengarah kepadanya. Saat udah ada di dalem kedai, si anak gedongan berenti jalan. Dia melihat ke sekeliling, mencari-cari orang yang ada janji dengannya di situ, saat itu. Satu per satu meja diliriknya. Bukan, bukan, bukan, bukan lagi. Nah, lalu ia melihat seseorang yang familiar di kursi deretan belakang. Ia menyipitkan matanya, orang familiar itu tampak bergerak- gerak. Rupanya si familiar itu lagi berusaha melihatnya. Si gedongan mencoba mengingat-ngingat si familiar itu. Kemudian ia ingat itu siapa. Oh no, this is terrible, pikir si gedongan.
Lalu dengan berat hati, si gedongan berjalan dengan kaki diseret menuju ke kursi deretan belakang, menghampiri meja si familiar yang pada akhirnya dia inget itu tuh siapa. Para pengunjung lain jadi makin penasaran jadinya. Dia kan tajir, ngapain dia ke kedai sederhana segala? Kan masih banyak tempat es krim yang jauh lebih elit dan mewah. Se-kedai memperhatikannya, mau tau sebenernya si tajir itu mau kemana. Kok nggak ikhlas gitu. Bluk! Ia menjatuhkan diri di kursi. Kursi di deretan belakang. Dia nggak sendirian, di hadapannya ada orang. Seseorang yang tidak asing lagi bagi dia, dan juga para pembaca. Orang itu adalah si pengaduk air putih yang kayak hasil reinkarnasi bapak-bapak.

***

Sekitar separuh dari se-kedai mangap. Sementara sisanya cuma sekedar melotot. Secuil dari sisanya itu mangap dan melotot. Mereka nggak percaya dengan apa yang barusan aja mereka liat. Di seberang kursi deretan belakang yang didudukin sama si gedongan dan si familiar itu free alias nggak ada orang. Berarti emang si gedongan kenal sama si familiar a.k.a si reinkarnasi. Dua orang yang sangat amat bertolak belakang itu ternyata saling mengenal satu sama lain. Yang satu miskin, yang satu tajir. Yang satu kuper, yang satu gaul. Yang satu selalu pulang sebelum Maghrib, yang satu selalu pulang setelah tengah malam. Dunia semakin lama emang semakin kacau, jaman makin edan.
Seisi kedai nggak henti-hentinya membicarakan tentang kedua orang itu. Ada urusan apa sih diantara mereka berdua? Apa mereka cuma berdua doang? Apa entar ada yang nyusul lagi? Dan satu lagi, pertanyaan paling besar, paling membingungkan, paling most wanted, paling pengen diketahui banget jawabannya, gimana caranya mereka bisa kenalan?
Si anak gedongan (baca : Riri), tau kalo dirinya itu lagi jadi pusat perhatian sekarang. Tapi gara-gara hal yang membingungkan. Dia nggak suka itu. Dia baru suka kalo dia jadi pusat perhatian soalnya masuk ke dalem daftar seratus remaja terkaya di dunia versi Times. Apa yang bisa dibanggain dari duduk bersama dengan si anak reinkarnasi (baca : Dedi) ? Apa karena bisa duduk bareng sama orang hasil reinkarnasi gitu jadinya bangga? Itupun kan kiasan doang saking Dedi itu jadulnya. Dedi itu sama sekali bukan hasil reinkarnasi dari siapapun. Dia sama aja kayak Riri, anak remaja biasa. Cuma dia nggak tajir dan nggak gaul, pikiran dan seleranya jaman dulu banget.
Riri berusaha cuek bebek dengan para pengunjung kedai lainnya. Mau ngomongin dia kek, ngeliatin dia kek, bodo amat deh. Yang penting kan urusan band. Ya, itulah yang paling penting sekarang. Talk about band, where’s everybody go? Udah hampir seperempat jam loh lewat jam satu tapi yang dateng baru Dedi sama Riri doang. Kemana delapan orang lainnya? Riri me-ngunlock tombol-tombol BB-nya dan mulai menelpon Adri. Tut tut seperti biasa. Agak lama Riri menunggu, baru akhirnya diangkat juga sama Adri.
“Halo, Dri? Lo dimana? udah berangkat belom?”
“Udah udah tenang aja bentar lagi gue nyampe kok. Lo kenapa panik gitu sih? Lo sendirian emangnya?”
“Nggak Dri! Lebih buruk lagi! Masa gue cuma berdua doang sama si Dedi sih? gimana gue nggak malu coba? Lo tau sendiri kan Dedi tuh kayak gimana?”
“Hahaha iya iya gue ngerti gue ngerti, gue kalo jadi lo juga bakalan malulah. Let me guess, pasti orang-orang pada ngeliatin lo sama si Dedi deh, iya kan?”
“Ugh iya Dri, mereka pasti ngomongin gue deh. Mereka pasti heran banget kenapa gue bisa kenal sama Dedi.”
“Dih geer banget lo Ri, belom tentu juga kali.”
“Ya tapikan kemungkinan besarnya gitu. Ah, pokoknya lo harus cepet-cepet nyampe gue nggak mau tau. Gue kasih lo tip deh kalo lo nyampenya cepet. Please Dri, nggak enak banget nih suasananya, gue nggak tau mau ngomong apa sama Dedi. Kalopun gue tau pasti nggak enak ngobrol sama dia, nggak bakalan nyambung. Apalagi dengerin logatnya, aduh.”
“Gue mau dapet tip dari lo sih, ya siapa sih yang nggak mau tip? Cuma, jalanan nggak mendukung. Ini gue lagi stuck gitu, padahal bentar lagi nyampe. Gue aja udah bisa liat kedainya dari sini nih sekarang. Oh ya, soal Dedi, lo coba ajak ngomong aja dikit-dikit, ngomongin apa kek gitu sebisa lo.”
“Aduh Adriiiiiiiii kenapa lo nggak turun aja terus jalan ke siniiiiiiiiiii? Ngapain lo tungguin tuh jalanan lancar dulu? Mau sampe kapan gue garing sama si Dedi di sini? And about Dedi, i’m too lazy to do that okay? Please dong Adri turun dari mobil terus ke sini sekarang, i’m counting on you.”
“Astaga Riri gitu aja pake males segala lagi. Ya elah tanyain aja kabarnya dia gimana, dia sekolah dimana, keluarganya gimana, gitu-gitulah pokoknya. Soal turun dari mobil? Sorry, i’m too lazy to do that okay, Riri? Udah deh lo tungguin gue aja sambil ajak ngobrol Dedi, atau nggak lo main hp atau pesen es krim atau gimanalah terserah. Pulsa gue udah sekarat nih, udah dulu ye.”
Pip! Sambungan telpon terputus. Tadi pas lagi ngobrol sama Adri, setiap ngomongin Dedi pasti dikecilin suaranya. Ya iyalah orangnya aja ada di depannya Riri, kalo nggak gitu jelas kedengeran dong. Riri menoleh ke belakang, melihat ke arah masuk kedai, menampilkan jalanan yang dipadati oleh kendaraan-kendaraan. Mobil Adri pasti masih dibelakang semua kendaraan-kendaraan itu, pikir Riri. Nasibnya dia kali ini sama aja kayak nasibnya Adri pas di Comic Cafe. Terperangkap berduaan sama Tono Udin Wijoyo. Malu-malunya juga sama.
Riri terus menatap jalanan. Pelan-pelan banget mobil-mobil mulai jalan sedikit-sedikit. Ya elah kalo gitu Adri kapan sampenya? Masalahnya dia juga nggak tau mobilnya Adri itu tuh yang kayak gimana? Kalo dia tau, udah dari abis telponan deh disamperin tuh. Adri tau gimana rasanya berduaan sama orang yang nggak banget. Bahkan bisa dibilang Adri lebih parah daripada Riri. Dedi emang jadul banget gitu kayak bapak-bapak, tapi seenggaknya dia tuh nggak suka teriak-teriak kalo lagi ngomong. Kalo Tono kan parah, udah penampilannya kayak gitu, kalo ngomong selalu teriak. Gimana orang nggak merhatiin dia terus coba?
Lama-lama bosen juga merhatiin jalanan terus. Udahlah pasrah aja, entar Adri juga sampe sendiri, gumam Riri dalam hati. Lalu ia menoleh ke Dedi. Dedi balas menoleh ke arahnya. Riri memperhatikan Dedi dari atas hingga bawah—sampe ke badannya aja soalnya kan yang lebih dibawahnya lagi udah ketutupan meja, berkali-kali. Nggak abis pikir dia kenapa bisa-bisanya gitu ya orang kayak dia harus bekerjasama sebagai partner band dengan orang kayak Dedi. Takdir yang aneh. Dia juga nggak abis pikir kenapa gitu ya bisa-bisanya Dedi keterima audisi. Diliat sekilas aja tuh juga udah nggak banget. Rambut, tampang, baju, celana, sepatu, semuanya parah. Jelek abis. Belom lagi logat ngomongnya yang baku banget itu. Kalo mau diubah kan susah pasti.
Riri memajukan badannya. Meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Ckckck, kok masih ada aja ya orang begini jaman sekarang? Gue kira udah nggak ada lagi,” katanya sambil geleng-geleng kepala. “Dan kebetulan banget ya harus kerjasama bareng gue, jadi partner band lagi. Oh my God, what are you thinking?” pekiknya sambil memegang dahi.
Dedi nggak ngerti Riri ngomong apa. Dia diem aja. Yang dia tau itu adalah, Riri tuh lagi capek banget sekarang. Soalnya dia sampe megang-megang jidatnya segala.
“Apakah anda lelah? Jika begitu, mengapa anda tidak pesan es krim saja? Es krim di sini enak-enak lho, harganya juga murah.” Kata Dedi sambil unjuk gigi. Kalo Dedi nyengir, khusus dia, namanya unjuk gigi. Soalnya Dedi itu tonggos, jadi kalo nyengir lebih tepat disebut unjuk gigi.
Riri melepaskan kedua tangannya yang menutupi dahi juga mukanya. “Nggak taulah Ded, kalo ngeliat lo jadi nggak selera makan es krim gue,” katanya. Wow, itu nyesekin loh. “Lo sendiri kenapa nggak pesen es krim? Bukannya lo udah daritadi ya disini? Kenapa cuma pesen air putih doang?”
Dedi tersenyum, tapi nggak unjuk gigi. “Saya tidak memesan es krim dikarenakan teman-teman saya belum datang. Saya baru akan memesan jika mereka semua sudah datang, karena memakannya akan terasa lebih nikmat.”
Riri mengerutkan dahi. “Temen-temen? Baru pesen kalo udah dateng semua? Semua?” tanyanya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin baru pertama kali inilah Dedi punya temen. Nggak cuma satu lagi temennya, sembilan sekaligus. Makanya ia memperlakukan kesembilan orang itu dengan amat spesial.
Dedi menganggukan kepalanya. “Jika Pelope, Abe, Dimi, Piona, Adri, Brian, Dennise, dan Rendy sudah datang, baru saya akan memesan es krim. Memakan es krim bersama-sama dengan mereka semua itu pasti akan sangat menyenangkan.”
“Ya elah nggak usah segitunya juga kali, itu sih sama aja lo nyiksa diri lo sendiri,” kata Riri. “Gimana kalo yang paling terakhir datengnya telat banget? Kayak misalnya abis Maghrib deh. Apa lo tetep nekat nggak mau pesen es krim apapun? Es krim kalo dimakan bareng-bareng gitu tapi nggak cocok di lidah apa gunanya? Nggak bakalan enak juga.”
Dedi diem. Bukan karena dia ngerti—dia ngerti, cuma nggak sepenuhnya dia ngerti. Jadi dia cuma asal buka kuping doang tapi nggak masuk ke otak.
“Nih ya dengerin gue. Daripada lo ngotot tetep mesen es krim kalo semuanya udah pada dateng, kenapa lo nggak mesen dua kali aja? Satu kali sekarang, entar kalo udah dateng semua baru lo pesen lagi. Gampang kan? Kan lo sendiri yang bilang kalo es krim di sini enak terus murah. Lagian lo juga nggak perlu bayar sepeserpun kok, semua biaya gue yang tanggung deh, paling cuma berapa sih.” Riri terus berceloteh.
Dedi diem sejenak. Kemudian dia angkat bicara lagi. “Tetapi, lebih baik es krim pertama yang dimakan bersama-sama dengan teman-teman.”
Riri memutar bola matanya. Kemudian ia menghela nafas. “Tau ah terserah lo aja deh capek gue lama-lama bilangin lo,” gerutunya. “Eh gue baru nyadar, tumben lo banyak omong. Biasanya lo kan dieeem aja kayak orang gagu. Kayak pas di Comic Cafe kemaren tuh, aduh gue aja sampe lupa kalo lo itu ada, padahal kan jarak gue sama lo deketan.”
Dedi tersenyum sok manis. Tapi dia nggak ngomong apapun.
Mendadak Riri nyengir sambil menjentikkan jarinya. “Ah gue tau, pasti lo malu kan ngomong kalo lagi rame-rame? Sekarang kan sepi, cuma lo sama gue doang berdua. Nah kalo kemaren kan rame banget tuh semuanya ada sepuluh-sepuluhnya, makanya lo jadi malu buat ngomong banyak deh. Iya kan? Bener apa kata gue? Pasti gitu deh. Nggak usah nge-less.”
Berat sih ngakuinnya, tapi yang dibilang Riri tadi emang bener. Dedi malu kalo mau ngomong cuma lagi rame. Makanya sekarang dia lebih berani ngomong kan? Soalnya ya cuma berdua doang. Dia dan Riri. Dia malu soalnya pasti logat bicaranya yang terlalu baku itu bakalan di ejek sama yang lainnya. Kalo gitu, terus kenapa dia mau pesen es krimnya kalo udah rame? Kan mesti ngomong. Itu karena satu-satunya kesempatan dia ngomong pas lagi rame ya kalo mesen es krim.
Nggak usah semuanya ada deh, kalo Adri udah dateng aja Dedi udah vakum ngomong lagi. Pasti nanti dia jadi speechless dengan sendirinya. Adri sama Riri udah pasti bakalan ngobrol-ngobrol sementara Dedi nggak ngerti mereka berdua tuh ngomong apa gara-gara bahasa mereka yang gaul. Kalo udah gitu mau ngomong apa dia? Mulai topik baru gitu dengan bahasanya yang begitu? Nggak banget. Makanya, nggak ada yang lebih baik lagi selain diem aja.
Dedi kemudian mengangguk membenarkan ucapan Riri tadi.
“Tuh kan bener apa kata gue? Lo pasti malu kalo mau ngomong tapi lagi rame. Makanya Ded, itu logat lo benerin, jangan kayak gitu kenapa sih. Lo nggak ngerasa ribet apa ngomong kayak gitu? Gue yang dengerinnya aja udah ngerasa ruwet banget. Daripada saya mending gue, daripada anda mending lo. Dari situ aja udah keliatan kalo logat lo tuh terlalu ribet.” Kata Riri sambil memainkan BB Magnumnya.
Dedi cuma bisa diem seribu bahasa. Oke, mungkin kata-kata ini berlebihan. Ralat, Dedi diem seribu kata-kata. Seperti biasa, dia nggak tau mau ngerespon apa. Soalnya dia nggak sepenuhnya ngerti. Entar kalo ngerespon taunya nggak nyambung lagi, kan malu.

***

Seiring dengan berjalannya jarum jam, satu per satu orangpun datang ke kedai es krim itu. Mulai dari Adri, lalu Dimi, kemudian Abe. Tinggal nunggu Rendy dan keempat cewek. Rendy paling telat seperti biasa, entah apa yang dilakukannya setiap ada acara. Sementara keempat cewek lama soalnya mau ngejemput sang manager dulu yang rumahnya agak jauh dari kedai itu. Hmm kira-kira seperti apa ya si manager itu? Yang pasti dia akan berpengaruh besar dalam band kecil-kecilan itu.
Sementara itu, kelima personil yang udah pada ngumpul di kedai lagi pada ngobrol-ngobrol. Mereka lagi ngebahas soal Dimi dan Dedi yang ternyata satu SD. Apakah dulu mereka pernah berteman? Atau mungkin sekedar sekelas doang? Atau justru malah musuh bebuyutan? Makanya jadi pada penasaran, terus pada nanya-nanya deh akhirnya sama Dimi. Ngapain nanya sama Dedi?
“Eh Dim, kalo nggak salah lo sama Dedi satu SD kan?” tanya Adri sambil menyantap es krim yang namanya Monochromatice—es krim vanilla yang disiram sama dark chocolate yang dicairin. Gara-gara coklatnya itu yang dark, jadi warnanya tua banget mendekati hitam. Es krim itu tampak hitam putih, makanya dikasih nama Monochromatice.
“Iya Dri, haha.” Kata Dimi sambil menyendok es krim yang namanya Tropical Vacation—es krim yang colorfull banget. Warnanya gabungan antara ungu, pink, kuning ke oren-orenan, dan ada putih-putihnya. Ungu itu rasa anggur, pink itu rasa strawberry, kuning ke oren-orenan itu rasa mangga, dan putih itu vanilla. Keempat rasa itu digabung jadi satu.
Adri menelan Monochromatice-nya yang mencair. “Cerita-cerita dong dulu gimana kalian berdua,” Katanya. “Kalian best friend, cs-an, classmates doang, apa justru musuhan? Kali aja kan musuhan.”
Dimi tertawa. “Hooo ya nggak dong Dri, yang bener tuh yang ketiga, classmates doang. Bhaha, jadi inget pas kelas enem deh. Kocak abis, nggak bakalan lupa gue. Jadi kangen.” Katanya sambil tersenyum.
“Apa? Lo jadi kangen Dim? Nih mumpung ada classmates, lo peluk gih sekarang.” Kata Riri sambil mengaduk-ngaduk minumannya. Belom kepikiran nih minuman yang kira-kira mahal apaan, makanya nggak dikasih tau.
Semuanya tertawa kecuali Dimi dan Dedi.
“Dulu Dedi kayak gimana sih Dim? Kayak sekarang, lebih parah, apa lebih baik?” tanya Abe sambil memakan kue es krimnya yang bernama Layer Patissier. Sesuai sama namanya, kue yang dimakan sama Abe itu terdiri dari tiga lapis es krim oreo yang dibentuk seperti kue.
“Emm gimana ya? sama aja sih kayak sekarang. Ya emang dari dulu dia culun begitu,” kata Dimi sambil membersihkan mulutnya dari es krim. “Yang paling kocak tuh ya pas dia diketawain sekelas gara-gara celananya melorot di depan kelas pas lagi ngerjain soal MTK! Hahaha sumpah kocak abis nggak bisa lupain gue.”
Sekali lagi, semuanya tertawa. Kecuali Dedi, yang ditertawakan. Mereka berempat tertawa seolah-olah Dedi itu nggak ada di situ. Udah terbang ke langit.
Dimi berhenti tertawa. “Terus masih ada lagi! Dia juga pernah pipis di celana gara-gara di takut-takutin sama anak-anak sekelas! Tapi gue sih nggak ikutan nakut-nakutin ya,” katanya. “Tapi gue ikutan ngetawain!” sambungnya kemudian. Lalu ia dan ketiga personil lainnya ketawa lagi.
Malang banget nasibnya Dedi emang dari dulu juga, dari lahir malah. Kodratnya dia itu emang buat ditindas sama orang-orang di sekitarnya.
Keempat personil itu berenti ketawa lagi. Kemudian mereka berempat menatap Dedi lekat-lekat. Dedi serasa mau dibunuh.
“Hmm, rambutnya dia butuh sedikit tornado.” Kata Adri. Lalu apa yang dilakukannya? Ia mengacak-ngacak rambut Dedi yang klimis dan belah tengah itu menjadi sangat berantakan. Rambutnya Dedi jadi mirip sama Rendy.
Abe mengerutkan dahi. “Kok rambutnya Dedi jadi mirip Rendy ya? apa gue yang salah liat?” katanya sambil menyantap Layer Patissier-nya sekali lagi.
“Ah, itu sih lo aja yang lagi kangen sama dia.” Kata Adri.
“Mirip Rendy sih ya mirip Rendy emang, cuma kalo rambutnya begitu jadi lebih enak diliat dia. Daripada yang tadi, udah klimis belah tengah pula.” Kata Riri. Emang sih mendingan, cuma jadinya aneh. Masa rambut aur-auran begitu tapi bajunya rapi banget? kan nggak cocok.
Dimi menyipitkan matanya. “Emang sih lebih mendingan ini daripada tadi, cuma jadi aneh. Masa rambut acak-acakan tapi bajunya rapi banget gitu sih? jadi kayak orang maniak fisika tau nggak, saking terobsesinya jadi stress.” Katanya, mengingatkan yang lainnya akan sosok Albert Einstein.
Adri memutar bola matanya. “Ya mungkin dia emang gitu kali Dim, cuma dia bukan jadi stress. Saking terobsesinya sama fisika jadi anak jaman dulu dia, nggak tau apa-apa soal jaman sekarang.” Katanya sambil menyantap Monochromatice-nya yang tampak seperti yin-yang yang hancur lebur dan bentuknya jadi abstrak.
Abe nyengir. “Nah, biar nggak aneh, kemeja bagian tangannya digulung sampe sini,” katanya sambil menggulung kemeja bagian tangan kiri Dedi. “Riri bantuin gue dong, lo gulung yang kanan. Hehe.”
Riri tampak menggerutu. “Ck dasar Abe, kenapa nggak gulung sendiri sih? kenapa mesti minta tolong gue? Hhh padahal lagi seru-serunya tuh, shit.” Gumamnya. Dia kesel soalnya dia lagi asik ngeliat gambar-gambar begituan di hpnya. Dasar cowok. Akhirnya dengan terpaksa, Riri menggulung kemeja bagian tangan kanan Dedi hingga sama dengan tangan kirinya. Baru setelah itu dia kembali ke rutinitas asalnya.
“Lumayan, lumayan,” kata Dimi sambil menganggukan kepalanya. “Tapi masih kurang, tuh kemeja dikeluarin dulu dari celana. Terus buang iket pinggangnya.” Katanya dengan sangat santai. Kalo Dedi bener-bener ngelakuin apa kata Dimi yang terakhir, bisa puasa secara paksa dia di rumah.
“Bu, buang? Saya harus membuang ikat pinggang saya?” tanya Dedi memelas. Kalo lagi biasa aja pun juga tetep aja kayak lagi memelas dia. Emang dasar mukanya melas sih. Pantes dia gitu orangnya, orang dengan tipe ditindas. Abis mukanya aja muka-muka melas. Muka-muka minta belas kasian dari orang lain. Masa muka kayak gitu tapi suka nindesin orang?
Adri tertawa kecil. “Ya elah Dedi, don’t be so serious dong. Orang kan bisa becanda. Ih nggak fun amat sih hidup lo, untung aja gue nggak jadi lo,” celetuknya. “Ya terserah lo tuh iket pinggang mau dibuang apa dibakar apa ditelen apa gimana, cuma intinya tuh iket pinggang harus dilepas.”
“Mengapa saya harus melepasnya?” tanya Dedi sekali lagi. Mendengar itu, Riri berhenti menatap layar hpnya dan langsung menoleh ke arah Dedi. Setau dia tadi Dedi mengakui sendiri kalo dia itu malu ngomong kalo lagi rame. Kenapa dia jadi berani ngomong gitu ya tiba-tiba? Berarti udah emergency banget, makanya mau nggak mau ya harus ngomong.
“Dedi, lo percaya aja deh sama kita semua. Kita sama sekali nggak bermaksud buruk kok sama lo, beneran deh. Dimi sama Adri itu nyuruh lo lepas iket pinggang juga buat kebaikan lo sendiri Ded.” Kata Abe sambil tersenyum manis. Wih, beruntung deh bisa jadi partnernya Abe. Mungkin kalo lagi di sudutin, cuma dia yang satu-satunya ngebelain atau setidaknya nggak ikutan nyudutin.
Riri menjentikkan jari tangannya. “Listen to him. Maksud gue, dengerin tuh apa kata Abe. Pokoknya, kalo kita semua udah nyuruh lo ngelakuin sesuatu, lo turutin aja udah. Nggak usah protes deh. Believe me, lo itu nggak tau apa-apa Ded. Kalo lo ngebantah, itu lo sendiri yang bakalan rugi. Lo mau apa rugi? Nggak kan? Ya udah turutin aja makanya nggak usah protes atau nanya-nanya lagi.” Katanya panjang-lebar. Emang bener sih apa kata Riri. Dedi itu nggak tau apa-apa.
Maksudnya nggak tau apa-apa soal jaman sekarang loh. Liat aja penampilan sama logatnya dia, apa itu jaman sekarang? Jelas nggak. Itu sih tahun 60-an 70-an. Nggak taulah, dari kecil dia diajarinnya cuma belajar dan belajar terus sih biar dapet masa depan cerah, kata orangtuanya. Emang sih kalo belajar terus menerus kan jadi pinter terus masa depan jadi cerah, tapi kalo cuma itu yang dilakuin setiap saat, masa depan nggak cerah lagi. Malahan jadi suram. Sekarang aja Dedi udah suram. Nggak usah nunggu masa depan lagi. Kalo gitu, berarti Dedi itu masa depannya ekstra suram—kalo nggak diubah dari sekarang.
“Apa lo maunya iket pinggang lo gue yang pegangin? Oke. Daripada gue harus nanggung malu satu meja sama lo di sini, mending gue pegangin iket pinggang lo aja deh.” Kata Adri. Uh, coba kalo Dedi ngerti sepenuhnya apa kata Adri tadi. Pasti nyesek banget tuh rasanya.
Dedi diem. Ia menelan ludah. Sejenak ia ragu mau ngelepasin apa nggak, cuma akhirnya dia lepas juga iket pinggangnya. Tapi keraguan dia belom abis, dia ragu lagi iket pinggangnya tuh mau dikemanain. Soalnya dia nggak enak sama Adri, masa dipegangin gitu sama dia? Udah kayak jompo aja.
“Nah gitu kan gampang, apa susahnya sih ngelepas iket pinggang doang?” tanya Dimi. “Itu kan iket pinggang udah nggak ada, sekarang lo keluarin kemeja lo dari dalem celana. Jangan dimasukkin gitu.” Katanya sambil menunjuk kemeja Dedi yang tepat memasukki celana bahannya.
Dedi menoleh ke bawah. Sebenernya dia tuh nggak ngerti maksudnya Dimi apa. Kemeja? Dikeluarin? Dari dalem celana? Itu adalah salah satu hal terasing bagi seorang Idam Husni, atau yang akrabnya disebut Dedi. Sedangkan bagi Riri, Abe, Dimi, dan Adri, hal itu adalah hal yang amat sangat biasa. Ya elah kemeja dikeluarin doang? Itu sih semua orang juga tau kali jaman sekarang sih.
“Astaga Dedi, lo nggak ngerti maksudnya kemeja dikeluarin dari dalem celana itu apa? Astaghfirullah alazim... baru kali ini hamba melihat orang begini ya Allah,” Kata Riri sambil memegang jidatnya. “Nih, kayak kemeja gue nih tuh. Keluar dari dalem celana kan? Ya kayak begini maksudnya, ngerti? Jangan bilang lo nggak ngerti.” Katanya sambil berdiri tegak. Menunjukkan kemejanya yang menjuntai keluar dari dalam celana pendeknya, menutupi sebagian celana pendeknya itu.
Adri geleng-geleng kepala. Dia bener-bener nggak ngerti sama Dedi. Kok dia bisa gitu ya sampe segitunya? Bener-bener kayak hasil reinkarnasi bapak-bapak yang udah mati tau nggak sih nih anak. Logatnya amat sangat baku, penampilannya juga kayak orang kantoran, kemeja dikeluarin aja nggak tau, dan yang lebih edan lagi, dia bisa-bisanya gitu keterima audisi band! Mau gimana coba nasib band itu kalo ada personilnya yang sekatro, sekuno, dan sejadul itu? Nggak usah keterima deh, ikutan aja juga nggak masuk di akal. Gimana caranya dia bisa ikutan ya kalo kayak gitu? Kenapa dia bisa tertarik buat ikutan? Mungkin isi flyersnya aja dia nggak ngerti kali.
Akhirnya Dedi meniru kemeja Riri yang keluar dari celana itu. Wah, sekarang penampilan Dedi jadi lumayan. Jadi kayak anak nerd tapi yang gaulnya. Rambut berantakan, kemeja bagian tangannya digulung, tanpa iket pinggang, dan kemejanya dikeluarin. Cuma masih kurang sedikit lagi.
“Hmm kayaknya masih ada yang aneh deh, apa ya?” kata Abe sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Rambut? Udah. Kemeja? Udah. Celana? Belom. Eh? Oh ya celananya! Celananya belom... digulung!” serunya lantang.
“Celananya digulung terus kaos kakinya dibuang,” Kata Dimi. Membuat bulu kuduk Dedi berdiri sekali lagi. “Ralat, kaos kakinya dilepas. Sama kayak iket pinggang tadi, dikemanain kek gitu.”
Dedi baru sadar kalo daritadi dia masih memegang ikat pinggangnya. Dia udah mutusin nggak bakalan ngasih ikat pinggang itu ke Adri. Ujung-ujungnya dia taroh di sebelahnya. Lalu ia merunduk untuk menggulung kedua celana bahannya. Mungkin semua outfit-outfitnya Dedi itu bekas semua kali ya. Bekas kakeknya, bekas bokapnya, bekas pamannya, bekas buyutnya...
“Gulungnya sampe... sini,” Kata Abe sambil menunjuk kaki Dedi, yang merupakan batas dimana Dedi harus menggulung celana bahannya itu. “Jangan ketinggian ya Ded, nanti kayak korban banjir loh.” Katanya. Abis itu suasana hening sejenak. Nggak ada yang ngomong apapun. Emang Abe nggak bermaksud ngelawak sih.
Abis menggulung celananya, Dedi kembali menegakkan badannya yang ceking beleking. Beratnya dia itu cuma 40-an kurang dikit, padahal dia itu termasuk cowok yang jangkung. Berat badannya emang abnormal.
“Udah?” tanya Dimi. “Kalo udah, sekarang lo lepas kaos kaki lo. Lo kemanain kek gitu terserah, tapi gue saranin sih mendingan lo buang aja, soalnya pasti baunya nggak enak. Kalo lo takut dimarahin, lo buka aja gulungan celana lo terus lo kebawah-bawahin biar nggak keliatan.”
Dedi mengangguk. Sepertinya dia nggak mikir lagi. Dia inget soalnya, kalo disuruh ngapa-ngapain itu nurut-nurut aja. Soalnya keempat orang yang bersamanya sekarang itu adalah temen-temen pertamanya. Dia nggak mau sampe kehilangan, makanya dia berusaha sebagus mungkin di depan mereka semua. Meskipun dia itu udah terlanjur jelek dimata mereka semua itu, kecuali Abe.
Pertama-tama, Dedi membuka sepatu vantovelnya. Baru kemudian ia membuka kaos kakinya sehingga jari-jari kakinya yang kurus-kurus terlihat dengan jelas. Dimi, Adri, dan Riri nutup hidung. Abe sih nggak, dia nggak mau nyinggung Dedi. Urat-urat di kaki Dedi tampak menonjol-nonjol karena ia kurus. Warna kulitnya pucat. Kuku-kukunya agak rusak. Keempat personil lainnya agak sedikit prihatin dengan keadaan Dedi yang seperti itu. Lalu, Dedi menghela nafas dengan tangan memegang kedua kaos kaki yang bau. Ia beranjak dari kursi duduknya dan melangkah keluar kedai. Jelas dia jadi perhatian orang-orang se-kedai lagi. Mau ngapain coba jalan-jalan sambil megang kaos kaki? Udah gitu tampilannya beda dari yang tadi lagi. Dia jadi kayak kesetanan gitu keliatannya. Tapi Dedi sama sekali nggak peduli—masalahnya, dia nggak boleh peduli. Jadi dia terus jalan hingga keluar kedai dan... PLUNG! Kaos kakinya tepat masuk ke dalam tong sampah terdekat kedai. Kini bau kakinya telah bercampur dengan bau es krim-es krim busuk maupun yang masih segar, dengan topping sampah-sampah lainnya. Impossible to pick it up again.
Setelah misinya terlaksana, ia kembali lagi masuk ke dalam kedai dan duduk di kursi asalnya bersama dengan keempat partner bandnya. Meja di deretan belakang itu adalah meja teraneh yang pernah ada di dalam kedai itu. Menurut pelayan dan pengunjung kedai, orang-orang yang menduduki meja belakang itu penuh misteri. Pokoknya ada yang nggak beres dengan meja itu. Begitu juga dengan yang mendudukinya sekarang. Dari awal dia masuk juga udah ketauan kalo dia itu nggak beres. Siapa? Ya Dedi-lah. Siapa lagi? Kompeni-kompeninya yang normal-normal aja juga jadi kena getahnya. Para pelayan dan pengunjung kedai jadi ilfeel sama mereka semua. Kok mau gitu ya bertemen sama orang macam Dedi?

***

Waktu terus berjalan hingga jam kucing menunjukkan pukul 02.30. Sementara yang ada di kedai baru itu berlima aja. Kemana lima sisanya? Rendy, Viona, Velope, Brian, dan Dennise? Kalo keempat cewek itu sih mungkin lagi terjebak macet atau si manager menemui hambatan, tapi kalo Rendy? Apa dia kelupaan, kesiangan, apa gimana? Padahal dia sendiri yang bilang kalo dia itu nggak mau buang-buang hidup lagi. Jangan-jangan penyakit males ngapa-ngapainnya itu kambuh lagi. Udah satu setengah jam loh dia ngaretnya.
“Aduh ini pada kemana sih orang-orang? Udah jam setengah tiga juga padahal! Pada lupa apa kalo hari ini ketemuan di sini?” gerutu Riri sambil menggebrak meja. Very Very Berry—es krim semua rasa berry yang di blender jadi satu pesanannya jadi terombang-ambing. Hampir aja tumpah.
Abe memegangi gelas yang berisi Very Very Berry itu biar nggak tumpah. “Sabarlah Riri, kali aja lagi pada kejebak macet. Mana mungkin pada lupa?”
“Bisa aja sih, tapi masa sampe segininya? apa nggak berlebihan?” tanya Dimi sambil meneguk Banana Smoothies pesanannya. Itu adalah hidangan ketiga yang ia santap setelah Tropical Vacation dan Sky High. Sky High itu isinya es krim blueberry yang disiram dengan es krim vanilla cair dan diberi potongan-potongan buah blueberry.
“Emang, cuma kalo kelupaan gue rasa sih nggak mungkin juga Dim. Kalo Rendy mungkin, cuma kalo yang cewek-cewek mustahil kayaknya.” Kata Adri sambil mengaduk-ngaduk smoothies rasa jambu klutuk, yang merupakan hidangan keduanya setelah Monochromatice. “Speaking about Rendy, gue ada cerita nih soal dia, kan gue sekelas sama dia. Mumpung orangnya lagi nggak ada nih, kalo ketauan bisa kena amukan dia gue nanti.”
Dimi nyengir. “Wah seru nih kayaknya, cepetan cerita Dri.” Katanya dengan antusias.
Adri meneguk smoothies jambu klutuknya sejenak. “Rendy itu punya musuh bebuyutan, cewek, namanya Rahel. Aduh, bebuyutan banget deh musuhannya, parah. Nggak peduli mau ada guru apa nggak, mereka tuh selalu ribut. Sering banget adu bacot sampe teriak-teriakan kalo lagi nggak ada guru, pernah juga sampe main fisik malahan.” Jelasnya.
“Nggak peduli mau ada guru apa nggak? Berarti kalopun ada guru mereka tetep berantem dong.” Kata Abe.
Adri mengangguk membenarkan. “Iya Be, kalo ada guru lagi ngajar di depan kelas juga mereka tetep aja ribut-ribut. Emang gila deh tuh berdua, sekelas sampe pusing tau nggak sih ngadepin mereka berdua.”
“Itu mereka emang sejak kapan jadi musuhan kayak gitu? Dari awal kelas 9, akhir kelas 8, apa dari kapan? Lo nggak tau ya soalnya nggak sekelas dari kelas 7?” tanya Riri.
Kalo tadi Adri mengangguk, sekarang ia menggeleng. “Nggak tau juga sih gue yang pastinya, cuma gue denger-denger sih emang udah dari awal kelas 7 mereka udah musuhan. Gitu deh sampe sekarang, gila nggak tuh?”
“Ckckckckck, kacau juga ya si Rendy,” kata Dimi sambil geleng-geleng kepala. “Emang kalo lagi ribut gitu yang mulai duluan siapa? Dominan Rendy-nya apa Rahel-nya?”
“Hmm siapa ya? nggak tau juga sih, tiba-tiba udah ribuuut aja. Orang sampe dipanggil sama guru BK berkali-kali kok, udah tiga kali deh kalo nggak salah gara-gara ketauan ribut melulu pas lagi pelajaran,” jelas Adri. “Tadinya mereka duduknya depan-belakangan, tapi sekarang jadi sebangku. Wali kelas mikirnya kalo sebangku mereka bakalan damai, ternyata malah lebih buruk.”
“Gawat juga ya Rendy ternyata,” kata Riri. “Lo tuh kalo di kelas duduknya deketan apa nggak sama dia?”
Adri meneguk smoothies jambu klutuknya sekali lagi. “Ya lumayan sih, cuma nggak deket-deket amat. Mereka berdua kan duduknya di pojok belakang kanan, gue duduknya di barisan sebelahnya pas di tengah-tengahnya.”
Sebenernya, Adri dan Rendy itu sama sekali nggak deket. Mereka hanya sebatas teman sekelas doang. Adri punya kelompok sendiri, begitu pula dengan Rendy. Mereka baru berinteraksi kalo ada perlu doang, selain itu ya nggak. Kalo lagi istirahat dan pulang sekolah mereka juga pisah. Kalo pas lagi pelajaran yang tugasnya membutuhkan pasangan-pasangan yang berjenis kelamin yang sama menurut absen, Rendy dan Adri selalu berpasangan. Absen mereka itu cuma dipisah sama Rahel doang. Adri, Rahel, baru Rendy. Tapi yah, cuma segitu aja kedeketan mereka berdua, nggak lebih. Dan siapa sangka kalo mereka itu ketemu lagi tapi jadi partner band? Mungkin hal ini akan berpengaruh di sekolah. Adri dan Rendy jadi deket kalo di kelas, maupun di sekolah.
“Kok bisa gitu ya? sampe dipanggil guru BK tiga kali segala, berarti udah parah banget dong,” kata Abe. “Kenapa ya Rendy bisa dendam kesumat banget sama Rahel? Gue jadi penasaran deh, kayak gimana sih Rahel itu?”
“Lo mau tau? Rahel itu agak pendek, agak gendut, perutnya buncit. Kulitnya putih, rambutnya lumayan panjang, di mukanya ada tai lalet, pake behel. Kalo lagi pelajaran make kacamata, sepatu suka dilepas. Pernah tuh sepatunya diumpetin sama si Rendy sampe sekelas gempar, akhirnya dibalikin sih tapi. Terus anaknya smart, hpnya Bold, banyak yang naksir. Kalo dijodoh-jodohin sama Rendy, pasti langsung ngambek, kalo Rendy, marah-marah.” Jelas Adri panjang-lebar.
Yang lainnya speechless. Detil banget ya kayaknya penjelasan dari Adri soal Rahel. Hmm jangan-jangan ada udang di balik batu nih.
“Kok lo tau sampe segitunya sih Dri? Gue jadi curiga nih, jangan-jangan lo suka lagi sama si Rahel,” kata Riri. “Nih ya Dri dengerin gue. Lo mending ganti gebetan aja deh, bisa gawat kalo misalnya ketauan sama Rendy. Pasti bisa ribut-ribut dia.”
Adri merengut. “Nah begini nih yang gue nggak suka, gitu aja dibilang suka,” gerutunya. “Riri, Rahel itu sorotan gara-gara langganan ribut sama Rendy, makanya gue tau banget soal dia. Bukan cuma gue doang kali, seangkatan juga tau. Dan, hobi gue itu emang meneliti orang-orang. Kebetulan Rahel itu tukang ribut di kelas, dialah yang jadi sasaran penelitian gue.”
Riri nyengir. “Gue kan cuma becanda Dri.” Katanya sambil mengaduk-ngaduk Very Very Berry pesanannya. Setelah adukannya dirasa cukup, ia meneguk hidangan segar itu sejenak. Satu teguk, dua teguk, tiga teguk Very Very Berry masuk ke dalam kerongkongannya.

***

KLENENG! Tiba-tiba pintu masuk kedai berbunyi. Emang kalo ada orang masuk bunyi gitu. Pintu masuk berbunyi, tandanya ada orang yang memasuki kedai. Orang yang memasuki kedai ini lelaki remaja. Ia kurus dan jangkung. Rambutnya aut-autan, nggak karuan deh pokoknya kayak abis bangun tidur. Harusnya ia memakai kacamata, tetapi saat itu dia tidak memakainya. Pakaiannya amat sangat simpel, seperti orang yang mau ke Circle K di seberang jalan. Cuma sweater putih yang dipadu dengan celana pendek warna hitam. Alas kakinya? Sendal hotel. Dia tampak belum mandi.
Pria acak adut itu cukup menyita perhatian se-kedai. Mereka semua bingung kenapa nih orang berantakan banget. Pasti orangnya males banget deh, pikir mereka semua. Seperti biasa, setiap pengunjung baru pasti diliatin sama semua pengunjung yang udah ada bahkan sampe pengunjung baru itu duduk di kursinya. Padahal bukan artis, bukan pejabat. Nggak tau ya, orang-orang Indonesia itu punya kebiasaan ngeliatin orang lain dengan pandangan yang tidak rileks. Biasanya sih para wanita yang begitu.
Si pria berantakan mengacak-ngacak rambutnya yang udah sangat berantakan dari awal dia masuk kedai sambil terus berjalan ke kedai deretan belakang. Dia udah tau dimana seharusnya ia duduk, di mana rombongannya. Lelaki ini emang akrab dengan kata-kata ‘belakang’. Dia suka dengan belakang, karena dia nggak gitu suka jadi sorotan. Dia semakin mendekati rombongannya, dan salah satu orang yang termasuk di dalam rombongannya itu melihat sosoknya. Kemudian ia berbisik kepada orang yang lain dan menghentikan omongan salah satu teman serombongannya. Teman serombongannya itu lagi ngomongin sesuatu yang ada kaitannya dengan si pria berantakan. Si pria berantakan nggak boleh denger. Pasti dia langsung marah kalo denger, soalnya.
Semua anggota rombongan si pria berantakan langsung membisu seketika. Mereka langsung mencicipi hidangan masing-masing. Ada pula yang melakukan kegiatan lain. Si pria berantakan agak sedikit curiga, soalnya pas rombongannya melakukan gerak-gerik yang mencurigakan, dia masih agak jauh jadinya nggak begitu keliatan. Cuma rombongannya itu bisa ngeliat dia dengan jelas, makanya langsung buru-buru berenti ngobrol.
Akhirnya si pria berantakan sampai juga di meja rombongannya yang berada di deretan belakang itu. Pas dia sampe, semua anggota rombongannya lagi diem sambil mencicipi hidangan masing-masing. Itu aneh. Mereka nggak mungkin dong diem gitu dari awal ngumpul sampe si pria berantakan dateng. Pastilah mereka ngobrol-ngobrol. Cuma ada satu hal yang pasti. Mereka berenti ngobrol mendadak. Mereka belaga nggak ngeliat si pria berantakan. Tapi si pria berantakan nggak peka. Dia sih cuek aja, yang penting rombongannya udah dateng aja.
“Hai, Rendy.” Kata Dimi, salah satu anggota rombongan si pria berantakan. Ia menyebutkan nama si pria berantakan tadi. Dia menyapa si pria berantakan sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Berpura-pura tidak menyembunyikan apapun dari si pria berantakan.
“Hai juga, Dimi.” Balas si pria berantakan yang bernama Rendy itu. Jam kucing menunjukkan pukul 03.00. Ia terlambat tepat dua jam dari yang seharusnya. Ini adalah keterlambatannya yang kedua kali. Pada acara sebelumnya di Comic Cafe, ia juga datang terlambat. Paling belakangan diantara keenam personil. Dia itu memang seorang pemalas. Hobinya adalah tidur. Menurut dia, terlambat itu lebih baik ketimbang tepat waktu. Kenapa? Soalnya kalo terlambat, yang lainnya pasti udah dateng. Sedangkan kalo tepat waktu kan belom.
Abe tersenyum manis. “Sini Ren, duduk deket gue.” Katanya sambil menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Menyisakan tempat untuk Rendy yang baru aja datang setelah dua jam berlalu.
Alhasil Rendy duduk di sebelah Abe. “Sorry ye gue telat lagi,” katanya. Kemudian ia melirik jam kucing yang terpampang di dinding kedai. “Wah! Udah jam 3 aja, berarti gue telat 2 jam dong. Aduh, gue kira cuma telat setengah jam doang. Tailah.” Gerutunya.
“Ah nggak apa-apa kok Ren, lagian yang cewek-cewek juga semuanya belom dateng.” kata Abe. Aduh, baik banget ya Abe itu. Dia ngomong itu bener-bener dari hati loh, nggak pura-pura belaka.
Rendy melotot. “What? Cewek-cewek belom dateng... semua?” pekiknya. Lalu ia melirik ke sekeliling meja tempat ia bernaung. Cuma ada lima cowok selain dirinya di sana. “Mereka kemana sih? eh, gue baru nyadar,” katanya saat melihat sosok Dedi yang berbeda jauh. “Lo abis ke rumah sakit mana Ded? Lo abis dikenain alat kejut jantung kan?”
Adri tertawa. “Sialan lo Ren, ini hasil makeover kita berempat! Hasil karya gue, Riri, Dimi, sama Abe. Lo sih telat, makanya jangan telat, kan jadi ketinggalan berita.”
“Cewek-cewek lagi jemput manager,” kata Riri. “Lo kemana aja sih? Lo pergi dulu ke warnet deket rumah lo terus keasyikan main, apa lo bangunnya kesiangan, apa lo lupa kalo ada janji disini, atau justru lo kelamaan nungguin delivery Pizza Hut?” tanyanya sambil melipat kedua tangan.
“Iya Ren, lo kemana aja sih? udah kita tungguin loh padahal daritadi, rugi lo dua jam telat. Tadi kita berempat (minus Dedi) sampe mesen es krim berkali-kali saking lamanya lo dateng. Kita berempat juga ngobrolin macem-macem, wah rugi parah deh lo baru dateng sekarang.” Kata Dimi.
Baca pengakuan Rendy di sambungan bab ini, bab 9.




(Bersambung)

0 opinions:

Post a Comment