October 3, 2009

Bab 10

Bab 10
Introducing Anggara Mirza Ilham 3 (Tono?)


Si manager nggak tinggi dan rada gendut. Kulitnya sawo matang. Sejauh ini cuma bisa itu yang dikasih tau, kenapa? Karena ia membelakangi keenam personil. Jadi mukanya nggak keliatan. Handphone Sony Ericsson walkman menempel di kuping kanannya, ia memegang handphone itu di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya bergerak-gerak, kadang-kadang ketutupan badan kadang-kadang kesamping badan jadinya keliatan sama keenam personil. Tangan kirinya itu nggak kosong ternyata, dia juga memegang sesuatu di tangan kirinya. Makanan. Kecil. Enak. Coklat. Cookies. Jadi kesimpulannya adalah, si manager lagi asik telponan sambil makan cookies.
Keenam personil memandang si manager dengan tatapan heran, cuma beda-beda. Dedi herannya disimpen di hati, Rendy mengerutkan dahi, Dimi menyipitkan mata, Adri agak melotot sedikit, Abe ngeliatin dari atas ke bawah, dan Riri menaikan sebelah alisnya. Dedi tuh emang ya, heran aja nggak mau keliatan sama yang lainnya. Jadi dia tampangnya ya tampang biasa aja nggak ada heran-herannya sama sekali. Padahal ia jelas heran. Apa yang dia heranin dari si manager? Apaan tuh yang dia pegang di tangan kirinya? Belom pernah liat deh.
Para cewek juga jadi heran, kenapa tampang para cowok kayak gitu semua. Akhirnya mereka menoleh ke arah si manager.
Velope mengerutkan dahi tanda kesal. “PLEASE WELCOME, ANGGARA MIRZA ILHAM!!!!!” teriaknya keras-keras tepat di kuping si manager. Membuat se-kedai jadi makin terheran-heran sama meja yang ada di deretan belakang itu. Pertama, ada anak remaja yang kayak hasil reinkarnasi bapak-bapak yang tingkah lakunya aneh sekali yang datang lalu duduk di sana. Kemudian diikuti dengan anak tajir yang ternyata, kenal dengan anak dengan tingkah laku aneh tadi. Itu aja udah cukup membuat se-kedai jadi bingung banget. Gimana caranya coba kedua orang yang bertolak belakang itu bisa kenal? Dan makin lama, bukannya pertanyaan itu terjawab, malah justru makin membingungkan. Satu per satu remaja laki-laki datang ke kedai dan duduk di kursi deretan belakang, dimana ada si anak ‘ajaib’ itu. Gimana caranya si anak ‘ajaib’ bisa kenal sama anak-anak remaja laki-laki yang jauh lebih jaman sekarang ketimbang dirinya?
Kedua, dari kursi deretan belakang itu juga terdengar teriakan marah tiba-tiba seorang remaja pria yang berantakannya setengah mampus. Membuat beberapa aktivitas pengunjung dan pelayan kedai jadi terganggu gara-gara kaget. Nggak ada bulan, nggak ada bintang, nggak ada apapun, mendadak ia teriak marah-marah kepada si anak ‘ajaib’ dengan suara yang amat sangat keras. Belom lagi kata-katanya itu loh, “Bukan email gigi, bego! Itu sih semua orang juga punya! Cuma orang cacat yang nggak punya!” bukannya itu terlalu frontal kalo diteriakin di dalem kedai? Kali aja salah satu pengunjung atau pelayan kedai ada yang bernasib buruk. Mungkin ada yang terlahir tanpa email atau mungkin terlahir dengan email yang buruk ataaau, bisa juga karena kesalahan, sekarang email orang bernasib buruk itu rusak parah. Dan yang lebih parahnya lagi, si yang ngucapin ini nggak peduli sama sekali soal ucapannya ini. Yang dia peduliin cuma pandangan takut dari kedua partner bandnya aja. Selain itu, bodo amat deh.
Dan yang ketiga, kemunculan kelima orang ini. Keempat cewek dan seorang cowok. Dari awal mereka masuk aja tuh udah aneh sebenernya. Si cowok kayak di anak tirikan gitu sama keempat cewek. Dia ditaro di belakang, sebisa mungkin sosoknya nggak keliatan sama orang-orang di meja deretan belakang. Lalu mereka berlima terus berjalan mendekati meja deretan belakang yang porak-poranda itu. Pas udah nyampe, si cowok mengangkat telpon dari handphonenya dan juga menyantap cookies, tepat membelakangi keempat cewek dan meja deretan belakang serta orang-orangnya juga. Dia telponannya seru banget, nggak tau deh tuh sama siapa dan ngomongin apa. Abis sambil makan cookies juga sih. Terus tiba-tiba keempat cewek bergeser ke samping agar keenam cowok di meja belakang bisa melihat sosok cowok yang lagi telponan itu dengan jelas. Apa coba maksudnya? Terus akhirnya, salah seorang cewek teriak di kuping si cowok yang lagi telponan keras-keras. Membuat heboh kedai sekali lagi. Se-kedai jadi makin heran sama orang-orang di meja belakang itu. Nggak tau apa aneh apa sinting apa gimana ya. Yang jelas, diantara meja-meja lain, meja deretan belakang itulah yang paling menarik perhatian dan yang paling heboh. Konon kabarnya, meja belakang emang selalu begitu, bahkan jauh sebelum orang-orang ini menempatinya.

***

Si manager merasa ada tekanan besar pada telinga kanannya. Udah gitu, pasti suara Velope tadi kedengeran sama orang yang menelpon dia. Ya terpaksa deh sambungan telponnya diputus. “Entar gue telfon lagi ya, eh jangan jangan lo aja yang telfon.” Katanya. Kemudian sambungan telpon resmi terputus.
“Ih lo mah, sekarang malah telfonan. Kan lo mesti kenalan sama anak-anak buah lo, gimana sih. Udah gitu punya cookies nggak bagi-bagi lagi sialan.” Kata Velope sambil melipat kedua tangannya.
Si manager menggigit cookiesnya dengan nikmat. “Tadi itu emergency Vel, penting nggak bisa diganggu gugat,” katanya dengan suara yang tak begitu jelas. “Soal cookies, ini itu satu-satunya. Jadi mana bisa dibagi? Orang gue sendiri aja baru makan sekarang.”
Velope memutar bola matanya. “Ya deh ya deh terserah lo aja, yang penting sekarang lo mesti kenalan sama anak-anak buah lo. Nggak cuma satu loh, ada enem orang. Jadi jangan main-main ya lo, harus serius pokoknya gue nggak mau tau.” Katanya.
Si manager menoleh ke arah keenam personil. Kemudian ia tersenyum manis. “Tadi kalian semua udah denger, nama gue Anggara Mirza Ilham. Biasa dipanggil Angga, cuma kata cewek-cewek tadi disini gue dipanggilnya Mirza aja,” katanya. “Sekarang gue mau kenalan sama kalian semua soalnya gue itu manager kalian. Gue minta sekarang kalian nyebutin nama panjang sama nickname masing-masing, mulai dari kiri ke kanan.”
Abe mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Kiri dari sisi lo apa kiri dari sisi kita?” tanyanya. Itu adalah pertanyaan yang penting, biar entar nggak salah orang.
“Emm... dari sisi lo.” Jawab si manager. Eh bukan, Mirza maksudnya.
“Prasetyo Dwiadri Akbar, Adri.” Kata Adri dengan senyuman. Dia juga menjabat tangan Mirza, yang menandakan kalo mereka berdua itu udah resmi kenalan sekarang. Jadi udah bukan stranger lagi.
“Rendy Iqbal, Rendy.” Kata Rendy sambil menjabat tangan Mirza. Tapi dia nggak pake senyuman. Jadi ya biasa aja dengan tampangnya yang begitu. Harus diakui, Rendy itu bukan sosok orang ramah dengan penuh basa-basi.
“Saputra Jordan Poernama, tapi gue dipanggilnya Abe biar orang manggil gue gampang. Hehe salam kenal ya Mirza.” Kata Abe dengan senyuman manis dan sangat friendly. Dia juga menjabat tangan Mirza. Kalo Abe sih nggak usah ditanya baik apa nggak. Baiknya minta ampun dia sih. Baik dan ramah, itulah dia. Terbalik dengan orang yang disebelah kirinya.
“Pratama Dimitri, Dimi. Salam kenal ya.” kata Dimi dengan senyuman kecil di bibirnya. Dia mengucapkan itu juga sambil menjabat tangan Mirza yang berisi itu. mereka udah resmi kenalan sekarang. Kalo Dimi orangnya sih biasa-biasa aja. Nggak ada yang spesifik.
“Aditya Rivano Putera, Riri. Nice to meet you.” Kata Riri dengan tampang biasa aja sambil menjabat tangan Mirza. Padahal dia ngomongnya nice to meet you. Gara-gara Abe, yang lainnya jadi ikutan pake kata-kata tambahan juga. Nggak cuma nama panjang sama nickname doang.
Kalo yang tadi-tadi langsung disambung, kali ini nggak. Padahal harusnya abis Riri masih ada satu orang lagi yang harus kenalan sama Mirza. Dimi, Rendy, Abe, Adri, Riri udah. Berarti siapa dong yang belom?
“Sekarang giliran lo Ded yang kenalan sama Mirza, manager kita. Lo cuma harus nyebutin nama panjang sama nama panggilan lo doang kok, nggak macem-macem.” Kata Adri. Nggak seperti biasanya, kali ini Adri biasa aja. Padahal biasanya kan dia jutek sama Dedi.
Rendy mengerutkan dahi. “Cepetan dong! Lama amat sih begitu doang! Nggak ngerti lo tadi Adri ngomong apa? Terus lo ngertinya apa? Bahasa E.T hah?” tanyanya dengan emosi.
“Sabar Ren sabar, mungkin Dedi masih malu. Gitu aja kan nggak fatal.” Kata Abe sambil menepuk pundak kanan orang yang duduk di sebelah kirinya itu.
Rendy cuma memutar bola matanya.
“Id, Idam, Idam Hus, Husni. Te, tetapi, sa, saya biasa, biasa dipanggil Dedi. Kare, karena sa, saya seperti bapak-bapak.” Kata Dedi. Tidak dengan senyuman tidak juga dengan jabatan tangan. Mirza yang udah mengulurkan tangan jadi agak sedikit tersinggung karena tangannya dianggurin. Dia jadi agak heran dengerin kata-katanya Dedi tadi. Kok aneh ya? apa bahasanya yang aneh atau alasan kenapa dia dipanggil Dedinya yang aneh? Dia juga ngerasa kalo personil yang satu ini tuh paling jelek sendiri diantara yang lain.
“Okeeey,” kata Mirza dengan ragu-ragu. “Sekarang kita bertujuh udah kenalan. Gue sebagai manager kalian tugasnya adalah ngaturin jadwal kegiatan-kegiatan kalian, kalo kalian udah tau jadwal kegiatan kalian, itu harus diikutin, jangan dilanggar. Untuk sekarang sih baru segitu doang peran gue, soalnya kalian itu masih dalem tahap pra-karir alias sebelum mulai ngarir. Jadi yang kalian perlu lakuin itu cuma ikutin jadwal dari gue buat persiapan ngarir nanti, ngerti?” jelasnya panjang-lebar.
Lagi-lagi Abe mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Maksudnya ngarir itu apa? Terus isi jadwalnya apa-apa aja?” tanyanya seperti biasa.
“Ngarir itu artinya berkarir kayak rekaman, bikin video klip gitu-gitu. Cuma gue bilangnya ngarir soalnya kalo berkarir tuh baku banget. Kan aneh kalo jaman sekarang masih pake bahasa baku,” kata Mirza. Tanpa sengaja dia menyindir seseorang di situ. “Isi jadwalnya ya latihan, survei tempat buat nge-gig, terus kapan bikin flyers buat gig kalian, kapan bikin demo, kapan bikin page di MySpace dan lain-lain.”
“Oooh ya ya gue ngerti,” kata Abe sambil tersenyum innocent. “Terus kalo gig itu artinya apa? Gue belom pernah denger soalnya hehe, maaf ya kalo kebanyakan nanya.”
“Ya elah nyantai aja kali sama gue doang mah,” kata Mirza. “Gig itu artinya tampil di tempat-tempat kecil—yah bisa dibilang tampil kecil-kecilan lah. Kayak misalnya di kafe atau bar. Lewat gig, kalian juga bisa dapet income loh dari hasil jualan copy-annya Compact Disc kalian, harus ada lagu-lagunyalah tapi.” Jelasnya.
Rendy nyengir. “Berarti entar jadwal gignya banyakin aja, Za!” serunya. “Terus jadwal bikin Compact Disc sama copy-annya juga banyakin, biar incomenya dapet banyak.” Katanya. Yang Rendy pikirin nomer satu sih duit emang.
“Asal lagu kalian enak atau kalian maininnya bagus sih, mungkin aja copy-an Compact Disc kalian bisa laku sama yang nonton gig kalian.” Kata Brian.
Mirza menyipitkan mata sambil mengamati para personil yang baru dikenalnya itu satu-satu. “Hmm lumayan, lumayan. Not bad-lah. Diatas rata-rata semua, kecuali...” gantungnya. “Dia. Siapa tadi namanya? Edi ya?” Sambungnya sambil menunjuk Dedi.
Dennise tertawa. “Bukan Edi Za, Dedi.”
Nggak ada yang kaget ataupun heran. Semuanya udah pada nebak, pasti kalo ada yang paling buruk diantara mereka ber-enam, itu pasti Dedi. Dibandingin sama kelima personil lainnya, Dedi jelas kalah tampang maupun selera. Diliat sekilas kalo yang liat normal sih pasti gitu mikirnya. Meskipun tadi Dedi udah di ‘makeover’ sama Adri, Abe, Riri, dan Dimi, tetep aja dia masih jadi yang paling buruk diantara personil lainnya. Soalnya tampang asalnya juga udah yang paling buruk diantara yang lainnya. Kalo kayak gitu udah susah deh buat bangkit. Kalo perlu, operasi plastik aja biar gantengan dikit.
Mirza menurunkan tunjukkannya pada Dedi. “Gue nggak ngerti kenapa dia termasuk. Ini personil-personil band kan? Kenapa dia bisa masuk sih? Velope, Dennise, Viona, Brian? Kalian nggak salah nih masukin dia? Dia sama sekali nggak komersil loh.”
Viona menggeleng. “Nggak, kita nggak salah kok masukin dia. Ya meskipun agak terpaksa juga sih, abis peserta-peserta yang calonin diri jadi vokalis selain dia lebih parah sih.”
“Hah? Vokalis?” pekik semua cowok kecuali Dedi dan Abe. Dedi nggak memekik karena itu tentang dirinya, mana mungkin dia ngomongin dirinya sendiri kan. Sedangkan Abe, dia masih mencerna kata-katanya Viona tadi.
“Jadi, jadi di band ini posisinya si Dedi itu vokalis?” tanya Riri dengan intonasi tinggi. Intonasi orang yang bener-bener kaget. Dia ngarepnya Dedi itu posisinya yang sekedar tambahan doang kayak keyboard atau backing vocal yang nantinya nggak bakalan disorot amat. Tapi ternyata harapannya meleset jauh. Amat jauh. Dominan band itu pasti yang paling disorot adalah vokalisnya. Mungkin karena dia memberikan suara yang berbentuk nyanyian, makanya dia yang paling berperan dalam sebuah band.
Velope menghela nafas. “Unfortunately, yes.” Katanya sambil menganggukan kepala. Sebetulnya dia sendiri juga khawatir banget dari kemaren-kemaren soal ini. Masa orang seperti Dedi justru malah jadi vokalis? Jangankan jadi vokalis, jadi personilnya aja udah menghawatirkan sebenernya. Tapi mau apa lagi? Diantara calon-calon vokalis lainnya di audisi, cuma dia yang suaranya paling baik. Kalo mau nyari yang di luar audisi ribet lagi soalnya. Pasti makan waktu lama dan nilainya pusing. Soalnya pasti bakalan banyak yang ikut dan mungkin suaranya bagus-bagus semua. Kan jadi pusing mau milih yang mana. Jadinya yah, yang ada aja.
Rendy, Dimi, Riri, Adri, bahkan Mirza tampak kecewa sekali. Rendy memegang dahinya, Dimi masang tampang kecewa, Riri tampak nggak percaya sementara Adri berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sementara Mirza geleng-geleng kepala.
“Nggak tau ya kalo emang dia suaranya di atas rata-rata sih berarti tinggal dibenerin aja, masih ada harapan buat masa depan band ini. Cuma kalo nggak bisa dibenerin yah... say goodbye aja udah.” Kata Dimi.
“Yah jangan ngomong gitu dong Dim, baru aja kita semua mulai masa udah say goodbye aja sih.” kata Abe dengan nada dan tampang memelas. Dia sama sekali nggak mempermasalahkan soal Dedi. Yang dia permasalahin cuma soal arti say goodbye dalam kata-katanya Dimi tadi. Artinya kan berarti bubaran dong.
Rendy berpangku tangan di meja. “Anjing, gue kira si Dedi posisinya nggak penting. Taunya dia vokalisnya. Ah dongo lo Ren, lo kan audisinya bareng dia. Harusnya lo bisa pengaruhin juri-jurinya biar nggak nerima si Dedi. Sekarang udah terlambat, hancur deh semua.” Gumamnya dalam hati.
“Lo yakin Vel? Maksud gue, kalian berempat yakin? Kalian semua bener-bener seratus persen yakin kalo Dedi itu vokalisnya? Nggak ada niat pengen ganti orang atau ganti posisinya dia? Seterusnya selama-lamanya dia bakalan tetep jadi vokalis band ini?” tanya Adri bertubi-tubi. Dia masih nggak bisa menerima kenyataan yang ada kalo Dedi itu adalah vokalis band yang ia ikuti sekarang. Wah, jadi nggak selera.
Keempat juri alias keempat cewek bertukar pandangan sejenak dengan tampang khawatir. Lalu Dennise menghela nafas. Mewakili semuanya, ia mengangguk pelan dengan ekspresi wajah yang tidak senang. Mereka berempat juga setengah hati sebenernya nerima Dedi jadi vokalis, kan tadi Viona juga udah bilang.
Keenam personil kecuali Dedi tentunya makin kecewa. Mereka semua udah cukup menerima kenyataan pahit bahwa seseorang seperti Dedi adalah salah satu partner band mereka. Oh ya, kecuali Abe. Abe nggak kecewa sama sekali. Dia nggak ngerti kenapa keempat partnernya yang lain kok kayaknya sedih banget gitu melihat Dennise mengangguk tadi. Dia juga nggak ngerti kenapa keempat juri dan Mirza juga tampak sedih menerima kenyataan kalo Dedi itu adalah vokalisnya. Dia sama sekali nggak ngerti.
Mirza menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia buang perlahan-lahan dari kedua lobang hidungnya. “Oke oke kalo ini emang keputusan kalian. Kalo emang pas audisi itu nggak ada yang lebih baik daripada dia suaranya. Gue harap sih kekurangan dia ya cuma tampangnya aja, nggak ada lagi. Soalnya band ini bisa nggak ketolongan kalo dia ternyata punya banyak kekurangan. Dia vokalisnya soalnya.”
Semuanya kecuali Mirza, Abe, dan Dedi tertegun mendengar perkataan tadi. Apalagi yang bagian “Soalnya band ini bisa nggak ketolongan...” dan seterusnya. Padahal mereka semua berharap band kecil-kecilan ini bakalan sukses besar. Manggung dimana-mana, punya album yang sukses di pasaran, punya single-single yang laku, pendapatan banyak, jadi terkenal dan sukses, dan yang paling dipengenin, go international. Bahkan kalo perlu tur keliling dunia. Sekarang kalo vokalisnya aja kayak gitu gimana itu semua bisa terjadi? Boro-boro nyanyi, ngomong sehari-hari aja masih belom bener. Mimpi manis aja deh mendingan.
“Sayangnya, kekurangan dia tuh banyak banget. Udah gitu parah-parah lagi. Seumur hidup gue, dia itu adalah orang paling aneh yang pernah gue kenal. Nggak usah jadi vokalisnya, jadi personilnya aja gue juga udah ragu sebenernya,” Kata Rendy. “Nih ya, logatnya dia tuh baku. Terus, penampilannya dia tuh bokap-bokap kantoran banget, sekarang kayak gini gara-gara tadi dibenerin sama yang lainnya. Nggak cuma itu, dia juga nggak punya account apapun. Dan yang paling parah adalah, dia nggak punya hp.”
Keempat juri dan Mirza melotot. Itu adalah hal paling mengejutkan bagi mereka. Jaman sekarang orang nggak punya hp itu gimana coba? Tukang sayur sama tukang becak aja punya, masa vokalis band nggak punya? Sekarang hp itu adalah barang wajib bagi setiap orang. Teknologi kan udah ada, udah modern. Jadi udah sepatutnya dimanfaatin.
“Demi apa nggak punya hp?” pekik Mirza. Untuk orang seperti dia yang hobi telfonan, orang yang nggak punya hp itu ibaratnya orang dengan sebelah tangan. Saking pentingnya jadi disamain sama tangan. Coba aja bayangin orang yang tangannya cuma sebelah kan kesulitan banget pasti. Sama kayak orang yang nggak punya hp.
Adri mengangguk. “Iya, nggak punya hp. Kaget banget kan? Hari gini nggak punya hp, anak SD aja pada punya. Mungkin anak TK juga ada yang punya kali. Sedangkan dia? Yang udah mau SMA malah nggak punya. Dunia makin hancur emang lama-lama, makin nggak beres.”
Mirza geleng-geleng kepala. “Yaampun, yang bener aja vokalis kayak gitu? Pantes dia dipanggil Dedi, emang cocok sih. Udah kayak daddy daddy emang dia,” katanya. “Ini bahaya ini kalo gini caranya sih, masa depan band ini udah suram. Gimana orang mau respect sama band ini kalo vokalisnya aja tuh nggak banget? bisa-bisa kayak Kenjen Band deh kalian.”
Riri melotot. “Apa? Kayak Kenjen Band? Oh nggak nggak nggak gue nggak mau! Enak aja band gue kayak Kenjen Band! Masa band gue disamain kayak band alay kampungan itu sih? yang lagunya asal-asalan, yang personilnya alay-alay, yang muka vokalisnya beruntusan terus ketutupan rambut jeleknya itu! No way!” pekiknya keras-keras. Nggak peduli dia mau di mana juga.
“Tenang tenang tenang, maksud gue nggak sama persis juga kok, cuma model-modelnya. Vokalis yang paling diharepin sama orang-orang, yang paling jadi sorotan media, malah yang paling buruk diantara yang lainnya. Kenjen Band gitu kan? Kalian juga. Udah gitu buruknya luar dalam lagi,” kata Mirza. “Kecuali kalo diubah segera, mungkin dia dan band ini masih bisa ketolongan dan nggak kayak Kenjen Band! Hiiiii gue juga nggak mau deh jadi managernya band yang kayak Kenjen Band.”
Mendengar kata-katanya Mirza barusan, terutama yang terakhir, keenam personil jadi tersinggung. Kecuali Dedi, karena dia nggak ngerti apa kata Mirza. Bahkan Abe yang paling baikpun merasa agak sedikit tersinggung. Tapi yang paling tersinggung itu adalah Rendy. Dia merasa Mirza itu udah ngerendahin band-nya banget.
“Diubah segera? Wah, emang wajib kalo itu sih. Gue nggak mau nanti kalo misalnya kalian udah mulai terkenal, si Dedi ketauan belangnya sama media. Mampuslah kita semua.” Kata Viona. Maksudnya Viona itu adalah media tau keburukan-keburukan Dedi, yang disebut belangnya tadi. Bukan Dedi itu ketauan hidung belang sama media. Gorok aja Dedi kalo hidung belang. Baru terkenal dikit aja udah belagu.
“Tapi gimana cara ngubah dalemnya yang cepet? Kalo luarnya sih gampang, serahin aja sama kita berempat. Cuma kalo dalemnya kan susah, ada banyak dan pasti prosesnya bakalan lebih lama.” Kata Brian.
Mirza tersenyum sambil menjentikkan jari. “Ah! Gue tau! Gue ada ide bagus!” serunya. “Yang ngubah dalemnya itu ya partner-partnernya. Jadi ada lima aspek yang perlu diubah, bisa dibilang diajarin ke Dedi. Masing-masing partner ajarin satu aspek. Daripada satu-satu mending lima sekaligus kan?”
Velope tersenyum. “Iya iya iya gue setuju gue setuju. Pinter lo Za, gue pikir lo nggak tau gimana caranya.”
Mirza cemberut. “Sialan lo Vel, ya gue taulah. Kalo gue nggak tau terus kenapa gue bisa ada di sini sekarang? Kenalan sama enem orang cowok-cowok yang bakalan jadi anak buah gue, terus kenalan sama tiga cewek partner-partner gue?” katanya sambil melipat tangan.
“Ya elah lo mah serius amat sih Za, nggak di tempat les nggak di sini. Becanda dikit kenapa? Nggak apa-apa kali nggak ada ruginya, enak malah.” Kata Velope, yang adalah teman les Mirza. Makanya mereka kayak yang paling kenal gitu.
“Oh gitu? Terus lo ngapain? Nggak ngapa-ngapain gitu? Enak banget.” kata Rendy pada Mirza dengan jutek. Maksudnya, perannya Mirza dalam program mengubah Dedi yang tadi dia bilang itu tuh apa selain jadi pencetusnya? Apa dia cuma jadi yang ngidein aja, apa dia ada perannya juga selain itu? Oh ya, Rendy itu masih rada-rada kesel sama Mirza gara-gara statementnya yang bilang kalo model-modelnya band mereka itu kayak Kenjen Band. Dia jelas tersinggung. Rendy itu termasuk orang yang sensitif. Menurut dia, statement itu udah ngerendahin band itu banget. Sama aja kayak Mirza bilang kalo band itu tuh sama kayak Kenjen Band. Sementara Kenjen Band itu sendiri adalah band yang nggak banget, band yang selalu jadi bulan-bulanan masyarakat. Gimana Rendy nggak gondok?
Mirza menghela nafasnya. “Oke oke, gue minta maaf sama kalian semua gara-gara gue tadi sempet bilang kalo band ini model-modelnya kayak Kenjen Band. Apalagi gue juga sempet bilang kalo gue nggak mau jadi managernya band yang kayak Kenjen Band. Serius, gue minta maaf banget banget banget sama kalian semua. Gue tau omongan gue itu nyinggung kalian, soalnya pasti kalian mikirnya gue itu ngerendahin kalian banget. Masa kita disamain sama Kenjen Band sih? Jahat amat si Mirza,” katanya. “Intinya, gue minta maaf banget sama kalian semua. Terutama lo, Rendy.”
Rendy langsung nengok ke Mirza. Kemudian ia tersenyum. “Iya iya Za, lo gue maafin.” Katanya. Giliran Rendy aja namanya diinget sama Mirza, kalo Dedi nggak. Abis Dedi orangnya nggak perlu diinget-inget sih. Kalo diinget-inget cuma bikin ingetan jadi nggak enak rasanya.
Kalo Rendy aja maafin Mirza, apalagi Abe. Dia tersenyum ramah dan lebar pada Mirza. “Ah nggak perlu minta maaf sampe segitunya juga kali Za, nggak apa-apa kok gue nggak merasa tersinggung sama sekali.” Katanya. Dia bohong. Sebenernya sih dia tersinggung, cuma sedikit. Saking sedikitnya jadi kayak nggak ada sama sekali.
Dimi, Riri, dan Adri juga maafin Mirza. Ya iyalah, apa banget kalo misalnya Mirza udah minta maaf terus nggak dimaafin.
“Oh ya, tadi pertanyaan Rendy belom gue jawab,” kata Mirza. “Gue itu nggak cuma jadi yang ngidein doang, tapi gue juga yang ngatur jadwal programnya. Gue yang ngatur kapan si Edi...”
“Dedi!” seru semuanya kecuali Dedi sendiri.
“Ya dialah pokoknya, di makeover luarnya sama cewek-cewek, dibenerin logatnya kapan, di kasih tau ini-itu kapan, gitu-gitulah pokoknya,” Jelas Mirza, yang tadi omongannya sempet kepotong gara-gara salah lagi nyebut namanya Dedi. “Kalo menurut gue, lima aspek yang harus di ajarin ke Dedi biar lebih ‘remaja jaman sekarang’ tuh satu, teknologi dan elektronik. Dua, informasi-informasi. Tiga, logat dan bahasa baru. Empat, attitude. Dan yang terakhir, soal band. Aspek kesatu sampe keempat itu tujuannya tentu aja, buat bikin si... Dedi, jadi anak jaman sekarang. Tapi yang terakhir, itu buat bikin dia jadi anak band. Dia harus tau ini-itunya jadi personil sekaligus vokalis band, gitu.”
Semua yang mendengar cuma mengangguk-ngangguk aja. Ada yang mengangguk beneran, ada yang mengangguk pura-pura. Dedi dan Abe adalah contoh yang kedua. Mirza itu adalah orang yang tak terduga. Setiap orang yang belom mengenal dia, pasti mikirnya dia itu hanyalah remaja kekanak-kanakan karena fisik dan tampangnya yang begitu. Siapa sangka kalo dia itu mampu berbicara seperti yang tadi-tadi? Never underestimate him deh pokoknya. Maksudnya jangan cuma liat dari fisik dan tampangnya aja. Emang fisik dan tampangnya dia itu kan kekanak-kanakan, cuma liat aja omongannya. Udah kayak orang SMA aja kan saking berisinya.
Lagi-lagi, Abe mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Maaf nih ya Za kalo gue nanya lagi, gue nggak ngerti deh yang aspek keempat. Attitude itu artinya apa? Terus jelasin lagi apa bedanya tujuan aspek kesatu sampe keempat sama yang terakhir.” Katanya dengan senyum tak bersalahnya.
“Attitude itu artinya ya sikap. Kalo sikapnya nggak diajarin entar kalo kenalan sama orang baru gagap-gagap lagi dong. Anak jaman sekarang kan harus supel, harus gampang bergaul sama orang banyak, makanya attitude anak jaman sekarang harus diajarin ke Dedi,” kata Mirza. “Bedanya tujuan aspek kesatu sampe keempat sama yang terakhir ya lingkupnya. Kalo aspek kesatu sama keempat itu cenderung umum alias keseluruhan, soalnya kan itu tujuannya buat bikin Dedi itu jadi anak jaman sekarang. Cuma kalo yang terakhir nggak gitu, yang terakhir itu khusus. Soalnya tujuannya kan buat bikin Dedi itu tau seluk-beluknya band, dan biar dia lebih ngerti sama posisinya, yaitu jadi vokalis. Ngerti?”
Abe mengangguk-nganggukan kepalanya. Kali ini dia beneran ngelakuinnya, jadi nggak cuma pura-pura doang kayak tadi.
“Kalo gitu, berarti sekarang pembagian tugas dong. Siapa yang ngajarin aspek pertama, siapa yang ngajarin aspek kedua, siapa yang ngajarin aspek ketiga dan seterusnya.” Kata Dennise.
“Ah iya, jadi siapa diantara kalian berlima yang mau ngajarin Dedi soal teknologi sama elektronik?” tanya Brian.
Nggak ada jawaban. Kelima personil malah menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari siapa yang berminat. Bertukar pandangan satu sama lain. Teknologi dan elektronik itu lumayan sulit buat diajarin. Soalnya selain harus dikasih tau apa namanya dan fungsinya, harus dikasih tau juga cara gunainnya. Dan itu beresiko. Kali aja Dedi nggak ngerti, terus dia gunainnya salah. Rusak deh.
Kalo Riri yang beli terus udah gitu dirusakin Dedi sih nggak apa-apalah, masih mending. Riri kan punya banyak duit, jadi mau beli barang yang dirusakin itu sampe berpuluh-puluh kali juga nggak masalah deh. Tapi kalo yang dirusakin barang elektronik yang di etalase toko? Kalo dia nggak sama Riri sih bisa gawat. Soalnya kalo bareng Riri kan kalo disuruh ganti rugi gampang aja. Tinggal bayar aja udah. Nah terus kalo Riri nggak ada gimana? Dedi ngerusakin Iphone misalnya yang harganya berjuta-juta itu dan dia mesti ganti rugi sedangkan nggak ada Riri disitu. Mau apa dia coba? Kalo pertimbangannya gini sih berarti harus diajarin sama Riri dong. Lagian kayaknya Riri juga banyak tau tuh soal teknologi dan elektronik.
Keajaiban seolah turun dari langit, Riri mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk yang pertama kalinya. “Gue aja yang ngajarin dia soal itu, daripada entar dia udah dibeliin hp mahal-mahal terus rusak melulu.”
Viona mengerutkan dahi. “Lah? Lo kan banyak duit Ri, apa masalahnya kalo Dedi ngerusakin hp melulu? Ya tinggal beliin yang baru aja kan. Atau nggak kalo kerusakannya ringan ya tinggal di servis aja.”
“Emang Vi, cuma bukan masalah bayarnya, tapi repotnya. Kan kalo servis atau beli baru mesti ke tempatnya lagi dong. Males gue, daripada ke tempat hp terus mending ke tempat lain yang lebih fun kan? Buang-buang waktu juga kali kalo misalnya servisnya lama atau si penjual lagi banyak kostumer. Mending ngumpul terus ngomongin masalah band kan?” kata Riri.
Viona mengangguk tanda mengerti. “Iya ya ya lo bener. Ya udah berarti lo tugasnya ngajarin si Dedi itu soal teknologi sama elektronik ya biar dia itu bisa nyalain mic nanti. Kalo nggak diajarin mana ngerti dia?”
“Iya iya, daripada entar malu-maluin gue juga yang kena getahnya.” Kata Riri pelan.
Adri langsung nyamber kayak petir. “Gue ngurusin soal informasi-informasi aja deh. Biar si Dedi itu up to date. Dia harus tau siapa nama vokalisnya Cobra Starship, nama gitaris-gitarisnya Avenged Sevenfold, single terbarunya Green Day etcetera.” Katanya. Etcetera yang pernah dibilang dua kali sama Rendy dan Adri ini kepanjangannya etc yang artinya dan lain-lain.
“Gue ngajarin dia bahasa gaul aja deh, biar dia nggak bikin malu kita semua. Terus biar dia juga bisa contact sama kita, soalnya gue rasa nggak mungkin dia ngerti kita semua itu bilang apa. Terus juga biar dia tuh nggak usah malu ngomong kalo lagi rame-rame gini.” Kata Rendy.
GLEK! Dedi menelan ludahnya dengan khawatir. Dia dapet perasaan buruk soal ini. Nggak tau kenapa ya, dia ngerasa takut aja diajarin sama Rendy. Soalnya meskipun Rendy itu udah ngejelasin kalo dia itu marah-marah sama Dedi soal email-email itu gara-gara dia jadi inget adeknya, Dedi masih aja ngerasa ngeri. Kayaknya Rendy itu bohong, menurut Dedi. Jadi adeknya itu cuma sekedar alibi aja. Benarkah begitu?
Abe nyengir sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan antusiasnya, cuma kali ini bukan buat nanya karena dia nggak ngerti sama topik pembicaraan, melainkan karena dia tau, dia harus ngajarin Dedi apa. “Gue ngajarin attitude dong, boleh kan?” tanyanya dengan sangat ramah.
Brian tersenyum, kemudian ia mengangguk. “Ya jelas bolehlah Be, masa nggak boleh? Malah bagus kalo lo yang ngajarin soal attitude ke Dedi, abis kayaknya lo anak baik-baik deh.”
Cengiran Abe makin lebar. Dia merasa tersanjung sekali. “Oh ya? hehe makasih ya Brian.” Katanya. Emang iya sih, Abe itu anak yang sangat amat baik hati, ramah, dan murah senyum. Dia aja sama sekali nggak ngerasa terganggu dengan adanya Dedi sebagai personil maupun vokalis.
Dimi menghela nafasnya. Dia tampak lelah sekali. Cuma bukan gara-gara capek dia menghela nafas, tapi gara-gara dia sadar kalo dia dapet aspek kelima, yaitu ngajarin Dedi soal seluk-beluk band dan ini-itunya seorang vokalis. Menurutnya, tugas itu berat dan cukup menyiksa. “Yah gue dapetnya aspek terakhir lagi, kan susah.” Keluhnya.
Rendy menepuk sebelah pundak Dimi. “Tenang aja Dim, gue bantuin lo pake doa kok. Semoga aja si Dedi cepet nangkep semua yang lo ajarin, kalo nggak ya... kerasin aja.” Katanya, tetapi bisik-bisik pas bagian akhir.
Dimi diem aja. Dia lagi mempertimbangkan ucapan Rendy yang akhir-akhir itu tadi. Mungkin usulnya harus dicoba. Mending Dedi dikerasin kan daripada masa depan band yang terancam?
Dennise tersenyum. “Jadi masing-masing personil udah tau tugas masing-masing kan? Mirza tinggal bikin sama ngatur jadwal kalian ngajarinnya kapan-kapan aja.”
Abe mengangkat tangannya tinggi-tinggi, kali ini untuk bertanya lagi seperti biasa. “Mulainya kapan? Terus sampe kapan? Kalo lagi ada jadwal, itu khusus berdua aja apa kalian juga ada?” tanyanya.
“Mulainya minggu depan. Jadi setiap minggu kalian bakalan dikasih jadwal masing-masing sama empat cewek ini, terserah deh mau gimana yang penting dikasih. Sampe kapannya? Sampe kapan aja, cuma kalo bisa jangan lama-lama. Kalo lo ada jadwal, itu khusus lo sama Dedi aja, jadi yang lainnya nggak ikutan. Lo atur sendiri sama Dedi ketemuan dimana jam berapa gitu-gitunya. Terserah lo pokoknya, yang penting lo ajarin dia. Kalo emang perlu, misalnya Dedi mesti dibawa ke toko elektronik buat nyobain langsung laptop sendiri juga boleh. Tapi mesti tanggung jawab sendiri ya kalo ada apa-apa. Terus setiap bulan semuanya bakalan nilai hasil ajaran lo semua, kecuali yang ngajar itu sendiri.” Jelas Mirza.
“Kita semua bakalan nilai, lo semua tuh ngajarin Dedi bener apa nggak. Kalo misalnya hasilnya ternyata bagus banget padahal cuma makan waktu sebulan dua bulan, berarti kalian ngajarnya bagus. Bisa diandelin. Tapi kalo sebaliknya, berbulan-bulan tapi nggak ada hasilnya, berarti kalian ngajarnya ogah-ogahan. Nggak bener, nggak becus.” Kata Velope.
Keempat personil mangut-mangut—kenapa empat? Soalnya Dedi nggak mangut-mangut dan Rendy menguap lebar. Rendy sih nggak peduli mau dia ngajarnya kayak gimana juga, pokoknya Dedi itu harus bisa bahasa gaul dalam waktu yang singkat. Apapun caranya.

***

Meja deretan belakang itu semakin ramai aja karena adanya empat cewek dan satu cowok lagi yang bergabung dengan keenam cowok yang tadinya udah di situ duluan. Mereka bersepuluh—karena ada satu cowok yang diem aja bisanya, ngobrol-ngobrol dan ngakak-ngakak dengan sangat ramainya. Membuat perhatian se-kedai terus tertera pada meja itu. Satu per satu hidangan-hidangan dipesan dan disantap oleh meja itu hingga jumlahnya banyak. Entah berapa jumlah harga yang harus dibayar. Murah sih murah, cuma kalo banyak banget kan jadinya ya mahal-mahal juga. Tapi hal itu nggak jadi masalah buat Riri, anak tajir yang ada di meja belakang itu. Gimana mau jadi masalah? Beli MacBook banyak aja bisa kok, kenapa bayar es krim di kedai es krim sederhana aja nggak bisa?
“Eh gue baru inget deh, kantong-kantong plastik item tadi itu isinya apaan sih?” tanya Dennise sambil menyantap salah satu hidangan yang namanya Fruit Punch.
Adri meneguk Tutti Fruity milik Dimi. Biasalah, comot-mencomot. “Oh itu, isinya pulsa-pulsa. Semua jenis ada semua, diborong deh tuh toko pulsa abis-abisan pokoknya sampe abis total. Yang beli gue sama Riri pas kalian belom pada dateng.” Katanya.
Rendy tersenyum usil. “Iya ya sampe dicium segala sama tukang pulsanya saking nafsunya kalian beli dagangannya dia,” katanya. “Si tukang pulsa nganggep kalian itu tuh dua duren runtuh. Nggak ada angin nggak ada ujan taunya kalian nyikat abis dagangannya. Apa namanya kalo bukan duren runtuh?”
“Hah? Dicium?” pekik keempat cewek. Lalu mereka berempat tertawa terpingkal-pingkal. Bayangin aja kalo ada tukang pulsa gitu nyium Riri sama Adri gara-gara mereka nge-babat abis dagangannya gitu tiba-tiba.
Riri merengut. “Lo tuh ya emang Ren terobsesi banget mau dicium sama tukang pulsa. Saking nggak kesampeannya sampe kayak gitu segala lo, entar deh gue bayar semua tukang pulsa buat nyiumin lo, abis kasian gue sama lo. Mau dicium tukang pulsa tapi nggak kesampean-kesampean juga.”
Adri tertawa kecil. “Entar gue sumbangin deh lipstick-lipstick bekas nyokap gue yang warnanya tebel-tebel buat tukang pulsanya. Jadinya bibir mereka pada lebih seksi, pas lagi nyium Rendy... oooooh indahnya... hahahahaha!”
Yang lainnyapun ikut tertawa karenanya. Sedangkan Rendy cemberut ngambek sambil melipat tangannya. Namun tiba-tiba cemberut ngambeknya itu berubah jadi muka kaget. Matanya melotot karena melihat sesuatu, yang jelas tidak diinginkannya. Tangannya tidak lagi dilipat, ia tampak gerasak-gerusuk alias tidak tenang. Uh oh, ini pertanda buruk. Apa yang dilihatnya di luar sana?
Abe yang duduk di sebelah Rendy langsung melihat tingkah laku Rendy itu. Mukanya Rendy tuh serius banget, nggak ada becanda-becandanya sama sekali. Abe yakin kalo Rendy nggak lagi akting atau main-main. Dia pasti serius. “Ren? Rendy? Lo kenapa sih? Kok gerasak-gerusuk gitu? Lo ngeliat apa?” tanyanya bertubi-tubi.
Rendy nggak nengok ke Abe, tapi dia tau Abe nanya apa ke dia tadi. “Be, Tono Be, ada Tono! Ada Tono Udin Wijoyo di luar!” serunya sambil menengok ke Abe dan menunjuk ke arah pintu kedai. Lalu matanya semakin melotot. Mulutnya terbuka sedikit. “Tai! Pake masuk segala lagi! Bangsat! Ngapain sih dia masuk-masuk? Aaah sial!” gerutunya.
Abe mengingat-ngingat. Dia merasa familiar dengan nama itu, cuma dia lupa itu tuh siapa dan kayak gimana rupanya. Lalu akhirnya dia inget juga. “Hah? Tono? Tono yang serem itu?” tanya Abe lagi.
Rendy mengangguk dengan tampang panik dicampur kesel. Tapi kemudian ia malah menggeleng. “Tono nggak serem, dia cuma kena penyakit jiwa aja,” katanya. Sudi amat dia ngakuin kalo Tono itu serem. “Lo bilang sama yang lain kalo dia ada disini, cepet!”
“Iya iya iya Ren,” kata Abe. “Eh semua dengerin gue!” serunya. Menghentikan kegiatan semuanya di meja yang ia duduki kecuali dirinya sendiri dan Rendy. Semuanya kecuali Rendy menengok ke arah Abe, menunggu apa yang akan ia bicarakan selanjutnya. “Tono Udin Wijoyo ada disini sekarang.”
Semuanya kecuali Abe, Rendy, dan Mirza melotot kaget.
“Hah? Tono? Tono Udin Wijoyo, ada disini sekarang? Lo tau darimana, Be?” pekik Brian dengan nada dan tampang kaget sekaligus panik. Ya iyalah jelas, padahal udah ditunggu-tunggu banget tuh kemunduran-dirinya dia, eh taunya malah satu tempat lagi sekarang. Bisa-bisa harus tutup kuping lagi deh.
Rendy masih panik. “Tadi gue liat sendiri Ian, sekarang dia lagi ngorek-ngorek idung tuh di sana,” katanya sambil menunjuk meja nan jauh dari meja mereka sana. Alhasil semua yang pernah berurusan sama Tono langsung melihat ke arah yang Rendy tunjuk. Benar, ada sosok Tono Udin Wijoyo yang nggak asing lagi bagi mereka semua. Sosok yang paling mereka benci, yang paling mereka harapkan buat nggak pernah ketemu lagi satu sama lain untuk yang kedua kalinya selama-lamanya. “Kita harus kabur dari sini! Pokoknya gue nggak mau berurusan lagi sama dia.”
Yang lainnya mengangguk setuju.
“Tunggu tunggu tunggu gue nggak ngerti nih gue nggak ngerti,” kata Mirza. “Tono Udin Wijoyo itu siapa? Kenapa kalian anti banget sama dia? Gue kan baru disini jadi gue nggak tau.”
Dimi mendesah. Dia males harus inget-inget Tono lagi. “Tono itu anak punk gila yang kalo ngomong kencengnya parah. Udah gitu belagu, nyolot, bacot banget lagi,” jelasnya. “Percaya deh, sekali ketemu dia langsung nggak mau ketemu lagi.”
“Oooh…” kata Mirza sambil mengangguk-anggukan kepalanya tanda paham, kenapa pada anti banget sama yang namanya Tono Udin Wijoyo. “HEY TONO UDIN WIJOYO!!!!!” serunya mendadak sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Itu adalah tindakan yang sangat amat mengejutkan semuanya. Aduh, matilah kalo Tono sampe liat wajah-wajah mantan-mantan partner band-nya beserta para juri audisinya.
Reflek, Dennise dan beberapa orang lainnya langsung menutup mulut Mirza dan berusaha menutupi diri masing-masing. “Bego lo Za! Kenapa tereak-tereak gitu sih? Entar dia nyamperin kita!” omel Velope sambil berbisik.
Tono menoleh kesana kemari karena mendengar namanya disebut keras-keras oleh seseorang yang ada di situ. Untungnya, dia sama sekali nggak curiga sama meja deretan belakang. Ketika dia mencari-cari asal suara, para tokoh cerita ini lagi pada nutupin wajah diri masing-masing dengan berbagai cara. Untung banget mereka, Tono nggak curiga. Jadi dia cuma nengok-nengok aja.
Riri menoleh sedetik ke arah Tono. Hanya untuk memastikan apakah Tono masih nengok-nengok apa nggak akibat tindakan Mirza tadi. “Hampir aja, untung nggak ketauan,” katanya. “Sekarang, gue mau bayar ini semua. Abis itu, kita cabut dari sini.”
Semuanya mengangguk tanda setuju. Lalu, Riri beranjak dari kursi duduknya. Ia menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya mulai berjalan menuju kasir yang ada di dekat pintu masuk. Tono duduk tak begitu jauh dari kasir, juga pintu masuk. Kalo mau ke kasir, mesti ngelewatin Tono dulu. Riri berusaha menutupi wajahnya selama perjalanannya yang menegangkan itu. Apa sih? Orang cuma ke kasir kedai aja kok. Emang iya cuma ke kasir kedai aja dari tempat duduk, cuma masalahnya mesti nutupin diri dari seseorang yang amat sangat menyebalkan. Dan bener-bener haram hukumnya kalo ketauan. Itulah yang bikin perjalanan nggak penting ini jadi menegangkan.
Sementara Riri terus berjalan sambil menutup-nutupi diri ke kasir, kompeni-kompeninya mengintip dengan dag-dig-dug di meja habitat. Ketauan nggak ya? Ketauan nggak ya? Gumam mereka semua, termasuk Mirza. Riri terus berjalan mendekati kasir, yang artinya mendekati meja Tono juga. Jantungnya berdegup cepat. Kalo ketauan, bisa diomelin dia sama yang lainnya pasti. Udah bagus-bagus keluar dia, eh malah balik lagi gara-gara ketauan satu tempat. Dengan wanti-wanti, Riri terus berjalan menuju kasir. Semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat…
PRANG! Tiba-tiba, gelas yang berisi Smoothie Smoochie milik seseorang yang duduk di meja depan Tono, pecah akibat tersenggol. Smoothie Smoochie yang berwarna sweet itu berceceran di lantai kedai. Bersama dengan pecahan-pecahan gelas yang terbuat dari beling itu. Hal ini jelas menarik perhatian se-kedai, termasuk Tono, Riri, dan para kompeni-kompeni Riri. Seketika salah seorang pelayan kedai menghampiri TKP (Tempat Kejadian Perkara) gelas pecah itu untuk membereskannya. Perhatian Tono tertuju pada kejadian itu, maka inilah kesempatan emas bagi Riri untuk segera membayar di kasir. Dengan agak berlari, Riri ke kasir dan membayar semua hidangan-hidangan di kedai es krim itu dengan uang cash yang jauh melebihi harga yang seharusnya. Seperti biasa, kalo ada kembalian sekecil atau segede apapun, Riri nggak minta. Anggep aja harganya emang segitu. Setelah sukses membayar, dalam kesempatan di kesempitan, Riri memberikan isyarat pada para kompeninya untuk segera kabur dari kedai itu.
Si pelayan kedai masih sibuk membereskan soal gelas pecah itu dan Tono masih memperhatikan dengan seksama ketika para kompeni Riri mulai beranjak dari habitatnya dan mulai sedikit berlari menuju pintu kedai untuk melarikan diri dari Tono Udin Wijoyo.
“Nggak ada yang ketinggalan kan, Vel?” Tanya Adri di sela-sela pelariannya bersama dengan partner-partner band-nya juga dengan manager dan para cewek-cewek juri audisinya. Salah satunya adalah ya si Vel ini.
Vel alias Velope menggeleng. “Nggak Dri, nggak ada kok.”
Riri udah berhasil keluar dari kedai, sementara para kompeni-kompeninya menyusul jejaknya. Mereka semua kecuali Mirza—karena ia belom ngerasain betapa mengerikannya Tono Udin Wijoyo itu, seneng banget akhirnya bisa keluar dari kedai dengan sukses tanpa ketauan Tono. Seolah-olah baru keluar dari penjara setelah bertahun-tahun lamanya dikurung. Seneeeng banget rasanya kan bisa menghirup udara segar lagi.
“Yes! Akhirnya bebas juga gue dari si Punk sinting itu!” seru Rendy dengan cengiran yang lebar.
“Iya, nggak nyangka gue kalo dia bisa kesini. Hari ini lagi, pas banget kan?” kata Brian. Lalu tiba-tiba matanya tertuju pada tangan Riri. Dahinya mengkerut. “Kenapa tangan lo gitu lagi Ri, orang nggak ada tentengan.”
Velope dan Adri sebagai dua orang yang paling belakang tertegun. Mereka merasa ada sesuatu yang… tertinggal di dalam kedai. “Tentengan?” pekik mereka berdua secara bersamaan. Kemudian setelah mereka nginget-nginget lagi, mereka melotot, lalu menoleh satu sama lain. “PULSA!” pekik mereka kompakan. Ternyata pulsa yang dibeli sama Adri dan Riri ketinggalan di meja tempat mereka duduk. Dua kantong plastik item yang berisi kartu-kartu pulsa ditaroh di bawah meja. Dan karena mereka semua terburu-buru ingin meninggalkan kedai, mereka semua lupa soal itu.
Viona mengerutkan dahi. “Pulsa? Kenapa pulsa? Pulsa kalian berdua abis? Minta beliin Riri aja entar.” Katanya dengan sangat santai. Sama sekali nggak nyinggung soal pulsa dalam kantong plastik hitam.
“Bukan Vi, bukan itu! Kalo pulsa sih gue masih cukup! Cuma, cuma…” pekik Velope. “Pulsa-pulsa yang dibeli sama Riri Adri yang di dalem kantong plastik item… ketinggalan di dalem.” Katanya dengan nada dan tampang anak kecil yang lagi ngaku kalo dia udah makanin coklat sampe sepuluh batang sama nyokapnya. Padahal udah dilarang keras.
Yang lainnya jadi inget, dan kaget. Terutama Riri. “HAH? ITUKAN BANYAK! UDAH CEPET SANA AMBIL!” pekik semuanya selain Adri dan Velope kecuali Abe, Dedi, dan Mirza.
“Tuh Vel, sana ambil pulsanya. Kan lo yang salah, tadi gue udah nanya ada yang ketinggalan apa nggak lo jawabnya nggak ada.” Kata Adri sambil menunjuk kedai.
Velope melipat kedua tangannya. “Ya lo bukannya cek dulu sebelum nanya,” kilahnya. “Lagian kan lo cowok, lebih berani daripada cewek. Udah cepet sana ambil pulsanya, kan itu lo juga yang beli, jadi itu tanggungjawab lo dong.”
“Lah nggak bisa gitu dong, cewek kan lebih teliti daripada cowok. Harusnya lo tuh yang cek dulu sebelum keluar. Emang sih itu pulsa gue yang beli, cuma sebenernya bukan gue. Riri tuh yang beli, gue sih cuma nyomotin aja.”
“Kok jadi bawa-bawa Riri sih? Emang dia yang bayarin semuanya, cuma kan lo tetep aja ada hubungannya sama pulsa-pulsa itu. Udahlah Adri, lo ambil tuh pulsa sekarang, entar keburu diambil orang aja.”
“Nggak nggak nggak nggak bisa. Nggak adil kalo gue doang yang ngambil, Riri juga mesti ikut dong. Dia lagi lebih-lebih tanggungjawab, kan dia yang bayar.”
“Tapi setau gue dia beli pulsa juga gara-gara lo deh Dri, gue inget tadi diceritain sama Abe. Berarti emang harusnya lo yang ngambil pulsanya. Sendirian.”
“Udah udah udah! Kalian mau adu bacot sampe tengah malem juga tuh pulsa nggak bakalan keambil! Kalian berdua yang ambil tuh pulsa, masing-masing satu! Gampang kan?” omel Riri kesal gara-gara tadi namanya sempet dibawa-bawa.
Velope dan Adri diem. Mereka berdua setuju meskipun dengan berat hati.
“Dri, lo masuk duluan gih sana.” Kata Velope sambil mempersilahkan Adri untuk memasuki kedai maut itu duluan sebelum dirinya. Mereka berada di dekat pintu masuk, jadi tontonan orang-orang di dalam kedai yang menghadap keluar. Tidak termasuk Tono.
“Hooo nggak dong, ladies first ladies first, bukan gentlemen first. Masa lo lupa sih, itukan udah dari dulu. Jangan-jangan lo ketularan Dedi lagi, mulai ketinggalan jaman hiiiii.” Kelak Adri.
Velope menggerutu. Lalu ia mulai membuka pintu kedai untuk memasukinya. Namun tiba-tiba ia keluar lagi dan mendorong Adri untuk masuk. Adri mengelak, ia berusaha untuk tidak memasuki kedai. Akhirnya dua orang itu terus bersaing untuk memasukkan lawan masing-masing ke dalam kedai.
“VELOPE! ADRI! CEPETAN AMBIL!” seru semuanya kecuali Dedi dan Abe. Kalo untuk seru-seruan, mereka berdua nggak usah ditanya deh. Pasti nggak ikutan. Apalagi seru-seruan yang ngebentak orang.
“Iya ya ya ya ya.” Kata Adri. Ujung-ujungnya dia dan Velope masuk secara bersama-sama biar adil. Meskipun begitu, kompetisi antara mereka berdua belom berakhir.
Di dalam kedai pun, mereka berdua terus berkompetisi untuk menjadikan lawan masing-masing sebagai tameng biar dirinya sendiri lebih ketutupan jadinya aman dari Tono. Saking serunya berkompetisi, Adri sampe nabrak pantat seorang ibu-ibu cina yang lagi bayaran di kasir. Velope juga sampe nabrak-nabrak meja dan kursi. Malah meja mereka dibelakang lagi, kan jauh jadinya. Se-kedai tak henti-hentinya ngeliatin dan ngomongin mereka berdua saking anehnya tingkah laku mereka. Akhirnya, mereka berhasil melewati Tono dan sampai di meja mereka di deretan belakang. Bener aja, ada dua kantong plastik item berisi pulsa-pulsa di bawah meja. Masing-masing ngambil satu kantong. Pulsa udah di tangan, ya tinggal kabur lagi aja.
“Heh! Lu berdua! Cowok sama cewek yang megang plastik!” teriak seseorang dengan keras. Suaranya kayak jakun kejepit. Logatnya juga cablak dan tidak beraturan. Udah pada tau kan itu suara siapa? Apa pada lupa? Atau justru nggak tau sama sekali? Ya udah deh dikasih tau aja. Itu suara Tono. Tono Udin Wijoyo tepatnya. Pria yang menjadi kendala semuanya.
Adri dan Velope terbujur kaku membelakangi si peneriak. Di tangan mereka berdua ada satu kantong plastik warna hitam. Mereka udah tau si peneriak itu siapa. Oh tidak. Mereka bener-bener udah kayak patung beku. Udah patung, beku lagi. Nggak gerak sama sekali saking kagetnya.
Tapi yang namanya manusia ya pasti geraklah. Velope melirik ke Adri. “Mampus Dri, ketauan kan? Lo sih heboh bener tadi, sampe nabrak ibu-ibu cina segala. Malu-maluin banget tau nggak!”
Adri balas melirik. “Anjrit lo, kayak lo nggak heboh aja sih. Lo malah jauh lebih heboh daripada gue, meja-meja sama kursi-kursi orang lo tabrak-tabrakin. Coba kalo mejanya si Tono lo tabrak, gimana coba? Slebor amat sih jadi cewek.”
“Ya tapi seenggaknya gue nggak nabrak benda hidup ya. Nggak kayak lo tuh, masa ibu-ibu lagi bayaran ditabrak sih, yang bener aja? Udah gitu nabraknya kenceng lagi, pasti pantatnya si ibu sakit banget tuh gara-gara lo tabrak!”
“Gue nabrak dia juga gara-gara lo nyet, kan lo tadi dorong-dorong gue ke kasir gara-gara nggak mau keliatan sama si Tono! Berarti yang salah itu kan lo! Bukan gue wooooo! Lo mah nabrak-nabrakin kursi sama meja orang bukan gara-gara gue, tapi emang dasar lo aja tuh yang katarak, makanya nggak bisa ngeliat yang bener.”
“Katarak? Lo kali tuh yang katarak, jelas-jelas mata gue bagus gini. Eh nih ya, gue tuh nabrak-nabrak meja sama kursi gara-gara lo! Kan lo yang nyenggol-nyenggol gue biar lo nggak keliatan! Udah salah ngatain orang lagi cih.”
“Lu berdua budek apa? Gua tadi manggil lu berdua, tau! Cowok sama cewek yang megang plastik! Sini lu berdua! Malah ngobrol sendiri lagi heh! Gua itu calon artis punk terkenal! Lu berdua tuh siapa sih? Belagu bener yak!” seru Tono sekali lagi.
Adri menahan emosinya yang siap membludak. “Udahan ah Vel adu bacotnya, terserah lo aja deh,” katanya. “Sekarang kita kabur aja udah dari sini. Tapi pas kabur lari aja, nggak usah heboh-heboh kayak tadi.”
Velope menghela nafasnya. “Iya iya iya deh apa kata lo aja.” Katanya dengan santai.
Adri memutar bola matanya sejenak. Menurutnya kata-kata Velope tadi itu agak sedikit menyebalkan. Kesannya kayak ngajakin ribut lagi. “Satu… dua… TIGA!” serunya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Adri dan Velope sambil berlari menenteng kantong plastik yang berisi pulsa itu menuju pintu kedai untuk keluar dari sana, untuk yang kedua kalinya. Adri jelas mengingkari kata-katanya sendiri. Pelarian mereka berdua itu heboh banget deh. Narik perhatian se-kedai sekaligus. Orang-orang meja belakang emang kayak begitu semua tipe-tipenya. Orang-orang heboh yang selalu menjadi pusat perhatian se-kedai.

***

Akhirnya Velope dan Adri berhasil menyelesaikan misi mereka yaitu ngambil kantong plastik berisi pulsa yang ketinggalan di dalam kedai tanpa ketauan Tono—well, actually, not really. Akibat tindakan heboh mereka berdua ketika pelarian keluar dari kedai untuk yang kedua kalinya, Tono mengetahui keberadaan semua yang menjauhinya. Tono langsung ngejar Adri dan Velope, yang berujung pada yang lainnya. Untuk menghindari Tono, akhirnya semuanya ngumpet di dalam maupun dibalik mobil Jaguar biru donker milik Riri yang masih stand by di seberang kedai. Setelah Tono give up dan kembali masuk ke dalam kedai, baru mereka semua ngambilin pulsa dan pulang ke rumah masing-masing. Tentu aja cerita tentang mereka nggak abis sampe sini aja. Mungkin bab 10 abis sekarang, cuma lanjutannya bakalan ada lagi.
Fyi, sebenernya yang diteriakin Tono itu bukan Velope dan Adri loh. Dia itu neriakin dua orang pelayan yang sedang membawa bungkusan berisi hidangan-hidangan pesenannya yang nyisa. Kebetulan banget, ciri-ciri kedua pelayan itu sama persis kayak Adri dan Velope. Yang satu cowok, yang satu cewek. Megang plastik. Abis dipanggil malah ngobrol. Jadi sebenernya mereka berdua nggak perlu kabur heboh kayak gitu. Tapi yah, udah terlanjur. Toh akhirnya nggak balik lagi juga si Tono.
Okay, sekarang bab 10 bener-bener abis. Di bab selanjutnya, bab 11, isinya para tokoh-tokoh cerita ini ketemuan di mall untuk makeover-in penampilannya Dedi, juga beli-beli baju dan barang-barang lainnya. Pastinya nggak kalah seru sama bab-bab sebelumnya.

0 opinions:

Post a Comment