October 11, 2009

Bab 11

Bab 11
Three In One (Pra-Makeover)


Pratama Dimitri memandang benda di depannya dengan tatapan aneh. Kayak mau banget, cuma ada sesuatu yang bikin kemauannya itu terhambat. Matanya terus terbuka tanpa ada kedip-kedipnya sama sekali. Sesekali ia menelan ludahnya. Setiap orang pasti akan berfikir bahwa si Pratama Dimitri itu mengidap kelainan mental. Tapi kelainan mental yang dideritanya termasuk langka. Benda yang berdiri di hadapannya berwarna putih, sementara di bagian bawah benda putih itu, ada tiga benda lain yang berwarna-warni. Benda putih dan benda-benda lain dibawahnya itu diletakkan di atas mangkuk kecil dari plastik dengan kertas... nggak tau tuh apa nama bahannya, dibawah mangkuk kecil plastik itu. Dan mangkuk kecil plastik dengan kertas-entah-apa-namanya yang di dalamnya berisi benda putih dan benda-benda lain yang sedang membuat Pratama Dimitri terbengong-bengong itu, diletakkan di atas karton warna oren yang menunjukkan identitas darimana benda yang digilai Dimi itu berasal.
Mungkin diantara para pembaca yang lagi asik membaca ini, ada yang udah bisa nebak atau bahkan, tau apa benda yang dimaksud. Benda ini banyak digemari orang, bahkan kalau perlu, seseorang yang dititipin ini sama temennya bakalan ngebabat abis benda ini tanpa izin sang pemiliknya. Nggak lebay loh ya, kan kalo perlu. Kalo nggak perlu ya udah nggak usah gitu.
Ibaratnya, sekarang di kirinya Dimi ada setan warna merah bertanduk yang bilang, “Udah, sikat aja, mumpung yang punya lagi berak!”. Pikiran jahat itu sempat transit ke kepala Dimi. Tapi kenapa cuma transit? Soalnya ada malaikat di kanannya dia. Nah malaikat itu bilangnya gini, “Jangan, jangan di sikat, nak. Dosa. Seenggaknya kamu minta izin dulu sama yang punya kalo mau icip-icip.” Herannya, posisi setan sama malaikat itu sama kuat di pikirannya Dimi. Jadi rasionya fifty-fifty. Makanya daritadi Dimi cuma bisa bengong aja ngeliatin tuh benda di depannya tanpa melakukan apapun yang berarti. Ah, icip-icip dikit ah. Kan orangnya lagi nggak ada, entar kalo gue minta izin nggak dikasih lagi, pikir Dimi. Eh jangan deh, entar kalo ketauan gimana? Dimarahin deh gue, terus entar gue nggak boleh minta beliin, pikir Dimi kemudian. Ya begitulah seterusnya.
Benda itu semakin menggoda Dimi. Lekukannya, juga benda-benda lain di bagian bawahnya. Bayangin aja rasanya kalo si putih sama si benda-benda lainnya itu dicampur jadi satu, dimasukkin ke mulut, si benda-benda lain dikunyah, si putihnya dicairin, udah gitu di gabungin, di telen deh. Masyaallah, enaknya nggak ketolongan deh. Dingin, seger, asem, manis, gurih jadi satu. Oh, Dimi semakin tergila-gila. Ujung-ujungnya, si setan lebih kuat dari malaikat. Pikiran jahat si setan menguasai pikiran Dimi. Maka, Dimipun akhirnya mengambil sendok yang ditancapkan ke benda putih, dan mulai menariknya keluar dari sana. Setelah sendoknya berhasil keluar dari si putih, Dimi siap menyendok si putih...
“Jangan,” kata seorang gadis yang duduk tak jauh darinya sambil memegang tangan Dimi. Gadis itu berkacamata, rambutnya sebahu, kulitnya sawo matang. Yes, she’s Brian. “Itukan punyanya si Riri, kalo mau lo tungguin dia balik aja terus minta beliin. Lagian tadi pas dia belom ke toilet lo malah nggak minta sih.”
Dimi meletakkan sendok di tempat semulanya. Lalu ia menatap Brian. “Iya sih, tapi gue maunya baru sekarang, Ian,” katanya, lalu dia menoleh ke arah benda idamannya yang ternyata milik Aditya Rivano Putera itu. “Haduh gue jadi kepengen banget-bangetan nih, gimana dong? Nggak kuat iman nih gue, liat aja Ian. Pasti enak banget deh, segerrr.”
Brian menggeleng dengan kedua tangan dilipat. “Udah deh Dim lo tahan aja nafsu lo. Beneran deh, lo tungguin aja si Riri balik, baru abis itu lo minta beliin. Lo beli deh tuh lima cup sekaligus biar puas.”
“Tuh, Riri. Panjang umur banget ya dia,” sambar Velope sambil menunjuk ke arah sosok Riri berada, yang sedang berjalan menuju ke arah dirinya, Brian, Dimi, dan lain-lain berada. Riri itu sosok yang paling dinanti-nanti oleh semua orang, karena dia itu ibarat brankas hidup. Lebih hebatnya lagi, brankas yang satu ini nggak ada kombinasinya. Tinggal kasih isyarat dikit aja duit udah di tangan. Coba, gimana dia nggak dinanti-nanti? Hari gini siapa sih yang nggak butuh duit? “Eh iya Dim gue juga jadi mau deh, minta yuk sama dia. Nggak mungkin nggak dikasihlah, pasti dikasih.”
Dimi mengangguk setuju dengan senyuman bahagia.
Riri memasukkan BlackBerry Magnumnya ke dalam saku celananya. “Eh itu punya gue nggak di apa-apain kan? Nggak ada yang colek-colek sembarangan? Awas aja kalo sampe ada, nggak bakalan gue kasih tunjangan.”
“Oh nggak Ri! Nggak ada yang colek-colek kok! Masih utuh banget! Beneran deh suer! Percaya sama gue!” seru Dimi. Ketauan banget paniknya. Gara-gara dia hampir aja icip-icip benda—udahlah, makanan punyanya Riri, dia jadi salting berat.
Suasana hening sejenak. Riri melipat kedua tangannya, matanya menyipit curiga kepada Dimi. “Oh ya? Yakin lo nggak ada yang nyentuh-nyentuh makanan gue? Atau jangan-jangan lo lagi yang nyentuh-nyentuh sembarangan,” katanya. Alhasil, Dimi jadi panik. Emang sih dia nggak nyicipin secara resmi, cuma kan ya tetep aja dia udah nyentuh sembarangan. Melihat tampang Dimi yang semakin panik, Riri malah tersenyum jahil. “Yaelah panik amat lo Dim gue cuma nge-joke kali. Kalo emang lo udah nyentuh ya abisin aja, gue beli yang baru.”
Dimi melotot kaget. Kemudian ia ber-ekspresi penuh kekagetan kayak ngeliat rumahnya abis di bedah di acara Bedah Rumah. “Yang bener Ri? Gue boleh abisin makanan lo?”
Riri mengangguk sambil tersenyum manis.
Nggak pake basa-basi apapun lagi, Dimi langsung menyantap makanan Riri yang sedaritadi menggilainya itu dengan semangatnya. Ia menyendok si putih dengan nafsunya, kemudian ia campur dengan benda-benda lain di bawahnya. Lalu ia masukkan sendok penuh kenikmatan itu kedalam mulutnya dan mengambil apa yang ada di atasnya aja. Ia kunyah benda-benda lain selain si putih itu, kemudian si putih dicairin, lalu dia campur aduk jadi satu, dan blasss! Ia telan masuk ke dalam kerongkongannya. Dingin, segar, dan sangat enak rasanya. Dimi masang tampang penuh-dengan-kepuasan-karena-memakan-sesuatu-yang-sangat-enak.
Melihat kelakuan Dimi yang begitu, Riri hanya geleng-geleng kepala aja. “Ya Tuhan Dimi, udah berapa abad lo nggak liat itu? Buset, sekalinya boleh makan nafsunya setengah koit. Santai aja kali Dim nggak usah segitunya juga, perasaan itu nggak enak-enak amat deh.”
Dimi menoleh ke arah Riri. Di sekeliling mulutnya banyak putih-putih. Saking nafsunya makan makanannya Riri itu, makanannya sampe belepotan kemana-mana. “Gue lagi kepengen banget Ri! Menurut gue ini tuh enak banget. Dingin, seger, asem, gurih lagi.” katanya. Kemudian dia kembali menyantap makanannya Riri itu.
“Lo mau beli lagi? Gue ikutan dong, gue juga mau beli soalnya.” kata Velope.
“Ya udah, ada yang mau J.Cool lagi nggak? Biar nggak kayak si Dimi nih, nggak punya sendiri punya orang di babat.” kata Riri.
“Ada yang mau J.Cool nggak? Riri traktir dengan sukarela tuh. Jadi sama aja free.” kata Brian kepada semua teman-temannya yang ada di hadapannya. Mulai dari Mirza, Dennise, Viona, dan Dedi. Eh, Dedi? apa nggak salah ketik tuh? Ya jelas nggak. Emang Dedi akhirnya bisa ke situ—PIM, setelah bernegosiasi ketat dengan orangtuanya yang kolotnya amat sangat itu. Baru kali itulah Dedi merasakan bagaimana dinginnya, ramainya, dan bagusnya sebuah mall itu. Soalnya dari dulu dia nggak pernah ke mall sekalipun. Kasian banget ya.
Viona mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti Abe. “Gue dong, gue mau yang couple. Toppingnya terserah deh apa aja yang penting satu tema.” katanya. Untung aja yang beli Riri, coba kalo Abe. Pasti dia nggak ngerti tuh maksudnya satu tema apaan. Eh, jangan-jangan para pembaca nggak ngerti juga lagi maksudnya apaan.
Mirza menghentikan kesibukannya. Ia lagi telfonan dengan sebuah laptop miliknya di depannya. Di kanan-kirinya ada dua gadis. Di kanannya ada Viona sementara di kirinya ada Dennise. Wah, serasa bussinessman sukses. “Gue nitip itu dong, emm apa tuh namanya,” katanya sambil memejamkan mata. “Oh iya, Choco Loco. Minimal dua ya, lebih nggak apa-apa. Sama minumnya, Oreo.” Lanjutnya sambil menjentikkan jari tangannya. Setelah itu, ia kembali melanjutkan telfonan-nya. Sementara Dennise dan Viona mengotak-atik laptopnya.
“Dennise? Lo nggak nitip apa-apa, Denn?” tanya Riri.
Dennise mengalihkan pandangannya dari layar laptop Mirza ke muka Riri. “Ah kata siapa gue nggak nitip? Gue nitip J.Cool single toppingnya mochi, sama donat apa aja minimal tiga masing-masing satu jenis, sama minumnya Green Tea.” jelasnya dengan senyuman tak bersalah.
Riri geleng-geleng kepala. “Kalo lo, Ded? Lo nggak mau nitip apapun?” tanyanya sambil menoleh ke arah Dedi. “Eh, kenapa lo?” tanyanya lagi karena Dedi tampak menggigil. Dia gemetaran, persis orang demam. Jangan-jangan dia demam mall, lagi. Semuanya menoleh ke arah Dedi karena pertanyaan Riri barusan.
Dedi menggigil, dia betul-betul gemetaran. “Disini dingin sekali, seperti di kutub utara saja.” katanya dengan suara yang tidak normal akibat menggigil-nya itu. Perkataannya terbata-bata. Dia mendekap erat tubuhnya sendiri, sepertinya buat naikin suhu badannya yang turun akibat dinginnya PIM. Buat anak-anak jaman sekarang, mana ada sih yang kayak gitu? Semuanya udah pada kebal semua sama suhu mall yang cenderung dingin.
Mendengar perkataan Dedi itu, semuanya terdiam. Bukan hanya terdiam, tetapi juga sambil menatap Dedi dengan tatapan ‘apa banget sih lo’. Ya iyalah, apa banget kan si Dedi. Bahkan Mirza yang lagi asik-asiknya telfonan langsung bisu seketika karena kata-katanya Dedi. Saking ‘apa banget’-nya Dedi, dia jadi speechless. Jadi nggak tau deh mau ngomong apa lagi. Dimi yang lagi asik menyantap J.Cool couple milik Riri juga ikut andil. Dia berhenti menyantap J.Cool itu dan menoleh ke arah Dedi dengan tangan masih memegang sendok. Tujuh orang menatap Dedi dengan tatapan ‘apa banget sih lo’ selama beberapa saat tanpa bicara sedikitpun. Makanya, orang yang lagi telfonan sama Mirza bilang halo-halo melulu gara-gara Mirza nggak ada suaranya.
“Iya dah iya dah kasih aja kasih,” kata Riri sambil mengangguk-anggukan kepalanya, memulai pergerakan dan pembicaraan semuanya. Jadi Riri itu kayak tombol play pada video yang lagi di pause. “Jadi gimana? Lo nggak nitip apa-apa nih? Kalo lo nggak nitip sekarang terus lo mau beli sesuatu gitu, lo mesti beli sendiri.” jelasnya.
“Tidak apalah, untuk sekarang saya tidak ingin apapun. Biarlah nanti saya membeli sendiri apa yang saya mau.” kata Dedi dengan penuh dramatisasi. Beneran deh, dengerinnya nggak betah. Makanya program untuk Dedi harus cepet-cepet dimulai biar dia nggak lama-lama kayak begini terus.
Riri tertawa kecil. “Lo harus ngerti, maksud gue bukan cuma mesennya atau ngambilnya doang yang sendiri, tapi bayarnya juga,” katanya. “Kecualiii kalo lo nitip sekarang, itu masih gue bayarin, tapi kalo nanti-nanti udah nggak deh. Lo bayar sendiri aja sana.” jelasnya sambil memutar-mutar bola matanya.
“Lah lah lah terus yang belom pada dateng gimana? Jadi kalo mereka datengnya nanti-nanti nggak lo bayarin sama sekali gitu?” Tanya Brian.
Riri nyengir. “Ooh kalo mereka sih tetep gue bayarin mau dateng kapanpun juga, cuma kalo Dedi nggak gitu. Dia harus sekarang kalo mau gue bayarin, kalo nanti-nanti udah nggak gue bayarin lagi.”
“Satu lagi, pertanyaan terakhir nih,” kata Viona. “Kalo kita-kita gimana? Kayak Dedi apa kayak semua yang pada belom dateng? Yeaaa gue harap sih yang kedua ya.”
“Ya iya, harapan lo terkabul. Kalo kalian-kalian sih kapan aja gue bayarin, mau sekarang kek mau nanti kek mau entar kek mau besok kek mau lusa kek. Terserah kapan aja, pokoknya duit gue selalu siap sedia buat lo-lo semua, kecuali Dedi.” kata Riri sambil menunjuk Dedi. Itu nyesek banget tau nggak sih. Dedi tuh di anak tiriin banget sama yang lainnya. Lagian dia sendiri sih, sama orangtua patuh amat sampe nggak pernah break belajar sama sekali meskipun hari Minggu atau hari libur juga.
Dimi membersihkan mulutnya dari yoghurt. “Eh sumpah parah banget lo Ri. Nggak setuju gue, lo jangan gitu dong.” katanya. Tumben-tumbenan nih Dimi ngebelain Dedi, biasanya kan dia nggak peduli padahal.
“Wesah Dimi, kerasukan setan apaan lo Dim ngebelain si Dedi sampe segitunya? Tumben-tumbenan banget deh, nggak nyangka gue lo bakalan ngomong gitu.” kata Velope.
“Nggak, gue bukannya ngebelain si Dedi, cuma gue nggak terima kalo duitnya Riri nggak selalu stand by buat Dedi,” kata Dimi dengan nada membela diri. “Soalnya kalo gitu berarti nanti baju-baju barunya Dedi kita-kita dong yang bayarin. Kalo bukan Riri yang bayar? Masa dicolong?”
Yang lainnya baru ngeh. Oh ya, bener juga apa kata Dimi. Kalo misalnya duitnya Riri itu nggak selalu stand by buat Dedi, bisa-bisa keperluan-keperluan buat bikin Dedi jadi anak modern biayanya ditanggung sama yang lainnya selain Riri dong. Kayak sekarang aja nih misalnya. Mereka semua itu kan ke PIM buat makeover-in Dedi sama beli-beli embel-embel. Kalo duitnya Riri buat Dedi udah kepake duluan buat beli donat atau J.Cool atau minuman, jangan-jangan nanti baju-baju buat Dedi dan lain-lainnya yang bayar semuanya selain Riri lagi. Jadinya pada patungan.
Velope geleng-geleng kepala. “Oh no no no no gue nggak setuju. Gue baru setuju kalo duitnya Riri selalu stand by buat Dedi. Enak aja idih ogah amat bayarin baju-bajunya Dedi, kan nanti kita milihnya yang mahal-mahal. Bisa-bisa tekor gue.”
Dennise mengerutkan dahi. “Hah? Mahal-mahal? Kenapa baju-baju barunya Dedi mesti yang mahal-mahal? Dia kan lebih cocok pake yang murah-murah. Sayang duit entar kalo belinya yang mahal-mahal.”
Jeger! Hati Dedi seperti tersambar petir. Bukan bentuknya yang kayak kesambar petir, cuma sakitnya. Itu nyakitin banget ya. Aduh coba aja kalo Dedi ngerti sepenuhnya apa kata-katanya Dennise tadi, pasti dia tersakiti banget tuh. Ah, tapi kalo dia tersakitipun, paling juga nggak jadi masalah buat dia. Gitu-gitu juga Dedi tuh udah kebal banget sama ucapan-ucapan negatif yang diarahkan kepadanya. Udah keseringan soalnya, serasa makanan sehari-hari. Dibilang jelek, dibilang norak, dibilang kampung, dibilang buruk, dibilang pembawa sial, dibilang apalah gitu yang jelek-jelek sih udah biasa buat Dedi.
“Ya tapi Denn kalo belinya yang murah-murah, itu tuh buruk juga dampaknya. Masa yang lainnya bagus-bagus dia sendiri yang jelek? Lagian nih ya, gue yakin pasti baju-baju murahan udah banyak banget di rumahnya, saking banyaknya lemarinya udah mau meledak. Masa sih mau ditambah yang murahan lagi?” kata Velope.
“Eh eh tenang dong tenang lo-lo semua, maksud gue ya bukan kayak gitu juga,” sela Riri sebagai orang yang memulai perdebatan. “Kalo buat keperluan yang harus ya duit gue pasti bakalan tersedia-lah. Cuma gini, dia itukan belom modern, jadi buat keperluan yang nggak urgent, gue nggak bakalan bayarin. Ini jadi indikator juga, menurut gue tuh dia udah cukup modern buat jadi vokalis band apa belom. Kalo menurut gue dia udah modern enough ya kenapa gue mesti pelit-pelit?”
“Oooooh.” kata semuanya kecuali Riri sendiri dan Dedi, tentunya.
Riri menghela nafasnya. “Udah pada ngerti kan? Ya udah. Gue mau beli J.Cool sama titipan kalian-kalian semua nih, Dedi lo nggak nitip apa-apa jangan nyesel ya, soalnya cuma sekarang doang lo gue bayarinnya. Ayo Vel.” katanya. Kan tadi Velope mau beli J.Cool juga.

***

Udah setengah jam berlalu sejak jam janjian. Tetapi yang ngumpul di J.Co baru segitu-segitu aja. Baru delapan dari empat belas orang yang harusnya berkumpul. Empat belas? Harusnya kan cuma sebelas. Iya emang, cuma ceweknya ditambah tiga orang lagi. Jadinya pas tujuh cowok tujuh cewek. Nggak diceritain di sini, Mirza mutusin buat nambah tiga orang cewek lagi untuk masuk kedalam band. Tugas para cewek-cewek itu nggak lain dan nggak bukan adalah jadi personal assistant para personil. Kalo manager itukan ngurusin kayak misalnya soal keuangan band gitu-gitunya kan, jadi dia itu ngurusin band-nya. Tapi kalo para personal assistant ini, mereka itu tugasnya ngurusin personil-personilnya. Misalnya si personil bingung mau make baju apa, nah itu tugasnya si personal assistant buat bantuin dia milih baju mana yang paling bagus. Mereka juga yang harus ngejaga hubungan antar personil biar nggak retak.
Untuk mencari ketiga cewek ini, setiap personil ditugasin buat nyari satu cewek yang seumuran dengannya dan para orang-orang lainnya dalam lingkup band. Jadi umurnya sekitar empat belas tahunan-lah. Hubungan ketiga cewek dengan si personil ini juga terserah, cuma ada dua yang dilarang. Pacar dan musuh. Mirza ngelarang setiap personil yang punya pacar atau musuh buat ngajak si pacar atau musuhnya itu ke dalem band. Karena apa? Menurutnya, kalo ada hubungan selain persahabatan dan persaudaraan di dalem band, kinerja band bisa terganggu. Dia juga ngelarang adanya hubungan selain persahabatan dan persaudaraan diantara sesama orang-orang lama yang bersangkutan dengan band, termasuk dirinya.
Dan ternyata yang berhasil menyelesaikan tugas adalah Adri, Rendy, dan Abe. Makanya mereka bertiga telat. Kalo Abe dan Adri sih baru kali ini aja telat, tapi kalo Rendy nggak. Dimi nggak bisa nyelesaiin tugas karena kakaknya cowok, dan dia juga nggak punya temen deket cewek. Riri hampir sama, cuma dia kakak dan adeknya cewek. Dedi sih nggak usah dibahas aja deh, nggak guna. Adri ngajak sepupunya, Rendy ngajak adek kembarnya, sementara Abe ngajak kakak tirinya. Pokoknya ketiga cewek baru ini seumuran sama semuanya, jadinya nggak akan ada kecanggungan apapun.
Akhirnya setelah lama menunggu, dari kejauhan, tampaklah sosok Saputra Jordan Poernama yang lebih dikenal dengan nama Abe. Tapi dia nggak sendirian, di sebelahnya ada seorang gadis yang adalah kakak tirinya. Gadis itu tingginya hampir sama dengan Abe, rambutnya kira-kira sebahu lebih panjang sedikit, kulitnya sawo matang dan bisa dibilang langsing. Mereka tampak ngobrol dengan asiknya sambil tertawa bersama-sama menuju ke J.Co, tepatnya ke meja yang memuat paling banyak orang.
“Eh itu Abe.” Kata Brian sambil menunjuk ke arah Abe dan kakak tirinya yang sedang berjalan. Meskipun Abe dan kakaknya itu saudara tiri, tetapi hubungan mereka udah kayak saudara kandung. Nggak ada istilah marah-marahan, sindir-sindiran, bacot-bacotan, gebuk-gebukan dan ribut-ributan diantara mereka berdua seperti layaknya saudara tiri pada umumnya. Justru sebaliknya, mereka itu tergolong sangat dekat satu sama lain.
Mendengar kata-kata Brian tadi, yang lainnya menoleh ke arah Abe juga. Baru akhirnya Abe menoleh ke arah teman-temannya, kemudian ia tersenyum manis sambil melambaikan tangan dengan ramahnya. Teman-temannya balas tersenyum juga.
Setelah sampai di tujuan, Abe duduk di sebelah Riri, sementara kakak tirinya, atau sebut ajalah kakaknya, duduk di sebelahnya. “Maaf ya telat, udah pada lama ya nunggunya? Maaf banget ya semua. Abis tadi jalanan macet banget, terus kena lampu merah melulu, makanya lama.”
“Ya ampun nggak apa-apa kali Be nggak lama kok kita nunggunya,” kata Viona sambil tersenyum. “Lagian si Rendy sama Adri juga belom dateng jadinya ya lo nggak telat-telat amat.”
Abe tampak lega. “Oh ya, kenalin, ini kakak gue yang paling baik. Namanya Veronica, tapi dipanggilnya Vero aja, hehehe.” Katanya dengan cengiran sambil menepuk pundak kakaknya yang bernama Vero itu.
Kemudian teman-temannya Abe berkenalan dengan Vero dengan cara menjabat tangan Vero sambil menyebutkan nama masing-masing, hampir sama kayak pas kenalan sama Mirza. Dengan ini mereka semua resmi berkenalan dengan Vero, kakak Abe. Dan dengan ini juga Vero resmi masuk ke dalam band-nya Abe, bukan sebagai anggota alias personilnya, tapi sebagai personal assistant untuk para personil nantinya. Bertambahlah jumlah anggota cerita ini. Yang tadinya cuma empat, terus nambah-nambah terus sampe sepuluh, baru udah gitu nambah satu lagi jadi sebelas, eh sekarang tambah lagi jadi dua belas. Total keseluruhannya itu empat belas, berarti tinggal dua orang lagi yang belom ada. Ya, kedua orang itu adalah sepupu Adri dan adik kembar Rendy.
“Abe, itu kenapa tuh yang itu? Yang giginya tonggos? Kok dia kayak menggigil gitu sih? Dia lagi sakit ya?” Tanya Vero pada adiknya. Yang dimaksudnya itu adalah siapa lagi kalo bukan Dedi? Cuma dia satu-satunya makhluk disitu yang menggigil. Semuanya udah pada kenalan sama dia, kecuali Dedi.
Velope tersenyum jahat. “Nggak, dia bukannya lagi sakit, tapi dia lagi kedinginan. Kata dia disini dingin banget kayak di kutub utara. Apa banget kan ya?”
Vero mengangguk tanda setuju. Dia jadi agak sedikit bingung. Kalo inget ceritanya Abe yang menjadi alasan kenapa dia bisa ada disitu sekarang, dia jadi nggak ngerti. Abe itu calon anak band kan? Setau dia sih gitu. Nah kalo gitu berarti si pria kedinginan itu partnernya Abe dong ya. Itu dia yang bikin dia jadi bingung dan nggak ngerti. Kenapa bisa-bisanya orang begitu jadi anak band? Orang yang bilang kalo mall itu dinginnya kayak di kutub utara, yang mukanya nggak enak diliat, yang old-fashioned banget.
“Itu yang tadi menggigil jangan bilang partner band lo, emang bukan kan? Dia itu cuma sekedar yang bantu-bantuin kecil-kecilan gitu-gitu aja kan? Nggak lebih?” Tanya Vero pada Abe, untuk memastikan yang sebenarnya. Dia berharap penuh jawabannya Abe tuh iya.
Abe tampak berfikir sejenak. Kemudian ia menggeleng. “Dia itu partner band gue, vokalisnya malahan. Hehe emang kenapa kak? Kenapa jangan bilang kalo dia itu partner band gue?” tanyanya penasaran.
Vero terkejut. Ternyata dugaan terburuknya bener, pria menggigil aneh itu partner band Abe. Dan yang lebih parahnya lagi, dia itu vokalisnya. Yang Abe ceritain ke Vero itu cuma sebatas urusan tugasnya mencari cewek seumuran aja, nggak lebih. Jadi Vero sama sekali nggak tau kalo hari itu juga Abe, dirinya, dan lain-lainnya juga mau makeover-in Dedi juga. “Hah? Dia vokalisnya? Apa nggak salah? Eh bukan, maksud gue oh dia toh vokalisnya.”
Abe mengangguk antusias sambil tersenyum. “Ririiiii gue mau beli J.Cool, lo yang bayarin ya. Hehe nggak apa-apa kan?” tanyanya sambil menengok ke arah Riri yang duduk berada tepat di sebelahnya.
Riri cuma mengacungkan jari jempol tangannya dengan senyuman, yang menandakan kalo dia siap bayarin J.Cool-nya Abe. Dia sih kapan aja siap bayarin siapa aja dan berapa aja juga. Kalo Abe nggak ngomong duluan juga nggak masalah sih sebenernya, Riri itu selalu ada uang soalnya.
“Makasih ya Riri!” seru Abe dengan riang. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. “Kak, mau J.Cool nggak? Kalo mau ikut gue, belinya yang sharing. Kalo nggak mau ya gue belinya yang couple nih buat gue sendiri.”
“Mau mau mau,” kata Vero sambil beranjak dari tempat duduknya. Kemudian ia menarik Abe agak menjauhi keramaian. “Tapi nggak apa-apa tuh kalo dibayarin sama Riri? Gue jadi nggak enak nih, gue kan baru kenal. Masa udah dibayarin aja?”
“Nggak apa-apa kali kak, Riri itu orangnya loyal banget nget nget nget. Uangnya banyak cuma sama sekali nggak pelit, waktu itu aja gue dibeliin pulsa sampe banyaaak banget, padahal kan gue nggak deket-deket amat sama dia.” Kata Abe.
Vero mengangguk sambil tersenyum. “Oh ya udah kalo gitu sih, gue takutnya gimanaaa gitu. Soalnya gue sama dia kan baru aja kenal berapa menit eh udah dibayarin aja J.Cool-nya kan nggak enak Be.”

***

Ya begitulah, Vero semakin kenal dan akrab dengan kompeni-kompeni adiknya, Abe. Ia mengobrol dengan sangat asik dan seru sambil cekikikan bareng sama Dennise, Dimi, Viona, Mirza, Velope, Riri, dan Brian. Mereka ngobrol juga sambil makanin J.Cool dan donat-donat. Nggak ketinggalan juga minuman-minumannya, sekalian mainin laptopnya Mirza. Wah asik banget deh pokoknya. Kalo nama-nama tadi diitung-itung ada yang kurang ya, kurang berapa? Satu. Soalnya si yang satu ini emang nggak ikutan ngobrol. Dia terlalu sibuk menghangatkan dirinya sendiri dari dinginnya suhu mall. Diajak ngomong nggak konsen, udah gitu sekalinya ngomong nggak jelas udah kayak orang sakau. Ya udah deh akhirnya dia dikacangin sama yang lainnya. Tinggal empat orang lagi yang belom dateng. Rendy, Adri, serta dua cewek yang ikut serta dengan mereka. Satu jam telah berlalu dari jam janjian.
SREK! Pintu otomatis untuk masuk dan juga keluar mall yang ada di dekat J.Co terbuka sendiri. Entah karena siapa yang membukanya—maksudnya entah gara-gara yang keluar apa yang masuk, yang pasti pintu itu terbuka sendiri. Ada beberapa anak remaja yang lagi ketawa-ketiwi keluar rame-rame. Ketauan banget tuh anak-anak itu SMP, sama kayak tokoh-tokoh cerita ini dari gelagat-gelagatnya. Bertepatan dengan keluarnya anak-anak itu, tas seorang remaja cewek yang mau masuk mall selesai diperiksa petugas. Si remaja cewek itu datang dengan seorang pria. Jangan kaget, pria disini bullshit doang, orang sama-sama remaja kok. Sialnya, kedua orang itu kena petugas yang iseng. Mentang-mentang mereka dateng berdua, si petugas ngeledekin. Katanya, “Cie cie udah berapa bulan? Yang mesra dong, kalian serasi deh.” Hal ini jelas membuat kedua orang itu nggak seneng. Si cewek memutar bola matanya dengan sinis ketika mengambil tasnya, sementara si cowok bilang, “Apaan sih mas? Mas tuh disini tugas aja deh nggak usah bawel kenapa sih heran.” Sambil berjalan masuk ke dalam mall.
Si cowok dan si cewek kemudian masuk ke dalam mall dan si cowok berbelok ke kanan, menuju sebuah tempat bertajuk J.Co. Bukan buat beli J.Cool atau donat, tapi karena dia ada janji sama temen-temennya. Dan dia berjalan menuju ke meja yang memuat paling banyak orang, karena disitulah teman-temannya berada. Si cewek mengikuti langkahnya.
“Hey Adri!” seru Abe lantang sambil nyengir. Gara-gara seruannya yang keras itu, yang lainnya jadi tau kalo Adri udah dateng.
“Eh Adri, dateng juga lo Dri akhirnya.” Kata Dimi sambil menyantap sebuah donat rasa keju. Bukan apa-apa, lupa soalnya nama donat keju di J.Co apa. Yang lainnya selain Dimi menoleh ke arah Adri berdiri. Di sebelahnya berdiri seorang gadis. Gadis itu tingginya nggak jauh beda dari Adri, rambutnya lurus-panjang alami, memakai behel, kulitnya sawo matang, dan tubuhnya langsing. Badannya proporsional banget.
Adri tersenyum. “Ya iyalah Dim gue dateng, masa gue ngelewatin kesempatan ngeliat Dedi di makeover sih? Lagian gue mau beli pembersih soft lens juga, udah sekarat soalnya. Mumpung ada yang nraktir.” Katanya sambil melirik ke arah Riri.
“Hah? Pembersih soft lens? Lo pake soft lens Dri?” pekik Viona. Jelas aja dia kaget, yang lainnyapun juga begitu. Soalnya Adri sama sekali nggak pernah keliatan kayak pake soft lens. Mungkin soft lens yang dia pakai itu yang bening, jadinya nggak keliatan.
Adri mengangguk. “Iya, tapi gue pakenya yang nggak gitu keliatan. Soalnya gue males pake kacamata, soft lens yang terang-terang juga gue males—bukannya males sih, cuma lagi nggak pengen pake aja, padahal dirumah ada banyak banget.”
“Udah buat gue aja kalo lo nggak mau Dri hehehe,” kata Mirza sambil nyengir. Lalu ia menoleh ke arah gadis di sebelah Adri. “Oh ya Dri, kenalin dong, yang di sebelah lo.” Katanya sambil melirik-lirik ke arah cewek yang berdiri tepat di sampingnya Adri.
“Hah? Kenalin yang di sebelah gue? Apaan maksud lo? Emangnya di sebelah gue ada yang harus dikenalin?” Tanya Adri dengan wajah dan nada bingung. Kalo diliat dari tampangnya, dia itu keliatan serius bingungnya. Artinya, dia bener-bener nggak tau siapa yang ada di sampingnya sekarang dan yang harus dikenalin ke temen-temennya. Kalo dia main-main bingungnya kan bisa aja dia emang suka becandain cewek di sampingnya yang ternyata adalah saudara sepupunya itu, jadi mereka berdua cukup akrab. Cuma kalo dia serius bingungnya, ceritanya lain lagi. Itu berarti mereka nggak deket.
Brian berdiri. Kemudian dia mendekat ke Adri. “Cewek, cewek. Cewek yang sama lo, masa lo nggak tau sih? Parah banget lo.” Bisiknya.
“Oooh iya iya iya baru nangkep gue,” kata Adri sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Semuanya, kenalin, ini kakak sepupu gue. Namanya Firrina.” Katanya.
Mendengar kata-katanya Adri barusan, semuanya malah jadi keliatan kaget. Bukannya senyum bukannya apa, kaget deh pokoknya. Yang makan J.Cool, yang makan donat, yang main laptop, semuanya kaget. Apa yang bikin mereka kaget? Kakak sepupu. Kakak sepupu itu artinya kan anak dari kakaknya nyokap atau bokap. Biasanya bedanya bertahun-tahun. Kalo gitu berarti nggak enak dong chemistry-nya nanti. Kan jadi canggung kalo ada yang lebih tua.
Adri mendesah. “Tenang aja, cuma beda dua bulan kurang empat hari doang sama gue. Sama kalian semua seumuran.” Katanya. Coba inget-inget lagi kapan ultahnya Adri. Kalo inget sukur, kalo nggak ya udah. Tapi di asumsikan semua pembaca pada nggak inget semua, jadinya harus dikasih tau. Adri itu ultahnya tanggal 24 November, sedangkan tadi katanya kakak sepupunya yang bernama Firrina itu lahir dua bulan kurang empat hari sebelumnya. Itu artinya, Firrina lahir tanggal 28 September.
Setelah mendengar kata-katanya Adri yang satu itu, baru deh semuanya tersenyum manis. Akhirnya semuanya berkenalan dengan kakak sepupu Adri, Firrina. Nambah lagi satu anggota yang statusnya personal assistant dalam band, juga tokoh dalam cerita ini. Dengan begitu, jumlah tokoh yang ada tiga belas, masih kurang satuuu lagi. Adik kembarnya Rendy.
Setelah selesai berkenalan, Firrina mengambil tempat duduk di sebelah Brian, sementara Adri duduk di sebelah Dedi yang masih menggigil kedinginan. Adri merasa ada yang tidak beres di dekatnya, rupanya ya si Dedi itu. Dedi menggigil banget, udah kayak orang sakau beneran deh. Orang tuh pasti nyangkanya kalo nggak sakit ya sakau. Mana ada orang yang kepikiran kedinginan sama suhu mall? Orang umum pasti mikirnya semua anak remaja jaman sekarang tuh pasti udah pada ke mall semua, ternyata tidak. Ada satu nih, yang ketinggalan kereta. Yang lainnya udah pada naik kereta semua, cuma dia yang masih nyari-nyari dimana kereta yang seharusnya ia naiki.
“Kenapa lo Ded? Mandi pake air dingin tengah malem berjam-jam terus kena AC?” Tanya Adri. Pertanyaannya itu salah besar, ada yang harus diralat dari pertanyaannya itu. “Aduh, Adri, kok lo bisa lupa sih? Mana mungkin Dedi punya AC di rumah? Bego, bego.” Katanya sambil menepuk dahi.
Dennise yang duduk di dekat Adri tertawa kecil, dia jadi inget pas tadi Dedi bilang alasan kenapa dia menggigil. “Dia itu kedinginan Dri, kata dia disini dingin banget kayak kutub utara.”
“Kutub utara? Lebay amat. Emang disini dinginnya sampe segitunya apa? Lagian emang dia pernah apa ke kutub utara? Dinginan juga kamar gue daripada disini.” Kata Adri.
“Ada yang mau nemenin gue ke Famous Amos nggak? Gue mau beli cookies kiloan nih.” Kata Mirza sambil beranjak dari tempat duduknya. Mirza itu cocoknya dikasih nickname cookie monster karena kegemarannya memakan cookies. Tapi emang nggak bisa ditawar-tawar lagi, cookiesnya Famous Amos numero Uno.
Adri beranjak dari tempat duduknya, padahal baru aja dia duduk. “Gue Za, gue juga mau beli cookies sama coklat,” katanya dengan senyuman. “Udah lama banget gue nggak kesana, wih enak-enak banget padahal.”
“Emang Famous Amos itu dimana? Isinya apa-apa aja? Mahal-mahal nggak?” Tanya Abe bertubi-tubi. Pepatah kuno “Malu bertanya sesat di jalan” seratus persen nggak berlaku baginya. Karena dia sama sekali nggak pernah malu untuk bertanya.
“Noh di sebelah,” kata Adri sambil menunjuk Famous Amos dengan dagunya yang runcing. “Isinya coklat sama cookies aja sih, cuma variatif banget. Coklatnya ada yang kecil-kecil kayak permen gitu, ada yang pak, ada yang batangan biasa, macem-macem deh. Udah gitu enak-enak semua lagi, langganan gue disitu tuh. Tapi udah lama banget gue nggak kesana, nggak ada waktu sih.” Jelasnya panjang-lebar.
“Harganya lumayan sih, cuma ya nggak usah khawatir. Kan ada yang bayarin, yega yega?” kata Mirza dengan senyum jahil tersungging di bibirnya sambil menyenggol-nyenggol Riri yang sedang duduk manis di kursi.
Riri menghela nafas. Duitnya udah agak sedikit terkuras aja bahkan sebelum membeli apapun untuk Dedi. “Iya iya gue yang tanggung semua biaya biayanya kalian tinggal terima jadi aja.”
“Tuh kan? Apa gue bilang?” kata Mirza. “Ada yang mau nitip nggak? Apa kek gitu. Cookies kek, coklat cabe kek, coklat dark kek, coklat putih kek. Mumpung gue sama Adri mau kesana nih, apa ada yang mau ikutan juga?” tanyanya.
Abe nyengir. Ia beranjak dengan nafsunya dari tempat duduknya semula. “Coklat cabe? Mau mau mau! Gue mau ikutan deh! Penasaran gue! Cuma di sebelah aja kan ya?” tanyanya dengan suara yang keras.
Adri mengangguk. “Antusias amat lo kayaknya, lo suka cabe ya, Abe?” tanyanya. Kalo jawabannya iya, berarti nama Abe itu bukan sekedar nama panggilan biar gampang manggilinnya aja ya. Golongan darahnya AB, sukanya belanja di Aneka Buana, atau yang biasanya disingkat AB, terus sekarang kalo suka cabe, ada abe-abenya juga kan?
Kali ini Abe yang mengangguk. “Iya! Suka banget Dri malahan! Hampir setiap makanan sehari-hari pasti gue pakein cabe! Wuuuh kalo nggak ada cabe hambar, nggak ada rasanya!”
“Yeah, I kinda… little bit agree about that,” kata Adri. “Terus siapa lagi yang mau ikutan? Atau nitip?” tanyanya sekali lagi, mengulang pertanyaan Mirza sebelumnya.
Dennise meneguk Green Tea-nya yang belom abis-abis juga. “Nggak deh, gue entar comot aja. Takutnya kalo nitip terus nggak cocok di lidah? Kan sayang.” Katanya.
Yang lainnya seperti mengikuti jejak Dennise. Daripada ikutan atau nitip duluan mending comot aja entar punyanya Mirza, Abe, atau Adri waktu mereka lagi pada makanin. Mencomot itu adalah hal yang menyenangkan. Kita nggak punya sendiri punya orangpun jadi meskipun kadang-kadang nggak dikasih sama yang punyanya.
“Dasar,” gerutu Mirza. “Maunya ngambilin punya orang aja usaha sendiri nggak mau. Nggak boleh ah, nggak ada yang boleh nyomotin makanan gue.” Katanya. Mirza itu termasuk orang yang bisa dibilang pelit dan perhitungan. Untung aja yang tajir bukan dia, tapi Riri. Kalo yang tajir dia bisa gawat. Punya duit bejibun tapi nggak pernah ngasih sepeserpun ke yang lainnya. Bahkan kalo untuk urusan yang urgent sekalipun, Mirza masih pake pikir-pikir dulu untuk mengeluarkan uangnya. Soal laptop juga sebenernya udah bete tuh dia gara-gara dimainin terus sama Dennise dan Viona, tapi ya apa daya? Mereka berdua itu cewek. Sebagai seorang lelaki, udah sepatutnya Mirza mengalah sedikit.
Riri menarik lengan Abe, menahannya sebelum ia pergi ke Famous Amos bersama-sama dengan Mirza dan Adri. “Be, gue nitip coklat pak yang dari Swiss dong, ukurannya yang paling gede.”
Abe mengangguk sambil tersenyum.
“Ayo Be.” Kata Mirza yang udah keluar dari arena J.Co, alias udah setengah jalan menuju Famous Amos. Sementara Adri udah lebih di depan Mirza lagi, dia udah di depan Famous Amosnya malahan.

***

Abe, Adri, dan Mirza keluar dari Famous Amos dengan banyak barang bawaan. Tentu aja barang-barang itu makanan sejenis coklat dan cookies. Adri membawa sekotak bermotif teddy bear lucu yang berisi kumpulan cookies-cookies yang rasanya mantap dan coklat-coklat batangan. Mirza membawa coklat pak swiss ukuran besar titipan Riri dan juga cookies kiloan. Sedangkan Abe membawa coklat cabe dan coklat-coklat kecil. Barang yang dibawa Abe dan Adri itu buat sharing bareng-bareng, tapi kalo Mirza nggak. Barang yang dia bawa cuma buat dirinya sendiri aja.
Akhirnya mereka bertiga dan para tokoh-tokoh lainnya ngobrol-ngobrol sambil makanin coklat dan cookies. Firrina dan Vero-pun jadi semakin akrab dengan yang lainnya. Tapi, sekedar tau aja ya, Firrina dan Adri itu bener-bener nggak deket. Bahkan ketika ngobrol-ngobrol rame-ramepun, mereka berdua keliatan nggak akrab. Bukannya musuhan, nggak, cuma ya nggak akrab. Berbeda sekali dengan Abe dan kakak tirinya Vero. Meskipun cuma tiri aja, mereka berdua itu sangat lengket satu sama lain. Mungkinkah hubungan antara Adri dan kakak sepupunya Firrina bisa berubah ke arah positif nantinya? Yah, nggak ada yang tau. Dan kalo para pembaca mau tau bisa apa nggak, silahkan membaca cerita ini dengan baik dan benar.
Untuk sekarang, lebih baik membahas soal Rendy dan adik kembarnya. Mereka berdua telah sampai, tetapi mereka nggak masuk di pintu masuk yang di deket J.Co. Mereka malah masuk ke Metro karena disitulah yang paling dekat. Kalau Adri dan Firrina nggak akrab, yang ini jauh lebih buruk lagi. Bukan cuma nggak akrab aja, tapi mereka juga lebih buruk hubungannya daripada itu. Rendy dan adik kembarnya selalu aja mengalami kless alias ketidakcocokan. Ada aja gitu yang membuat mereka berdebat. Dari dulu emang mereka selalu begitu, nggak pernah akur—pernah, cuma jarang banget. Sekalinya akur udah kayak orang apan tau aja.
Di sepanjang perjalanan menuju J.Co juga mereka nggak henti-hentinya mengomeli satu sama lain. Hubungan mereka buruknya udah nggak ketolongan lagi deh, udah tingkat lanjut. Ketika mereka semakin dekat dengan J.Co dan Rendy udah bisa ngeliat meja yang penuh dengan kompeni-kompeninya sementara adik kembarnya sedang sibuk texting sambil cekikikan, tiba-tiba Rendy berhenti berjalan. Ia melotot, dan ia ingat akan sesuatu yang seharusnya udah dia inget dari tadi-tadi sebelum berangkat. Dengan kasar, dia menarik lengan adik kembarnya menuju ke dalam toko Monet & Co, sebuah toko yang berada di sebelah Famous Amos.
“Ih! Lo tuh kasar banget sih! Sakit tau! Pelan-pelan aja kenapa sih! Ngapain lagi tiba-tiba gue ditarik ke sini, kan bentar lagi mau nyampe padahal.” Gerutu si saudara kembar Rendy kesal.
Rendy tampak sangat gusar. “Nah justru itu makanya lo harus gue tarik ke sini,” katanya. “Aduh bego banget sih gue ya Tuhan, tolol, bego, idiot, goblok, gebleg, bodoh banget! Kok bisa kelupaan sih ya Allah Rendy!” serunya sambil mengadu jidatnya ke dinding.
“Nah itu tau lo, harusnya udah dari dulu lo bilang gitu,” kata adik kembarnya Rendy dengan senyuman. “Lo lebay banget sih, emangnya lo kelupaan apaan? Celana udah pake kan? Ya udah terus apa yang kelupaan? Duit? Temen lo kan ada yang tajir, panik amat sih.”
“Bukan itu! Ini jauh lebih penting dari itu berdua! Gue lupa kalo ada Adri!”
“Adri? Adri siapa?”
“Tyo, Tyo. Lo tau Tyo kan?”
“Tyo, Tyo… oh! Prasetyo Dwiadri Akbar?”
“Iya! Gue lupa kalo ada dia! Astaganaga kok gue bisa lupa sih? Aduh gimana nih?”
“Masyaallah Rendy! Lo tuh bego banget sih! Kalo ketauan gimana? Pokoknya gue nggak tanggung, kalo sampe ketauan itu salah lo pokoknya gue nggak terlibat.”
“Gini aja deh, lo ada duit nggak?”
“Adalah, emang lo?”
“Udah deh! Lo tuh nggak usah ngajak ribut! Sekarang bukan waktunya buat ribut! Ngerti nggak sih lo?”
“Iya iya bacot. Terus kenapa lo nanya-nanya gue ada duit apa nggak?”
“Pake duit lo itu buat beli alat nyamar. Yah minimal kacamata sama masker atau topeng atau apalah buat nutupin muka lo. Entar gue pinjemin topi gue buat nutupin rambut lo yang kayak sapu ijuk itu, baik kan gue? Untung makanya lo punya kakak kayak gue.”
“Hah? Beli kacamata sama masker? Ogah ah! Nggak mau! Itu sih sama aja lo ngures duit gue diem-diem! Lo sih apanya yang baik? Kakak yang baik itu nggak bakalan ngures duit adeknya sendiri. Gue bukannya untung punya kakak kayak lo, gue justru malah SIAL.”
“Yaaa gue sih terserah lo aja ya, kalo lo mau ketauan sih ya terserah. Gue kan kakak yang baik hati, makanya gue serahin semuanya sama lo. Kalo lo maunya semuanya termasuk Adri tau kalo kita itu saudara kembar yang sangat amat harmonis ya gue sih tinggal ngikut aja.”
“Eeeeergh! Sialan lo! Uggggh!”
Rendy tersenyum puas.

***

Sosok Rendy Iqbal nampak sumringah. Cowok itu berjalan dengan senangnya ke arah meja J.Co yang memuat orang yang paling banyak. Senyuman bahagia tersungging di bibirnya. Kedua tangannya yang dilapisi sweater hitam merk GAP dimasukkan ke dalam saku celana pendeknya yang berwarna putih. Kakinya yang ramping gila itu menapak dengan pasti di atas lantai mall. Dirinya telah ditunggu-tunggu oleh teman-temannya sedari tadi. Ketika ia sudah sangat dekat dengan tujuannya, salah seorang teman baiknya melihatnya. Ia tersenyum dan menyapa.
“Hai Ren… dy.” Sapa Abe dengan senyuman manis sambil melambaikan tangan. Tetapi senyumannya mendadak mengempis dan berubah menjadi kekagetan dan ketakutan ketika melihat sosok yang berdiri tepat di sebelah Rendy. Yang lainnyapun begitu.




(Bersambung)

0 opinions:

Post a Comment