October 31, 2009

Bab 13

Bab 13
Thriller Night and Unexpected Guests


Malam yang sepi dan dingin tengah menyelimuti kota Jakarta. Bulan purnama, langit berwarna hitam pekat, angin bertiup pelan-pelan, membuat yang merasakannya merinding. Para burung hantu bertengger di batang-batang pohon, melotot menunjukkan kedua matanya yang besar dan bulat kesana-kemari, melihat-lihat seperti nenek sihir yang sedang mengawasi targetnya. Jalanan sepi, gedung-gedung juga pada kosong, orang nggak ada dimana-mana. Malam itu tanggal 31 Oktober, hari Sabtu pahing.
Harusnya sih ya, orang-orang pada have fun. Harusnya sih pada keluar rumah dan menikmati serunya kota Jakarta, kan malam itu malam minggu—malam dimana orang-orang bersenang-senang. Sabtu itu kan mungkin sekarang udah nggak afdol lagi kalo dibilang weekend. Saking sibuknya semua orang dan padatnya jadwal-jadwal kegiatan mereka, mereka memaksakan diri untuk tetap menganggap bahwa hari Sabtu itu adalah salah satu weekend, jadi mereka boleh bersenang-senang dan bersantai-santai pada hari itu sepenuhnya. Sekarang sih banyak orang—terutama pelajar, yang terenggut ke-weekend-an-nya. Weekend disini bukan berarti hari di akhir pekan, tapi hari dimana orang bisa bersantai dan melepas semua kepenatan yang ditumpuk selama hari-hari kebelakang. Intinya, sekarang, banyak orang yang tetap sibuk di hari Sabtu layaknya hari-hari kerja lainnya.
Tapi, malam itu beda. Bukannya memanfaatkan malam minggu untuk bersantai, jalan-jalan keluar rumah keliling Jakarta setelah beraktifitas, orang lebih milih menyekap diri di dalam rumah masing-masing. Mereka lebih suka duduk di sofa, memakan es krim neapolitan sambil menonton acara-acara di layar televisi ketimbang berada di mall, memakan Whooper Junior. Para wanita juga nggak ada yang peduli mau ada sale apa nggak, tetep aja mereka maunya di rumah aja meskipun ada yang ngasih tau Zara diskon 80% juga. Pokoknya, malam itu, cuma sedikit orang yang keluar rumah. Sisanya, memilih untuk tinggal di dalam rumah. Mungkin masyarakat Jakarta udah ketularan para bule. Para bule itu, setiap tanggal 31 Oktober, mereka merayakan Halloween. Pada hari Halloween itu, mereka menggelar pesta kostum yang bertemakan horror. Ada yang memakai kostum vampir, ada yang jadi Frankenstein, ada yang jadi mumi, ada yang jadi werewolf, dan lain-lain yang masih sejalan dengan itu semua. Maksudnya, nggak ada yang jadi pocong, kuntilanak, superman, dan sebagainya yang menyimpang.
Halloween juga identik dengan labu yang dipotong sedemikian rupanya sehingga membentuk sebuah wajah. Wajah tersenyum yang seram, tentunya. Labu-labu itu kemudian diletakkan di depan rumah. Selain itu, juga ada tradisi wajib yang bernama Trick Or Treat. Jadi anak-anak yang berkostum mendatangi rumah orang-orang sambil membawa kantong atau apapunlah yang bisa digunakan untuk menampung permen dan coklat. Anak-anak itu mengetuk pintu atau memencet bel rumah jika ada. Kemudian jika sang pemilik rumah udah buka pintu, mereka berteriak “Trick Or Treat!” yang artinya adalah mereka minta treat yaitu permen atau coklat. Kalo nggak dikasih, si pemilik itu harus dikerjain alias trick. Kalo nggak salah sih gitu. Dan nggak cuma itu aja, biasanya kalo Halloween para bule juga pada bikin pesta kostum, baca-baca cerita serem, dan juga nonton film serem.
Intinya, Halloween itu identik dengan setan. Suasananya seram, horor, dan mencekam. Tapi, tetep aja cuma berlaku di luar negeri aja. Di Indonesia sih tanggal 31 Oktober biasa-biasa aja. Paling cuma ngerayain pesta ulang tahun doang kalo emang ada yang ultah tanggal segitu. Sama paling ngegelar acara-acara akbar aja kayak konser artis luar negeri. Masyarakat Jakarta mungkin ketularan. Bukan ketularan mau ngerayain Halloween juga—ya itu juga sih sebenernya, tapi di bab ini ketularannya suasana seremnya aja. Ada nih, salah satu anak Jakarta yang paling ketularan. Dia lagi nonton film serem barengan sama abangnya.

***

Rossi memandang layar televisinya tanpa berkedip. Dia terus menerus memakan pop corn di genggamannya yang berasa asin satu per satu seperti orang saiko. Matanya melotot tajam, sesekali dia bergetar, juga berteriak-teriak sendiri. Bantal-bantal di sekelilingnya berantakan, berseliweran kemana-mana nggak karuan. Sewaktu-waktu dia mengambil salah satu bantal secara cepat untuk menutupi seluruh wajahnya agar apa yang ada di layar televisi nggak keliatan. Pop corn di tangannya buyar seketika, mengotori sofa dan lantai. Kalo suara televisi udah tenangan, baru deh dia meletakkan bantal itu sembarangan, kembali meraup pop corn dengan gemetaran, lalu kembali menonton dengan mata melotot tanpa berkedip sambil memakan pop corn asin. Begitulah seterusnya dari awal film hingga detik ini juga.
Kalo abangnya lain lagi. Di atas sofa empuk yang dudukannya dua, dia menonton dengan santainya sambil telentang serasa lagi tanning. Banyak kulit kacang dan serpihan-serpihannya di sekelilingnya. Sesekali dia melihat ke layar hp-nya dan cekikikan sendiri sambil memencet-mencet keypad. Setelah itu dia meletakkan kembali hp-nya secara asal. Kadang-kadang dia suka kebingungan sendiri di mana hp-nya, eh taunya dia pantatin. Kalo Rossi makan pop corn, dia makannya kacang. Udah ada sederetan kulit-kulit kacang di atas sofanya. Begitu juga dengan di atas meja yang terletak di depan sofa, di atas karpet, dan di atas lantai. Kadang-kadang dia mengganti posisi jadi duduk bersila, memangku sebuah bantal empuk di atas pahanya yang ramping, tanpa rambut, dan putih itu. Kalo Rossi udah teriak-teriak sendiri, kalo nggak dia mendesah, dia cemberut sambil ngeliatin Rossi, dia tutup kuping, dia protes. Dia sama sekali nggak ngerasa tertantang dengan film yang super duper serem itu.
“AAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!” sekali lagi Rossi berteriak keras. Pop corn-pop corn yang ada di genggaman tangannya buyar kemana-mana seketika, makinan ngotorin karpet dan lantai, juga sofa, pokoknya tambah ngotorin apapun yang berada di sekelilingnya. Bantal terdekat diambilnya. Sekarang seluruh wajahnya tertutup oleh bantal.
Rendy mengerutkan dahi tanda kesal. “Eh! Bacot banget sih lo! Berisik tau nggak! Kalo ketakutan ya udah ganti aja acaranya ah!” omelnya keras-keras. Kesabarannya udah mencapai limit, makanya dia begitu. Udah dari awal Rossi berteriak-teriak sendiri terus kalo muncul adegan seremnya.
“Iiih nyantai dong,” gerutu Rossi dengan nada ngambek, dengan bantal masih menutupi wajahnya. “Gue ketakutan tapi gue juga penasaran banget endingnya gimana. Kalo lo nggak bisa sabar ya udah sana go to your room.”
Rendy menggenggam kacang di tangannya dengan begitu keras hingga kacang itu hancur saking besarnya tenaga Rendy. “What? Gue? Kenapa nggak lo aja sana? Yang ribut-ribut disini kan lo, bukan gue,” pekiknya. “Makanya, jadi orang tuh jangan kebanyakan dosa. Film ginian aja takut, apaan nih? Ini sih sama aja kayak Teletubbies.”
Rossi menurunkan bantal yang menutupi wajahnya. Kemudian dia menatap Rendy dengan dahi mengkerut. “Apa hubungannya coba takut film sama kebanyakan dosa? Soal dosa sih jelas banyakan lo ya daripada gue. Lo kan sering nyiksa sodara sendiri.”
Rendy tersenyum bokep. Matanya diturunkan sedikit. Dia jadi terlihat kayak orang mabok. “Oh ya?” tanyanya dengan suara yang direndahkan. “Emang siapa sih yang gue siksa? Sodara? Emang gue punya sodara? Kalo punya, emang siapa sodara gue?”
Rossi tampak menggerutu kesal. “Tau, pikir aja sana sendiri.” Katanya acuh tak acuh. Kemudian cewek itu melahap segepok pop corn-pop corn yang ada di tangannya sekaligus. Dia memakan semua pop corn-pop corn itu dengan wajah kesal.
“Yah marah, digituin doang juga. Sensi amat sih.”
“Siapa yang marah? Yeee sotoy banget sih lo.”
“Nah, itu namanya apa kalo bukan marah? Ngambek? Ngamuk? Bete?”
Rossi diem. Masih dengan wajah ngambek, dia mengunyah-ngunyah semua pop corn-pop corn yang ada di dalam mulutnya. Sesekali matanya melirik ke arah Rendy.
“Kenapa lirik-lirik? Naksir?” Tanya Rendy. Padahal daritadi matanya terus tertuju pada layar hp-nya. Rossi kira semua lirikannya nggak ada yang ketauan, eh ternyata abangnya bisa tau semua.
Rossi menyembunyikan semua rasa kagetnya di dalam hati. “Ih! Apaan sih lo! Norak tau nggak sih uek,” katanya. “Itu kan kata-katanya abang-abang, emang dasar abang-abang sih lo emang, jadi nggak heran gue.”
Di luar dugaan Rossi, abis dibilang abang-abang, Rendy malah terkekeh-kekeh. “Kok lo tau kalo itu kata-katanya abang-abang? Berarti lo tiap hari gaulnya sama abang-abang dong.”
“Urgh! Tau ah! Terserah lo aja deh! Udah ah! Gue mau nonton! Kalo lo masih mau ngebacot ya udah sana pergi!” omel Rossi keras-keras.
Mendengar adeknya menggerutu-gerutu kesal, Rendy cuma tersenyum jahil sambil geleng-geleng kepala. Di benaknya masih ada berjuta-juta—oke, lebay, banyak ide-ide jail dan konyol yang bakalan dia pake buat godain Rossi, adek ceweknya.

***

Film ber-genre horror yang mereka tonton di layar televisi berlangsung. Jam nenek besar yang berbandul besar juga, yang setiap jam selalu berbunyi dan berdentang setiap jam itu berbunyi. Kemudian berdentang sembilan kali. Artinya udah jam sembilan malem. Bunyinya semakin menambah keseraman suasana malam itu. Film semakin menegangkan, Rossi juga semakin tegang, sementara Rendy sama sekali tak tersentuh nyalinya. Dia masih menganggap bahwa film yang ditakuti Rossi hingga sebegitunya itu tidak menakutkan sama sekali. Dia sih santai-santai aja makanin kacang sambil main hp.
Satu adegan menyeramkan muncul kembali. Sangat amat mengagetkan Rossi. Dia menjerit sejadi-jadinya. Adegan itu sama sekali di luar dugaannya, dia pikir di adegan itu nggak ada setan sama sekali, ternyata ada. Setannya muncul dengan sangat cepat dan seluruh wajahnya yang menjadi sumber ketakutan setiap penonton ukurannya selayar televisi penuh. Belom lagi sound effect-nya yang berbunyi DENG secara mendadak. Membuat jantung setiap penontonnya memompa darah dengan kecepatan ekstra. Well, not exactly juga sih. Soalnya ada tuh, penonton yang jantungnya biasa-biasa aja abis adegan itu. Padahal normalnya sih, jantungnya bakalan memompa darah dengan kecepatan lebih, cuma entah kenapa, teori itu nggak berlaku bagi penonton lelaki satu ini. Bukannya merasa tegang atau ngeri atau takut, dia malah merasa bosan dan ngantuk. Sesekali dia menguap lebar.
Rendy menggaruk-garuk kepalanya. Mengacak-ngacak rambutnya yang dari awal juga udah acak-acakan. “Nggak ada acara laen apa? Bosen nih daritadi gini-gini terus. Nggak serem ya udah nggak serem sampe abis nggak usah sok-sok di serem-seremin elah.” Keluhnya.
“Ssst!” seru Rossi sambil menempelkan jari telunjuk tangan kirinya pada mulutnya. “Jangan berisik Ren, lagi seru-serunya nih, udah mau klimaksnya nih kayaknya.” Katanya dengan suara yang aneh. Setengah bergetar-getar gitu deh. Tadi waktu dia bilang ssst juga jari tangannya tampak bergetar. Mungkin itu adalah bentuk ketakutan bekas unexpected scene yang tadi itu.
Rendy melipat tangannya. “Oh come on twin, you have to move on,” katanya. “Itu apanya yang seru coba? Orang cuma lagi adegan kissing doang juga. Kissingnya juga biasa banget nggak ada apa-apanya, udah mau klimaks gimana? Oh, gue ngerti maksud lo.” Katanya sambil menjentikkan jari tangannya.
“Hah? Apaan sih? Ngerti maksud gue? Itu sih semua orang juga ngerti, nggak usah bangga gitu juga kali.” Kata Rossi.
Sekali lagi, Rendy tersenyum bokep. “Aaalah, maksud lo ‘klimaksnya kissing’ kan? Makanya gue nggak boleh ganti acaranya?” katanya dengan nada menginterogasi. “Lagian nih ya, kissing tuh adult scene, bukannya child scene. Jadi yang boleh liat tuh cuma gue doang, lo belom boleh. Lo cuma boleh ngeliat monyet ngupil aja.”
“Hah? Nggaklah! Eh denger ya, gue itu tuh nggak bokep, nggak kayak lo tuh,” seru Rossi membela diri. “Gue tau Ren isi otak lo, isinya tuh cuma bokep. Pikiran lo tuh ngeres. Oh ya, soal adult scene child scene, berarti yang gue boleh liat cuma lo lagi ngupil aja dong ya.”
Rendy tersenyum penuh kemenangan. “Nah! Ketauan! Itu lo tau maksud ‘klimaksnya kissing’ apa! Itu udah cukup ngebuktiin kalo lo tuh bokep! Hahaha ketauan lo,” serunya. “Ya iyalah gue bokep, pikiran gue ngeres. Gue kan cowok normal, emang lo? Cewek abnormal, cewek tapi bokep. Kissing aja dibilang seru, iiih.”
“Iiiiiiiiiiiiiiih Rendy! Gue bukannya tau! Tapi gue cuma ngira-ngira aja! Lo aja tuh yang negatif thinking terus sama gue! Kenapa sih lo tuh gangguin gue melulu? Nggak ada bosen-bosennya apa gangguin adek sendiri?” keluh Rossi besar-besaran.
“Halah halah halah alibi aja,” kata Rendy sambil mengupas kulit kacang. “Lo nggak ngira-ngira, dari awal juga lo udah tau maksud ‘klimaksnya kissing’ tuh apa. Udahlah ngaku aja kalo lo tuh minat sama begituan, nggak apa-apa kali sama gue ini elah kaku amat lo.” Lanjutnya sambil mengunyah-ngunyah kacang.
“Apaan sih Rendy! Gue tuh nggak bokep! Gue tuh nggak kayak lo ya asal lo tau aja. Gue kan lurus-lurus aja nggak neko-neko, emang lo tuh macem-macem aja…” kata Rossi. Ketika dia mengucapkan itu, Rendy lagi serius menatap layar televisi. Dia memakan kacang dengan pelan. Pikirannya terfokus dengan apa yang ada di dalam televisi, jadi dia nggak dengerin omongannya Rossi.
Rossi terus berceloteh tentang keburukan Rendy sementara Rendy sendiri beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Rossi. Kemudian dia duduk tepat di sebelah Rossi. Semua itu dia lakukan dengan tampang statis. Sementara Rossi masih aja berceloteh sambil terus menatap Rendy yang kini duduk di sebelahnya, menatapnya balik dengan statis. Situasi itu terjadi selama beberapa saat. Rossi terus berceloteh tentang kejelekan-kejelekan Rendy sementara Rendy hanya bisa menatapnya seperti orang dihipnotis.
Lalu, tiba-tiba Rendy menggerakan tangannya. Pelan tapi pasti, dia mulai memegang dagu Rossi. Rossi nggak peduli, mau Rendy kayak gitu juga dia tetep aja ngejelek-jelekin Rendy terus non-stop. Rendy memegang dagu Rossi hanya dengan jempol dan telunjuk tangan kanannya. Entah apa yang akan dia lakukan pada Rossi, adik kembar ceweknya. Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu, Rendy masih memegang dagu Rossi dengan jari jempol dan telunjuknya sementara ocehan-ocehan tentang kejelekan-kejelekan Rendy masih terdengar jelas dari mulut Rossi.
“Lagian lo tuh dodol banget sih! Masa gue yang disalahin, padahal kan udah jelas-jelas… AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!” jerit Rossi keras-keras. Diantara semua jeritan-jeritannya malam itu, cuma jeritan ini yang paling keras. Uh-oh, apakah yang terjadi? Apa ini ada kaitannya dengan dagunya yang lagi dipegang Rendy?
Mendengar Rossi menjerit, Rendy memutar bola matanya tanda udah-bisa-nebak. Setelah Rossi berhenti menjerit, baru ia melepaskan kedua jarinya dari dagu Rossi.
“Rendy! Lo tuh jahat banget sih! Kan gue kaget! Untung aja gue nggak jantungan, kalo gue jantungan terus gue mati gimana?” pekik siapa lagi kalo bukan Rossi.
“Jahat? Apanya yang jahat? Denger baik-baik ya, gue itu tuh kakak yang paling baik. Coba aja sekarang lo liat tuh TV.” Kata Rendy sambil menunjuk TV dengan dagunya.
Rossi melirik ke layar TV. Yang ditampilkan di sana sekarang cuma warna hitam dengan teks putih yang bergerak ke atas. Rossi nggak ngerti apa maksud kakaknya. “Hah? Apaan sih? Orang cuma kredits juga… HAH? Kredits? Berarti filmnya, filmnya, udah abis?”
“Nggak, lanjutannya entar jam 3 pagi,” kata Rendy dengan tampang statis. “Ya iyalah abis! Emang kalo udah kredits mau apa lagi?” serunya lantang.
Rossi tersenyum manis. Manis-manis cengengesan gitu. “Oooh, ehehehe, thanks ya Rendy, ihihihihi ternyata lo baik juga ya. Gue kira lo seratus persen jahat sama gue.” Katanya sambil senyum-senyum.
“Iya iya,” kata Rendy. “Lagian lo dodol sih, lo yang penasaran endingnya gimana lo yang nggak perhatiin sendiri. Gimana sih? Untung aja gue paksa lo liat tadi, coba kalo nggak, percuma aja lo tereak-tereak daritadi.”
Rossi terkekeh-kekeh. Ternyata dibalik sifat-nya Rendy yang… begitu, dia masih care sama adeknya. Kenapa? Para pembaca masih bingung kenapa Rossi bilang makasih sama Rendy? Coba deh inget-inget, Rossi pernah bilang kalo dia itu penasaran banget sama ending filmnya, cuma gara-gara dia debat sama Rendy, dia jadi nggak nonton filmnya lagi. Nah Rendy liat kalo filmnya udah mau abis, makanya dia pegang dagunya Rossi udah gitu dia tengokin ke belakang, dia paksa Rossi biar liat ending film itu. Maka dari itulah Rossi makasih banget sama Rendy.

***

Rossi mengganti-ganti channel televisinya dengan perasaan gundah dan takut. Jam nenek menunjukkan pukul sebelas malam, sementara ia masih terjaga sendirian di ruang keluarga. Sendirian? Ya, sendirian. Cuma dia seorang diri. Kemana sang kakak, Rendy? Dia udah out duluan. Dia udah ada di kamarnya sekarang, meninggalkan Rossi sendirian di bawah dengan rasa takut. Emang sih dia liat ending filmnya dan jadi nggak penasaran lagi, tapi endingnya tuh serem banget. Dia jadi kebayang-bayang terus sampe sekarang. Mau tidur? Nggak ngantuk. Lagian kalo tidur sepi, malah lebih serem lagi. Ditambah lagi, suara-suara guntur dan petir yang menandakan akan segera datangnya hujan. Semua itu membuatnya ngeri.
Makanan, minuman, bahkan handphone sekalipun juga nggak membantu sama sekali. O.L Twitter, nggak ada yang seru. MSN juga sama aja. Facebook, Plurk, dan account-account lain lagi males Rossi-nya. Peribahasa yang paling tepat buat keadaan Rossi sekarang adalah hidup segan mati tak mau. Satu-satunya yang bikin itu jadi kurang tepat adalah hidup sama matinya. Kalo Rossi bukan itu yang bener, yang bener tuh begadang sama tidur. Jadinya gini, begadang segan tidur tak mau. Karena ya emang itulah yang dirasain sama dia sekarang. Begadang? Ketakutan, ngeri sendiri. Tidur? Sepi, malah makin ngeri. Terus gimana dong jalan keluarnya?
Jam nenek terus berdetak (kalo dideketin baru kedengeran) yang artinya malam semakin larut. Malam yang diselimuti dengan kesepian dan ketegangan semakin dalam. Tengah malam semakin dekat, yang gossip-nya adalah waktunya para setan-setan keluar kandang. Acara TV juga nggak ada yang mendukung. Kebanyakan film-film serem, karena kan ngerayain Halloween. TV-nya make Astro, jadi banyak channel-channel luar negeri gitu. Badan Rossi agak sedikit gemetar seiring dengan bergantinya-yang-ditampilin-di-TV. Belom lagi suara guntur dan petir yang semakin keras dan ngagetin. Bosan, akhirnya Rossi berhenti mengganti channel dan melihat ke sekeliling rumahnya.
Di sekelilingnya kotor dan berantakan. Bantal-bantal berserakan kemana-mana, dan juga banyak serpihan-serpihan pop corn—bukan cuma serpihannya aja, tapi pop corn utuhnya juga gara-gara kebuang dari genggaman tangan. Ada pula tetesan-tetesan kopi yang udah kering. Believe it or not, Rossi itu suka minum kopi biar bisa begadang. Salah satunya ya sekarang ini. Kadang-kadang kopi murni, kadang-kadang kopi susu. Sementara di sekeliling sofa di sebrangnya juga nggak kalah ancurnya. Bantalnya emang nggak berserakan kemana-mana kayak sofanya Rossi sih, cuma posisinya jadi ngelantur. Ditumpuk-tumpuk nggak jelas gitu nggak ada arahnya. Soal bantal sih emang rapihan sofa ini, cuma soal sampah makanan, wah. Cuma orang abnormal aja yang bilang kalo mendingan sofa di sebrang sofanya Rossi ketimbang sofanya Rossi sampah makanannya. Soalnya sampah makanan di sekeliling sofa di sebrang—halah, sofa bekas Rendy, kakak kembarnya Rossi, itu tuh udah tingkat lanjut banget banyak dan seliwerannya. Di atas meja yang ada diantara sofanya Rossi dan sofa bekas Rendy aja tuh udah ada setumpuk kulit-kulit kacang. Juga di atas sofa bekas Rendy, dan juga di sekelilingnya. Di lantai, di karpet, dimana-mana deh. Ada juga isi kacang yang kebuang—bukannya dibuang ke tong sampah malah didiemin aja. Nggak ketinggalan tetesan-tetesan Diet Coke. Itu juga bekas Rendy.
Ngelus dada aja deh kalo jadi pembokat disitu. Bisa nangis darah kalo harus bertahun-tahun kerja disitu. Soalnya, remaja-remaja yang tinggal di rumah itu, meskipun cuma dua, males dan berantakannya tuh kelewatan. Apalagi yang sulung, malesnyaaa udah kayak apan tau. Orang pertama yang paling kaget besok pagi adalah ya si pembokat. Kemaren bersih cling, eh besok paginya udah jadi tempat pembuangan sampah. Tapi, kalo udah tau—pasti tau, siapa pelakunya, nggak bakalan kaget lagi. Udah paham soalnya. Duet maut tahun ini. Double R, istilahnya. Kayaknya nggak perlu dikasih tau lagi ya siapa itu Double R, jadi ya yang nggak tau bisa nanya sama pembaca lain atau nggak nebak-nebak aja sendiri, mudah-mudahan bener.
Ruang tamu gelap gulita. Seluruh perabotan yang ada disitu nggak keliatan sama sekali—well, keliatan sih, tapi ya kayak siluet gitu deh, item-item aja. Jendelanya ditutup rapi oleh hordeng warna cokelatnya cokelat yang motifnya spiral warna cokelat kayu. Bayangan daun terpancar dengan jelas, karena emang di depan jendela ruang tamu ada taneman yang lumayan gede yang di atasnya ada lampu terang. Bayangan daun itu bergerak-gerak. Geraknya lemah gemulai seperti sedang melambai-lambai. Rupanya angin bertiup pelan-pelan. Kenapa ya? Mungkin mau tobat. Mau tobat soalnya udah banyak rok-rok cewek yang kebuka sehingga auratnya keliatan karena ulahnya. Rossi melihat ke arah lain, yaitu tempat makan yang deket dapur. Tempat makan yang letaknya nggak jauh dari ruang keluarga tampak remang-remang. Not-so-romantic buat dinner. Bukannya romantis, malah horror. Woupzy, rupanya pintu dapur agak sedikit terbuka. Alhasil, angin semilir memasuki rumah dan menuju ke ruang keluarga. Rossi merinding, merasa angin semilir itu menggelitik tengkoknya. Ia bergidik, kemudian memegangi leher bagian kanannya. Dapur gelap. Bener-bener gelap segelap-gelapnya. Sumber kegelapan paling gelap diantara ruangan-ruangan lain di rumah itu sekarang deh. Pintunya juga, nggak tau ya beneran apa halusinasi Rossi aja, bergerak-gerak sedikit. Menutup, ngebuka, menutup, eh ngebuka lagi. Pake bunyi segala lagi. Bunyinya bunyi pintu-pintu reot kalo dibukain gitu loh. Emang udah reot juga sih pintunya.
Rossi terjebak dalam dilemma. Dia mau nutup pintunya, cuma dia takut. Tapi kalo dia diemin aja, pikirannya tuh terganggu. Nggak tau apa sama suaranya apa gimana. Keadaan Rossi saat ini emang lagi nggak bagus. Dia masih kebayang-bayang sama film horror yang barusan dia tonton bareng Rendy. Perasaannya terguncang, nyalinya menciut. TV masih nyala, akhirnya Rossi mutusin buat nutup pintu dapur. Dengan was-was, dia beranjak dari sofa tempat dia duduk dan mulai berjalan dengan sangat amat pelan menuju ke pintu dapur. Suddenly, dia berenti di tengah jalan. Dia ngerasa ngeliat sesuatu yang nggak wajar. Sekali lagi, dia menoleh ke sekelilingnya, dan perhatiannya tertuju pada jendela taman. Jendela itu nggak ditutup sama sekali, jadi tamannya bisa keliatan dengan amat jelas. Ada sesuatu yang aneh di sana, di taman. Rossi menyipitkan matanya, mendadak dia teringat akan setan paling klimaks di film horror yang dia tonton, tepatnya yang di endingnya. Dia ngeliat setan paling klimaks itu gara-gara ditengokin sama Rendy. Sontak dia melotot dan menjerit dalam hati. Dia ketakutan sendiri. Takut sama hal yang jelas-jelas nggak jelas. Dengan gegabah, dia matiin TV dan ngibrit menaiki tangga. Dia mau menemui seseorang yang berada di atas.

***

Petir menyambar sekali lagi. Menimbulkan suara yang memekakkan telinga setiap makhluk yang mendengarnya. Termasuk Rossi, salah satu tokoh cerita ini. Dengan setengah berlari, bahkan hampir jatoh, Rossi menuju ke sebuah pintu kamar—bukan kamarnya. Nafasnya terengah-engah akibat berlarian dari bawah ke atas. Dengan tenaga yang ada, dia mengetuk-ngetuk pintu kamar itu sebanyak tiga kali berturut-turut. JEGER! Suara guntur hadir lagi. Tidak ada jawaban. Rossi nggak nyerah, dia ketok tiga kali lagi, kali ini lebih keras. Ia menggigit bibirnya, gundah menunggu jawaban dari si penghuni kamar.
Kreeek, pintu kamar dibuka. Nggak bertenaga banget ya bunyinya, sama kayak yang buka. Dibukanya nggak niat, makanya bunyinya ditulis cuma dengan kreeek. Muncullah sesosok remaja cowok tinggi-kurus yang adalah si penghuni kamar. Rambutnya nggak karuan, tampangnya mesum, memakai sweater GAP warna putih, dan boxer garis-garis ala narapidana. Mungkin itu adalah simbol buat perasaannya yang merasa jadi narapidana di rumah itu. Mungkin.
Dahinya mengkerut tanda kesal. Mau apa coba ngetok-ngetok kamarnya jam segitu? Ganggu urusannya aja. “Siapa sih malem-malem gini ngetok-ngetok kamar gue? Ganggu aja!” gerutunya sambil garuk-garuk kepala dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya memegang kenop pintu. “Oh, lo. Kirain setan.” Katanya saat melihat sosok Rossi.
Rossi tersenyum manis. “Eheheh, Rendy, gue tidur bareng lo doooooong.” Katanya dengan manja. Biasa, kalo ada maunya kan gitu. Di baik-baikin banget. Kalo nggak ada maunya paling juga bentar lagi ribut nih berdua.
Rendy diem. Wajahnya statis banget. “Oh iya deh emang setan.” Katanya santai, lalu dia menggerakan tangan kanannya untuk menutup pintu. Tapi sebelum pintunya ketutup, Rossi udah nyegah duluan.
“Ah ah, aaah Rendyyy jangan gitu dong, gue serius nih. Gue mau tidur di kamar lo.”
“Kenapa? Nggak denger. Ada petir tadi barusan.”
“Iiih lo tuh jahat banget sih sama adek sendiri! Gue ketakutan nih gara-gara film tadi, lo sih pake nengokin gue segala pas endingnya.”
Rendy bersandar di pinggir pintu. “Maunya apa sih, udah dikasih liat endingnya bukannya makasih malah protes. Ya udah, gue dibayar berapa?”
“Aaaah Rendy lo tega banget sih sama gue, masa gue harus bayar segala sih? Duit gue kan udah tiris.”
“Yaelah becanda doang juga, masuk gih.”
Rossi nyengir. “Hehehe thanks ya Ren.” Katanya sambil memasuki kamar Rendy.
Kamar Rendy seratus persen berantakan. Yah biasalah kamar cowok, mana ada sih yang rapi? Paling kalo rapi juga baru aja diberesin sama pembokat, atau nggak emang cowoknya aja yang neces. Cuma yang pasti kamarnya Rendy Iqbal tuh berantakan. Banget. Sumpah. Parah. Poster-poster nggak ada yang lurus, semuanya miring-miring. Ada yang udah sekarat banget mau copot. Selimut bentuknya udah abstrak, guling sama bantal kemana-mana, lemari udah buluk, sepre copot-copotan, wallpaper pada kebuka-buka, majalah-majalah bokep seliweran, tong sampah overloaded, barang-barang juga kemana-mana nggak punya tempat penyimpanan sendiri, meja belajar… erh, nggak usah dijelasin deh. Intinya, kamarnya Rendy tuh udah kayak abis kena tornado. Barang-barang berterbangan jadinya nyangkut dimana-mana. Mojrot, mojrot deh pembokatnya nih, mesti tiap hari beresin kamarnya si cowok satu ini. Tiap hari loh ya, tiap hari. Gimana nggak mojrot?
Laptop yang udah lama banget nggak dimainin sama Rendy akhirnya dimainin juga. Laptop itu ada di atas meja belajarnya. Rupanya Rendy lagi asik main laptop. Lampunya dinyalain semua biar nggak gelap, bikin sakit mata. Anehnya, di seantero kamar ada banyak banget gumpalan-gumpalan tisu. Tisunya juga nggak biasa, di seluruh tisu-tisu itu ada sesuatu. Sesuatu yang berwarna merah.
“Eh itu kenapa deh?” Tanya Rossi sambil menunjuk sweater Rendy di bagian ujung yang mendekati tangan. Soalnya ada merah-merah di situ. Darah.
“Ini urusan orang dewasa, anak kecil nggak boleh tau.” kata Rendy sambil menutup pintu. Sweater yang dipake Rendy warna putih, jadi darahnya tuh keliatan banget. Kalo diliat dari polanya yang merembes ke kiri, pertama-tama darahnya netes dari idung, terus diseka deh. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, bener nggak darahnya dari idung terus diseka?
Rossi melompati gumpalan-gumpalan tisu yang memenuhi lantai kamar. “Ih rese lo, gue bukan anak kecil tau,” katanya. Lalu dia segera merebahkan diri di atas tempat tidur Rendy. “Tell me dong itu kenapa. Eh, apaan nih?” Tanpa sengaja, dia meniban sesuatu. Kemudian dia bangkit dari tidurannya dan mengambil benda yang dia tiban. Rupanya dia meniban majalah.
“Eeeeh! Ngapain lo nyentuh-nyentuh properti gue! Lo kan udah numpang tidur disini, ya at least jangan nyentuh-nyentuh barang-barang gue sembarangan dong!” omel Rendy sambil merebut majalahnya dari tangan Rossi.
“Ya deh maaf maaf,” kata Rossi. Kemudian dia merebahkan diri lagi. “Lo ngapain sih? Gue kira udah tidur. Lampu dinyalain semua, udah gitu sweater lo ada darahnya, banyak tisu-tisu berdarah juga lagi. Kasih tau dong, penasaran nih gue jadinya.”
Rendy belaga budek. Dia diem sambil mengotak-ngatik laptopnya. Serius banget kayaknya. Sebenernya dia ngapain sih?
“Ih gue nanya malah nggak dijawab, nggak sopan banget sih.”
Rendy berhenti mengotak-ngatik laptopnya. Lalu ia menoleh ke arah Rossi yang lagi tiduran di atas tempat tidurnya. “Nggak sopanan mana sih gue sama lo hah? Gue tuh tuan rumah disini, jadi semuanya ya suka-suka gue. Udahlah sweater gue berdarah juga nggak ada urusannya sama lo kan. Sekarang lo tidur aja deh sana, ganggu banget dah.”
Rossi merengut. “Cih, udah bagus gue care pake nanyain segala. Kalo nggak kepaksa juga gue nggak mau deh tidur disini, ngapain juga?” gerutunya sambil menarik selimut, menutupi badannya yang pendek dan gemuk. Bertolak belakang dengan Rendy.
Rendy nggak nyautin lagi. Dia mendesah. Kemudian melanjutkan kegiatan misteriusnya yang tadi sempat terhenti sejenak. Sementara Rossi mempersiapkan dirinya untuk hijrah ke dunia mimpi. Apa para pembaca tau, Rendy itu sebenernya lagi ngapain? Pada nebak nggak? Anggep aja semuanya oon deh, jadi harus dikasih tau. Nih ya, Rendy itu tuh lagi nge-bo-kep. Daritadi dia nontonin video-video bokep, liat foto-foto bokep, bahkan buka situs-situs bokep. Majalah yang ditiban Rossi juga majalah bokep. Oh gitu, terus kenapa dia nggak mau Rossi tau? Simple aja, soalnya dia nggak mau Rossi ngaduin kelakuannya itu ke nenek mereka. Kan mereka itu hubungannya on off, entar ribut entar damai. Jadinya nggak selamanya damai-damai aja. Kalo lagi berantem, Rossi bisa-bisa aja kan ngaduin ke nenek mereka kalo Rendy itu ngebokep? Kenapa nggak bisa? Kalo udah diaduin laptop sama majalahnya disita semua deh. Hancurlah satu sumber kesenangan Rendy di rumah. Darah di sweater itu emang dari idungnya, dan itu bisa muncul gara-gara dia ngebokep. Tisu-tisu juga berdarah-darah gara-gara Rendy ngebokep. Jadi dia mimisan parah dan semua darahnya itu ditampung di tisu-tisu.
Setelah puas ngebokep ria, akhirnya cowok itu tertidur juga. Dia baru tidur jam 4 pagi, di saat hujan turun dengan derasnya.

***

“Ded, ini bener kan jalannya ke rumah Rendy?” Tanya Mirza.
Dedi mengangguk mantap. “Iya, saya yakin sekali. Saya masih ingat dengan jelas jalan menuju ke rumah Rendy,” katanya. “Itu rumahnya, kita telah sampai.” Ujarnya sambil menunjuk sebuah rumah minimalis modern yang unik. Rumahnya Rendy itu ada di dalam komplek yang semi-elit. Nggak elit-elit amat, cuma nggak kampong juga. Jadi di tengah-tengah. Oh ya, FYI, Dedi itu tau jalan ke rumahnya Rendy karena pas dia diajarin sama Rendy dalam program-perubahan-dirinya-biar-jadi-anak-remaja-modern-jaman-sekarang-tahap-pertama, dia itu ke rumahnya Rendy.
Adri mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Dedi. “Bener nggak ini rumahnya? Salah lagi entar. Dedi meragukan nih, belom bisa gue percaya.”
Riri menghela nafas. “Ya Tuhan, kenapa sih harus Dedi satu-satunya orang yang tau rumahnya Rendy diantara kita semua? Kenapa nggak gue, Dimi, Velope, atau Brian kek gitu? Ah.” Keluhnya.
Supirnya Riri mengarahkan mobil ke depan rumahnya Rendy lalu berhenti. Matahari siang yang terik menembus kaca jendela mobil, menyilaukan mata mereka semua. Mirza yang duduk di depan turun bersama-sama dengan Dimi, Riri, Firrina, Dennise, dan Dedi di deretan tengah. Sementara Brian, Velope, Abe, Adri, Viona, dan Vero di deretan belakang turun belakangan karena proses keluarnya agak sulit. Setelah semuanya turun dari mobil, Dimi memencet bel rumah. Tak lama kemudian, seorang mbak-mbak keluar dari dalam rumah dan membukakan pagar. Dia tampak bingung ngeliat ada dua belas orang datang sekaligus kesitu.
“Maaf mbak, kita temen-temennya Rendy. Ini rumahnya Rendy Iqbal bukan?” Tanya Viona sambil tersenyum manis.
Mbak-mbak yang adalah pembokatnya Rendy itu balas tersenyum. “Oh iya iya, ini bener rumahnya Rendy Iqbal. Kebetulan, den Rendy lagi di rumah,” Katanya dengan antusias. “Mari dek silahkan masuk.” Ujarnya sambil mempersilahkan kedua belas teman-teman Rendy itu memasuki rumah. Tapi sebelum pada masuk, Brian mencegah.
“Eh tunggu dulu tunggu dulu, jangan pada masuk dulu dong.” sergah Brian ketika melihat yang lainnya mulai memasuki rumah.
Abe menoleh ke arah Brian. “Kenapa Ian? Kenapa kita nggak boleh masuk dulu?” tanyanya dengan nada dan wajah bingung.
“Ini rumahnya Rendy Iqbal yang tinggi-kurus itu kan mbak? Yang pake kacamata? Yang suka pake sweater sama celana pendek?” Tanya Brian bertubi-tubi. Rupanya dia cuma mau mastiin bener nggak rumah yang dia dan yang lainnya datengin itu tuh rumahnya Rendy Iqbal yang mereka maksud. Kali aja kan ada Rendy Iqbal lain di komplek itu.
Si mbak mengangguk. Berarti udah bener itu rumahnya Rendy Iqbal tokoh cerita ini. Satu per satu memasuki isi rumah. Sepi banget. Bener-bener nggak ada orang sama sekali. Paling cuma si mbak sama Rendy doang yang ada—eh nggak deh, sama Rossi juga. Hampir aja Rossi kelupaan, masa sih adek kakak beda rumah?
Velope mengerutkan dahi. “Sepi banget deh, bonyoknya Rendy kemana sih?” tanyanya sambil melihat ke sekeliling rumah. Neneknya Rendy lagi pergi. Meskipun udah berusia kepala 6, tapi neneknya Rendy tuh masih aktif. Masih suka pergi gitu deh kemana-mana, jadinya rumah sering banget sepi gara-gara ditinggalin melulu.
“Justru enakan kalo nggak ada kali,” kata Dennise sambil tersenyum. “Jadikan nggak usah basa-basi, langsung aja ketemu sama si Rendy.” Katanya. Bener juga sih, jadi nggak perlu repot-repot senyam-senyum senyam-senyum dulu sama ortunya Rendy, langsung aja ketemu sama Rendynya.
Melihat sosok pembokatnya Rendy yang tadi itu di dapur, Firrina langsung bertanya mumpung jaraknya dekat. “Mbak, Rendy dimana ya? Kok nggak ada?” tanyanya.
“Den Rendy lagi di kamar, kamarnya di atas. Kamarnya den Rendy itu yang paling pojok, yang deket sama piano itu loh.” Jelas si mbak dengan aksen Jawa yang medok sambil menunjuk ke atas.
Firrina mengangguk sambil tersenyum. “Oh iya ya ya, makasih ya mbak,” Katanya. Lalu dia berjalan menghampiri yang lainnya, yang masih berkumpul di dekat ruang keluarga, membicarakan tentang film This Is It. “Eeeh Rendy di atas, lagi di kamar. Kamarnya disitu tuh, yang paling pojok, yang deket piano.”
“Tuh kan gue udah duga pasti dia di kamar deh,” Kata Viona sambil nyengir. “Ayooo kita ke atas!” serunya. Lalu mereka berdua belas menaiki tangga bersama-sama layaknya segerombolan murid-murid sekolah ke lantai atas. Di lantai atas ada komputer, TV, kursi buat nonton TV, masih banyak lagi, sama tiga buah pintu. Pintu pertama deket komputer, pintu kedua deket gambar lukisan gitu, terus pintu ketiga deket piano. Tujuan mereka semua sekarang adalah kamar Rendy alias yang dibalik pintu ketiga.
“Eh, kalo pintunya dikunci gimana?” Tanya Dimi ketika dia dan kesebelas orang lainnya udah berdiri tegak di depan pintu kamar Rendy. Mereka bener-bener sial kalo sampe kejadian, maksudnya kalo Rendy beneran ngunci pintu kamarnya. Masalahnya, Rendy itu tuh kebo. Kalo udah tidur tuh nikmaaat banget nggak bisa diganggu gugat. Jadi kalo dibangunin gitu tuh kalo nggak lama banget dia kebangunnya, dia bangun terus marah-marah, dia bener-bener nggak ngeh sama sekali.
“Kalo pintunya dikunci?” Tanya Riri sambil menaikkan kedua buah alisnya. “Ya berarti kita sial, Dim.” Katanya.
Velope melipat kedua tangannya. “Ah nggak membantu banget sih lo, kasih solusi kek gitu gimana kalo misalnya bener-bener kejadian.”
“Udahlah, mending coba buka aja dulu pintunya. Belom tentu dikunci juga kan,” kata Vero. “Lagian kalo menurut gue sih pintunya nggak bakalan dikunci. Gue emang belom terlalu kenal Rendy sih, cuma kalo dari tampang sama penampilannya kayaknya dia males deh orangnya.”
“Gue buka ya.” Kata Adri. Tangannya bergerak sangat pelan mendekati kenop pintu. Padahal nggak ada backsound yang menandakan kalo mereka lagi di dalam suasana horror. Yang mau dibuka juga pintu kamarnya Rendy ini kan bukannya kamar Zombie. Paling yang keluar juga orang-orang juga bukannya yang macem-macem.
“Lebay lo Dri, ini hidup woi bukan felm. Lagian siang-siang bolong gini nggak cocok banget Dri, cocokan malem-malem tau.” Kata Brian, sementara Adri udah megang kenop pintu. Kalo ada orang yang geraknya pelan-pelan banget emang suka bikin greget. Pengen rasanya di gerakin aja tangan atau kakinya biar jadi cepet.
Adri tersenyum penuh keajaiban—bukan senyumannya yang penuh keajaiban, maksudnya dia senyum gara-gara penuh keajaiban. Dia menoleh pada semua temen-temennya. “Nggak dikunci…” katanya pelan-pelan sambil nyengir. Tapi ke-freak-annya nggak abis sampe disitu. Abis ngucapin “nggak dikunci” itu, dia memandang ke atas dengan senyuman bahagia. “Thanks, God.” Ucapnya dengan penuh khidmat. Lebay banget ya, kayak abis ngapain aja. Padahal cuma tau kalo pintu kamar salah seorang teman yang malas nggak dikunci aja.
Abe mengerutkan dahi. Dia memperhatikan wajah Adri dan arah pandangan ke atas-nya secara bergantian berkali-kali. Dia nggak ngerti apa yang diliat Adri di atas situ, yang membuatnya segitu terpukau, padahal di atas cuma ada lampu doang. Mungkin di rumah Adri nggak ada lampu kali ya, pikirnya.
“Tunggu tunggu tunggu! Entar dulu, jangan dibuka dulu,” sergah Mirza cepat saat melihat Adri mulai membuka pintu kamar. “Kita kagetin dia rame-rame! Kita tereak “surprise” kenceng-kenceng pas masuk, biar dia kaget.” Katanya sambil nyengir jail.
Yang lainnya mengangguk setuju. Kan ini bener-bener kejutan buat Rendy soalnya. Dia sama sekali nggak tau kalo kedua belas temen-temennya mau ke rumahnya. Ini jadi mirip kayak surprise party, padahal ulang tahunnya Rendy udah lama lewat. Bayangin aja, Rendy lagi asik-asik mimpi dinner sama Megan Fox taunya bless! Ilang seketika gara-gara dikejutin sama suara dari dua belas orang sekaligus. Roh yang tadinya keliaran kemana-mana keluar dari badan taunya harus masuk lagi ke jasadnya secara tiba-tiba.
“SURPRIIIIIIIIIIIIIIISEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” seru kedua belas teman-teman Rendy dengan volume penuh serentak bersama-sama, pas saat mereka memasuki wilayah kekuasaan Rendy itu. Persis kayak paduan suara.
Krik, krik, krik… jangkrik di siang bolong ibaratnya berbunyi keras akibat suasana yang terlalu sepi. Hah? Sepi? Sepi gimana? Jelas-jelas tadi ada dua belas orang sekaligus yang berteriak “surprise” secara bersama-sama. Gimana hal itu bisa dibilang sepi? Harusnya kan disambung dengan gerutuan Rendy yang kaget akibat digituin, tapi kenyataannya, Rendy masih dinner sama Megan Fox di dunia mimpi. Rohnya sama sekali nggak balik ke jasad asalnya, jadi masih keliaran ke U.S.A, masih makan malam yang berupa Sirloin Steak di salah satu restoran ternama di sana. Masih menggesek-gesekan pisau di atas daging sambil terus menatap Megan Fox yang duduk di hadapannya dengan dandanan yang paling oke. Hebat ya, bahkan suara teriakan dua belas orang sekaliguspun nggak mampu mengembalikan roh Rendy yang bandel itu.
Ternyata rencana mengagetkan Rendy yang dirancang oleh Anggara Mirza Ilham gagal total. Si target yaitu Rendy Iqbal sama sekali nggak kaget. Abis berteriak “surprise” rame-rame sambil memasuki kamar Rendy, bukannya Rendy-nya kebangun terus akhirnya ngobrol-ngobrol bareng gitu ya ngumpul-ngumpul, eh Rendy-nya malah sama sekali nggak kebangun jadinya sepi mendadak. Dia masih belom mau berpisah dengan Megan Fox sekarang.
“Ih, Rendy kebo banget ya. Gue sih kalo jadi dia udah kebangun deh, kan berisik banget tadi.” kata Firrina. Orang normal emang harusnya kebangun, tapikan kalo orang nggak normal nggak. Ya coba aja di analisa sendiri, masa ada suara dua belas orang teriak dengan volume paling pol tapi nggak kebangun juga sih? Dua belas loh, dua belas. Bukan dua.
“Abnormal emang dia.” Kata Dimi sambil melihat ke sekeliling kamar Rendy yang seharusnya jangan diliat itu. Berantakannya gila-gilaan soalnya. Nggak ada yang bener deh posisi barangnya tuh. Nggak kotor sih, cuma berantakannya itu loh parah. Bener-bener parah banget-bangetan deh. Paling sekarang doang kotornya, itupun gara-gara dia males ngebuangin banyak gumpalan-gumpalan tisu bersimbah darah dari hidungnya yang memenuhi seantero kamar.
Dennise melompati gumpalan-gumpalan tisu. “Ini kok banyak banget tisu sih? Udah gitu semuanya ada coklatnya lagi. Kemaren dia pesta coklat kali ya,” katanya. “Sumpah parah banget nih tisu-tisunya! Males banget sih Rendy, kok tahan gitu ya dia tidur padahal banyak banget tisu gini?”
“Wow, this place is a mess.” Kata Riri. Ya gimana nggak mess? Poster miring-miring semua, udah gitu ada yang sekarat, disenggol dikit langsung jatoh. Baju ada yang digantung di tembok, buku ada yang nyangkut di jendela, sepre udah nggak bener, bantal ada yang di meja belajar, guling ada yang di lemari, aduh udah deh, capek ngejelasinnya.
Viona geleng-geleng kepala. “Iya sih Rendy itu emang cowok, tapi seumur-umur gue nggak pernah ngeliat kamar cowok yang segini berantakannya! Ini sih udah parah banget banget banget berantakannya, kayak abis kena badai tau nggak.”
Vero menyipitkan mata. Dia tampak mencium-cium suatu aroma—yang tidak sedap. “Eh, kok bau darah ya? Amis-amis gitu deh, uwek,” katanya. “Apa cuma idung gue doang ya? Masa di kamarnya Rendy ada darahnya gitu sih? Udah gitu kan berarti darahnya banyak dong makanya bisa kecium segala baunya.”
“Iya apa bau darah? Nggak ah. Lo salah cium kali Ver.” Kata Adri yang lagi asik duduk di kursi meja belajar Rendy, membaca majalah Playboy. Rupanya diem-diem Adri meneliti meja belajar Rendy, dan dia menemukan sebuah—bukan, banyak majalah untuk pria dewasa. Cuma yang dia pilih itu majalah yang simbolnya kelinci berdasi pita. Udah gitu bacanya nyantai banget lagi, kayak yang di kamarnya Rendy sekarang tuh cowok semua.
“Iya sih, sedikit,” kata Velope. “Si mbak mbak tadi hebat juga ya, tahan kerja disini. Tiap hari beresin kamarnya Rendy terus yang segini berantakannya.”
“Gajinya pol kali Vel, makanya dia tahan.” Kata Brian. Mungkin yang dibilang Brian itu bener. Kalo nggak bener, ada benernya. Hari gini siapa sih yang nggak butuh duit? Apa sih yang nggak butuh duit kecuali nafas? Banyak orang yang mempermalukan diri sendiri cuma buat duit. Main iklan-iklan abalan, dan joget-joget nggak jelas di acara-acara musik televisi. Kalo nggak dibayar juga nggak ada yang mau. Pembokatnya Rendy juga mungkin gitu. Demi duit yang banyak ya dia rela beresin kamar majikannya yang amburadul tiap hari.
Velope tersenyum. “Iya kali ya, kerjaan segini nyapeinnya kalo bayarannya nggak seberapa sih mana ada yang mau? Yega Ri?” tanyanya sambil menoleh ke arah Riri, yang juga, lagi asik baca majalah pria dewasa.
“Hah? Oh, iya.” Katanya kelabakan. Mengetahui Velope lagi menoleh ke arahnya, dia langsung buru-buru berenti baca dan nyembunyiin majalah itu sebelum Velope menghentikan kegiatan terlarangnya itu.
Abe terbengong-bengong. Sedari tadi dia terus memperhatikan tempat tidur dimana Rendy berbaring. Hanya kepala dan wajah Rendy aja yang keliatan, sisanya ketutupan sama bedcover warna merah yang tebal. Ia menggaruk-garuk kepalanya dengan dahi mengkerut. “Kok aneh ya?” tanyanya.
“Aneh? Aneh apanya Be? Aneh gara-gara Rendy nggak bangun juga meskipun ditereakin sama dua belas orang sekaligus? Apa aneh gara-gara Rendy tahan punya kamar begini?” Tanya Dimi bertubi-tubi.
Abe nggak langsung jawab. Dia tampak mikir dulu. “Bukan bukan, bukan itu,” katanya sambil geleng-geleng kepala. “Liat selimutnya Rendy deh, kok bentuknya aneh gitu ya? Perasaan Rendy nggak segede itu deh, dia kan tinggi-kurus.”
Dimi memperhatikan bentuk selimut Rendy sejenak, yang lainnya ngikut juga. “Iya juga sih, ah tapi paling jadi gitu gara-gara dia lagi meluk guling.”
Pas abis Dimi ngomong itu, sebuah guling jatuh dari atas tempat tidur ke lantai. Lolos dari dalam selimut. Guling itu keluar dari dalam selimut menuju ke lantai. Pluk.
Ada guling jatoh dari dalam selimut. Tapi bentuk selimutnya tetep sama aja kayak yang tadi-tadi, masih gede-gede juga. Kalo gitu berarti bentuknya jadi kayak gitu bukannya gara-gara Rendy meluk guling dong. Terus…? Semuanya diem. Adri dan Riri berenti membaca dan ikut bergabung dengan Dimi dan Abe. Intinya, sekarang semuanya lagi berdiri di depan tempat tidur dimana Rendy tengah berbaring pulas.
“Erh…,” kata Firrina. “Mungkin sekarang Rendy lagi meluk guling yang satunya lagi. Masa sih dia cuma punya satu guling? Kasian amat.” Katanya, mencoba meluruskan keadaan dan pikiran yang mulai mengada-ngada. Entah perkataannya bener atau nggak.
Pas abis Firrina ngomong itu, ada sesuatu yang keluar dari dalam selimut. Bukan guling, ada jarinya. Jarinya ada lima biji. Ayo tebak benda apakah itu? Yap, bener, yang keluar itu kaki. Kaki itu mulus dan putih seperti kaki Rendy, cuma kaki yang ini lebih berisi dan kecil. Lah? Kalo gitu berarti…
Semuanya terkejut melihat kaki itu. Ada yang melotot, ada yang istighfar, ada pula yang mangap. “I,itu, itu kakinya Rendy kan? Iya kan?” Tanya Viona sambil menunjuk-nunjuk kaki yang baru keluar dari selimut itu.
Adri menggeleng. “Bukan kayaknya, coba aja lo perhatiin. Kakinya Rendy kan ramping banget, tapi yang ini rada gembrot. Terus juga nggak mungkin kalo ukuran telapaknya dia tuh cuma segini.” Jelasnya dengan sangat santai. Padahal justru kalo kaki itu bukan kaki Rendy, itu artinya adalah pertanda yang amat buruk. Kalo itu bukan kaki Rendy, terus itu kaki siapa?
“Hah? Ya Allah, terus kalo ini bukan kakinya Rendy, ini kaki siapa? Omaigat serem abis.” Pekik Brian panik.
“Satu-satunya cara ya kita buka selimutnya, kita liat sendiri itu kaki siapa,” kata Dennise. “Dan semoga aja itu bukan kaki cewek.”
Mendengar kata-kata Dennise itu, semuanya baru ngeh. Iya juga ya, kaaalo itu kaki cowok, kalo itu kaki cewek? Berarti kan… ah, ini kan novel remaja. Biar para pembaca sendiri yang ngelanjutin artinya yah, pasti udah pada ngerti kan.
Riri menelan ludah. “Oke, kita liat bareng-bareng itu kaki siapa—yang lebih penting, itu kaki cewek apa cowok.” Katanya dengan nada menantang. Lalu ia beserta yang lainnya berjalan mendekati ujung selimut yang teruntai ke bawah lantai. Jantungnya bekerja lebih cepat. Dengan hati-hati, ia mulai menggenggam ujung selimut.
“Hati-hati Ri, jangan kelewatan bukanya, jangan buru-buru juga, pelan-pelan aja. Kita nggak perlu liat semuanya kok, cuma mukanya aja. Entar kalo dia atau Rendy bangun bisa gawat.” Kata Vero.
Riri mengangguk. Ia menghela nafas panjangnya. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Nggak ada problem apapun. Ujung selimut udah ada di genggaman tangannya, sekarang semuanya bergantung pada dirinya. Kesebelas orang lainnya berdiri tepat dibelakangnya, menunggu-nunggu kapan selimut itu akan dibuka dan menampilkan seseorang yang berada di samping Rendy sejak semalam. Hal ini sungguh membuat mereka semua penasaran.
“Well, here goes nothing.” Gumam Riri sambil menggerakan tangannya perlahan-lahan. Alhasil selimutpun terbuka sedikit-sedikit dan… dan… dan… memunculkan sebuah wajah. Wajah wanita.




(Bersambung)


P.S : Bab ini menceritakan dimana proses program tahap pertama udah selesai. Jadi, tujuan semua temen-temen Rendy ke rumahnya Rendy sekarang ini adalah untuk melaksanakan review program yang pertama. Intinya, proses program tahap pertama di-skip, jadi langsung nyambung ke review-nya. Sementara proses programnya bakalan diceritain di cerita lepas, jadi nggak masuk ke bab intinya.

0 opinions:

Post a Comment