November 20, 2009

Bab 15

Bab 15
On The Way Riri’s 1 (Dead End)

Setelah berbulan-bulan lamanya program perubahan untuk Dedi berjalan, pada akhirnya Dedi resmi berubah. Berubah disini bukan berarti berubah wujudnya, tapi berubah lifestyle dan pola pikirnya. Semula, Dedi selalu ‘pegangan’ sama masa lalu karena bonyoknya yang membuatnya begitu. Hidup tanpa teknologi, nggak tau info-info terbaru, maunya belajar dan belajar terus. Yang ada di kepalanya cuma belajar dan pelajaran, biar masa depan cerah. Udah bertahun-tahun lamanya pikiran itu ada di kepalanya hingga membusuk. Saking kuatnya sama style jaman dulu, Dedi jadi stuck di sana—di jaman dulu itu. Dia jadi nggak nyadar kalo sekarang itu ya jaman sekarang, bukan jaman dulu. Dia hidup di jaman sekarang, bukan jaman dulu. Jadi kalo lifestyle-nya aja jaman dulu, mana bisa konek?
Yah, karena semua orang—kebanyakan orang hidup dengan lifestyle jaman sekarang yang modern—karena emang mereka hidup sekarang, yakni di jaman sekarang, Dedi jadi nggak ada yang nemenin kecuali keluarganya. Nggak usah jauh-jauh, partner-partner bandnya aja pada nggak nyambung kan sama Dedi? Yang cewek-ceweknya juga? Dedi suka nggak ngerti temen-temennya pada ngomongin apaan. Bagi dia, bahasa gaul itu sama aja kayak bahasa planet, yang artinya dia nggak ngerti. Ujung-ujungnya, Dedi jadi sendirian. Nggak punya temen dan jadi bulan-bulanan orang-orang di sekelilingnya. Bertahun-tahun dia hidup seperti itu, hingga akhirnya ada-lah keajaiban besar untuknya sekarang. Secara acak, dia terpilih jadi calon vokalis band. Dia di audisi bersama dengan sejumlah orang, dan kebetulan banget dia keterima. Nah, kebetulan ini memaksa Dedi untuk berubah menjadi remaja jaman sekarang. Baik dari penampilan, bahasa, kebiasaan, pikiran, pengetahuan, dan kehidupannya, semua itu harus diubah dari jaman dulu ke jaman sekarang biar hidupnya Dedi tuh bisa lebih baik—and of course, biar dia bisa jadi vokalis band yang sukses besar.
Untuk itu, akhirnya Mirza si manager ngebuat program khusus yang isinya lima aspek penting yang harus diajarin ke Dedi biar dia bisa jadi remaja jaman sekarang plus jadi vokalis band terkenal. Yang ngajarin Dedi juga partner-partner band-nya sendiri. Saputra Jordan Poernama alias Abe, gitaris akustik dari band yang ada Dedinya itu bertugas buat ngajarin soal attitude ke Dedi, yang isinya gimana sikap yang bener ala jaman sekarang. Kayak misalnya ber-argumentasi yang baik dan benar tuh gimana biar nggak terlalu kaku kayak Dedi biasanya, ya gitu-gitulah pokoknya. Cuma nggak tau kenapa, apa Abe yang males-malesan apa Dedinya yang nggak ngerti, aspek inilah yang progressnya paling lambat diantara kelima aspek. Ada kali 10 kali review lebih nggak selesai-selesai. Abe masih aja dapet jadwal lagi dapet jadwal lagi. Karena hal ini, Abe kena marah Mirza sama cewek-cewek, karena memperlambat proses kemajuan band.
Sementara aspek yang paling cepet adalah aspek bahasa yang di handle sama Rendy Iqbal, si drummer. Tadinya sih semua orang pikir justru aspek ini yang paling lambat, eh ternyata sebaliknya. Hanya 3 kali review doang, Rendy udah nggak dapet jadwal, dia udah bebas tugas, tinggal nunggu yang lain aja. Setiap review, aspek bahasa emang selalu luar biasa. Dedi ngomong bahasa gaulnya tuh udah fasih banget, kayak dari lahir emang ngomongnya udah gitu. Dan karena dia udah paham sama bahasa gaul sekarang, dia jadi nggak terlalu malu lagi untuk bicara di depan temen-temennya. Semuanya pasti terkagum-kagum sama Rendy setiap review. Udah aja Rendy melayang ke langit ketujuh gara-gara dipuji-puji terus. Ia tersenyum, tertawa, nyengir bersama-sama dengan yang lainnya sekarang. Menikmati hasil ajarannya yang luar biasa cepat. Tapi, ada satu hal yang ‘lainnya’ itu nggak tau. Dibalik fasihnya pengucapan bahasa gaul Dedi, tersimpan penderitaan yang sangat dalam. Ya, Rendy tertawa di atas penderitaan Dedi.

***

Kalo yang paling lambat itu Abe sedangkan yang paling cepat itu Rendy, lain halnya dengan Prasetyo Dwiadri Akbar. Entah gimana bisa dia ngelakuinnya, kinerja program Adri naik turun. Entar bagus, entar jelek, entar bagus lagi, entar jelek lagi, begitu seterusnya. Review pertama Dedi cuma dapet sedikit informasi doang, eh review keduanya dia dapet informasi-informasi yang bejibun. Sampe dia catetin segala saking banyaknya informasi yang ia dapat. Semuanya kagum akan Adri saat review kedua, tapi begitu review ketiga, Adri mengecewakan. Mungkin dia sering bolos kali ya. Nggak ada yang bisa ngerti sama cara ngajarnya Adri, abis hasilnya aneh. Bener-bener naik turun. However, pengajarannya nggak sia-sia. Usahanya cukup patut diacungi jempol. Karenanya, sekarang Dedi udah tau ini-itu soal musik dan entertainment baik dalam maupun luar negeri.
Sementara programnya Aditya Rivano Putera alias Riri berjalan lumayan dan programnya Pratama Dimitri berjalan biasa aja. Intinya, mereka semua udah berhasil ngubah seseorang menjadi lebih modern sekaligus ngebuat kemajuan besar bagi band tanpa nama ini. Dedi udah siap ngarir, berarti tinggal satu hal yang harus dilakuin sebelum mulai ngarir—nyari basecamp biar kalo mau ngapa-ngapain gampang jadinya nggak usah repot-repot lagi. Setelah dilakukan perundingan di rumahnya Viona, semuanya sepakat kalo basecampnya di rumahnya Riri. Ya secara Riri itu kan tajir, makanya pasti rumahnya komplit dan seru. Sekalian nikmatin apa-apa aja di dalamnya. Rumahnya Riri tuh di Kebayoran Baru, jauh dari rumahnya Viona.
“So, now, how do we get there?” tanya Velope sambil melipat kedua tangannya. Sekarang mereka semua itu lagi ngumpul di teras depan rumah Viona. Abe dan Rahel duduk di dua kursi yang diimpit sama meja kecil yang ada di sana. Sementara Mirza, Velope, Riri, Vero, dan Dimi berdiri mengelilingi mereka berdua. Sisanya di dalem.
Mirza mengemut-ngemut jari-jari tangannya yang dipenuhi bumbu rasa keju Mie Remez. “Ya udah minta anterin supirnya Riri aja,” katanya. Kemudian ia menoleh ke arah Riri. “Ri, lo punya supir kan?”
Riri tersenyum merendahkan. “Menurut lo?” Riri cuma di-drop di rumah Viona aja—maksudnya nggak ditungguin. Maklum, keluarganya Riri tuh sibuk, sering pergi kemana-mana. Makanya Riri ditinggal soalnya mobilnya mau dipake sama kakaknya.
Vero menghela nafas. “Bisa nggak ke sini terus nganterin kita ke rumah lo lagi? Supir lo punya handphone kan?” tanyanya.
Riri masih tersenyum meremehkan seperti tadi. “Menurut lo?” ulangnya sekali lagi.
Dimi garuk-garuk kepala. Bukan karena bingung, tapi karena kepalanya terasa gatal. “Lah terus kita gimana kesananya? Jalan kaki? Terbang? Pake baling-baling bambu?” tanyanya bertubi-tubi. Pilihan terakhir sepertinya fun tuh.
“Menurut lo?” tanya Riri sekali lagi.
“Lo ngomong itu sekali lagi, lo ketiban truk es krim.” Kata Velope sambil menunjuk batang hidung Riri. Emang nyebelin Riri soalnya. Bukannya jawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyain sama temen-temennya malah ngomong menurut lo menurut lo terus. Itukan sama sekali nggak membantu.
Mirza mengerutkan dahi. Kemudian dengan santainya dia membuang bungkusan Mie Remez itu sembarangan. “Kenapa mesti truk es krim? Kenapa nggak container aja? Kan kerenan tuh daripada truk es krim.”
“Iya sih, tapi gue lagi kepikiran sama truk es krim. Ya udah deh,” kata Velope. “Eh terus ini gimana? Kita ke rumah dia naik apa woi?” tanyanya sambil menunjuk Riri lagi.
“Supir gue nggak bisa diandelin. Pasti dia dipake terus sama bonyok gue, mau nggak mau ya harus cari cara laen lagi.” Kata Riri. Akhirnya dia nunjukkin kemampuannya untuk berbicara selain menurut lo.
Abe menjentikkan jari tangannya dengan senyuman. “Naik kendaraan umum aja! Naik angkot, naik angkot!” serunya dengan antusias. Entah kenapa dia bahagia banget kayaknya nemuin begitu doang.
“Angkot? Becanda lo ya? Kejauhan atuh neng,” kata Rahel. Matanya terus tertuju pada layar BlackBerry Bold-nya. “Lagian nggak lucu banget masa dua angkot isinya kita semua, udah kayak apaan aja.”
“Udah naik Bus atau Metro Mini aja, kan pasti muat tuh empat belas orang.” Kata Dimi.
Riri geleng-geleng kepala. “No no no no gue nggak mau. Pasti gerah, pengep, sempit, annoying, and the worst one… bau ketek.” Katanya sambil menutup hidung di bagian akhir.
Vero tertawa. “Iya, terus lo juga harus hati-hati banget Ri, soalnya lo pasti jadi bahan copetan.”
“Hah? Emang orang bisa dicopet? Bukannya cuma barang ya yang bisa dicopet?” tanya Abe sambil mengerutkan dahi dengan nada bingung.
Velope mendesah. “Aduh Be, maksudnya ya barang-barangnya Riri, bukan Riri-nya. Lagian kalo bisa ngapain juga Riri dicopet? Mending barang-barangnya aja.”
“Terus kalo Bus sama Metro Mini nggak mau kita kesananya bagaimanaaaaa? Jalan kaki, terbang naik pesawat, terbang pake sayap, apa pake baling-baling bambu?” tanya Rahel.
“Baling-baling bambu aja, minta empat belas biji sama Doraemon.” Kata Mirza sambil tersenyum manis. Diantara option-option yang dibilang sama Rahel tadi, emang kayaknya baling-baling bambu yang paling asik. Terbang hanya dengan sebilah bambu di atas kepala yang berputar-putar seperti baling.
“Kalo dikasih, Doraemon kan suka pelit,” kata Dimi kayak seolah-olah tuh dia sama Doraemon temenan. “Terus juga diantara kita berempat belas kan nggak ada yang mirip Nobita, gimana mau dikasih?”
Vero tersenyum. “Kata siapa nggak ada? Ada tauuu.”
“Hah? Siapa?” tanya Dimi sambil mengerutkan dahi.
“Eluuuuuuuuuu!” Seru semua yang ada di situ serempak.
Dimi melipat kedua tangannya. “Kok gue dah? Gue apanya yang mirip sama Nobita?” tanyanya, keheranan. “Ah kok malah jadi ngomongin Doraemon sih, ini gimana jadinya?”
“Nggak tau,” kata Riri. “Kedalem aja, kali aja yang di dalem pada tau gimana caranya ke rumah gue sekarang.” Katanya.
Yang lainnya setuju. Lalu tujuh orang yang berada di luar tadi masuk ke dalam rumah Viona. Terlihat enam orang aja yang berada di dalam. Berarti kurang satu orang lagi. Siapa dan kemanakah dia? Rupanya orang hilang itu Rendy. Dia lagi di WC, struggling untuk berak. Udah agak lama dia berada di dalam situ. Wow, guess Rendy’s ‘poop’ is naughty. It won’t come out of his butt. Viona si tuan—nyonya rumah barengan sama Dennise dan Brian lagi gossip-ing dan ngemil sambil ngelus-ngelus kucing-kucingnya Viona. Sedangkan Firrina dan Adri lagi baca majalah sambil duduk di sofa yang ada di dekat komputer. Sesekali mereka ngobrol bareng. And… the last, but—don’t know if this least or not, Dedi lagi main komputer. Ya, bener, bener-bener main komputer. Wajahnya tampak serius, tangannya menggerakan mouse kesana kemari, sesekali dia memencet-mencet keyboard. Kalo dari gelagat-gelagatnya sih, Dedi ber-inisiatif sendiri, jadi dia nggak disuruh sama siapapun buat main komputer itu. Ini adalah kemajuan yang sangat berarti. Ini adalah hasil dari pengajaran Riri.
“Eh, eh, liat Dedi deh.” Kata Rahel sambil menyenggol-nyenggol lengan siapapun yang berada di sebelahnya. Ternyata yang disebelahnya itu Mirza. Sontak keenam orang yang barengan sama Rahel langsung ngeliatin Dedi. Tampaklah Dedi lagi serius main komputer.
Riri merasa bangga pada dirinya sendiri. “Well well well, look at him. Sitting in front of a computer, and… dia maenin serius banget,” katanya sambil geleng-geleng kepala. “Dia nggak bakalan bisa gitu kalo bukan karena? Karena? Gue.”
“Ya ya ya, thanks a lot Ri.” Kata Velope.
Adri, Brian, Dennise, Firrina, dan Viona menoleh ke arah tujuh orang yang dari luar. Mereka menunggu hasil yang didapat dari pembicaraan ketujuh orang-orang itu diluar yang berupa cara mereka semua ke rumah Riri alias basecamp untuk band mereka sekarang.
“Gimana?” tanya Dennise. Di pahanya ada seekor kucing anggora yang lagi tidur. Lucu banget. Pengen dicubit aja tuh pipinya—kalo bisa.
Riri memandang kucing di paha Dennise dan kucing-kucing lainnya dengan tatapan jijik. “Ewh, that cats is nasty.” Gumamnya. Riri emang nggak suka kucing. Bukan takut, nggak suka. Bertolak belakang dengan nyokapnya. Banget.
“Jadinya kita ke rumah Riri sekarang pake baling-baling bambunya Doraemon.” Kata Abe. Dia nggak ngelawak. Dia serius. Emang dia mikirnya pada jadi minta baling-baling bambu sama Doraemon.
Kelima-limanya (minus Dedi) mengerutkan dahi. “Hah?” pekik mereka bersamaan. Jelas pada kaget-lah, emang bisa minta baling-baling bambu sama Doraemon? Jelas-jelas Doraemon itu fiksi, gimana caranya?
Mirza memegang dahinya sendiri, lalu mengusap wajahnya. “Nggak, maksudnya Abe itu kita bertujuh belom nemuin cara ke rumah Riri.”
Tiba-tiba sosok pria jangkung-kurus yang memakai sweater dan celana pendek keluar dari kamar Viona. Nafasnya terengah-engah, tubuhnya berkeringat, wajahnya teler. Jelas. Dia tampak lelah. Sekali.
“Kenapa lo Ren? Kayak abis ngelahirin.” Kata Adri sambil nyengir jahil.
“Iya Dri, emang gue abis ngelahirin—ngelahirin tai.” Kata Rendy dengan santainya. Nggak tau apa dia kalo kata-kata itu menjijikkan banget?
Para cewek masang tampang jijik dan geli. “Ewwwh, gross!” seru mereka bertujuh bareng-bareng.
“Lo lebay banget sih, emang segitu mampetnya apa?” tanya Firrina. “Udah numpuk berapa hari? Makanya kalo makan jangan yang kering-kering terus.”
Rendy mencoba mengingat-ngingat. “Tiga hari kayaknya Fir,” katanya. “Aduh sinting banget dah, perut gue sakit banget-bangetan tapi eek-nya nggak mau keluar gitu sampe lama banget padahal gue udah pol ngedennya, eh akhirnya keluar juga. PLUNG! Sampe bunyi gitu pas nyemplung di klosetnya Viona.” Jelasnya. Sebentar ya para pembaca, be right back muntah.
“Hueeek jijik banget sih lo, ya udah sih nggak usah curhat gitu juga, enek tau nggak sih dengernya,” protes Rahel. “Oh ya, nggak sekalian bersihin WC-nya? Kan lo udah expert.”
Rendy melotot. “Diem lo anjing.” Gerutunya. Dia emang paling sensi kalo kejadian dia jadi tukang WC itu diungkit-ungkit lagi, apalagi kalo sampe dia dikatain gara-gara itu, terutama yang ngomongin Rahel. Wuh, langsung deh naik darah.
“Heeeh udah udah udah ah,” kata Brian, melerai sebelum saudara kembar itu ribut. “Ren, rumahnya Riri itu di kebayoran baru, dari sini kan jauh banget, terus kita sekarang kesananya gimana menurut lo?” tanyanya. Yang Rendy tau itu emang cuma basecamp-nya mereka itu jadinya di rumah Riri aja, dia nggak tau kalo rumahnya Riri itu di kebayoran soalnya udah ngibrit ke WC duluan.
Rendy tersenyum. “Ya elah, itu sih kecil,” katanya sambil menyentil. “Gue aja yang nganterin lo-lo pada ke sana pake mobilnya si Viona. Gue kan expert-nya driving, bukan expert-nya toilet cleaning.”
Merasa disindir, Rahel memutar-mutar bola matanya. “Bah, expert driving apaan? Ngomong doang lo, nganterin gue aja nggak pernah gimana mau dibilang expert?” katanya. Rendy emang jago nyetir, tapi dia nggak pernah mau dan sudi nganterin Rahel kemanapun, bahkan yang deket—kecuali kalo Rahel barengan sama neneknya. Paling dia pernahnya nganterin neneknya doang sama temen-temennya kalo dia lagi pergi gitu.
Kan dulu Rendy itu orangnya males ngapa-ngapain, jadinya dia cuma jarang-jarang aja nyetirnya. Tapi belakangan ini dia lagi semangat-semangatnya nyetir, tapi tetep aja nggak mau nganterin Rahel kalo lagi sendirian doang. Oh ya, FYI, Rendy pernah nyolong kunci mobil dan melarikan diri dari rumah alias minggat selama beberapa hari abis ribut besar-besaran sama Rahel. Udah aja tuh neneknya panik banget. Rendy itu emang termasuk anak bebas, tapi saking bebasnya, dia malah jadi liar.
Rendy tersenyum licik. Ia melipat tangannya. “Hah? Mending gue nganterin simpanse beli pisang di Pondok Labu daripada nganterin lo ke tetangga!” serunya.
Yang lainnya nahan ketawa.
“Baguslah kalo lo bisa nyetir Ren,” kata Velope, mengalihkan pembicaraan juga perhatian Rahel dan Rendy yang mulai memanas. “Terus kunci mobilnya dimana Vi? Sama nyokap lo ya pasti?”
Viona mengangguk. Lalu ia beranjak dari duduknya. “Bentar ya, gue mau minta izin dulu sama nyokap gue. Wish me luck ya semua, mudah-mudahan gue boleh bawa kunci mobilnya.” Katanya sambil tersenyum manis.

***

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Viona keluar dari kamar nyokapnya dengan tampang sumringah. Di tangan kanannya ada sebuah kunci mobil yang berbunyi nyaring kalo digerak-gerakkin. Alhasil teman-temannyapun tersenyum senang karenanya. Kunci mobil yang dipegang Viona adalah kunci mobil Honda CRV yang berwarna merah. Okey, mungkin perjalanan ini akan melelahkan dan menyempitkan, tapi kalo bareng temen-temen kan kerasa fun jadinya. Bayangin aja, empat belas orang dalam satu Honda CRV. Paling yang kebagian enak cuma yang nyetir sama asistennya aja. Nggak kebayang deh nanti gimana road trip ini berjalan.
Abis Viona ngasih kunci mobil yang dipegangnya itu ke Rendy, mereka berempat belas langsung berjalan menuju ke garasi rumah Viona. Tampak sebuah mobil bermerk Honda yang jenis CRV bertengger gagah di sana. Warnanya merah, jarang-jarang tuh ada. Bagi orang-orang tokoh cerita ini, mobil Honda CRV itu bagaikan gerobak surga hadiah dari para malaikat, atau singkatnya disebut dengan keajaiban. Kalo tanpa mobil itu, mereka harus berkorban besar masalahnya. Makanya sah-sah aja kalo sebuah mobil yang nampaknya biasa-biasa aja itu dianggap mereka semua sebagai keajaiban besar.
Dennise menatap CRV itu dengan tatapan ragu. “Ini yakin nih muat semua? Kita berempat belas loh, bukan berempat.” Katanya dengan nada khawatir.
“Don’t worry-lah Denn, muat kok,” kata Adri sambil meletakkan sikut tangan kanannya di atas bahu kiri Dennise. “Tapi pasti bakalan sempit banget.” Sambungnya pelan sambil memandang ke arah yang tak jelas. Gelagatnya itu persis seperti orang yang lagi ngatain orang yang jelas-jelas berada di sebelahnya.
“You’re not helping.” Sambar Vero yang kebetulan melewati Dennise dan Adri. And she accidentally menguping pembicaraan singkat antara Dennise dan Adri tadi. Mungkin jawaban Adri atas keraguan Dennise itu emang sama sekali nggak membantu, cuma yang dikatakannya itu benar. Emang muat, cuma bakalan sempit banget kayak di angkot atau bus yang penuh penumpang. Yang di depan sih enak, nah yang di tengah sama belakangnya kesiksa. Mesti empet-empetan banget tuh. Kan formasinya gini jadinya : satu orang di kursi penyetir, satu orang di kursi sebelah penyetir, enam orang di deretan tengah dan enam orang di deretan belakang. Satu-satunya masalah yang ada ya yang enam orang itu. Mesti ekstra empet-empetan berarti.
Dedi membuka pintu mobil setelah di unlock sama Rendy. Tampak kursi khas mobil—sebuah kursi yang terbuat dari kulit dibagi tiga terus dijadiin satu di bagian tengah, keliatan juga kursi-kursi deretan belakangnya, and some space antara kursi deretan tengah-kursi depan, juga antara kursi deretan belakang-kursi deretan tengah. Dengan melihatnya secara langsung, keraguan akan muatnya mereka semua di dalam mobil itu atau tidak bertambah banyak. Ditambah lagi, adanya beberapa barang tambahan yang mempersempit mobil. Can they survive until they arrive at Riri’s house? Well, nobody knows.
Kekhawatiran besar jelas terpampang di wajah Dimi. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa mobil yang cuma segitu—jika dilihat dari jumlah penumpangnya, bakalan dinaikin sama empat belas orang sekaligus. Dan dia-lah salah satu penumpang itu. Gimana kalo dia yang di tengah, atau yang di belakang? Harus berbagi kursi yang tak seberapa dengan lima orang lainnya selama bermenit-menit—bahkan berjam-jam jika sial? This is a day-mare. Not nightmare because waktu itu siang-siang bolong.
“Wuow,” kata Firrina. “Enam orang di tengah sama enam orang di belakang? Ya ampun, pasti sempit banget.” Keluhnya sambil geleng-geleng kepala. Ngeliatnya aja udah nggak selera, apalagi naikinnya? Makinan nggak selera dah.
Riri melipat kedua tangannya. “We have no choice,” katanya. “Sebenernya gue juga ogah sempit-sempitan, cuma ya mau gimana lagi? Cuma ini satu-satunya cara yang paling mendingan.” Bener juga sih, abis kalo nggak gini mau gimana lagi? Naik kendaraan umum? That’s a bad, bad idea.
Brian mendesah. “Terus sekarang siapa yang di pojok belakang situ sama yang di sebelah-sebelahnya?” tanyanya sambil menunjuk pojok belakang. Maksudnya yang di sebelah-sebelahnya ya siapa-siapa aja yang duduk di deretan belakang.
Diem. Nggak ada yang nyautin sama sekali. Nggak ada satu orangpun yang sudi untuk di blokir—nggak bisa kemana-mana lagi sama sekali. Kalo udah naik ke pojok belakang kan ya udah, nggak bisa nyari tempat yang mungkin sedikit lebih baik lagi daripada di pojok belakang.
“Nah!” tiba-tiba terdengar seruan seorang cowok. Suaranya nyaring-nyaring garing gitu deh. Coba para pembaca tebak, siapakah yang berseru “Ah!” itu? Tik tak tik tak tik tak ting! Waktu menebak abis.
“Oh Abe, ya udah Abe aja yang di pojok belakang,” Kata Viona. “Eh, mana orangnya? Kok cuma suaranya aja yang kedengeran? Hah? Pintu bagasinya kok kebuka sih?” pekiknya karena ia tak menemukan sosok Abe dimana-mana sejauh matanya memandang. Dan pintu bagasi CRV-nya tiba-tiba terbuka sendiri.
Rupanya Abe berada di bagian belakang mobil di sebelah kanan, sementara yang lainnya berada di samping kiri mobil. Abe-lah yang membuka pintu bagasi mobil. “Gue disini, di belakang mobil.” Sahutnya. Kemudian langsung pada nyamperin Abe. Abe lagi meneliti bagasi mobil, yang ternyata cukup untuk memuat dua orang.
“Eh, gede juga bagasinya, muat tuh dua orang kayaknya.” Kata Mirza sambil tersenyum.
“Iya sih emang muat kayaknya,” kata Vero. “Terus ternyata kalo emang muat beneran gitu, siapa dua orang yang mau disitu?” tanyanya. Sekali lagi, semuanya diem. Nggak ada yang mencalonkan diri sama sekali. Di pojok belakang aja pada nggak mau yang rada longgaran, apalagi di bagasi? Kesannya udah kayak mayat aja.
“Cepetan naek woi! Kalo lama gue tinggal!” seru Rendy. Tangan kirinya memegang pintu di sebelah kursi driver yang terbuka lebar, sementara tangan kanannya memegang bagian atas mobil. Kemudian dia meletakkan pantat teposnya di atas kursi driver, memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. “BLAM!” lalu ia menutup—bukan, membanting pintu mobil CRV itu dengan amat keras, sampai CRV-nya terguncang sedikit.
Alhasil semuanya pada panik. Karena jelas-jelas mereka semua pada belom naik ke mobil satupun. Kalo ditinggal gimana? Dih males banget mesti naik kendaraan umum sendiri padahal yang lainnya enak-enakan (nggak juga sih) di mobilnya Viona. Ditambah lagi, dari rumah Viona ke rumah Riri itu jauh. Mending empet-empetan sama temen-temen daripada berduaan doang sama supir taksi atau empet-empetan sama orang bau ketek di bus.
“Eh cepetan naik!” pekik Velope panik.
“Entar dulu Vel,” kata Mirza. “Sebelum ada yang naik, tentuin dulu siapa yang di bagasi dua orang.” Katanya. Oh ya, bener juga. Kalo pada naik dulu baru nentuin yang di bagasi bakalan ribet soalnya, entar yang kena nggak bakalan mau ke bagasi soalnya udah naik duluan.
Viona mengerutkan dahi. “Caranya?”
“Gambreng aja biar cepet.” Ujar… Dedi. Wah, inilah perkataan pertama Dedi setelah resmi berubah jadi remaja modern jaman sekarang. Hmm, kata-kata yang nggak spesial. Biasa-biasa aja.
Dennise tersenyum sambil menjentikkan jari. “Yang tangannya beda warna itu dia yang di bagasi, biar cepet. Kalo dikeluarin satu-satu lama soalnya, nggak bakalan keburu.”
“Oke oke.” kata Dimi.
“HOMPIMPAH ALAIUM GAMBRENG!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

***

Dimi menatap teman-temannya dengan tatapan benci. Sebenernya sih dia nggak benci sama sekali sama temen-temennya, cuma kesannya kayak benci dan dendam aja gitu kalo diliat dari ekspresi wajahnya. Dimi emang langganan kalo soal salah ekspresi. Yang membuat dirinya terduduk di bagasi mobil yang sempit sekarang adalah nasib sial yang nempel di punggungnya ketika melakukan gambreng tadi. Penderitaannya nggak cukup sampe disitu, karena dia harus berbagi ruang yang udah amat sempit dengan seorang lagi, dan orang itu nggak asik. Ya, dia harus berbagi bagasi dengan Dedi. Eh nggak, masih ada lagi penderitaannya. Ia duduk di dekat speaker mobil. Rasanya mustahil kalo Rendy muter musiknya kecil-kecil, udah tau dia orangnya begitu. Sial, bukan?
Kalo ditanya, “Masih ada lagi nggak sih penderitaan Dimi?” jawabannya, “Adalah, tentu aja masih ada lagi.” Karena emang masih ada sejumlah penderitaan-penderitaan baginya. Tau kan? Duduk di bagasi mobil selama mungkin satu jam-an atau lebih itu tidak mudah? Bagasi mobil itu adalah tempat yang bisa dibilang buangan. Di film atau sinetron aja, para pemain kalo ngumpetin mayat di bagasi. Bagasi itu kan dibelakangnya belakang. Tempat menyimpan barang-barang tambahan atau mungkin selundupan. Sempit? Pasti. Jelas. Hari itu jelas bukan harinya Dimi. Dia sial banget. Sial sial sial dan sial.
Udah kedapetan di bagasi selama perjalanan ke rumah Riri, terus mesti sharing-an lagi sama Dedi, udah gitu deket speaker, ada barang-barang tambahan pula, dan dia mesti nahan sakit hati kalo denger temen-temennya pada seru-seruan, ngobrol, foto-foto, becanda-becandaan, dan yang paling parah, MAKAN. Dia kalo ngomong juga nggak bakal didengerin pasti. Dan perjalanan ini akan makan waktu alias lama durasinya karena jarak rumah Viona dan Riri jauh. Situasi ini cukup menyiksanya dan membuatnya badmood. Yang ada di pikirannya sepanjang perjalanan cuma, “Cepet sampe dong, cepet sampe dong, cepet sampe dong…”
Semuanya kecuali Dimi, Dedi, Rahel, dan Rendy, kini sedang “menonton” Dedi dan Dimi seperti layaknya mereka berdua itu pemain sirkus. Tapi jelas dua pemain sirkus dan dua remaja di bagasi mobil nggak bisa disamain. Dimi menatap kesal ‘semua yang sedang menonton-nya’ itu, sementara Dedi menatap nanar. Pintu bagasi terbuka lebar, seperti sengaja membuka diri untuk menunjukkan kedua orang itu berbagi bagasi mobil. Sementara sepuluh orang mengerubunginya. Persis kayak pameran. Yang ini judulnya pameran dua orang pria bagasi.
Adri memegang ujung pintu bagasi yang terbuka lebar itu di bagian atasnya, memaksanya untuk memperlihatkan kedua ketiaknya… yang ditutupi baju. Ia menatap sinis Dedi dan Dimi. Tatapan sinisnya itu nggak berarti apapun, dia cuma melakukan itu biar kesannya dia itu kayak seorang boss mafia yang sedang menatap mangsanya. Sementara kesembilan orang lainnya mengelilingi Adri, makin mendukung keinginannya agar terlihat bagai seorang boss mafia.
“Sabar ya kalian berdua, terutama Dimi,” kata Riri sambil geleng-geleng kepala. Lalu ia mendesah. “Gue bantuin pake doa ya, oh, atau nggak ini nih, ada tip dari gue buat kalian berdua biar kalian happy selama trip.” Katanya sambil merogoh-rogoh saku celananya. Tak lama kemudian, dua lembar uang Euro dikeluarkannya dan diberikannya satu-satu ke Dimi dan Dedi. Usahanya manjur, Dimi dan Dedi langsung nyengir.
“Thanks!” seru Dimi dengan bahagianya.
“Makasih ya Riri.” kata Dedi sambil unjuk gigi.
Riri tersenyum. “Haha your welcome.” Katanya. Emang deh, uang mengalahkan segala-galanya. Hari gini dapet Euro? Beuh… ya pasti seneng bangetlah! Euro kan mahal! Beruntung banget kalo bisa dapet, udah gitu gratis lagi enak tinggal dikasih doang dari tangan ke tangan. Beneran deh, Tuhan itu adil. Dibalik kesialan seseorang, diselipin juga keberuntungan.
“Well, Asta La Vista.” Kata Adri, masih dengan gaya boss mafia-nya. “BRAK!” kemudian ia menutup pintu bagasi mobil itu sambil dibanting. Entah dari hati atau tidak. Kalo dari hati itu karena dia jealous abis Dedi sama Dimi dapet Euro tadi. Dia kan juga mau. Iyalah, siapa sih yang nggak mau kalo dikasih Euro meskipun cuma selembar? Yang asli tapi. Kalo nggak dari hati, ada dua kemungkinan. Yang pertama buat nunjukkin kekuatan tenaganya ke cewek-cewek, yang kedua karena kalo nggak digituin pintunya nggak ketutup.
“Tiga… dua…” kata Rendy keras-keras. Tangannya keluar jendela, mengacungkan jari-jarinya sesuai dengan angka yang dia ucapkan.
Karena itu, paniknya pada makinan. Udah deh nggak pake diskusi apa-apa lagi, kursi deretan tengah langsung dikebawahin sehingga lima orang bisa segera duduk di deretan belakang. Kesepuluh orang-orang itu menaiki mobil dengan rusuhnya karena berebutan gitu biar nggak ditinggalin. Lima orang yang duduk di deretan belakang dari pojok kanan ke pojok kiri adalah Riri, Brian, Firrina, Vero, dan Adri. Sementara yang duduk di deretan tengah dari pojok kiri ke pojok kanan adalah Mirza, Dennise, Viona, Velope, dan Abe. Sungguh susunan duduk yang rapi, tapi itu nggak disengaja. Jadi yaaa kebetulan banget bisa kayak gitu.
AC menyala dengan suhu paling rendah, tetapi kerasanya biasa aja soalnya pengep kebanyakan orang. Audio system memutar Prambors. Lagunya lagi Lovedrunk-nya Boys Like Girls. Ini adalah salah satu lagu favorit Rendy, makanya dia gedein banget dan nggak diganti—nggak ada seorangpun yang boleh ganti kalo udah gitu. Dia juga mulai nyanyi-nyanyi sendiri. Saking kencengnya volume radio, orang ngomong jadi kecil banget, hampir-hampir nggak kedengeran. Dimi siap-siapin duit buat ke THT deh. Mending Euro yang dikasih Riri tadi dipake buat ke THT aja, buat ngobatin gendang telinga yang mungkin pecah akibat suara lagu yang begitu keras yang terpasang di speaker mobil CRV.
“Pasang seat belt kalo mau selamat, soalnya nih perjalanan nggak bakal aman. Asal lo-lo semua tau aja ya,” Kata Rendy si driver dengan santainya. Tanpa peduli kalo kata-kata itu berarti buruk. Apalagi pas bagian yang ‘soalnya nih perjalanan nggak bakal aman’. “I give you some time to do that.” Katanya. Ternyata dia masih baik, masih ada rasa kemanusiaannya.
“EEEEEEEE! (baca ala bunyi bel kuis) waktu abis.” Sambungnya kemudian. Mana ada yang sempet masang seat belt kalo waktunya aja cuma segitu? Dipikir robot apa bisa bergerak dengan sangat cepat? Tapi sepertinya nggak ada yang peduli dengan ucapannya barusan. Ketika ia mengintip ke belakang, yang ia liat cuma sejumput remaja-remaja yang empet-empetan, nggak lebih. Nggak ada satu orangpun yang ngurusin seat belt. Boro-boro ngurusin seat belt, ngurusin diri sendiri aja susah. Nggak usah dibelakang-belakang, yang disampingnya aja cuek bebek banget kok. Mau dibilang nggak aman kek apa kek bodo amat. Toh Rendy sendiri aja nggak pake.
Dengan keadaan seperti itu, mereka semua siap memulai perjalanan ke rumah Riri. Pintu pagar rumah Viona udah dibuka lebar sama pembokatnya, jadi si CRV merah bisa langsung melesat jika si penyetirnya mau. But, only driver-driver yang mau bunuh diri yang bakalan mau ngelakuin itu—mau melesat, maksudnya. Soalnya kalo langsung melesat keluar dari garasi rumah Viona, dalam hitungan milidetik bakalan terjadi tabrakan dan mungkin semua penumpangnya mati sia-sia. Di depan rumahnya Viona itu bukan jalan raya atau jalan yang ukurannya luas soalnya. Di depan rumah Viona itu cuma ada jalan berukuran tak seberapa yang jadi jarak antara rumah Viona dan rumah di depannya. Mau melesat juga? Silahkan aja sih. Cuma yang pasti Rendy Iqbal nggak mau. Segila-gilanya anak itu, dia masih mau hidup.

***

Rendy menggerak-gerakan kepalanya ke kiri dan kanan sampe tulangnya berbunyi kretek kretek saking kerasnya dia melakukan itu. Kedua tangannya udah berada di atas setir mobil. Mobil bergetar-getar karena gas udah dinyalain. Lantunan lagu Lovedrunk membahana ke seluruh isi mobil. Musiknya yang keras dengan volume amat keras memekakkan telinga setiap penumpang mobil itu. Terutama yang duduk di dekat speaker.
Dipikir Rendy udah mau ngejalanin mobilnya, ternyata nggak. Ada satu hal terakhir yang ingin ia lakukan dulu sebelum mulai menyetir. Mundurin kursi sampe maksimal. Hmm, hal ini jelas menyiksa Abe dan sedikit menyiksa Velope. Abe udah mepet gitu ke jendela, eh ruangnya dipersempit lagi. Jadi dia ruangnya sempit ke segala arah. Tadinya kan arah depan rada longgaran tuh soalnya kan kursinya Rendy di posisi normal, cuma kalo kursinya Rendy dikebelakangin sampe kebelakang banget, itu lain lagi nasibnya Abe. Nasibnya yang tadinya ‘normal-normal aja cuma sedikit tersiksa’ berubah jadi ‘normal-normal aja cuma tersiksa’. Untung Abe itu orangnya baik, jadinya dia nggak protes. Coba aja kalo Rendy yang di posisinya Abe, beuh. Yang nyetir langsung di teriakin kupingnya kenceng-kenceng.
“Sreeeeeeet.” Kursi agak berbunyi ketika Rendy memundurkannya ke belakang. Abe semakin kehilangan ruang dan kehilangan kesempatan untuk bergerak dengan lebih lapang.
Velope geleng-geleng kepala. “Sabar ya Be.” Katanya. Eh bukan, bukan katanya, isyaratnya bagi Abe. Soalnya suaranya Velope bener-bener nggak kedengeran. Bahkan sama Abe yang jelas-jelas di sebelahnya sekalipun. Jadi Abe menganggap ‘kata-kata’ Velope tadi itu sebagai isyarat untuknya. Dia sih cuma mangut-mangut aja belaga ngerti, padahal sebenernya dia nggak tau Velope ‘ngomong’ apa sama dia barusan.
Rendy mendesah. “Let’s do this.” Katanya. Akhirnya, mobilpun mulai bergerak. Ban-bannya yang sedari tadi nganggur cuma jadi pajangan doang akhirnya dikasih kegiatan juga. Ya, kini perjalanan mereka ke rumah Riri resmi dimulai. Dengan kecepatan yang rendah, CRV merah itu keluar dari garasi rumah Viona dan menuju ke jalanan komplek. Ketika udah di jalanan komplek, Rendy mulai edan. Kebetulan jalanan komplek lagi sepi, dikit kendaraan yang lewat. Kesempatan bagus buat penyetir gila untuk menyalurkan kegilaannya. Saat itu, para penumpang masih bisa curcol lewat Twitter dan melakukan sejumlah kegiatan—yah, meskipun empet-empetan.
Kecepatan mobil menaik, perlahan para penumpang mulai panik. Emang sih jalanan sepi, kendaraan cuma dikit, cuma yang jadi kendala bukan itu semua. Bukan kendaraan-kendaraan yang jadi masalah. Tapi fasilitas-fasilitas dan orang-orang yang ada di jalanan komplek rumah Viona yang sekarang lagi mereka lewatin. Semakin lama, kecepatan mobil semakin meningkat dan terus meningkat padahal kondisi jalanan tidak mendukung. Hampir aja Rendy nabrak tiang, pohon, tong sampah, orang nyebrang, bahkan warung-warung kecil. Parah banget kan? Hampir sih, bukan nabrak. Cuma ya tetep aja bahaya banget.
Tak lama setelah lagu Lovedrunk selesai dan audio dikecilin volumenya, ada kucing kampung lucu warna item putih abu-abu belang bentong lagi mau nyebrang di tengah-tengah jalannya mobil. Kebetulan Rahel ngeliat. “Eh, Ren…” tegurnya. Tetapi mobil tetap melaju dan… ada sesuatu yang aneh. Rasanya kayak ngelewatin jeglukan kecil gitu loh, cuma bagian kanannya aja. Gluk.
Viona sebagai pecinta kucing langsung mendapat bad feeling. “Jangan-jangan… duh,” gumamnya. “Gue nggak berani liat ke belakang ah.”
“Lo mau liat ke belakang? Gue bantuin dah,” Kata Adri yang duduk di belakang. Lalu cowok bermata beler itu melirik kebelakang. “Ada kucing kelindes. Keren.”
Alhasil yang lainnya terutama yang cewek-cewek—karena mereka lebih peka, merasa jijik bercampur ngilu. Bayangin aja ada kucing gitu kelindes di tengah jalan. One thing for sure, organ-organ tubuh dalamnya keluar dari dalam tubuhnya. Terburai burai di jalanan. Uh, sungguh mengenaskan.
“Keren gigi lu keren,” sergah Dimi yang nyempil di bagasi. “Begituan doang apanya yang keren? Kucing kelindes sampe bool-boolnya keluar-luar sih udah biasa.” Katanya dengan santai.
Adri menoleh ke bawah, ke arah Dimi. “Oh lo Dim yang ngomong, gue kira siapa ada suara di bawah,” katanya. “Maksud gue yang keren bukan itunya, tapi organ-organ dalem kucing tadi yang udah keluar kejalanan kelindes lagi. Keren kan?”
Mendadak mobil menjadi senyap. Hanya ada suara kecil dari audio system dan suara mobil jalan yang kedengaran. Siapapun nggak ada yang berbicara satu hurufpun. Bahkan termasuk Dimi, dan Rendy. Karena mereka semua terlalu sibuk memasang tampak enek dan memikirkan kata-kata Adri tadi. Usus, bool, mata kucing yang udah berceceran ke jalanan… kelindes lagi? Hmm, hal itu emang langka. Tapi nggak sepatutnya dibilang keren juga sih, soalnya itu tuh menjijikkan banget.
“Uwek.” Kata Abe. Bukan kata sih, soalnya Abe mau muntah beneran. Dia baru bersuara begitu beberapa saat setelah mobil sunyi. Emang ya, Abe itu telat terus.
“Tuh Ren dengerin, lo udah ngelindes kucing. Kalo kucing dilindes itu yang ngelindes mesti nguburin tau.” Kata Rahel sambil menoleh ke arah Rendy.
Rendy balas menoleh. “Do I look like I care?” tanyanya dengan tampang tak peduli. Udah jelas jawaban pertanyaannya itu apa.
Sekali lagi, Rahel menggerutu kesal.
“Eh, bosen nih gue Prambors terus. Ganti apa kek gitu yang laen.” Kata Mirza, mengalihkan pembicaraan.
Viona menjentikkan jari tangannya. “Dengerin lagu i-Pod gue aja, nih gue bawa.” Katanya sambil merogoh-rogoh shoulderbagnya yang bermerk Jimmy Choo. Sebuah i-Pod nano warna oranye dikeluarkannya dari dalam tas itu.
Dedi garuk-garuk kepala, padahal cuma Tuhan dan Dimi yang bisa liat. “Gue bingung deh, emang bisa?” tanyanya kebingungan.
“Bisalah Ded, pake kaset khusus gitu deh ada kabelnya terus dicolokin ke i-Podnya,” jelas Velope. “Kalo udah gitu ya udah tinggal puter aja lagu-lagu yang ada di i-Pod.”
Velope mengucapkan itu ketika Viona dengan nekatnya “kedepan” untuk meraih ujung kabel kaset khusus yang udah dimasukkin ke dalem tape player, padahal kecepatan mobil tinggi. Ujung kabel yang ada colokannya itu berada di paha Rendy yang lagi nyetir. Rasanya nggak senonoh kalo Viona langsung ngambil bagian itu. Makanya Viona narik kabel yang dia liat baru entar kan ujungnya ketarik sendiri dari pahanya Rendy. Setelah ujung kabel kaset yang bercolokan itu berhasil ia dapatkan, ia kembali duduk, lalu mencoloknya pada salah satu lubangan di i-Podnya.
“Rahel, tolong pencetin Tape.” Pinta Viona dengan nada merengek seperti anak umur lima tahun yang minta gulali bentuk rambut Dora ke mamanya.
Maka Rahel memencet tombol Tape. Jelas sepi, karena Viona belom memutar lagu apapun dalam i-Podnya, dia masih mencari-cari. Akhirnya dia memutuskan untuk memutar lagu Fireflies-nya Owl City. Eh, dia nggak sembarangan loh milih lagu itu. Dia milih lagu itu soalnya biar suasana jadi lebih tenang, baik suasana penumpang yang mulai panik karena si penyetir nyetirnya membahayakan, maupun suasana hati si penyetir biar dia nyetirnya nggak terlalu killer. Fireflies emang lagunya tenang, enak di dengernya. Kalo yang dipasang lagu rock atau metal atau emo atau punk atau semacamnya, bisa gawat. Sialnya, di i-Pod Viona semua lagu ber-genre yang tadi-tadi itu ada semua. Semoga aja nggak akan pernah diputer satupun sampe nyampe rumahnya Riri. Oh ya, belom dikasih tau kenapa bisa gawat kalo yang diputer lagu-lagu keras.
Kalo yang diputer lagu-lagu keras, keburukan-keburukan yang akan terjadi adalah : Satu, Pratama Dimitri alias Dimi si keyboardist dan synthesizer bisa tuna rungu total karena (mungkin) gendang kedua telinganya pecah akibat harus mendengarkan suara yang terlalu keras. Dirinya duduk di dekat speaker mobil di bagasi, sementara si penyetir paling doyan gede-gedein volume audio system sampe gede banget. Dua, para penumpang dan si penyetir bisa lose contact. Soalnya kalo ngomong nggak bakalan kedengeran saking gedenya suara lagu. Paling kalo mau contact-contact-an lewat isyarat atau hp. Dan yang ketiga, perjalanan akan semakin nggak aman. Lagu-lagu keras bakalan memacu si penyetir untuk menaikkan standar kegilaan menyetirnya. Beneran deh, bad idea banget kalo muter lagu-lagu keras di saat itu tuh.
Back to the story. Viona mengencangkan volume lagu sehingga lagu Firefliesnya bisa kedengeran. Kemudian ia meletakkan i-Podnya di tengah-tengah Rahel dan Rendy. Ya taulah di antara si penyetir sama di sampingnya pasti ada tempat gitu yang bisa digunain buat naro barang. Alhasil, lagu Fireflies membahana ke seantero mobil. Lagu ini berhasil membawa suasana yang tenang dan damai ke dalam mobil itu. Beberapa penumpang seperti Brian, Adri, Velope, Viona, Vero, dan Riri tampak menyanyikan lagu ini bersama-sama. Tapi tiba-tiba, seseorang ada yang nggak suka sama lagu ini.
Rendy menggerutu. “Ah lagu apaan sih nih nggak seru banget.” Gumamnya pelan. Dahinya mengkerut.
Dengan entengnya, diambilah i-Pod Viona yang tergeletak tak jauh darinya. Kemudian ia mengotak-ngatik i-Pod yang bukan miliknya itu sembarangan dengan kedua tangan-tangannya. Catet, kedua tangan-tangannya. Ia memutar-mutar jempol tangan kirinya di atas tombol i-Pod nanonya Viona. Bukan buat nyari lagu, buat iseng.
“RENDY! PEGANG SETIRNYA DONG!” seru semua teman-temannya kecuali Dedi, Dimi, juga yang di deretan belakang karena cuma mereka aja yang nggak bisa liat. Udah kecepatannya tinggi, setirnya dilepas gitu aja sama Rendy. Jalanan yang lagi mereka lewatin sekarang juga nggak sepi loh. Mobil itu jalannya jadi oleng, jadi kelok-kelok nggak terkendali karena nggak dikendaliin.
“Iya iya iya entar ah! Bawel.” Gerutu Rendy. Padahal jelas-jelas dia yang salah. Dengan dahi mengkerut ia meletakkan tangan kanannya di setir, sementara tangan kirinya tetap memegang i-Pod. Sekarang gantian. Matanya yang lepas dari jalanan. Setir sih emang dipegang, cuma Rendy ngeliatnya ke i-Pod.
“RENDY! LIATNYA KE JALANAN DONG, JANGAN KE I-POD!” seru Rahel keras-keras. Cuma dia yang bisa liat soalnya.
“Ck! Ah! Lo cerewet banget sih! Udah deh lo diem aja sana nggak usah bacot!” omel Rendy keras-keras juga.
Rahel menggerutu sambil melipat tangan. Sementara Rendy masih sibuk nyari lagu di i-Podnya Viona. Hanya sesekali ia melihat jalanan. Setelah agak lama hal ini berlangsung, Rendy menyunggingkan senyum lebar. Mendadak, lagu Fireflies berganti menjadi lagu screamo yang keras. Volumenyapun di kerasin sampe keras banget-bangetan. Merasa puas, Rendy kembali meletakkan i-Pod Viona di tempatnya semula. Melihat kelakuan Rendy yang gitu, temen-temennya cuma bisa geleng-geleng kepala dan menghela nafas aja. Ada yang berusaha mikirin sesuatu hal yang lain, ada yang pura-pura nggak denger, ada juga yang dengerin musik dari hp make headset, cuma nggak bisa tetep aja suara lagu screamo yang diputer Rendy kedengeran banget. Cuma satu yang kini mereka bisa lakukan sekarang. Pasrah dan berdoa.

***

“Tinuninut…” samar-samar kedengeran suara kayak bunyi hp gitu. Cuma orang-orang dengan pendengaran tajam yang mampu mendengarnya. Suara hp itu kecil-kecil gitu di tengah-tengah kerasnya suara lagu metal yang lagi diputer sekarang. Tenggelam dalam dashyatnya suara audio mobil, suara mobil yang sedang berjalan kencang, dan… suara nyanyian Rendy. Suara hp ini termasuk unik dan jarang didengar. Oh ya, suara ini juga disertai dengan getaran.
Riri merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Kayak ada yang geter-geter gitu, terutama di bagian bokong. Ini jelas membuatnya juga yang membaca cerita ini jadi tak nyaman. Karena getaran itu tak henti-hentinya menggetarkan bokongnya yang kecil, akhirnya Riri bersusah payah untuk mengambil hp-nya yang diselipkan ke dalam saku belakang celana jeansnya. Singkat cerita, Riri berhasil mengeluarkan hp-nya itu dari dalam saku belakang celananya. Hp yang dikeluarkannya bukanlah BlackBerry Magnum seperti biasanya, udah ganti lagi. Yang ini lebih famous dikit, bentuknya unik dan berwarna-warni.
Saat Riri sibuk ‘mengetik’ di hp-nya, ada sepasang bola mata yang tepat mengarah kepadanya. “Itu Sidekick ya, Ri?” tanya Brian si pemilik sepasang bola mata tadi dengan suara keras agar Riri bisa denger.
Riri yang berada di sebelah Brian bisa denger apa yang ditanyain sama Brian barusan. “Yes.” Jawabnya, masih sambil memencet-mencet tombol-tombol qwerty Sidekicknya.
“Pinjem dong Riiiii.” Pinta Brian.
Riri mendesah. Ia mengetik sebentar, kemudian memberikan Sidekicknya pada Brian. Melihat Brian lagi asik mainin Sidekick, Firrina yang berada di sebelahnya jadi ikutan penasaran. Akhirnya sederetan belakang pada ribut deh, berebutan mau minjem Sidekicknya Riri. Karena yang di deretan belakang ribut-ribut, deretan tengah jadi penasaran, ada apa sih di belakang? Kok heboh bener.
“Ada apa sih di belakang? Kok heboh bener?” tanya Mirza dengan suara yang keras pada Dennise yang duduk di sebelahnya.
“Daripada lo tanya gue kenapa nggak lo liat aja sendiri ke belakang? Tinggal balik badan ini doang, olahraga dikit kan bagus Za,” kata Dennise. “Gue juga penasaran, baru gue mau nengok ke belakang.”
Diem sejenak. “SRET!” secara serempak, Dennise dan Mirza menengok ke belakang. Tampaklah Riri yang sedang merengut sambil melipat tangan diantara empat orang yang ribut—saling memperebutkan Sidekick miliknya. Sabar aja nih Riri, soalnya yang ngerebutin Sidekicknya dia bakalan nambah lagi.
“Eh? Sidekick! Pinjem pinjem pinjem!” seru Mirza dan Dennise bersamaan lagi. Akhirnya mereka berdua beranjak dari tempat duduk masing-masing biar bisa lebih ke belakang.
Alhasil, tindakan mereka berdua ini mengundang perhatian Viona, Abe, dan Velope—terutama Abe. Abe itu orangnya gampang penasaran sama apapun. Melihat teman-temannya seperti memperebutkan sesuatu, automatically dia langsung penasaran. Ujung-ujungnya, sembilan orang memperebutkan satu buah Sidekick milik Riri.
Lantas apa kabar dengan yang di bagasi? Yang di bagasi juga ternyata nggak mau ketinggalan jaman. Dedi dan Dimi merasa ada yang tidak beres. Sekenceng-kencengnya lagu yang terputar di speaker, tetep aja dikit-dikit kedengeran suara keributan orang-orang. Pas dia liat ke atas juga keliatan kepala temen-temennya gitu deh kayak lagi berebutan. Perhatiannyapun akhirnya terpancing juga. Dengan usaha akhirnya dia berhasil berdiri dan… ikutan rebutan. Dedi juga ikutan. Akhirnya sebelas orang yang berebutan Sidekicknya Riri.
Belakang, tengah, bagasi, semuanya udah ketarik perhatiannya sama Sidekick-nya Riri. Rusuh banget deh pokoknya. Bayangin aja, satu barang kecil yang mau megang ada sebelas orang. Tinggal depan doang nih yang belom kena. Jangan sampe.
Mobil berbelok ke kiri dengan kecepatan yang tinggi, sehingga seisi mobil ‘terguncang’. “Whoaaaaaaaaaa!” seru semuanya kecuali yang di depan bersama-sama dengan suara yang lantang. Mengalahkan kerasnya suara lagu metal yang lagi diputer. Lalu mereka semua tertawa.
Rahel menoleh ke belakang. Diliatnya Abe memegang Sidekick. “Heeeh itu Sidekick? Punya Riri ya? Liat dong liat!” serunya sambil menunjuk Sidekick yang dipegang sama Abe.
Abe memberikan Sidekick itu ke Rahel.
“Iiiiih Sidekick keren!” seru Rahel sambil nyengir.
Jreng. Lagu metal abis. Kalo mau ada lagu lagi, ya mesti dicari dulu lagu yang tepat dari i-Podnya Viona baru diputer sendiri. Ketika Rendy menoleh ke kiri untuk mengambil i-Podnya Viona, ia melihat Rahel lagi nyengir sambil mainin Sidekick. Pikirannya mulai jahat. Daripada minta izin buat minjem, mending diambil aja langsung. Dan itulah yang dilakukannya. Dengan seenak deweknya, Rendy menyabet Sidekick kepunyaan Riri dari tangan adik kembarnya. Gilanya, dia ngelepasin setir dan pandangannya dari jalanan.
Rahel nggak terima kalo Sidekicknya Riri diambil gitu aja dari tangannya. “Apaan sih lo? Kan gue lagi mainin! Bilang dulu dong kalo mau minjem!” omelnya.
“Lo pikir gue dongok apa? Mana mungkin gue bilang dulu sama lo? Nggak mungkin lo kasih!” kata Rendy. Kedua tangannya masih memencet-mencet tombol Sidekick sementara kedua matanya menatap layar Sidekick. “Gue itu kakak kembar lo, gue tau lo.”
“Aaah bodo! Pokoknya gue masih mau minjem! Sini!”
“Kalo gue nggak mau gimana?”
“Nggak nggak nggak lo harus mau pokoknya. Sini ah Rendy gue mau minjem Sidekicknya!”
“Try me.”
Akhirnya kedua makhluk itu berebutan Sidekick. Rahel mencoba merebut si Sidekick dari tangan Rendy, tapi Rendy selalu menang. Selain karena ia jauh lebih tinggi ketimbang Rahel, ia punya banyak cara-cara lihai untuk mengalahkan Rahel. Setelah agak lama Rahel berusaha merebut si Sidekick dari tangan Rendy tapi nggak pernah berhasil, akhirnya Rahel menyerah. Melihat Rahel menyerah, Rendy tersenyum puas.
“Hahahahahaha!” tawa Rendy jahat. Dia tampak evil banget kalo udah gitu. “Hahahahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” mendadak tawa jahatnya berubah menjadi seruan kepanikan abis kepalanya ditengokin sama Velope melalui celah jok mobil bagian kepala. Sama persis seperti Rahel di bab 13. Bedanya, kalo Rahel yang ditengokin dagu, kalo Rendy yang ditengokin kepalanya langsung.
Reflek, Rendy melepas Sidekicknya Riri dari tangannya. Untung aja ketangkep sama Rahel, kan sayang kalo sampe jatoh terus rusak. Rupanya, Rendy berteriak seperti tadi itu karena… tak jauh jaraknya dari mobil CRV milik Viona yang sedang disetiri olehnya, terpampang ‘pantat’ mobil Alphard yang berwarna hitam. Sebentar lagi mereka akan melewati lampu merah, makanya macet sehingga di depan mereka bisa ada Alphard gitu.
Rendy sebagai si driver bener-bener nggak bertanggungjawab banget. Dengan entengnya dia ngelepasin setir dan mengalihkan pandangannya dari jalanan padahal mobil sedang melaju dalam kecepatan yang cukup tinggi. Untung aja nggak nabrak apapun. Itu salah satu keajaiban besar. Pas Rendy lagi ketawa jahat, beberapa penumpang di belakang sadar bahwa ada Alphard tak jauh di depan padahal mobil masih melaju dengan agak cepat. Sontak Velope langsung nengokin kepalanya Rendy yang lagi ngadep ke Rahel ke arah jalanan.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak semua penumpang di dalam mobil CRV merah darah milik Viona seiring dengan mendekatnya mobil mereka itu ke pantat Alphard dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Apabila Rendy melakukan satu kesalahan lagi—sekecil apapun itu, nyawa mereka semualah yang jadi taruhannya. Bisa-bisa terjadi tabrakan besar yang merenggut empat belas nyawa sekaligus.
“Ya Allah, selamatkan kami…” kata Dedi dengan khidmat setelah ia lelah berteriak.
Vero menelan ludah. “Kalo gue ada salah maafin ya semua.” Katanya dengan suara yang agak bergetar seperti mau menangis.
“Well, I guess this is it,” kata Dimi. “Goodbye world, I’m gonna miss you.” Katanya. Kemudian ia memejamkan matanya, menunggu kapan tabrakan akan terjadi. Rahel, Viona, dan Firrina juga melakukan hal yang sama. Mereka memejamkan mata. Tidak mau melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dedi berdoa, Abe dan Mirza ke tengah-tengah Rendy dan Rahel, Riri memikirkan Sidekick-nya, sementara Velope, Vero, Adri, dan Brian tetap membuka mata masing-masing. Mereka pasrah menanti apa yang akan terjadi pada mereka. Masalahnya udah tipis banget harapan mereka untuk selamat. Jarak pantat Alphard sama mobil mereka tuh udah deket banget sementara mobil mereka masih aja melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Sulit rasanya mengatakannya, tapi semuanya kini bergantung pada Rendy. Kini suasana kesenangan dan kesantaian lenyap sudah, yang ada hanya suasana kegentiran dan kepasrahan.
“Semoga… masih… SEMPET!” seru Rendy.
Apakah masih sempat? Ataukah, ia sudah terlambat?




(To Be Continued)

0 opinions:

Post a Comment