Bab 16
On The Way Riri’s 2 (Final Destination)
On The Way Riri’s 2 (Final Destination)
Di tengah-tengah kegentiran semuanya yang tepat berada di ambang kematian karena mobil yang mereka duduki sekarang melaju dengan kecepatan agak tinggi sementara tak jauh didepannya ada pantat mobil Alphard, tiba-tiba terdengar suara aneh. Suaranya seperti sesuatu yang diinjak dengan begitu kerasnya. Namun, tak lama setelah suara aneh itu terdengar, semua penumpang dipaksa gerak ke depan hingga Rahel menabrak dashboard mobil dengan keras, dada Rendy mengadu dengan setir, penumpang deretan tengah menabrak kursi depan, Abe dan Mirza hampir terjungkal ke depan, penumpang deretan belakang menabrak kursi deretan tengah, dan penumpang yang di bagasi kepalanya kejedot kursi belakang.
Ternyata Rendy sang supir belum terlambat. Dalam peluang waktu yang sangat amat sedikit, ia masih bisa menyelamatkan dirinya sendiri serta ketiga belas teman-temannya. Ia menginjak rem dengan sangat keras, sehingga mobil CRV merah darah milik Viona yang dikendarainya terpaksa berenti mendadak—atau yang lebih dikenal dengan sebutan rem mendadak. Rem mendadak adalah suatu hal yang mengerikan. Karena siapapun penumpangnya dan apapun mobil yang ditumpangi, nggak ada persiapan-persiapannya sama sekali buat pemberentian. Rem mendadak kecil-kecilan aja udah bisa bikin penumpangnya maju kedepan gitu kan tiba-tiba, apalagi yang gede? Dahsyatlah maju kedepannya. Seperti yang dialami oleh tokoh-tokoh cerita ini sekarang.
“WHOAAA!” seru Abe dan Mirza yang hampir terjungkal kedepan akibat rem mendadak yang dilakukan Rendy. Untung aja nggak kejadian soalnya mereka berpegangan erat pada jok kursi mobil kiri-kanan mereka yang bagian kepalanya.
“ADUH!” seru sisanya. Well, nggak semua sisanya juga. Soalnya ada juga yang bilang aw, adududuh, dan anjing. Yang bilang aduh tuh Adri, Dimi, Riri, Viona, dan Firrina. Kalo yang bilang aw tuh Velope, Dennise, dan Vero. Sedangkan yang bilang adududuh itu adalah Dedi, Rahel, dan Brian. Yang ngomong anjing ya satu-satunya yang belom ditulis namanya. Siapa? Siapalagi kalo bukan Rendy?
Abe dan Mirza kembali duduk ke tempat semula, yaitu di kursi deretan tengah. Mereka masih terengah-engah, jantung mereka masih bekerja lebih, karena kejadian tadi. Ya gimana nggak? Sekitar beberapa menit yang lalu, nyawa mereka hampir hilang. Coba kalo si supir terlambat dikiiiiiiiiiiiit aja, udahlah, habislah mereka semua. Akan terjadi tabrakan besar antara mobil CRV merah darah dan Alphard yang mungkin akan menghasilkan ledakan berapi dan membakar semuanya hingga habis tak tersisa. Tapi ternyata ceritanya nggak gitu. Ceritanya si supir berhasil ngerem meskipun mendadak dan nyawa semua penumpangnya berhasil diselamatkan.
“Hah… hah… hah… gue… masih hidup…” kata Mirza dengan terengah-engah.
Viona mengusap-ngusap jidatnya yang sakit akibat tertabrak oleh jok kursi depan dampak dari rem dadakan tadi. “Gila, gue kira kita semua bakalan mati tau nggak tadi.”
“Aduuuh sakit banget nih abis nabrak dashboard,” kata Rahel dengan nada memilukan sambil menahan rasa sakit yang menerpanya. Kemudian ia mengangkat jari jempol dan telunjuk tangan kanannya. Kedua ujung-ujung jari-jari itu tepat banget menjepit sebuah benda. Ya, Sidekicknya Riri. Posisi Sidekick itu sekarang posisi mati banget, bener-bener diujung tanduk deh. Disenggol dikit juga udah jatoh tuh kebawah.
Rendy menyandarkan tubuh kurusnya ke kursi. Kemudian ia melirik ke arah jari Rahel yang diangkat tadi. Matanya berbinar-binar, ia tersenyum. “Eh untung nggak kenapa-kenapa nih, mau gue lanjutin ah, udah mau selesai.” Katanya sambil mengambil Sidekick-nya Riri dari jepitan ujung jari-jari Rahel. Lalu dengan enaknya, merasa tak bersalah sama sekali, Rendy mengotak-ngatik Sidekick Riri sambil cengar-cengir.
“Give me that!” seru Velope sambil menyabet Sidekick-nya Riri dari tangannya Rendy dari belakang. “Are you out of your mind?” tanyanya dengan gusar. Seharusnya Rendy tuh sadar, dia itu udah hampir bikin satu lusin lebih nyawa melayang. Itu adalah tindakan yang parah.
“Sinting lo Ren, lo tuh sadar nggak sih? Lo tuh udah hampir bikin kita semua mati tau nggak sih! Mati Ren, mati! Lo ngerti artinya mati nggak sih hah?” gerutu Brian.
Rendy menoleh ke belakang. “Kan cuma hampir, lo tau artinya hampir nggak?” tanyanya dengan nyolot. Menyebalkan sekali Rendy itu ya. Udah dia yang salah, tapi dia juga yang nyolot. Mungkin Rendy itu bisa menang award dalam kategori ‘penyetir paling menyebalkan di Indonesia’. Kenapa cuma sekedar Indonesia? Soalnya mungkin masih banyak yang jauh lebih menyebalkan daripada Rendy.
***
Sekarang mereka sedang menghadapi sebuah lampu merah. Yah, ngerti kan? Lampu merah yang di jalan-jalan itu, yang terdiri dari tiga warna yaitu merah, kuning, dan hijau yang masing-masing memiliki arti yang berbeda-beda. Jadi maksudnya lampu merah disini itu bukan lampu merah berbentuk bulb. Namanya juga lampu merah, pasti jalanan yang “kena” lampu merah itu padat dan macet. Kesempatan emas bagi para peminta-minta dan pedagang-pedagang asongan yang nggak tau aturan terbaru untuk mendapatkan sejumlah uang.
Setelah beberapa saat mobil CRV merah darah yang jadi panutan disini berhenti di jalanan lampu merah, beberapa peminta-minta dan pedagang-pedagang asongan yang nggak tau atau nggak peduli sama aturan terbaru mengenai mereka menjalankan aksinya. Tapi anehnya, nggak ada satupun peminta-minta atau pedagang asongan yang menghampiri mobil CRV merah darah yang padahal eye catching itu. Jarang-jarang loh, Honda CRV warna merah darah. Mungkin mereka mikirnya gini, yang nyetir mobil CRV itu aja tuh cuma seorang anak ingusan yang ingusnya udah kering (remaja) biasa-biasa aja. Kecil kemungkinannya kalo dia punya banyak duit. Lagian bajunya Rendy tuh juga nggak mendukung buat tampil tajir—karena emang Rendy nggak tajir-tajir amat kayak Riri. cuma sweater, celana pendek, dan sendal hotel. Lebih mirip orang kekurangan duit malahan. Makanya, untuk apa menghampiri yang tidak terlalu banyak? Mending menghampiri yang banyak banget—atau setidaknya yang punya lebih banyak daripada yang tidak terlalu banyak itu.
Alasan kedua, karena mereka takut sama tampang Rendy beserta “anak-anaknya”. Yang bener tuh yah yang ini. Jadi si peminta-minta dan pedagang-pedagang asongan itu udah takut duluan sama mukanya Rendy, juga semua “anak-anaknya”. Kayaknya pada galak-galak gitu, pada beringas-beringas semua. Idih ogah amat mintanya sama mobil yang isinya begituan semua. Entar waktu minta duit dikasihnya sampah lagi. Mending nggak usah daripada coba.
“SREEET!!!” mendadak, jok kursi Rendy jadi kebelakang, banget. Makin menjepit Abe yang berada di pojok. Abe jadi kesulitan bahkan tak bisa bergerak. Dia tuh paling pojok diantara berlima orang, itu aja tuh udah sempit banget. Ditambah lagi, kursi Rendy yang dikebelakangin banget sehingga ruangnya menyempit, dan… ini lagi. Jok-nya dikebelakangin sehingga ruangnya semakin menyempit. Yang tadinya udah sempit jadi makinan sempitnya.
“Rendy! Parah banget sih lo, kasian adek gue!” seru Vero dari arah belakang. Kebetulan, dia bisa ngeliat Abe dengan jelas. Maka keliatanlah Abe yang lagi menderita krisis ruang tempat akibat ulah Rendy. Jelas aja Vero protes ngeliat Abe digituin.
Sejumlah orang menoleh ke arah Abe.
“Tau, parah banget sih lo Ren, kan kasian tuh Abe. Udah di pojok, kursi lo di kebelakangin, sekarang jok-nya lo ke belakangin juga.” Kata Firrina dari belakang juga.
Riri mengalihkan pandangannya sejenak dari layar Sidekick-nya yang udah dibalikin sama Rahel. Untung benda berharga itu nggak kenapa-kenapa meskipun kena insiden tadi. “Sampe nggak bisa gerak dia Ren, paling bentar lagi juga nggak bisa nafas.”
“Eh parah banget, kaco lo Ri.” Kata Adri.
Riri yang tadinya udah ngeliat ke layar Sidekicknya sekarang malah menoleh lagi ke arah Adri. “Lah emang iya kan? Liat aja tuh. Sempit banget kan? Udah gitu yang di mobil ini kan banyak, rebutan oksigen jadinya.” Katanya sambil menunjuk ke arah Abe.
“Udah udah udah ah! Nggak usah ribut! Berisik!” gerutu Rendy sambil mengembalikan posisi jok kursinya ke posisi semula.
Abe jadi merasa bersalah pada Rendy. “Ehm, maaf ya Ren, nggak apa-apa kok kalo jok kursi lo di kebelakangin.” Katanya sambil tersenyum manis.
Rendy geleng-geleng kepala. “Nggak nggak Be nggak usah, entar pada bacot lagi.” Katanya. Kemudian ia menyandarkan badan ke kursi lalu menaikkan kedua kakinya ke atas setir. Karena dia lagi make celana pendek yang gombrong karena kedua kakinya terlalu slim, celananya itu turun sehingga pahanya keliatan. Nggak cuma itu, kedua tangannya juga di kebelakangin sampe kebelakang jok kursinya di bagian kepala. Ckckck, nggak malu apa ya?
Rahel nengok ke Rendy. Dan wajahnya datar-datar saja. Melihat saudara kembarnya berpose eksotis seperti itu udah jadi tontonannya tiap hari. Udah kebal dia, udah keseringan liat Rendy gitu di rumah soalnya. Eh nggak juga sih, di kelas juga suka gitu.
“Kenapa lo liatin gue melulu? Terpesona lo sama paha gue?” tanya Rendy dengan wajah dan suara bokepnya. “Apa lo terpesona sama gue? Inget woi, kita itu sodara.”
“Idih!” seru Rahel. “Geer banget sih lo ih, siapaaa lagi yang terpesona sama lo? Dih, mending gue terpesona sama tembok deh daripada sama lo hiiiii.”
Wajah Viona memerah semu setelah melihat Rendy. “Eh, sepi banget. Muter lagu lagi ah.” Gumamnya sambil mengambil i-Pod nano oranye miliknya. Setelah beberapa saat ia mengutak-ngatik i-Podnya, lagu Starstrukk yang di remix “keluar” lewat speaker, menyebar ke seisi mobil.
Seluruh penumpang mobil menikmati lagu itu, bahkan ada beberapa orang yang menyanyikannya. Tapi sama seperti sebelumnya, ketika para penumpang lagi pada nikmatin lagu yang lagi diputer, tiba-tiba sebuah tangan kurus ber-sweater yang jahil dengan seenaknya mengambil i-Pod Viona sembarangan dan kemudian mengganti lagu yang sedang dinikmati itu jadi lagu keras yang kebetulan ada di i-Podnya Viona. Kalo udah gitu ya udahlah, yang lainnya pasrah semua menerima kenyataan. Abis pada males adu bacot lagi sama Rendy, toh kalo pada ngomong juga nggak kedengeran.
Akhirnya setelah menunggu agak lama, lampu merah berubah jadi hijau. Saatnya menunggu Alphard di depan jalan agar mobil mereka bisa jalan juga. Rendy menguap lebar. Kemudian merubah pose eksotisnya jadi pose menyetir. Tapi kali ini, mentang-mentang CRV merah darahnya Viona itu matic, jadi tumit kaki kanannya ditaroh di atas lutut kaki kiri. Mobil Alphard udah jalan hingga jaraknya lumayan jauh dengan mobil CRV, tetapi si CRV nggak jalan-jalan juga sampe di tin-tin-in sama yang di belakangnya.
“Aduh itu ngapain sih tan-tin-tan-tin? Berisik amat siang-siang bolong gini, bikin ruwet aja dah.” Kata Dimi, meskipun cuma dirinya sendiri dan Tuhan yang bisa denger.
Velope mengerutkan dahi. “Kok nggak jalan-jalan sih nih? Padahal kan di depan nggak ada mobil lagi,” katanya pada diri sendiri—sebenernya sih ke orang lain, cuma kan nggak ada yang denger, makanya di consider ngomongnya ke diri sendiri aja. “Rendy, cepetan jalan dong Ren, entar lampunya merah lagi.” Tegurnya pada Rendy.
Tapi karena lagu yang lagi diputer terlalu kenceng, Rendy nggak denger. Dia malah nyanyi-nyanyi nggak jelas. Suaranya mirip suara kambing yang mau digorok pake tulang. Ya nggak gitu juga sih, itu cuma dramatisasi aja. Intinya, suaranya Rendy tuh nggak banget deh—sumbang-sumbang cempreng bokep gimana gitu. Udah berisik nyanyi-nyanyi teriak-teriak sendiri bikin suasana mobil makin ricuh, mobil nggak dijalanin lagi padahal di depan tuh kosong nggak ada apa-apa.
“EH RAHEL ATAU SIAPA KEK GITU DISINI TOLONG DONG KECILIN VOLUME-NYA PLEASE BERISIK BANGET NIH ORANG NGOMONG NGGAK ADA YANG KEDENGERAN OI!!!!!!!!!!!!!!!!” seru Adri sekeras mungkin yang ia bisa. Untungnya, Brian denger seruannya Adri barusan. Dia juga sependapat penuh dengan Adri.
“TAU NIH! EH WOI KECILIN DONG VOLUMENYA! BERISIK BANGET SUMPAH! ENTAR SI DIMI BUDEK AJA! KAN DIA DUDUKNYA DEKET SPEAKER!” seru Brian sekeras-kerasnya.
Rendy menggerutu. Dia jadi mirip Rahel kalo lagi gitu. “Sssss… IYA IYA IYA AH! PADA BAWEL-BAWEL BANGET SIH! SEKALI NGOMONG JUGA GUE UDAH TAU NGGAK USAH DIULANG LAGI DONG! BIKIN KESEL AJA SIH! NIH GUE KECILIN NIH! PUAS?” teriaknya besar-besaran. Maka suara lagu metalpun akhirnya dikecilkan hingga volume-kalo-orang-ngomong-tuh-masih-kedengeran.
Jujur, nggak pernah ada yang nyangka kalo Rendy bakalan semarah itu. Mereka pikir, Rendy cuma bilang, “Iya iya iya ah bawel lo berdua.” Atau paling tidak menggerutu. Suasana mobil yang tadinya sempat heboh dan gaduh kini sunyi senyap. Padahal tujuannya pada ngeluh biar lagu metalnya dikecilinkan biar kalo ngomong tuh kedengeran jadinya enak, bisa komunikasi. Dasar manusia, giliran udah dikecilin malah diem aja, nggak jelas maunya apa. Rahel juga nggak nyangka kalo kakaknya bakalan jadi Rendy yang sesungguhnya secepat ini. Dia pikir masih nanti-nanti kalo bandnya udah ribet.
Vero mendesah. “Ya udahlah Ren, nggak usah segitunya juga, lo kayak dikatain aja sampe marah gitu.”
“Tau, padahal Adri sama Brian kan cuma minta lagunya dikecilin doang,” tambah Velope. “Lo nggak tau sih, saking kencengnya tuh lagu, kita semua nih kalo ngomong tuh nggak kedengeran.”
Sekarang gantian, Rendy yang mendesah. “Sorry sorry, gue kalo lagi nyetir emang gampang marah, jadi ya gitu, hal sepele aja gue ngeresponnya sampe segitunya. Jadi maklum ya, jangan pada marah dong.” Katanya dengan nada memelas.
“Iya iya nggak usah nangis.” Kata Mirza.
Mendadak, kecepatan mobil meningkat drastis. Bahkan, mobil CRV merah darah milik Viona itupun tampak mau menghantam… apapun yang bisa dihantamnya. Whoa, ini sih udah jelas bahwa sang supir marah. Lantas semua penumpang panik.
“Ya Tuhan, Rendy! Gue cuma becanda oi!” pekik Mirza. Tak lama setelah itu, kecepatan kembali menurun ke kecepatan normal yang lumayan cepat. Sekali lagi, para penumpang-penumpang gigih yang disetirin sama orang gila ini lolos dari maut.
“Angry is my middle name—when I’m driving.” Kata Rendy sambil tersenyum jahat.
***
“Eh, gue laper deh.” Kata Dedi yang masih nyelip di bagasi berdua dengan Dimi, persis seperti dua orang sejoli yang lagi nge-date, tepatnya, kehabisan tempat buat nge-date.
Buat para pasangan yang kehabisan tempat buat nge-date, bagasi mobil bisa dijadikan pilihan. Sempit-sempitan berdua-duaan, mesra kan? Itu juga merupakan salah satu wujud berbagi penderitaan nanti kalo udah kawin. Kalo nggak punya mobil sendiri, bagasi mobil orang juga boleh kok, apalagi kalo mobil orang itu lagi vacation ke luar kota. Itung-itung travelling gratis. Tapi janganlah, udah di bagasi mobil sendiri aja.
Wajah Rahel memasam. Ia memegangi perutnya. “Iya nih aduuuh gue juga laper banget dari pagi belom makan.” Katanya dengan pilu.
“Oh lo belom sarapan? Pantes nggak gitu bacot lo.” Kata kau-tahu-siapa karena si penulis yakin kalo para pembaca yang setia pasti tau ini siapa yang ngomong.
“Lo jahat banget sih, itu gue nggak makan kan juga gara-gara sarapan gue diambil lo.” Kata Rahel.
Bukannya kasian, kau-tahu-siapa malah nyengir. “Makanya, punya perut jangan buncit-buncit, kalah cepet kan lo sama gue? Hahahahaha!”
Rahel tidak membalas. Ia lemas sekali.
“Ada restoran nggak sih di deket sini? Kalo nggak ada berenti aja di Circle K atau apalah gitu yang jual makanan.” Kata Firrina. Sebenernya, para penumpang tuh mau makan plus-plus. Jadi, kalo makan itukan di asumsikan mobilnya diberhentiin terus semua penumpangnya keluar dari mobil, makan di tempat makan yang dipilih, entar kalo udah selesai makan baru masuk ke dalem mobil lagi kan? Nah itu dia plus-plusnya.
Jadi, makan plus istirahat dari setirannya Rendy. Makan plus terbebas sejenak dari setirannya Rendy yang off road itu. Biarin aja deh entar balik lagi di setirin lagi sama Rendy, yang penting ada kesempatan deh buat terbebas penuh dari setirannya orang nekat itu. Makanya, pada nafsu banget nih mau makan. Nggak sabar mau ganjel perut sekaligus keluar dari mobil Viona yang naas itu.
“Sekarang jam berapa?” tanya Abe.
“11.43 Be, udah hampir jam dua belas.” Kata Dennise yang selalu menjadi pusat jam karena dia selalu menggunakan jam kemanapun dia pergi.
“Wah, udah jam makan siang gue nih!” pekik Mirza.
Brian mengerutkan dahi. “Lah emangnya lo makan pagi, siang, sama malem ada jamnya gitu Za?” tanyanya. Hal itu memang membingungkan. Jaman sekarang mah kalo laper ya tinggal makan nggak usah ada jam-nya segala.
“Ya nggak sih Ian, cuma gue tiap hari kalo lagi libur kebetulan makan pagi, siang, sore, sama malemnya tuh sama melulu jam-nya, nah jam segini gue makan siang nih.” Jelas Mirza sambil tersenyum manis.
“HAH? PAGI SIANG SORE MALEM?” pekik semuanya kecuali Mirza, yang di depan, sama yang di bagasi. Pagi siang sore malem itu artinya Mirza makan empat kali sehari, di luar batas makan orang pada normalnya. Tapi hebatnya, Mirza sama sekali tidak tampak seperti orang obesitas. Boro-boro tampak kayak orang obesitas, mendekati aja nggak.
Mirza mengangguk. “Iya, tiap hari gue makan tuh empat kali, bukan tiga kali,” katanya, bangga. “Hebat kan? Makan empat kali sehari tiap hari bertahun-tahun tapi nggak overweight? Gue gitu.” Ujarnya dengan mantap.
“Eh semuanya, gue tau restoran paling gres disini, tapi kalian semua harus tutup mata dulu sampe gue bolehin buka baru kalian buka mata.” Kata Rendy dengan suaranya yang sumbang.
Adri menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kenapa mesti tutup mata segala dah? Masih jaman main cilukba-cilukbaan?” tanyanya dengan kedua tangan terlipat di dada.
“Udahdeh ikutin aja Dri daripada entar dia marah lagi, males gue kalo udah gitu.” Kata Viona. Kemudian ia menutup kedua matanya. Tak lama setelah itu, beberapa orang lainnya mengikuti.
Setelah semuanya dirasa udah nutup mata, Rendy kembali melaju. Di tengah-tengah perjalanan menuju tempat makan rahasia ini, ada yang iseng. Dedi. Mentang-mentang dia duduk di bagasi jadi dia pikir nggak bakalan ketauan Rendy kalo dia melek diem-diem mau ngintip kira-kira restoran paling gres ala Rendy tuh apa sih?
“GUE BILANG TUTUP YA TUTUP!” gertak Rendy keras-keras.
Dedi kaget. Sontak ia langsung kembali menutup matanya. Belum sempat ia menemukan bahkan mengira-ngira apa jawaban atas pertanyaannya itu. Setelah lumayan lama mobil di ombang-ambing di atas aspal jalan raya, mobilpun berhenti. Kemungkinan besar, mobilnya udah nyampe ke tempat makan siang yang paling di tunggu-tunggu daritadi.
“Udah, sekarang pada boleh melek.” Kata Rendy.
Semua penumpangpun membuka kedua mata. Percaya atau tidak—maksudnya, boleh dipercaya atau boleh tidak, tidak ada satu penumpangpun yang merasa bahagia. Bukannya seneng gitu ya akhirnya nyampe juga di tempat makan siang, mereka malah melongo kaget. Perkiraan mereka meleset jauh, sejauh-jauhnya. Semula, mereka pikir alangkah manisnya bila berhasil break dari setirannya Rendy walaupun hanya sejenak saja. Terlebih lagi, break itu disertai dengan makanan dan minuman, bahkan dessert, kalo emang pada mesen. Tapi apa yang terjadi? Rendy malah membawa mereka semua ke… Drive Thru McDonald. It means, there is no break for them.
Ya, artinya mereka semua bakalan makan siang di dalem CRV-nya Viona dan mereka akan tetep disetirin sama Rendy. Neraka sekali ya. Disetirin Rendy tanpa makanan sama minuman aja udah neraka, apalagi kalo ditambah sama makanan dan minuman? Ekstra neraka namanya.
“Eh gue nggak jadi laper deh,” Kata Adri tiba-tiba. “Laper gue ilang mendadak, nggak tau nih kemana. Jadi gue nggak makan deh.”
“Hah? Kok lo tiba-tiba kenyang sih Dri? Emang lo makan apaan?” tanya Abe sambil memutar badan ke arah belakang.
Adri menoleh ke arah Abe. “Gue makan angin terus minumnya ludah.” Jawabnya seadanya. Yah emang kenyataannya begitu sih. Makan angin dan minumnya ludah. Mending nasi sama air putih kemana-mana daripada angin sama ludah doang. Tapi kalo nasi sama air putihnya disantap di dalem mobil yang isinya ada empat belas orang dan penyetirnya ekstrim sih mesti pikir dua puluh kali lagi kayaknya ya.
“Haaa-haaa-haaa ngelawak lo, Dri? Boleh juga usaha lo.” Kata Velope.
“Ketawa nggak ya ketawa nggak ya ketawa nggak ya? Ketawa aja deh kasian. Away ketawa dulu ya HAHAHAHAHA!!!!!!! Back.” Kata Dennise.
“Hahaha, lucu sekali ya mereka berdua—Adri dan Dennise.” Kata Dimi dengan nada mengejek. Dia jadi persis sekali dengan seorang narrator soalnya nggak keliatan orangnya tapi suaranya ada. Udah gitu bilangnya gitu lagi, kayak pengamat yang posisinya di langit gitu.
Dedi berusaha beranjak dari tempat duduknya yang menyiksa di bagasi. Dia mau liat, restoran apa sih yang paling gres ala Rendy? Yang bikin jadi pada nggak jadi laper itu? Gerasak, gerusuk. Oh, dia paham. Drive Thru rupanya. Pantas, bahkan dia sendiripun juga kehilangan selera makannya. “Serius nih, gue jadi nggak laper deh nggak tau kenapa.”
Rendy mengubah posisi kaca yang ngegantung di langit-langit mobil yang berada di tengah-tengah dia dan Rahel sehingga ia bisa menatap Dedi dari situ. “Heh Dedi, jangan main-main lo sama gue,” gerutunya. “Lo duluan yang bilang laper kan? Gue udah anterin ke sini malah nggak mau makan lagi lo. Nggak bisa! Yang bilang laper wajib makan pokoknya gue nggak mau tau! Dipikir ke sini nggak pake tenaga apa? Seenaknya aja tiba-tiba nggak mau makan!”
“GLEK!” terdengar suara ludah ditelan oleh beberapa orang. Makan di dalam mobil yang dikendalikan oleh Rendy Iqbal? Kedengarannya seru… Dan bikin mual. Masalahnya, Rendy itu kalo nyetir tuh gila-gilaan. Ngebut banget, nyalip sana-sini padahal CRV kan gede, rem mendadak, muter-muter, belok kanan belok kiri, suka oleng, ah komplit deh. Satu paket hemat dan lengkap untuk mengocok perut (bukan dalam arti bagus) tiga belas orang sekaligus. Kalaupun bisa mengocok perut dalam arti yang bagus, nggak lama kemudian pasti berubah ke arti yang jelek. Atau nggak, nangis.
Setelah agak lama mobil CRV merah darah milik Viona diam seperti mobil mogok, mobil itu bergerak mendekati counter pemesanan. Dengan berat hati, akhirnya pada mesen makanan juga, kecuali Dimi. Dia mengaku udah sarapan dari rumah dan sampai detik itu juga dia masih kenyang dan nggak butuh makan. Tapi sepertinya, meskipun makanan-makanan yang mereka pesan mampu membuat mereka dalam masalah, rasa lapar dan dahaga yang sudah parah mengalahkan kekhawatiran mereka. Apa boleh buat? Masing-masing orang memesan cukup banyak. Bukan bayarannya yang jadi masalah, tapi kapasitas dan resikonya. Ada yang mesen ayam, kentang, sama es krim, ada yang mesen Big Mac sama soda, ada yang mesen sundae, orange juice, sama burger, walah walah, bisa-bisa digampar nih Viona pulang-pulang, bener.
Alhasil mobilpun super duper penuh sekarang. Udah tadinya penuh dengan orang, sekarang penuh dengan orang dan makanan. Nggak kebayang deh betapa buruknya situasi saat itu. Si petugasnya aja sampe prihatin sama seisi mobil naas itu, bahkan pas mobilnya udah pergi, dia berdoa supaya mobil itu tidak mengalami kecelakaan akibat kepenuhan dan si supir sibuk mengurusi makanan sehingga ia lalai. Apakah doanya terkabul? Semoga saja iya.
***
“Dri, lo makan kentangnya dicocol ke es krim?” tanya Firrina sambil mengunyah beef burger-nya.
Adri mengangguk. Kemudian dia mencocol sebuah kentang ke atas es krim coklat lalu memakannya hidup-hidup. Keliatannya sih sama sekali tidak enak, tapi bagi Adri, itu adalah salah satu makanan surga duniawi. Ia tampak menikmati sekali kedua makanan beda arah yang digabung jadi satu-nya itu. Adri memang aneh.
“Emang enak apa kentang campur es krim? Bagi dong.” Kata Vero yang lagi menyantap fried chicken yang disiram sama saos sambel yang berwarna oranye menjijikkan.
Adri mempersilahkan. Lama-lama Riri, Firrina, sama Brian jadi ikutan bagi juga. Riri, Brian, dan Vero suka, tapi Firrina tidak. Dia lebih suka kalo es krimnya vanilla, bukan coklat.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi seperti biasa, hal ini sering menyebabkan rem mendadak. Rem mendadak di saat seperti ini amat sangat mengganggu. Selain makanan yang lagi makanan bisa tumpah-tumpahan, kalo ada yang lagi minum, minumannya bisa masuk ke idung. Rendy udah selesai makan. Dia hanya memesan Big Mac dan Sprite lemon. Nggak pedulilah dia dengan yang lainnya, giliran udah selesai buang sampah, dia ngendarainnya udah lose control lagi. Padahal di deretan tengah, belakang, dan bagasi, masih banyak yang makan. Akibatnya, makanan dan minuman banyak sekali yang tumpah. Kotor total deh mobilnya Viona gara-gara itu. Untuk mengurangi bebannya Viona, akhirnya teman-temannya membantu membersihkan semampunya, tapi cukup membantu kok. Akhirnya, semuanya berhasil menghabiskan makanan masing-masing dan membuang semua sampah-sampah secara sembarangan. Hampir aja mereka ditawan polisi, tapi mereka berhasil kabur.
Eits, tidak semudah itu. Penderitaan mereka belum berakhir sampai disini, karena akan ada banyak penderitaan yang siap menerpa mereka semua. O-o, kira-kira apakah penderitaan-penderitaan itu?
Seiring dengan melajunya mobil, satu per satu penumpang mulai merasakan akibatnya makan tadi. Satu per satu mulai merasakan gejolak yang buruk pada perut masing-masing. Polisi tidur, belokan tajam, rem mendadak, ah, semua itu membuat mereka mual. Performance driving-nya Rendy mulai memburuk, karena ia merasa pusing. Sementara Rahel yang duduk di sebelahnya, mulai merasa ada yang tidak beres pada perutnya. Mirza merasa ingin berak, Dennise merasa mual, Viona merasa pusing dan mual, Velope merasa perutnya bergejolak, Abe merasa pusing dan sakit perut, Adri merasa pusing berat, Vero merasa pusing dan mual, Firrina merasa ingin pup, Brian merasa pusing dan perutnya bergejolak, Riri merasa mual, Dimi tidak merasakan apa-apa, dan Dedi merasa mual, pusing, perutnya bergejolak, dan juga sakit perut.
Rendy tampak mengendus-ngendus. Alisnya mengkerut tanda curiga sekaligus heran. “Eh, kok bau kentut sih?” tanyanya sambil menahan pusing yang mulai mendera kepalanya.
Yang lainnya ikut mengendus-ngendus. Kalo ada yang kentut, mungkin bukan cuma satu orang, melainkan sejumlah orang. Karena yang lagi mengidap masalah itu nggak cuma satu, semuanya malahan. Kalo semuanya yang kentut, pewangi apapun yang dipasang di mobil itu bakalan kalah deh. Jangan tanya seberapa dahsyatnya bau kentut itu.
“Bau kentut? Nggak ah, idung lo aja kali tuh.” Kata Rahel.
Dedi batuk. Batuknya terdengar aneh, nggak tau kenapa. Mungkin karena tampang yang batuk aneh. “Iya tau, semilir-semilir doang tapi.” Sahutnya dari bagasi seperti hantu.
“Biasanya sih yang ngomong duluan pelakunya…” kata Dennise pelan-pelan dengan tampang pura-pura nggak tau. Kata-kata ini emang kadang-kadang bener. Saking nggak mau dicurigainnya, yang kentut malahan yang ngomong duluan biar kesannya bukan dia gitu yang kentut. Cuma jaman sekarang udah nggak berlaku lagi itu. Yang ngomong duluan masih sangat amat bisa dicurigain.
“BUKAN GUE!” seru Rendy dengan sangat tidak santai.
“Ya udah sih Ren gitu doang elah nggak nyantai banget deh lo selow aja kale.” Kata Vero dari arah belakang.
“Eh iya deng bau kentut,” sambung Viona. “Hekh, bau banget malahan! Anjrit bau banget ini! Huekh.”
Firrina menutup hidung. “Ini yang kentut siapa sih kok bau banget gini? Ngaku aja deh tolong, astaga belom pernah nih gue nyium kentut sebau ini.” Katanya dengan suara yang aneh karena idungnya ditutup.
“Emmh, gue yang kentut. Hehehe maaf ya semua.” Kata Mirza dengan wajah cengengesan. Bagaimana tidak? Kentut milik Mirza itu adalah hasil pengolahan makanan yang dimakannya sama AC mobil. Udah gitu nggak pake bunyi lagi, hebat ya.
“Tunggu apaan lagi nih buka dong kacanya! Bisa pingsan nih gue kalo gini terus caranya!” pekik Brian panik sambil menutup kedua lubang hidungnya. Karena dia dibelakang, jadi kacanya nggak bisa dibuka. Harapannya cuma kaca tengah dan kaca depan aja.
“E eh, yakin mau buka sekarang?” tanya Velope, tapi Abe, si pelaku kentut a.k.a Mirza, Rahel, dan Rendy udah buka kaca duluan sampe full biar udara busuk dalem mobil bisa keluar ke alam bebas, tapi kesialan masih mau nginep di mobil mereka, soalnya mereka buka kaca di daerah pasar tradisional yang baunya minta ampun nggak kalah sama bau kentutnya Mirza. Bisa dibilang lebih bau malahan.
“Damn, gue lupa kalo mau ke rumah gue ada pasar. Ah shit banget sih nih, nggak tau deh gue jadinya kayak apa nih mobil baunya nanti.” Kata Riri. Helai-helai rambutnya tertiup keras dan suaranya tertelan oleh suara melajunya mobil.
Karena terlalu berisik, tidak ada yang mendengarnya bicara begitu. Sama seperti yang tadi tadi, orang ngomong nggak ada yang kedengeran sama sekali. Mobil melaju dengan kecepatan agak tinggi dan kebetulan anginnya lagi kenceng jadi? Aroma tidak sedap pasar masuk dengan mudahnya seperti tamu tak diharapkan masuk rumah orang tanpa minta izin dulu ke pemiliknya. Nggak cuma itu, beberapa serangga yang tidak diharapkan juga ikutan masuk ke dalem mobil. Kurang buruk apalagi coba situasi dalem mobil itu?
Setelah ada seekor lalat masuk ke dalam mobil, Abe buru-buru menutup kaca jendela mobil yang didekatnya. Tindakannya itu diikuti oleh Rendy, Mirza, dan Rahel. Oke, bau kentut emang udah kelar, cuma ada bau yang lain lagi. Bau pasar tradisional. Plus tambahan, lalet-lalet asli dari pasar. Such an unexpected guests, right folks?
“Astaganaga tadi bau kentut sekarang bau pasar ya Allah nyebut deh gue nyebuuuuuuuuuut.” Kata Rahel. Dia tampak mau muntah abis ngomong itu, cuma nggak ada muntahannya. Biasalah, kalo nyium bau yang nggak sedapnya bangetan kan emang gitu.
Adri memaksakan diri untuk tersenyum. Senyumannya masam. “Halo laler-laler, emwah emwah, apa kabar? Lama nggak ketemu ya.” Katanya pada lalat-lalat yang terbang-terbang kesana kemari seperti layaknya reunian. Emwah emwah itu maksudnya dia pura-pura cipika cipiki gitu deh sama para lalat. Freaknya lagi keluar nih saking stressnya dia di dalem mobil itu.
“Aduh ini kapan nyampenya sih? Sumpah udah nggak kuat gue nih, kangen udara segar deh.” Kata Dimi. Wajahnya pucat, suaranya juga lemes banget, ia tampak memegangi perutnya. What’s wrong with him ya? Padahal dia kan nggak makan tadi.
“Tenang Dim, bentar lagi banget juga nyampe kok.” Balas Riri. ternyata Riri mendengar keluhannya bagai malaikat di siang hari yang menyiksa itu.
“Yes! Gue bunuh satu lalet!” seru Mirza bangga. Emang dia seharusnya bangga sih, cuma ya nggak sebangga itu juga. Soalnya bunuh lalet itu emang nggak gampang, bikin kesel stengah modar malahan kadang-kadang. Kalo mau dipukul kabur jadinya tangan sendiri yang sakit. Nyebelin banget kan ya?
Abe masang tampang ngasianin orang. “Yah Mirza, jangan dibunuh dong, dia kan juga mau hidup Za, sama kayak kita.” Katanya dengan perhatian sekali.
Mirza geleng-geleng kepala. “Ya Allah Be, baik amat sih lu sama binatang begituan doang. Diakan ganggu banget Be bisa bikin sakit.” Katanya. Kemudian ia mencoba membunuh satu lalat lagi.
“Idih kok kalian berdua kuat sih nggak tutup idung? Bau banget kan.” kata Firrina yang tentu saja, masih setia menutup hidungnya.
Abe tertawa. “Iya dong Fir, gueee… Hoekh.” Katanya. Ternyata dia nggak cukup kuat menahan dahsyatnya bau pasar yang masih menjamur di dalam mobil itu. Tunggu deh, kenapa kacanya nggak dibuka lagi? Iya soalnya kalo dibuka lagi bisa jadi sesuatu yang lebih parah lagi bisa masuk ke dalem mobil. Makanya daripada itu, mendingan begitu aja udah. Bau pasar dan lalat-lalat pasar tradisional.
***
Setelah menempuh perjalanan amat jauh dan mengalami banyak penderitaan, mobil CRV milik Viona itu sampai di komplek perumahan rumah Riri yang sangat elit.
Kawasannya bener-bener elit deh. Enak diliatnya. Diantara rumah-rumah yang ada, ada lima rumah yang paling mencolok diantara yang lainnya. Kelima rumah itu gede-gede banget. Tapi ada satu yang paling gede, kayak “bos”nya rumah-rumah di situ. Mobil-mobil mahal berjejeran di depan rumah gedongan itu, kayaknya di dalem rumah itu masih ada lagi. Semuanya berpikir itu pasti rumahnya Riri. Ketika para tokoh cerita ini memasuki komplek perumahan Riri yang tanpa nama tempat rumahnya Riri berada, ternyata lagi rame banget. Banyak mobil-mobil dan orang-orang berkeliaran dimana-mana. Akhirnya si mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang amat bagus yang merupakan salah satu dari lima rumah paling bagus yang letaknya tak jauh dari rumah yang paling gedongan.
“Hah! Akhirnya keluar juga gue dari mobil!” seru Rahel sambil nyengir.
Rendy membanting pintu mobil. “Kenapa berentinya disini Ri? Rumah lo bukannya di sana?” tanyanya sambil menunjuk rumah yang paling gedongan. Dia nggak sadar kalo Riri aja bahkan belom keluar dari mobil.
“Ngomong sama siapa lo? Riri aja belom keluar, bantuin dong!” gerutu Velope yang baru aja keluar dari mobil. Yang keluarnya bener cuma Rahel sama Rendy doang, yang ditengah nggak beres semua. Ada yang mau jatohlah, ada yang apalah.
Setelah yang ditengah keluar semua, Rendy ngebantuin yang dibelakang keluar, juga yang di bagasi. Ketika yang di bagasi di evakuasi, sejumlah orang ngeliatin dengan tatapan bingung. Mereka pikir lagi pada ngeluarin barang, ada juga yang mikirnya ngeluarin mayat yang masih punya kehidupan. Dimi hampir terjatuh saat hendak keluar dari bagasi. Udah pasti ada yang salah dengannya.
Rendy mengulangi lagi pertanyaannya yang tadi itu setelah semua pintu mobil ditutup dan dikunci.
Riri tersenyum. “Nggak Ren, kita disini berentinya,” katanya. “Ini bukan rumah gue, tapi rumah gue.” Lanjutnya dengan lafal yang berbeda. Yang lainnya menatap bingung Riri. Rumah gue sama rumah gue apa bedanya?
(Bersambung)
0 opinions:
Post a Comment