April 29, 2010

Bab 18

Bab 18
Cinderellaknat Part 1

Akhirnya setelah sekian lama cerita ini berjalan, dapat juga sebuah istilah yang menggantikan posisi “tokoh-tokoh cerita ini”. Kalau selama ini kata-kata tidak efektif itu selalu dipakai untuk menjelaskan tentang siapa-siapa saja yang terlibat dalam suatu bab, sekarang sudah tidak diperlukan lagi. Kata-kata merepotkan itu sudah ada penggantinya. The Comicses—begitulah sekarang tokoh-tokoh cerita ini disebut. Eh, tapi bukan deh, itu kurang tepat. The Comicses hanya menjelaskan ke-enam cowok yang ada di dalam cerita menyedihkan ini. Mereka mereka yang dimaksud itu adalah Abe, Dimi, Riri, Rendy, Adri, dan Dedi. Hanya berarti mereka ber-enam saja.
Lantas, bagaimana dengan Mirza dan para cewek? Apakah mereka akan disebut dengan “Mirza dan para cewek?” atau yang lebih modern deh, “Mirza and the girls?” tentu saja tidak kedua-duanya. Yang pertama konyol, yang kedua tak kalah konyol. Tidak ada yang sesuai dengan yang semestinya. Namun atas usul Ihsan, Mirza dan para cewek disebut sebagai The Comicses Crew—yang artinya kru-kru The Comicses. Sebenarnya sih, The Comicses Crew ini bisa berarti ganda, bisa hanya kru-kru The Comicses saja, bisa juga berarti The Comicses dan kru-krunya. Mana yang lebih baik dan benar? You are the only one who can decide it, readers.
Selain menemukan istilah penolong alias nama band, mereka berenam belas juga menemukan genre utama band, langkah berikutnya yang akan diambil setelah ini, juga… nickname untuk masing-masing personil, singkatnya disebut sebagai nickname band. Jadi, keenam cowok yang sempet disebutkan tadi itu bakalan ganti nama sebentar lagi hingga cerita melelahkan ini tamat. Tidak fair ya? Tiba-tiba nama-nama cakep seperti Adri, Dimi, Abe, dan sebagainya itu harus diganti begitu saja. Hal ini sudah pasti bakal membuat anda, para pembaca yang setia, bingung. Tenang saja, lama-lama juga bakal terbiasa kok.
Ya maka begitulah, dengan suatu cara yang tidak perlu diceritakan, keenam personil termasuk Mirza mengganti nickname mereka dengan yang baru. Dedi diganti menjadi Brody, yang diambil dari Brody Dalle, vokalis band The Distillers. Erh, FYI, Brody Dalle ini seorang cewek, loh. Kayak cowok emang namanya, orangnya juga, tapi walau bagaimanapun tetep aja si Brody Dalle ini cewek. Nasibnya Dedi emang dapet nama cewek sendiri, soalnya yang lainnya nama-nama cowok semua. Rendy diganti jadi Jared, yang diambil dari Jared Leto, vokalisnya 30 Seconds To Mars. Dimi berganti jadi Gabe, yang diambil dari Gabe Saporta, vokalisnya Cobra Starship. Adri diganti menjadi Cove, yang diambil dari Cove Reber, vokalisnya Saosin. Abe berganti menjadi Leif, yang diambil dari Leif Christensen, vokalisnya The Last Goodnight. Riri diganti jadi Pierre, yang diambil dari Pierre Bouvier, vokalisnya Simple Plan. Dan Mirza diganti menjadi Matt, yang diambil dari Matt Shadows, vokalisnya Avenged Sevenfold. Itulah nickname-nickname baru para cowok. Dan itu semua mulai berlaku sekarang. Patut diingat.
Berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan oleh enam belas orang yang ada, maka diputuskanlah, enam belas orang ini bakalan berkumpul kembali di rumah Riri dan dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri atas empat orang. Simplenya, jadi kayak 4x4 gitu. Ke 4 kelompok ini masing-masing memiliki tugas yang berbeda-beda. Kelompok satu tugasnya mencari tempat untuk menggelar gig juga mempromosikannya, kelompok dua bertugas mencari salon dan tempat pembuatan kaos serta mempromosikan The Comicses, kelompok tiga tugasnya mempromosikan The Comicses di dunia maya, sedangkan kelompok empat bertugas mendesain-desain. Tapi ini semua bakalan terjadi nanti. Hal ini bakalan diceritakan di bab 19, untuk sekarang, hanya akan diceritakan sedikit tentang latihan pertama The Comicses, dan banyak tentang… umm, sebaiknya tidak usah dibilang. Karena ini adalah kejutan.
“Ini tempat latihannya? Buset deh, nggak nyantai amat.” Kata Rahel saat dirinya dan yang lainnya memasuki tempat khusus untuk latihan band di rumah Riri. Eh? Riri siapa? Pierre maksudnya.
Rendy… alias Jared, melipat tangannya. Udah jelas, pasti dia mau mengatakan sesuatu pada Rahel. “Bacot banget sih lu, udah bagus kayak gini tempat latihannya,” gerutunya. Kemudian dia menoleh ke arah Pierre. “Maaf ya Pierre, omongan anak kecil nggak tau adat nggak usah didengerin.”
“Iya iya haha.” Kata Pierre.
Tempat latihan itu benar-benar luar biasa. Rasanya seperti mau pentas sungguhan jika latihan di atas panggung yang ada di dalamnya. Panggung itu berukuran besar dan ber-atribut lengkap yang bisa digunakan untuk latihan drama, dance, dan band, tentunya. Ada pula kursi-kursi berjumlah banyak yang berjejeran di depan panggung khusus buat penonton atau pengamat. Selain itu, masih ada lagi. Hampir semua alat musik yang tentunya menguras kantong tersedia di sana. Udah kayak toko musik tau nggak, padahal itu cuma sekedar ruang latihan biasa.
Alat-alat menggiurkan tersebut disimpan seperti etalase toko. Di dalam rak kaca dengan lampu di dalamnya sehingga tampak berkilauan. Kecuali alat-alat musik yang tidak memungkinkan untuk disimpan dengan cara begitu seperti drum, piano, dan sebagainya. Alat-alat berukuran besar itu ditata dengan rapi, seperti mau dilelang. Tentu saja tidak dilelang sungguhan. Oh, tidak, masih ada satu lagi. Tidak jauh dari panggung, tersedia ruang khusus untuk beristirahat sehabis latihan. Di dalam ruangan yang dingin itu ada TV, radio, kulkas, DVD player, rak buku, majalah, dan lain-lain. Bener-bener lengkap deh pokoknya. Sejauh ini sih, inilah tempat latihan band terdewa yang pernah dikunjungi oleh The Comicses Crew.
Brody menatap panggung dengan kagum. Terbayanglah dirinya menyanyi dengan kerennya di atas sana. Memegang mikrofon, berjalan kesana kemari, menebarkan aura rock star yang hebat pada seantero panggung. Di sekelilingnya terdapat banyak sekali wanita yang meneriaki namanya. Kemudian menjelang akhir lagu, dia menjatuhkan tubuhnya ke arah tangan-tangan para fans yang siap menangkap tubuh rampingnya… BRAK! Mendadak semuanya menjadi hitam legam. Tidak ada lagi panggung, tidak ada lagi para wanita, tidak ada lagi cahaya lampu sorot… semuanya hilang dalam sekejap. Apa yang terjadi? Apa pula “BRAK” tadi?
Perlahan-lahan tapi pasti, Brody membuka matanya. Rupanya sedari tadi kedua matanya terpejam. Dia melihat sosok Gabe dan Abe, eh, Leif. Kedua-duanya sedang menatapnya dengan tatapan heran.
“What the hell are you doing?” tanya Dimi, eh, Gabe.
Brody tidak paham apa arti pertanyaan Gabe tadi, jadi dia diam saja. Rupanya dia terjatuh, seperti Gabe di bab sebelumnya. Bedanya, saat dia terjatuh sekarang ini, tidak ada yang sudi menangkapnya. Dia berusaha bangun dari jatuhnya itu. Ouch, kepalanya sakit bukan main. Brody merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terbentur lantai. Untung aja nggak kenapa-kenapa dia. Ini adalah suatu keajaiban sih sebetulnya.
“Dedi! Eh, Brody! Lo nggak apa-apa kan? Masih inget gue kan? Helloooo?” tanya Leif sambil menggerak-gerakan telapak tangannya di depan mata Brody. Ya takutnya kan Brody amnesia gitu.
Brody berusaha menahan rasa sakit di kepala dan badannya juga berusaha menanggapi Leif. “Iya gue inget. Lo Abe kan? Dia Dimi, gue Dedi.” Katanya setengah merintih sambil menunjuk Leif dan Gabe secara bergantian. Tak lama kemudian, dia kembali merintih kesakitan sambil memegangi kepala belakangnya.
Terlihat rasa lega di wajah Leif. “Alhamdulillah, Dedi, eh, Brody nggak amnesia Dim, eh Gabe!” serunya sambil tersenyum lebar.
Gabe hanya tersenyum pada Leif. Lalu dia menoleh ke arah Brody. “Elu ngapain dah? Orang bentar lagi kita latihan, malah pingsan lu disini,” katanya. Kemudian dia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Brody berdiri sempurna. Brody memegang tangan Gabe dan akhirnya dia bisa berdiri dengan perfect, meskipun kepala dan badannya masih terasa amat sakit. “Untung aja lu ceking, Dy, jadi gampang gua bantuin lu diri.”
Brody diam saja. Penglihatannya terasa kacau sekali. Dia mau tidur saat itu juga. Padahal sebentar lagi dia mesti latihan. Melihat Brody yang jalannya dibantu oleh Gabe dan Leif, yang lainnya jadi penasaran.
“Lah? Kenapa tuh si Brody?” tanya Vero panik.
“Nggak tau kak, pas gue sama Dimi, eh, Gabe lagi ngobrol, Brody lagi tiduran di lantai,” jelas Leif. “Nggak lama kemudian, Brody melek abis itu dia ngeluh kepalanya sakit.”
Icha, Dennise, Jared, dan Brian malah tertawa mendengar kata-kata Leif barusan. “Yah jatoh dia, hahaha!” seru Jared. Diiringi dengan gelak tawa ketiga cewek lainnya. Membayangkan Brody lagi tiduran di lantai aja udah cukup lucu, apalagi jika melihat saat Brody terjatuh ke belakang dan nggak ada yang nangkep? Lebih lucu lagi.
Firrina mendesah. “Aduh ada ada aja sih, bentar lagi kan dia harus latihan.”
Riri memegangi dahinya sejenak. Dia seperti mau meluruskan pikirannya yang ruwet dan kusut seperti benang jahit. “Ya udah bawa dia ke ruang istirahat aja. Biarin dia tiduran dulu di sana,” katanya. “Ruangannya di situ.” Ujarnya sambil menunjuk ke arah ruang istirahat—yang pada dasarnya digunakan untuk tempat istirahat orang-orang yang abis latihan, bukan ruang untuk tiduran bagi orang yang terjatuh akibat terlalu larut dalam imajinasi sendiri.
“Alright.” Kata Gabe. Lalu dia beserta Leif membantu Brody berjalan menuju ke ruang istirahat. Setelah mereka bertiga memasuki ruang itu, tak lama kemudian Leif dan Gabe keluar dari sana.
Gabe nyengir. “Wow, ruang istirahatnya fantastis! Si Brody sengaja atau apa?” tanyanya dengan nada menyindir. Padahal Brodynya aja nggak ada di situ.
Pierre tersenyum meremehkan. “Fantastis? Jelas,” katanya. “Semua yang ada di sini itu emang fantastic, lu adalah orang ke 5738 yang ngomong itu.” Katanya sambil menunjuk muka Gabe.
Leif melotot terperanjat. “Ha? Emang iya apa? Lo itungin gitu? Wah!” pekiknya dengan penuh kekaguman.
Jared memutar-mutar bola matanya. “Ya kali dah di itungin beneran, percaya aja sih lu, Leif.” Celetuk cowok yang selalu negative thinking itu.
Tiba-tiba, wajah Velope muncul diantara wajah Leif dan Gabe. Disampirkannya kedua lengannya yang kurus itu di sebelah pundak Leif dan Gabe. Pierre dan Jared kaget melihatnya muncul secara tiba-tiba. Begitu pula dengan Gabe dan Leif. “Cove. Where’s Cove? Where the fuck is he?” tanyanya tak lama kemudian.
“Wow wow wow wow!” seru Jared sambil menyodorkan kedua telapak tangannya ke arah Velope. Seperti orang yang sedang menahan orang lain untuk melakukan sesuatu. “Santai, Vel, santai, ada apa sih? Segitunya lu nyariin dia.”
Velope menarik lengannya dengan cepat dari lengan Leif dan Gabe. Tak sengaja lengannya menyenggol kepala Gabe. “Aw! Hati-hati dong Vel!” gerutunya sambil memegangi kepalanya yang tersenggol lengan Velope.
“Maaf, maaf Gabe.” kata Velope sambil merogoh-rogoh saku celananya. Dikeluarkanlah ponselnya. Tidak ada yang tampak tidak beres dari ponselnya itu.
“What? Your phone? There’s nothing wrong with it.” Kata Pierre.
“Yeah!” seru Gabe. “Yang ada juga ownernya yang wrong!”
Velope mencibir kesal. “Yeee luarnya emang nothing wrong, dalemnya absolutely wrong!” serunya sambil terus memencet-mencet tombol-tombol pada hpnya. “Nih, liat aja! Ugh rese banget sih si Cove tuh!” gerutunya sambil memberikan hpnya pada Pierre.
Pierre, Leif, Jared, dan Gabe pun langsung melihat apa yang tertera di layarnya. Pulsa utama Rp.0 dan seterusnya. Cih, pantas saja.
Leif tertawa kecil. “Ooooalah lo nggak ada pulsa toh Vel?” tanyanya sambil tersenyum. Lalu kemudian senyumannya berubah jadi keheranan. “Eh bentar bentar bentar, gue jadi nggak ngerti deh, kalo lo nggak ada pulsa terus kenapa lo jadi keselnya sama Adri? Eh Cove maksud gue.”
Velope mendesah. “Ya masa lo nggak bisa nebak sih Leif? Ya gara-gara si Cove tp banyak-banyak tapi nggak bilang-bilanglah! Gara-gara apalagi? Grrrr!” gerutunya. “Urrgh padahal gue lagi bokek! Gue lagi butuh pulsa banget padahal!”
Jared berdehem. “Gua kesindir, sorry.” Katanya sambil melihat ke arah yang tak jelas. Soalnya dia sering melakukan hal terkutuk itu pada Rahel.
Velope hanya menatap Jared dengan tatapan benci. Jared yang merasa diliatin langsung melihat balik ke Velope. “What? I didn’t do anything wrong!” serunya.
Pierre mendesah. Hanya dia satu-satunya yang bisa menolong Velope. “Udah udah tenang aja Vel, lu gua tp-in yang banyak. Mau berapa?”
“Emm… cepe dong, hehe.” Kata Velope sambil nyengir.
Gabe dan Jared melotot mendengarnya. Sebagai orang-orang yang boros akan pulsa, mereka berdua jelas terperanjat mendengar hal ini. “HA? CEPE?” pekik kedua-duanya sambil menoleh satu sama lain. “Wah wah wah, udah gila nih si Velope, mau bikin si Pierre miskin pulsa nih wah kaco.” kata Gabe. Jared juga tak mau ketinggalan bicara. “Ckckckck, mau ngerampok pulsa ya mbak? Jangan sama temen saya mbak, kasianilah dia.”
Baru saja Velope mau membalas perkataan Jared dan Gabe, eh hpnya berdering. Ada sms. Pierre memberikan hpnya Velope pada pemiliknya. Sontak Velope langsung membuka sms yang masuk. Dan dia melotot kaget. “Ah! Beneran di tp cepe!” pekiknya. “Waaah thanks banget ya Pierre!”
“With my pleasure.” Kata Pierre sambil tersenyum. Dia memang paling doyan kalo bisa membantu orang lain dengan kekayaannya. Apalagi jika orang yang dibantunya itu lawan jenisnya.
Velope tersenyum senang dan berjalan kembali ke arah cewek-cewek. Dalam sekejap dia tidak kesal lagi pada Cove. Gabe dan Jared memperhatikan cewek itu dengan terheran-heran. Kemudian mereka berdua menoleh ke arah satu sama lain. Jared menatap Gabe dan Gabe menatap Jared.
“Are you thinking what I’m thinking, Jared?” tanya Gabe.
“I think I am, Gabe.” Jawab Jared dengan segera.
Mereka berdua terdiam sejenak. Lalu… “Pierre! Tp dong!” seru mereka berdua secara kompakan. Bahkan cengirannyapun juga kompak.
“Cih. Udah gua duga.” Gumam Pierre dalam hati.

***

Cove menaiki panggung dengan antusias. Kulitnya jadi terlihat putih sekali karena efek cahaya yang ada. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memejamkan kedua matanya dan kemudian menarik nafas dalam-dalam. Dia siap untuk terbang. “AAAAAA!!!!!!!!” jeritnya keras-keras. Sebenarnya sih kurang cocok jika mau melepaskan beban di situ, harusnya dia melakukannya di luar. Di lapangan terbuka yang hijau, bebas, dan luas. Biarkan beban-beban yang ada terbang dengan manis ke angkasa. Bukannya di dalam ruangan, di atas panggung, dengan lampu sorot dan diperhatikan oleh banyak orang seperti ini. Kalau begini caranya, beban-beban yang terlepas akan terbang dan akhirnya terbentur langit-langit dan ujung-ujungnya bakalan kembali lagi ke yang melepaskan. Jadi kegiatan melepaskan bebannya ini useless.
Suara Cove yang aneh itu menggelegar di seantero ruang latihan yang berukuran besar. Sungguh, terdengarnya tidak enak. Setelah menganggu pendengaran orang-orang, Cove membuka kedua matanya dengan kedua tangan masih terentang. Bermandikan cahaya, dia merasa menjadi seorang superstar—atau, yang lebih banter, menjadi pemain teater dengan peran burung. Dari raut wajahnya, bisa ditebak bahwa Cove merasa lega. Dia merasa sepersepuluh bebannya telah lepas dari tubuhnya, seiring dengan berteriaknya dia. Sebenarnya sih, jangankan sepersepuluh, seperseribulimaratuslimapuluhlima saja tidak lepas sama sekali. Itu hanya sugesti belaka. Sugesti yang sangat hebat.
Akhirnya, mereka berlima belas karena minus Brody melakukan perundingan tentang lagu apa yang akan dipakai untuk latihan pertama The Comicses yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Tapi, belum sempat ditentukan lagunya, sosok Brody keluar dari dalam ruang istirahat bagaikan mayat yang bangkit dari kubur. Padahal dia baru sebentar banget di dalam sana. Aneh ya, orang mah dimana-mana malah maunya lama-lama di dalam ruang istirahat. Udah banyak hiburannya, pw, adem lagi. Tapi si Brody ini? Baru bentar banget malah udah keluar dia. Jalannya sempoyongan, pasti gara-gara terjatuhnya yang bodoh tadi.
Mirza… alias Matt, yang pertama kali melihat sosok Brody yang keluar dari ruang istirahat, tersenyum kecil. “Wes, udah keluar aja tuh si Brody,” katanya. “Nggak betah dia di dalem ruang istirahat lu, Pierre. Baru juga berapa menit dia disana.”
Pierre tampak terheran-heran sendiri. Belum ada yang pernah tidak betah di dalam ruang istirahatnya.
“Heeey teman-teman,” kata Brody sambil melihat ke arah dinding. “Ruang istirahatnya dingin banget kayak kulkas, gue nggak sanggup lama-lama disitu. Padahal kepala gue masih sakit banget, masih keleyengan ini gue.”
Diam sejenak. Teman-teman Brody tidak ada yang langsung menjawab.
“Ehm,” Icha berdehem. “Kita disini, Brod.”
“Ha?” kata Brody sambil menoleh ke arah yang tak jelas. Dia betul-betul keleyengan. Bagaikan habis tertiban besi seberat satu ton saja kepalanya itu. Seperti orang kehilangan arah.
Gabe memegangi dahinya. Kemudian dia mendesah lelah.
“Ini yakin nih mau latihan? Kok nggak memungkinkan ya?” kata Viona.
Vero tampak setuju. “Iya, liat aja tuh si Brody. Dia aja kayak gitu… yakin tetep mau latihan sekarang juga?” katanya. “Kalo menurut gue sih mending nggak usah, daripada nanti jadi kacau kan kalian juga yang capek.”
“Yaaa iya juga sih,” kata Jared sambil menggaruk-garuk kepalanya. Entah kenapa dia selalu melakukannya. Mungkin karena kepalanya terlalu dipenuhi oleh kejahatan yang membuat gatal, atau mungkin ada sejuta ketombe yang menghiasi rambut dan kulit kepalanya, atau bisa juga ada banyak kutu yang memiliki kehidupan di kepalanya. “Tapi kalo bukan sekarang latihan pertamanya, terus kapan? Nggak sesuai jadwal yang tadi disusun dong.”
“Ya emang sih, tapi lu juga mesti liat kondisinya si Brody, Jare,” kata Cove sambil menepuk sebelah pundak Jared. “Gua nggak mau pas latihan lu naik darah dan penyakit darah tinggi lu kambuh dan lu harus dirawat di rumah sakit. Itu malah lebih disaster lagi.”
Jared menatap Cove dengan tatapan benci. “Sialan lu, maksud lu apaan tuh ngomong gitu? Dipikir gua orangtua apa? Hah?” tanyanya dengan penuh emosi. Sepertinya kekhawatiran Cove sangat amat benar.
“Tuh kan tuh kan? Gua bener kan?” tanya Cove pada Dennise, Rahel, Ihsan, dan Firrina yang terduduk di depannya tanpa suara selagi Jared lengah. Keempat orang yang ditanyakan olehnya tadi mengangguk secara bersamaan.
Velope menggerak-gerakan Play Station Portablenya kesana kemari. Dia lagi main balap-balapan. “Jadi kesimpulannya gimana nih? Latihan nggak?” tanyanya disela-sela permainan. “Ugh! Shit! Kebalap lagi, sial!” gerutunya sendiri.
“Emm… kayaknya nggak deh, nggak kan ya?” tanya Leif pada siapapun yang bersedia menjawab. Tapi nyatanya tidak ada.
“Nggak usah deh. Latihannya kalo nggak besok ya… terpaksa minggu depan.” Kata Gabe.
“BRUK!” Brody terjatuh lagi. Sepertinya keadaannya bertambah gawat.

***

Gabe menuangkan kaleng bertuliskan “Coca Cola Blue” ke dalam mulutnya. Berharap masih ada cairan biru segar yang bakal keluar dari situ untuk kemudian masuk tepat ke dalam kerongkongannya. Tetapi, cairan itu sudah tidak ada lagi.
“Yah, abis,” Keluhnya. Lidahnya yang daritadi menjulur dinormalkannya kembali seperti sedia kala. Kaleng Coca Cola Blue yang dipegangnya itu diguncang-guncangnya berkali-kali. “Masih ada nggak, Pierre?” tanyanya sambil menatap Pierre dengan tatapan melas.
Pierre sama sekali tidak tersentuh. Dia balas menatap Gabe. Digelengkanlah kepalanya kemudian.
Gabe menghela nafas kecewa. “Ck, yah,” keluhnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan seperti sedang mencari sesuatu. “Tong sampah mane? Gua cari-cari kagak ada. Mau gua buang nih kaleng.”
“Tong sampah yang disini udah penuh,” kata Pierre. Kemudian dia meneguk sebuah minuman aneh yang daritadi sedang diminumnya. Sejenis root beer. “Kalo lu mau buang itu, buangnya di luar.” Sambungnya sambil menunjuk kaleng Coca Cola Blue yang dipegang Gabe dengan jari telunjuknya dan menunjuk keluar dengan dagunya.
Gabe mendesah lagi sebelum berjalan menuju pintu utama rumah dan membuka kuncinya sehingga dia bisa keluar. Sekejap udara luar menerpa wajahnya seakan-akan mengucapkan “Hai ganteng” padanya. Langit berwarna biru cerah, matahari juga masih bersinar cerah, menambah cerah suasana hatinya yang tadi sempet blue. Pemandangan diluar ternyata tak kalah hebatnya dari dalam rumah. Gabe tersenyum penuh makna. Dalam sekejap dia merasa begitu bersemangat. Bersemangat jugalah dia dalam mencari tong sampah ke sekelilingnya. Tapi tidak ada.
Sambil bersiul, Gabe membuang kaleng Coca Cola Blue yang dipegangnya seadanya saja. Menurutnya, tidak masalah apabila hanya ada satu sampah kaleng saja di lingkungan sekitar rumah Pierre. Toh Pierre sendiri juga nggak bakal keberatan. Setelah membuang kaleng, Gabe nggak langsung masuk rumah. Dia memperhatikan lingkungan rumah Pierre juga rumah saudara-saudara dan orangtuanya dulu. Tiba-tiba, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sebuah container besar terparkir di depan rumah yang berukuran paling kecil diantara semua rumah di lingkungan itu.
Pasti itu rumah adeknya Pierre yang paling kecil deh, gumam Gabe dalam hati. Tapi, justru dia malah semakin nggak paham. Mau apa sebuah container besar di depan rumah anak kecil? Tidak masuk akal. Sama sekali tidak.
Dan yang lebih mengherankan lagi, container itu tidak beridentitas. Mesinnya mati, kayaknya udah lama bertengger disitu. Datengnya pas lagi pada di ruang istirahat, jangan-jangan, makanya nggak kedengeran. Gabe memperhatikan container misterius itu dengan seksama, dahinya berkerut tanda curiga. Mendadak, seorang pria dewasa botak gendut yang memakai Polo shirt dan trouser warna khaki muncul dari arah pintu rumah. Lelaki berperawakan jahat itu nyengir sambil menghitung uang yang jumlahnya banyak. Kemudian dia naik ke atas kursi asisten penyetir dan tak lama setelah itu, mesin container itu nyala dan container itu pergi. Pergi meninggalkan kepulan asap dan sejuta tanya untuk Gabe.
Merasa ada yang tak beres, Gabe pun berlari memasuki rumah Pierre dan… ouch! Dia bertubrukan dengan Pierre yang mau keluar diikuti yang lainnya. Tabrakan itu cukup keras. Keduanya kesakitan.
“Aduh,” celetuk Gabe sambil memegangi dahinya yang memerah. Lalu dia teringat akan kabar penting yang harus dia katakan pada Pierre. “Pierre!” serunya mendadak sambil mencengkram kedua lengan Pierre. Seketika rasa sakit di dahinya terasa hilang begitu saja. “Tadi di luar gua liat ada container gede di depan rumah adek lu yang paling bontot!” serunya dengan wajah panik.
Krik, krik. Suasana hening beberapa saat. Saatnya si jangkrik bicara.
Diluar dugaan, Pierre sama sekali tidak kaget mendengar yang dikatakan Gabe tadi. Seolah-olah container di depan rumah adiknya yang paling kecil itu adalah hal yang wajar, padahal kan tidak… Tunggu, jangan-jangan memang sudah biasa, lagi. Tunggu saja sampai Gabe menceritakan yang selanjutnya. Pierre akan kaget mendengarnya.
Pierre melepaskan kedua tangan Gabe yang mencengkram lengannya hingga terasa sakit. “I know that, Gabe,” katanya. “Itu dia kenapa gua mau keluar sekarang.”
“Tapi pasti lu belom tau yang ini,” kata Gabe, memotong omongan Pierre bahkan sebelum keluar dari mulutnya. “Ada om-om keluar dari rumah adek lu bawa duit banyak abis itu dia naik ke container itu terus kabur deh dia.”
Pierre melotot. Kaget. Kaget setengah mati.
Vero malah nyengir. “There’s a shock.” Katanya.
“Wayolo Pierre, adek lu ngapain tuh?” tanya Icha dengan nada nakut-nakutin. “Wah wah kaco, umurnya kan baru 13 tahun tuh padahal waaah nggak bener nih kakaknya nggak bisa ngurusin nih nggak bisa bertanggung jawab lu Pierre waaaah.”
Pierre menoleh seram ke arah Icha. “Gua nggak tau Cha,” katanya. “Dan gua harus tau… sekarang juga!”

***

Pierre dan yang lainnya menerobos masuk ke dalam kamar Andrea—adik Pierre yang paling kecil. Seperti yang dibilang Icha tadi, umurnya 13 tahun. Pierre bersaudara bedanya emang cuma setaun-setaun. Meskipun namanya Andrea, tapi orang-orang di sekitarnya memanggilnya Andre karena… entahlah, mereka merasa Andre lebih cocok dibanding Andrea, meskipun saudara yang paling akrab dengan Pierre ini sama sekali nggak berperawakan cowok. Sama sekali nggak. Dia cewek seutuhnya.
“BRAK!” pintu kamar Andre berbunyi keras saat diterobos oleh Pierre dan kawan-kawannya. Betapa terkejutnya semuanya ketika melihat wajah Andre yang ditekuk, berkerut-kerut, kusut—bahkan melebihi kusutnya wajah Jared. Kusutnya tingkat dewa nih berarti.
Sudah bisa dipastikan, Andre bete berat-beratan. Tangannya dilipat di dada, entah apa yang membuat moodnya begitu busuk. Beda sekali dengan mood Gabe yang bagus sekali. Bahkan setrika semahal dan sebagus apapun tidak bisa merapikan wajahnya yang begitu kusut. Harus moodnya-lah yang disetrika biar bagus. Tapi bagaimana caranya? Masalahnya aja pada nggak tau.
Di sekeliling Andre terdapat banyak benda-benda berbau fairytale yang berserakan tak terarah. Selain itu, kamarnya juga beraksen fairytale—tepatnya, too much fairytale. Benda-benda berbau fairytale yang berserakan itu baru dikeluarkan dari sebuah kotak paket kiriman. Ada kostum, wig, dan makeup. Rupanya benda-benda itu adalah properti khusus untuk dongeng Cinderella. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi hal itu bakal diketahui sebentar lagi.
“Ah, gue tau kenapa nih,” kata Viona sambil menjentikkan jari tangannya. “Pasti adeknya Pierre delivery barang-barang itu deh, terus container itu kendaraan buat nganterin barangnya, kalo bapak-bapak yang diliat Gabe tadi ya petugas deliverynya.”
Brian tersenyum setuju. “Ya ya ya, pasti gitu.” Katanya sambil menganggukan kepalanya.
Sebaliknya, Firrina malah tampak tidak yakin. “Tapi kalo emang gitu, kenapa adeknya Pierre kesel banget? Apa masalahnya emang? Nggak ngerti deh gue.”
“Iya, udah gitu mukanya kusut banget lagi. Lebih kusut dari mukanya dia! Hahaha!” seru Rahel sambil menunjuk Jared.
“Salah delivery!” seru Andre tiba-tiba. Semuanya langsung menoleh ke arahnya. “Aku mintanya kostum cowboy, aku udah bosen banget sama fairytale! Mau ganti jadi cowboy, tapi yang dikirimin malah fairytale lagi, fairytale lagi! Aaah! Nggak tau apa aku udah stengah mati nyari barang-barang cowboy! Hih! Nyebelin banget sih!” gerutunya.
“Ooooh.” Gumam Pierre dan teman-temannya.
“Pantesan aja.” kata Ihsan yang selama ini paling pelit bicara.
Melihat wajah Andre yang semakin kusut dan moodnya yang semakin membusuk, sebelum kondisinya tidak tertolong lagi, Leif segera menghampirinya. Dia tersenyum manis semanis madu, tepat di depan wajah Andre. Andre jadi salting sendiri melihatnya. “Kita semua mesti ngapain biar kamu nggak bete lagi?” tanya Leif.
Wajah Andre langsung rapi seketika, seperti baru saja disetrika dengan sebuah setrika ulung. Wajahnya memerah semu karena melihat Leif. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil berfikir sejenak. Kira-kira apa ya yang bisa membuatnya terhibur? Amat terhibur? Tiba-tiba Andre tersenyum jahat. Dia menoleh ke arah teman-teman Pierre dengan wajah jahat begitu. Dia itu adiknya Pierre, tapi kok gelagat-gelagatnya malah mirip Jared, ya? Uh-oh, melihat wajah Andre yang begitu jahat, Brody—yang kondisinya sudah pulih kembali, menelan ludah dengan penuh kekhawatiran. Sekejap dia mendapat firasat yang sangat buruk.
“Aku mau… kalian-kalian, yang cowok-cowok, main drama Cinderella pake properti-properti salah delivery ini! Hehe, pasti menghibur banget deh!” seru Andre sambil cengar-cengir.
Para cewek ikutan nyengir juga. Menurut mereka, itu adalah ide menghibur diri yang fantastis. Mereka juga setuju, jika drama Cinderella diperankan oleh cowok-cowok, pasti jadinya bakalan kocak dan menghibur banget. Sementara para cowok-cowok terdiam. Menurut mereka, itu adalah ide menghibur diri yang paling memalukan yang pernah ada. Mereka? Memerankan tokoh-tokoh Cinderella? Memakai dress, wig, dan… dan… makeup? Mending jadi ondel-ondel sekalian. Pentas lenong juga boleh. Untung aja yang nonton cuma para cewek-cewek dan Andre doang, coba kalo sekomplek yang nonton? Mungkin Pierre bakalan pindah ke Alaska.
Cove menelan ludah. “Bukan gua yang ngomong ye.”

***

“Para hadirin sekalian… Inilah dia… Cinderella!” seru Ihsan sebagai si narrator dalam drama menggelikan ini.
Cewek-cewek dan Andre yang menjadi penonton bertepuk tangan sambil tersenyum penuh kesenangan bagaikan mau melihat drama yang bagus saja. Mereka duduk rapi di ruang utama rumah Andre. Meskipun Andre masih 13 tahun, tapi dia udah dikasih sebuah rumah yang layak oleh orangtuanya.
Serta merta sosok Pierre muncul. Mengenakan kostum Cinderella yang lusuh dan usang. Bayangkan saja cowok seperti dia mengenakan terusan sedikit di atas lutut berwarna coklat kelabu bercampur hijau kelabu juga dengan selop butut. Ditambah lagi, dia juga mengenakan wig rambut yang panjangnya sebahu lebih berwarna blonde. Kontras banget sama warna kulitnya yang gelap itu. Dia nggak memakai makeup, karena kan… yah pembaca tau sendirilah. Ah tapi ya udahlah dikasih tau aja. Ceritanya Cinderella kan menderita gitu soalnya disiksa sama ibu tiri dan saudara tirinya, masa pake makeup? Belagu amat.
Pierre, maksudnya, Cinderella, berjalan ngegang dengan wajah muram. Dia membawa seperangkat alat bersih-bersih rumah seperti kain pel, sapu, dan lap kaca. Tentu saja kemunculannya ini diiringi dengan gelak tawa para penonton. Mereka terbahak-bahak, apalagi Andre. Padahal baruuu aja dramanya dimulai, tapi Cinderella cuek bebek aja. Diapun mulai mengepel lantai rumah.
“Pada suatu hari, di sebuah rumah yang besar dan mewah, hiduplah seorang gadis cantik yang malang,” kata Ihsan selaku narrator drama. “Gadis itu bernama Cinderella. Dia tinggal bersama ibu dan saudara tirinya yang sangat jahat. Mereka memperlakukan Cinderella dengan sangat buruk, dia bahkan dijadikan pesuruh di rumahnya sendiri.”
Cinderella yang malang terus bekerja. Penonton berhenti tertawa. Mereka memperhatikan dengan seksama setiap gerak-gerik Cinderella.
“Rumah megah dan besar ini sebenarnya adalah milik ayah Cinderella, tetapi setelah ia meninggal, rumah ini jatuh ke tangan ibu tiri Cinderella. Maka dia dan kedua anak perempuannya menjadi sangat berkuasa,” Kata Ihsan lagi. “Saat Cinderella sedang mengerjakan suatu pekerjaan rumah, ibu dan saudara tirinya terus memarahi dan memberinya banyak sekali pekerjaan-pekerjaan lain sehingga Cinderella tidak bisa beristirahat.”
Inilah saatnya ibu tiri Cinderella—alias Stepmother, Anastasia, dan Drizella muncul. Mereka harus memarahi Cinderella, mengkomplain pekerjaannya, dan melemparinya baju-baju untuk kemudian di cuci dan di setrika sementara Cinderella hanya bisa bersabar menghadapinya seperti biasa. Para penonton jadi tak sabar dan penasaran menunggu kemunculan orang bertiga itu. Siapa sih yang berperan jadi Stepmother, Anastasia, dan Drizella? Banyak dugaan-dugaan yang muncul. Kandidat terkuat untuk peran Stepmother adalah Jared, karena dialah yang paling jahat dan galak diantara semua cowok-cowok yang ada disitu. Sedangkan untuk Anastasia dan Drizellanya tidak tentu. Eh tapi belum tentu juga Stepmothernya itu Jared, karena lihat saja Cinderellanya. Pierre-lah yang memerankannya. Bicara sesuai kenyataan sih harusnya Brody yang mendapat peran untuk itu.
Eh, bentar dulu. Kalo misalnya para penonton yang cewek-cewek itu aja nggak tau siapa-siapa aja yang jadi Drizella, Anastasia, dan segala macamnya itu, berarti mereka sama sekali nggak ngebantuin cowok-cowok itu dandan dan make wig serta kostum, dong. Memang tidak. Jadi cowok-cowok mempersiapkan segalanya sendiri. Well, nggak sepenuhnya sendiri juga sih, Ihsan yang nggak berperan apa-apa yang paling getol bantuin mereka siap-siap. Selain itu, siapa-jadi-siapanya juga nggak ditentuin, tapi diundi. Jadinya hasilnya random banget.
Menit demi menitpun berlalu, tapi Stepmother, Anastasia, dan Drizella tak kunjung kelihatan batang hidungnya juga. Membuat para penonton semakin penasaran dan semakin tidak sabar saja.
Pierre menghentakan kain pel butut yang dipegangnya keras-keras. “Woi! Ini si Anastasia, Drizella, sama si Stepmothernya mana! Lama amat sih! Capek gua ngepel terus!” gerutunya keras-keras. Suaranya menggelegar ke seantero rumah bagaikan suara petir.
“Wah! Cinderellanya nyolot!” seru Rahel sambil menunjuk ke arah Pierre.
“Baru mulai drama, Cinderellanya aja udah marah-marah padahal harusnya kan Cinderella sabar gitu baik orangnya,” kata Dennise. “Cinderella apaan nih? Cinderella jaman sekarang kali ya.”
Belum sempat Pierre alias si Cinderella memberikan pembelaan, tiba-tiba muncullah sebuah sepatu berhak tinggi berwarna hijau segar. Dress berwarna senadapun juga terlihat. Itu pasti milik Drizella. However, siapa yang berperan sebagai Drizella masih belum diketahui. Tidak ada yang khusus pada si sosok Drizella lelaki ini. Lalu kemudian, pelan tapi pasti, sosok Drizella muncul ke hadapan para penonton. Mengenakan dress cantik dan high heels berwarna hijau segar, memakai wig warna coklat gelap dan panjangnya diatas bahu. Bando berhiaskan pita warna turqouise juga nggak ketinggalan. Sialnya, si Drizella ini menutupi wajahnya dengan kipas, jadinya nggak ketauan siapa pemerannya. Dengan cara berjalan ala catwalk, Drizella berjalan dengan aneh. Berkali-kali dia nyaris terjatuh, tapi tidak pernah kejadian. Sebenarnya siapa sih pemeran si Drizella ini? Misterius sekali.
Penonton belum bisa tertawa karena belum tau siapa pemerannya.
“Iiih kok mukanya ditutupin pake kipas sih? Nggak seru ah! Nggak ketauan dong siapa pemerannya!” protes Viona sebagai salah satu penonton.
Cinderella—yang sudah tau persis siapa-memerankan-siapa dalam drama ini, memandang Drizella dengan wajah suram. “Kenapa yang muncul cuma lu doang?” ia bertanya. Mungkin dia sengaja supaya Drizella bicara sehingga bisa ditebak siapa pemerannya. “Harusnya kan lu munculnya sekalian sama Anastasia dan si Stepmother, mana mereka berdua? Balik lagi lu sana, paksa mereka muncul.”
Drizella hanya mengangguk sambil mengacungkan jempol tangannya ke arah Cinderella. Dia lebih memilih ber-isyarat ketimbang berbicara. Tak lama kemudian dia berjalan kembali ke “backstage” untuk menjemput Stepmother dan Anastasia untuk muncul bersama.
Andre jadi bete lagi. “Kok dramanya gini sih? Nggak menghibur, ah! Nggak asik! Nggak seru! Woooooo!” serunya. Para penonton lainnyapun ikut menyumbang sorakan.
Cinderella dan Ihsan sebagai kedua orang yang sudah muncul tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sendiri juga tidak senang soalnya. Baik Pierre maupun Ihsan sama-sama tidak menikmati posisi yang didapat. Tapi pasti kemunculan Anastasia dan Stepmother, serta terbongkarnya identitas Drizella bisa merubah pikiran Andre dan para penonton lainnya. Tunggu saja sebentar lagi.


(To Be Continued)

0 opinions:

Post a Comment