Bab 20
Cinderellaknat Part 3
Cinderellaknat Part 3
Drizellalat menelan ludah. “Eh, kok mendadak gua jadi takut ye?” katanya dengan nada khawatir. “Ini beneran rumahnya si ibu perih bukan sih? Jangan-jangan gua salah ngasih alamat lagi nih.”
Anastasialan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. “Sudah kuduga, kau memang bodoh sekali, saudaraku,” katanya sambil menepuk sebelah pundak Drizellalat. “Tidak seharusnya kita percaya padamu…”
“Eh! Nggak dikunci!” seru ibu tiris terkaget-kaget. Lalu ceritanya dia, kedua anaknya dan satu anak tirinya memasuki rumah si ibu perih yang hancur tak beraturan itu. Sesosok manusia yang memakai jubah ungu sedang meringkuk di dalamnya. Bisa didengar jika dia sedang mengumpat kesal. Tangan kanannya memegang maskara.
Dengan takut dan hati-hati, keempat “cewek-cewek” perkasa pahlawan kita berjalan mendekati sosok berjubah itu. Drizellalat sampai memegangi kedua pundak Cinderellaknat saking takutnya pada si sosok itu.
Melawan rasa takut yang ada, Cinderellaknat mencoba berbicara pada si sosok berjubah. “Erh, anu, permisi…”
“ENTE BAHLUL!!!!!!!!!!!!!!!!!” seru si sosok berjubah kesal sambil menoleh ke belakang, mengibaskan jubah ungunya yang jauh kebesaran dari ukuran tubuhnya itu. Guess what? Yang barusan bicara itu Jared, loh. Lebih tepatnya, Jared tanpa kacamata.
Oh, jadi, Jared toh yang berperan sebagai ibu perih alias pelesetannya fairy Godmother. Berarti, secara tidak langsung kan dia memerankan tokoh aslinya.
Eh tapi, tunggu dulu. Jared, Jared? Oh, oh! Jared?! Saudara kembar Rahel Inka yang bernama asli Rendy Iqbal itu? Yang menyebalkan, egois, jahat, galak, usil, iseng, rese, jail, dan segala macamnya itu?
Dia? Berperan sebagai “fairy Godmother”? Yang benar saja.
Orang seperti itu sih lebih cocok memerankan Joker atau seorang ilmuwan gila yang juga seorang maniak yang jahat.
Dalam sekejap suasana horror dan menegangkan tamat sudah. Kini berganti kembali menjadi suasana komedi yang ceria. Para penonton dan bahkan “cewek-cewek” andalan kita semuapun tertawa terbahak-bahak ketika melihat tampang si sosok berjubah alias Jared. Kayaknya hampir semua makeup dipakainya. Bedaknya lebay banget, mukanya jadi putiiiiiiiiiih banget kayak setan Cina. Mirip-mirip orang ketumpahan terigu juga. Eyeshadow, eyeliner, lipstick, blush on, pensil alis, semuanya dipakai. Termasuk bulu mata palsu yang lentiknya berlebihan. Wajah Jared nggak keruan deh hancurnya. Paling hancur diantara yang paling hancur.
Si sosok berjubah mengerutkan dahi. Dia siap untuk meledak. “DIAM!!!! ENTE SEMUA DIAM!!!!!!!!!!!” serunya kemudian. Lantas, “ente semua” pun diam membisu. Mereka semua berhenti mentertawakan wajah hancur si sosok berjubah ungu.
“Serius, gua kira di drama ini muka gua yang paling hancur, eh ternyata masih ada yang lebih hancur lagi.” Kata Anastasialan pada penonton. Para penonton cukup tertawa mendengarnya.
“Maaf, lu ibu perih bukan sih?” tanya ibu tiris.
Si sosok berjubah melotot kaget. Tak lama kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal sendirian. Sampe guling-gulingan di lantai malah. Para penonton dan pahlawan kita jadi keheranan sendiri. Orang nggak ada yang lucu sama sekali kan. Tapi kemudian wajah si sosok berjubah berubah jadi aneh. “AAAAAAAARGH!!!!!!!!! PERIH!!!!!!!!! PERIH!!!!!!!!!! AAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!” jeritnya tiba-tiba. Tokoh paling aneh dan menghebohkan nih si sosok berjubah ini.
Andre menunjuk ke arah si sosok berjubah. “Dia sakit jiwa ya, kak?” tanyanya pada cewek-cewek. Cewek-cewek yang asli, maksudnya, bukan yang dalam tanda kutip.
“Hahaha nggak kok, dia cuma lagi mendalami peran aja.” Kata Rahel selaku saudara kembar si sosok berjubah sambil tersenyum.
“Kayaknya udah jelas deh dia itu ibu PERIH apa bukan.” Kata Cinderellaknat. Saat mengucapkan kata-kata perih, suaranya digedein. Maksudnya itu menjadi petunjuk buat “cewek-cewek” yang lainnya.
“Hmm iya iya,” kata Drizellalat sambil menganggukan kepalanya.
“Iya iya emang apaan?” tanya Anastasialan.
“Ha? Nggak tau.” Dengan entengnya Drizellalat menjawab itu.
Penonton tertawa.
Si sosok berjubah berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Ehm,” dia berdehem. “Ente-ente berempat nih adalah tamu sekaligus keluarga terburuk yang pernah ane lihat. Karena? Yang pertama,” ujarnya sambil mengeluarkan tongkat sihir norak. “Ente-ente menggedor-gedor pintu rumah orang dengan anarkiz, padahal ente-ente ini kan wanita? Heran ane, kok bisa-bisanya ente-ente yang cantik-cantik dan imud-imud ini ngetok pintu orang kayak kuli bangunan?”
Penonton tertawa terbahak-bahak. Habis, cara ngomongnya konyol banget sih. Jared hebat juga nih.
“Yang kedua. Kok bizaaaaaaa ente-ente ini tak tau ane? Dirumah ente-ente ini emang tak ada televisi apa? Ane ini sering sekali nampang di TV. Ane sering masuk infotainment,” kata si sosok berjubah sambil mengayun-ngayunkan tongkat sihirnya yang menggelikan itu. “Ane tuh peri yang paaaaaaaling terkenal, banyak zekali yang ngefans sama ane. Ane jaaaaauh lebih terkenal daripada Julia Robeks, Lady Gagak, Miley Citrus… Apalagi Justin Bleber, beeeeeuh! lewat dia, lewat!”
Penonton tertawa lagi.
Tapi rupanya omongan si sosok berjubah bawel ini tak putus sampai disitu. Well, memang akan ada banyak sekali yang bakal dia ucapkan pada pahlawan kita. Dia dan para pahlawan kita akan bercakap-cakap yang panjang. Cinderellaknat, Drizellalat, Anastasialan, ibu tiris, dan si bawel ini bakal adu lawak. Who will win? “Perkenalkan, ane… Ibu perih! Ibu peri paling mantap sejagat raya, abad ini! Paling cantik juga dong paztinya…”
Cinderellaknat batuk-batuk. “Kalo ngomong pikir dulu, omongan lu bikin gua batuk,” katanya dengan suara yang diserak-serakin. “Gua punya kemampuan khusus, mendeteksi omongan-omongan yang kelewat salah dengan batukan.”
Entah kenapa, tidak ada yang merespon.
“Oh ya, madam perih,” kata Drizellalat. “Madam kenapa pake maskara btw?”
Ibu perih geleng-geleng kepala. “Aduh aduh, ente ini lugu sekali sih, masa ente tak bisa nebak?” katanya. “Ane mau kerja di sarang banci, kecrek-kecrek di lampu merah, abis itu mau pemotretan deh di neraka.”
Anastasialan nyengir. “Oh gitu? Tolong sampein salam gua sama temen gua dong di neraka, namanya Rendy Iqbal.”
Penonton kecuali Andre dan Icha—karena nggak tau Rendy Iqbal itu siapa, tertawa kembali. Ibu tiris, Cinderellaknat, dan Drizellalatpun tertawa juga.
“Ente bahlul ye! Sialan! Untung aja ane bukan peri beneran, coba kalo beneran… udah ane sihir ente jadi kodok ijo bergelambir lengket jelek menjijikkan!” seru ibu perih. “Ya nggaklah! Ane bukannya mau kerja di sarang banci, kecrek-kecrek di lampu merah, apalagi pemotretan di neraka! Ane mau ke pesta di istana! Makanya ane dandan biar makin cantik! Gimana sih nih ente dengan lalat di kepala!”
Sekarang ibu tiris yang nyengir. “Wah! Kebetulan banget nih, madam! Saya dan anak-anak saya juga mau ke pesta itu nih,” katanya dengan penuh kemerdekaan. “Barengan bisa kali, madam… madam kalo kemana-mana naik apa? Terbang? Limousine? Jet? Kereta kencana?” tanyanya penuh harap.
Ibu perih cekikikan sambil geleng-geleng kepala. “Biasanya sih bemo, atau nggak dokar, kol juga pernah,” katanya dengan penuh percaya diri. “Tapi paling banter sih odong-odong ya.”
“For God’s sake, gua jauh lebih suka piring terbang.” Kata Cinderellaknat.
Ibu tiris menoleh ke arah Cinderellaknat. “Piring terbang kalo bayar apa enaknya? Ogah ah, mending odong-odong tapi gratisan deh bareng madam perih.”
Anastasialan dan Cinderellaknat menatap Drizellalat dengan tatapan benci. Jika nanti jadinya memang naik odong-odong ke istana kan gara-gara Drizellalat.
“Hey, don’t look at me like that,” kata Drizellalat. “Emang susah kalo punya emak miskin, jangan salahin gua dong. Emang emak miskin gara-gara gua apa?”
“Iya! Gara-gara lu nggak mandi makanya emak jualan makanan jadi bau, penuh laler! Akhirnya nggak laku! Bokek dah emak!” gerutu Anastasialan dengan kasar.
“Astaga Anastasialan,” kata Drizellalat sambil menutup mulutnya sendiri. “Emak jadi bokek karena elu ngedamprat siapapun yang lewatin emak tapi nggak mau beli jualannya! Akhirnya jadi nggak ada yang mau beli jualannya emak lagi! Boro boro mau beli, orang ada anjing gilanya! Bergaun pink lagi!”
Penonton tertawa sekali lagi.
“Het zudah, zudah, zudah,” kata ibu perih sambil mengetukan tongkat sihirnya ke kepala Anastasialan dan Drizellalat. “Ane tak mau ada keributan di rumah ane ini. Ceritakan dengan jelaz dan benar, apa mau ente-ente ini kemari? Kenapa ente-ente bisa tau rumah ane tapi tak tau ane? Edan kali ente-ente ini.”
“Jadi gini, madam perih,” kata Cinderellaknat. “Kita berempat nih, kan orang-orang kurang kerjaan nih, makanya daripada nganggur bengong makan angin lumutan jamuran di rumah, kita berempat mutusin buat pergi ke pesta di istana. Kita mau party sampe pagi!”
“Tapi, tapi, kan dari rumah kita berempat ke istana kan jauuuuuh banget, mau nggak mau mesti pake kendaraan dong masa jalan kaki sih capek duluan dong entar nggak bisa party deh,” kata ibu tiris. “Cuma kan kendaraan umum sekarang mahal, dan saya tak punya uang sepeserpun nih, madam! Nah kebetulan, anak saya yang bau, jorok, dan berlalat ini tau rumah madam! Madam kan peri paling hebat, bisa ngabulin permintaan apa aja, nah makanya, kita berempat kesini mau minta bantuan madam.”
Ibu perih mengangguk-nganggukan kepalanya. “Ya ya, I see, I see,” katanya. “Ane memang bukan madam Sahara, tapi ane bisa bantu ente-ente semua. Yazudah, ente-ente ikut ane aja naik odong-odong ke istana, biayanya ane yang tanggung. Ente-ente tinggal duduk manis aja.”
“Yes! Yes! Yes! Jadi party di istana sampe pagi!” seru ibu tiris kegirangan. “Dan yang lebih nyenengin lagi daripada itu, gratis coy! Gratis! Nggak pake bayar! Ahoy!”
Semuanya nampak bahagia, kecuali Cinderellaknat. Dia tidak rela jika harus naik odong-odong ke istana. Cewek laknat ini ngakunya ke temen-temennya dia itu tajir, padahal aslinya tidak. Dia juga bilang kalo dia tuh ke istananya pake limousine, kenyataannya pake odong-odong tapi. Menyedihkan sekali.
“Heits, tapi ente-ente jangan terlalu girang dulu,” kata ibu perih sambil mengangkat tangannya. Karena jubahnya kebesaran, otomatis jubah itu turun menuruni tangan ibu perih. Alhasil, tangannya yang cungkring bak tiang dicat putih mulus itu keliatan kemana-mana. Para penontonpun terkesima. Belum pernah mereka melihat tangan cowok sebagus itu. Kecuali Rahel, karena dia sudah melihatnya setiap hari. “Sorry ye, ada kompensasinya tuh bantuan ane.”
Sekejap ibu tiris nampak kecewa. Padahal dia pikir semuanya udah beres, eh taunya belom. Ibu perih minta kompensasi atas bantuannya—yang artinya sangat buruk baginya. Meskipun mungkin ibu perih hanya meminta satu barang saja darinya, tetap saja dia khawatir sekali. Masalahnya, ibu tiris itu benar-benar tiris. “Apa tuh, madam? Yah madam mah, jangan merusak kesenengan saya dong! Saya kan udah seneng banget bisa dibantuin madam, kenapa harus ada kompensasi segala sih, madam perih?”
“Ckckckckck,” gumam ibu perih sambil geleng-geleng kepala. “Ane tak habis pikir, kenapa ente itu bisa sebegitu miskinnya? Tapi ya zudahlah, itu bukan urusan ane. Denger ya, ente tenang aja, kompensasi yang ane minta sama sekali nggak ada hubungannya dengan material. Ane cuma minta ente-ente ini temenin ane dandan dan ganti baju.”
Ibu tiris nyengir. Kebahagiaannya kembali lagi. “Woh! Beres, madam perih yang paling manis paling cantik paling hebat paling segala-galanya deh!”
Anastasialan mendesah. Kemudian dia berbalik arah, menatap ke arah penonton. “Kadang, daku suka menatap langit malam. Daku melihat bintang, dan daku bertanya, “Kenapa nasib daku seperti ini?”” katanya dengan penuh kemelasan. Lantas penontonpun tertawa.
“Mengapaaa aku beginiii? Jangan kaaau, mempertanyakan…” sambar Drizellalat sambil menepuk sebelah pundak Anastasialan. “Bila ku mati, kau juga mati. Tanpa tersentuh, cuma aku!” serunya sambil menggerakan badannya ke kiri dan ke kanan bersama Anastasialan yang masih saja meratapi nasibnya yang malang.
Namun, tiba-tiba Anastasialan tampak mengendus-ngendus. Dahinya mengkerut. Tak lama kemudian, dia menutup hidungnya dengan tangan. “Hmph, bau apaan nih? Hegh! Bau banget nyet! Huwekh, mual gua nih!” serunya.
“Oh iya! Maaf ya saudaraku yang malang,” kata Drizellalat sambil melepaskan tangannya dari pundak Anastasialan. “Tadi pagi gua abis makan ikan asin campur bawang bombay abis itu gua makan pete pake jengkol minumnya kopi item dan gua nggak sikat gigi.”
Anastasialan belaga muntah. “Astaga, Drizellalat! Jorok banget sih lu jadi orang! Udah nggak pernah mandi, nggak pernah sikat gigi, nggak pernah ganti baju, melihara laler lagi! Bau lu tuh nggak keruan, bikin masalah kadang-kadang!”
“Haaaa biarin aja, sialan,” kata Drizellalat sambil mendekati Anastasialan. Sengaja biar dia tambah kebauan dan menderita. “Daripada cewek sangar dan setreng yang bahkan lebih kuat dari cowok? Ngomongnya kasar, kerjaannya ngedamprat orang, suka ngerusakin barang, tenaganya kayak kuli bangunan dan centeng…”
“Yaaa biarin aja!” seru Anastasialan, masih menutup hidungnya. “Mendingan cewek jagger, setreng, sangar, daripada cewek jorok, bau, kotor, hih! Amit-amit jabang bayi dah!”
“Heh! Ente dengan lalat di kepala dan ente yang zangar!” seru ibu perih yang ceritanya, dari kejauhan. Drizellalat dan Anastasialanpun menoleh ke belakang, ke arah ibu perih. “Sini ente berdua, kita talking-talking berlima.”
Anastasialan dan Drizellalat saling menatap satu sama lain. Drizellalat lalu mengangkat bahu. Anastasialan mendesah sekali lagi sebelum akhirnya berjalan berdua Drizellalat menuju ke arah ibu perih.
Ada kursi tak jauh dari ibu perih. Dia pun duduk manis di atas kursi itu. Cara duduknya seperti wanita, kaki kanan disampirkan di atas kaki kiri… ya begitulah pokoknya. Para lelaki juga ada yang duduknya seperti ini sih, tapi cara duduk ini umumnya buat wanita. Nah karena cara duduknya yang seperti itu, jubahnya yang oversized turun menuruni kaki-kakinya. Uh, lantas, kaki-kaki Jared—yang berarti kaki-kaki ibu perih, terekspos bahkan sampe paha ke muka umum. Sekali lagi, para penonton kecuali Rahel terkesima melihatnya. Begitu ramping, begitu putih, begitu mulus… idaman mereka semua, para cewek-cewek asli. Para penonton jadi minder sendiri, melihat kaki ibu perih yang begitu bagus. Rahel sih sudah biasa banget ngeliatnya. Tubuh Jared itu bagaikan acara wajibnya tiap hari. Rasanya justru aneh jika sehari saja tidak melihatnya, entah tidak melihat lengan ataupun pahanya. Ada yang kurang gitu kayaknya.
Ibu perih tersenyum bangga melihat para penonton yang begitu terpukau melihat kaki-kakinya. “Seperti yang ente-ente semua ini lihat, ane itu punya tubuh yang begitu bagus, putih, mulus, sensitif, dan rapuh. Makanya, jika terkena sediiikit sentuhan saja…” katanya sambil menyentuh tangannya dengan sedikit telunjuk. Mendadak wajahnya berubah jadi aneh. Kedua matanya melotot tajam, membuat orang-orang ngeri. “PERIIIIIIIIH!!!!!!!!! AAAARRRRGH!!!!!!!!!! PERIH, PERIH, PERIIIIIIIIIHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!” jeritnya keras-keras.
Cinderellaknat tersenyum. “Ternyata masih ada ya yang lebih goblok daripada Drizellalat.” Katanya dengan nada tak bersalah. Penonton ngakak.
Ibu tiris menenangkan dirinya sendiri. “Heh, ente Zimbabwe-Blonde, ente jangan sembarangan ngomong ye,” katanya sambil menunjuk Cinderellaknat. Kali ini tawa penonton lebih keras daripada sebelumnya. “Ane tak goblok! Ane hanya menunjukkan kepada ente, itu dia sebabnya ane diberi julukan ibu perih.”
“Oooooooh…” gumam keempat “cewek-cewek” pahlawan kita.
Ibu perih berdehem. Berusaha untuk terlihat cool setelah tadi ke-cool-annya hancur berantakan. “Ane akan menjelaskan sadikit tentang ente-ente berempat ini dengan tongkat magic kepunyaan ane ini, mezkipun ane sama sekali tak tau ente semua zebelumnya.” Katanya sambil memamerkan tongkat sihirnya yang jelek dan norak.
Anastasialan melipat kedua tangannya. Dia benci sekali melihat tongkat sihir si ibu perih. “Okay, let us see what that-cheesy-thingy can do.” Katanya dengan nada menantang. Cheesy disini maksudnya norak.
Ibu perih mengerutkan dahi. “Zialan ente! Ente jangan bicara begitu, dong! Ente jangan menghina tongkat sihir ane!” serunya dengan nada tinggi. “Jangan meremehkan tongkat sihir ini! Emang zih ane akuin norak gitu jelek abal tapiii? Tongkat zihir ini kekuatannya pol-polan, boy!”
“Gua boleh nanya kagak?” tanya Drizellalat sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ibu tiris dan Anastasialan yang berada tepat disebelahnya menutup hidung karena ketiak Drizellalat baunya betul-betul tidak sedap.
“Boleh aja sih, ente dengan lalat di kepala,” Jawab ibu perih. “Oh iya, ane bisa hilangkan itu lalat-lalat menjijikkan yang terbang-terbang di kepala ente. Ente mau tak?”
Drizellalat menggeleng. “Tak, terima kasih,” jawabnya dengan mantap. “Laler-laler ini adalah ciri khas sekaligus peliharaan kesayangan gua, bagian hidup gua, jadi gua nggak bisa ngebiarin si Chica dan Checak diilangin gitu aje.”
Ibu perih tertawa. “Haduh haduh ente ini ada-ada saja, masa laler namanya Checak? Mungkin benar kata si Zimbabwe-Blonde tadi, ente memang gebleg! Hahahahahahaha!”
“Iya tapi Anastasialan lebih keder lagi, masa punya hamster namanya Panda? Gila apa dia? Bego nggak tuh?” kata Drizellalat, membela diri.
“Ya kan elu sendiri juga gitu, dudul!” seru Anastasialan sambil menoyor kepala kosong Drizellalat. “Oneng banget sih lu jadi makhluk hidup, makanya keramas dong! Cuci tuh kepala biar bisa mikir!”
“Heh sudah sudah sudah, ente berdua berenti adu bacot! Ane paling tak suka kalo di rumah ane tercinte ini ada keributan, apalagi kalo keributannya tak penting,” kata ibu perih sambil melerai Anastasialan dan Drizellalat. “Oh ya, apa tadi yang mau ente tanyakan pada ane, wahai ente dengan lalat bernama Checak di kepala?”
Drizellalat diam sejenak. “Kalo emang tuh tongkat jelek sehebat yang lu bilang, terus kenapa rumah lu bobrok begini? Dan kenapa sosok lu aneh gini kagak sebagus yang gua kira? No offense yak, madam jangan marah.”
“Hohohohoho!” ibu perih malah tertawa seperti sinterklas. “Ente mau balaz dendam rupanya ya tsk tsk tsk, tak apalah, ane zawab pertanyaan konyol ente. Ane emang sengaja membuat rumah yang bobrok begini supaya tak ada yang duga kalo peri hebat dan terkenal zeperti ane tinggalnya dizini, begitu.”
“Oh gitu ya,” kata Cinderellaknat. “Terus kenapa sosok lu jelek begini? Apa tongkat sihir lu itu nggak sanggup bikin lu jadi cantik?”
“Uuuuh anak tiriku, jahat sekali kamu nak,” kata ibu tiris dengan nada prihatin. “Itu yang tadi jahat banget sumpah dah serius.”
Cinderellaknat malah tersenyum. “Jangan gitu dong mih, mamih nggak inget namaku apa?”
“Soal itu, no comment,” Kata ibu perih, menjawab pertanyaan Cinderellaknat yang tadi. “Oke, sekarang ane mau menyebutkan sedikit tentang ente berempat melalui tongkat sihir ane yang hebat tetapi selalu jadi bahan olokan.”
Keempat pahlawan kita jadi merasa tak enak.
“Abrakadabra!” seru ibu perih sambil mengayun-ngayunkan tongkat sihirnya ke arah keempat “cewek-cewek” andalan kita. “Yang pertama, ente Zimbabwe-Blonde. Nama asli ente Cinderellaknat, karena enteee… memang sangat amat laknat. Kulit ente hitam tapi rambut pirang, kontras sekali. Heran ane. Kata-kata ente menyakitkan, ente suka bertindak yang tidak-tidak, ente sangat amat belagu. Ente tidak bisa menerima kenyataan bahwa sekarang ibu tiri ente jatuh miskin karena jualannya tidak laku. Jadi ente suka bohong ke temen-temen ente, ente mengaku kaya raya.”
Cinderellaknat bertepuk tangan. “Betul sekali!” serunya bangga.
“Selanjutnya, ente dengan lalat bernama Checak di kepala. Nama asli ente Drizellalat, karena ente memiliki lalat peliharaan yang selalu berputar-putar di atas kepala kosong ente. Ente sangat terkenal dengan bau badan dan mulut yang betul-betul tak sedap. Ente tak pernah mandi, sikat gigi, ganti baju, kumur-kumur, bahkan cuci muka sekalipun. Ente mengalami kesulitan berfikir karena kepala ente terlalu kotor, maka entepun menjadi bloon. Ente juga merugikan ibu ente sendiri karena ente membuat semua orang jijik dengan bau ente sehingga jualan ibu ente tak laku.” Jelas si ibu perih panjang lebar.
Drizellalat hanya melongo mendengar itu semua, sepertinya kata-kata panjang ibu perih barusan itu terlalu berat untuk otak kosongnya. Sehingga tidak bisa di proses dan dia jadi tidak bisa memberikan tanggapan terhadapnya.
“Ckckck, begitu tuh kalo otak terlalu kosong, nggak ada isinya.” Kata Anastasialan sambil geleng-geleng kepala.
Ibu perih menunjuk ibu tiris dengan tongkat sihirnya. “Lalu, giliran ente, ibu mizkin,” katanya. “Nama asli ente yang sebenar-benarnya adalah Lady Tremaine, tapi karena ente jatuh miskin maka ente dijuluki sebagai ibu tiris yang artinya tak punya uank. Hidup ente sangat hancur berantakan karena ente tak funya apa-apa. Ente menggantungkan hidup ente pada orang lain saking tirisnya ente itu. Ente juga suka sekali pada kata-kata “gratis” dan “diskon”. Selain itu, ente juga paling benci dengan bayar-bayaran dan kompensasi, karena itu artinya ente harus melakukan pengorbanan padahal? Tak ada lagi yang bisa ente korbankan. Paling-paling, diri ente sendiri yang bisa dikorbankan, hahahahaha.”
Ibu tiris lantas merengut. “Nyebelin sih, tapi kenyataannya emang begono.”
“Dan yang paling terakhir adalah… ente yang sangar dan jahat itu,” kata ibu perih sambil menunjuk Anastasialan. “Nama ente itu Anastasialan, karena pasti setiap orang yang berbicara dengan ente akan selalu mengucapkan “sialan!” saking menyebalkannya ente itu. Ente orangnya sangat amat frontal, tak feduli apa yang difikirkan orang tentang ente, ngomongnya suka sembarangan dan kazar, doyan ngedamprat orang, suka sekali menyakiti hati orang, pendendam, kuat, sangar, seram, seperti laki-laki. Campuran antara kuli bangunan dan tukang pukul… ya, itulah ente.”
Anastasialan mencibir. “Cih, sotoy banget sih lu! Salah semua tuh!” gerutunya. “Nggak ada yang bener sedikitpun! Tongkat sihir lu nyampah! Buang aja tuh ke got terdekat sana sebelum terlambat!”
“Sudahlah, sialan, jangan lari dari kenyataan deh,” kata Drizellalat sambil menepuk sebelah pundak Anastasialan. “Sekalinya sialan ya tetep sialan sampe kapanpun juga.”
Percaya atau tidak, Anastasialan diam saja. Gabe kehilangan ide untuk membalas perkataan Cove barusan.
“Zebentar ya kawan-kawan, ane mau ganti baju dulu.” Kata ibu perih. Lalu dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Andre… lalu memasukinya. Andre jadi terheran-heran sendiri melihatnya. Kenapa tokoh paling aneh itu harus masuk ke kamarnya?
“Lah kok? Kok dia masuk ke kamar aku sih? Mau ngapain dia?” tanya Andre dengan nada panik dan khawatir.
Vero tersenyum. “Mungkin dia mau pake kostum peri yang lain punya kamu, yang lebih bagus daripada yang tadi.”
“Oooh iya, emang ada sih.” Gumam Andre sambil mengingat-ngingat.
Cinderellaknat berjalan bolak-balik kesana kemari seperti orang kesasar. Wajahnya menunjukkan ke tidak percayaan. “Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin! Tamat sudah riwayat gua, tamat sudah hidup Cinderellaknat! Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” serunya seperti orang-orang di sinetron.
Anastasialan mengerutkan dahi sambil menoleh ke arah Cinderellaknat. “Berisik lu, laknat,” gerutunya. “Hidup lu sih emang udah tamat dari awal juga… kenapa lu ngomong gitu tadi btw?”
Cinderellaknat diam sejenak. “Gubrak,” pikirnya. “Apaan sih lu sialan, nyamber aja,” gerutunya kemudian. “Siapa yang butuh pendapat lu lagi? Gua ngomong gitu tadi gara-gara gua harus ke istana naik odong-odong. Omg gimana kalo diliat orang-orang nanti? Pamor gua bisa turun drastis!”
“Udahlah laknat, nggak usah bicara soal pamor-pamoran atau apalah itu,” kata Drizellalat yang sama sekali tak peduli soal itu. “Kayak gua dong, selow. Mau pamor gua terendah di kampung ini, gua kagak peduli coy! Yang penting kan kita jadi ke pesta, yegak? Lu bayangin aja, kita nanti bisa ketemu sama vokalisnya Kangen Band yang ganteng itu! Ganteng parah gila, saking gantengnya sampe nggak bisa melek gua.”
Penonton berkelakar.
“Nanti gua harus minta tandatangan sama foto bareng! Kapan lagi coba bisa ketemu langsung sama vokalis terganteng dan terkeren di seluruh dunia itu? Gua cium dah kalo perlu,” seru ibu tiris dengan antusias. “Oooh Andika… ai lop yu so mac.”
Cinderellaknat mengerutkan dahi tanda heran. “Gua heran, kok ada ya manusia seganteng dan secool itu? Artis-artis Bollywood sih lewaaaaaaat!”
“Suaranya itu loh… beuh, kalo gua denger suaranya, lemes badan gua langsung. Rasanya badan gua meleleh…” kata Anastasialan. “Eh tapi band-band lainnya yang di pesta juga nggak kalah hot! Gua juga doyan sama Wali, ST12, Garnet Band, Hancur Band! Mantep-mantep semua tuh! Apalagi Hancur Band, dari namanya aja udah ketauan kalo band itu nggak hancur! Hahahaha!”
“Setuju!” seru Drizellalat sambil nyengir. “Raja hebat bener dah, bisa ngundang band-band kelas satu kayak gitu ke pestanya. Dibayar berapa tuh mereka semua? Pasti mahal banget dai.”
Anastasialan tersenyum meremehkan. “Please deh, Drizellalat, yang bener aja lu? Ya dia bisalah! Raja kan tajeeeeeeeeer elah gimana sih lu payah banget dasar otak udang.”
“Mending gua otak udang, daripada lu nggak punya otak.” Balas Drizellalat.
Penonton tertawa lagi.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Tak lama setelah itu, sosok ibu perih muncul dengan pakaian yang jauh lebih bagus, seksi, dan minim. Baru kali itulah Jared memamerkan tangan dan kakinya besar-besaran. Baju yang dikenakannya sekarang itu baju ala Tinkerbell, cuma warna biru. Para pemeran lainnya serta para penonton terperangah melihatnya.
“Ayo ladiez, kita berangkat ke istana pake odong-odong! Let’s go!” seru ibu perih dengan penuh semangat.
Para ladiez yang disebut ibu perih tadi masih diam terpaku melihatnya dengan baju baru.
Ibu perih yang ceritanya sudah setengah jalan menuju pintu keluar rumah menengok kembali ke belakang. “Apa yang ente-ente lakukan? Kita hampir telat! Cepat, jangan melamun teruz! Nanti kalo kemasukan setan, ane yang repot! Dandanan dan baju ane yang cantek ini bisa ruzak! Kalo sampe itu terjadi, ane kutuk kalian semua! Ayo, cepatan!”
Lantas para ladiezpun berjalan menuju ke ibu perih dan kemudian mereka semua resmi keluar dari rumah ibu perih yang ternyata memang sengaja dibuat hancur begitu. Ternyata si supir odong-odong langganan ibu perih belum datang. Jadi masih harus nunggu lagi, padahal pesta dimulai nggak lama lagi.
Ibu tiris menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari si supir odong-odong. “Mana supir odong-odongnya? Belom dateng ya? Padahal pestanya kan bentar lagi.”
Ibu perih geleng-geleng kepala. “Haduh haduh haduh, si pangeran nampan lama kali ini belom dateng-dateng juga, kemana aja zih dia? Anak raja kok jadi zupir odong-odong aja nggak becuz? Dazar payah.”
Belum sempat ada yang merespon, Brody yang memakai kostum pangeran mendadak muncul dari shortcut menuju lantai atas seperti yang dilalui Jared tadi. Ceritanya dia anak raja yang aneh. Dia sudah kaya raya tetapi malah memilih menjadi supir odong-odong yang bayarannya murah. Mungkin beberapa hari lagi dia akan memilih mati daripada hidup. “Maaf, ibu perih! Tadi saya nganterin banci-banci sama tukang balon dulu, makanya lama!”
“Apa? Ente bahlul! Masa ente lebih mengutamakan banci-banci dan tukang balon dulu daripada ane? Ente gila ya? Emang yang order ente duluan ziapa zih? Yang bisa ngebayar ente lebih mahal juga ziapa? Bodoh kali ente ini, pantas aja ente jadi zupir odong-odong,” omel ibu perih. “Zudahlah, intinya ente sudah datang sekarang, tapi gara-gara ente terlambat, bayaran ente ane potong.” katanya kemudian.
“Ya sebenernya sih yang order saya duluan dan yang bisa bayar saya lebih mahal sih banci-banci dan tukang balon tapi yaudahlah nurut aja kasian.” Kata pangeran nampan dengan santainya. Penonton tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Jika Brody tidak bisa melawan Jared di kehidupan nyata, mungkin dia bisa melawannya di drama ini.
Ibu perih berusaha mengatur nafasnya. “Zialan! Ente jauh lebih zialan daripada si Anastasialan! Terkutuk, ente, pangeran nampan!” omel ibu perih.
Brody alias pangeran nampan tidak membalas. Dia langsung saja membelakangi Jared alias ibu perih, dan ibu perih meletakkan kedua tangannya pada kedua pundak pangeran nampan. Ceritanya ibu perih lagi naik odong-odong. “Ayo apa yang ente-ente tunggu? Cepet naik odong-odong ini! Ente-ente mau ane tinggal?”
Akhirnya keempat “cewek-cewek” pahlawan kita mengikuti si ibu perih—memegang kedua pundak orang yang didepan. Setelah itu selesai dilakukan, odong-odongpun siap melesat ke istana.
“Tancap, bang!” seru ibu perih.
“Tut tut… gejes gejes gejes…” pangeran nampan malah menirukan suara kereta. Yasudahlah, suka-suka dia saja.
Ceritanya, odong-odong naas ini melewati banyak sekali rintangan selama perjalanan menuju ke istana. Tak hanya itu, odong-odong heboh inipun juga menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Padahal, dalam kenyataannya, odong-odong itu cuma bergerak mondar-mandir kesana kemari, tidak lebih. Para pemeran berlarian sambil memegang pundak orang yang didepannya, jadi kayak lagi main ular naga panjangnya, soalnya ceritanya kan odong-odongnya ngebut gara-gara terlambat. Penonton terpingkal-pingkal melihatnya. Yang mau ke pesta di istana sih biasanya naik kendaraan umum yang wajar, bukan dengan odong-odong yang begitu, makanya jadi pada heran, kok ada gitu ya odong-odong lewat. Mau kemana coba?
Akhirnya odong-odong itu sampai di istana. Ceritanya, istana sudah ramai sekali. “Cewek-cewek” andalan kita terlambat sedikit. Band unggulan mereka semua yaitu Kangen Band, sudah mulai memainkan lagu andalan mereka yang berjudul “D.O.Y”.
Anastasialan melepaskan tangannya dari pundak Cinderellaknat. Berarti dia sudah turun dari odong-odong. Ceritanya dia masih di halaman istana bersama yang lainnya. “Aduh! Kita telat, kawan-kawan! Kangen Band udah nyanyi! Oooooooh suaranya… nggak nahan bo gila!”
“Ayo buruan masuk! Udah banyak orang nih! Nanti kita nggak bisa ngeliat mukanya si Andika yang gantengnya setengah mati itu!” seru ibu tiris.
Lalu para pahlawan kita beserta ibu perih dan juga pangeran nampan—karena odong-odong pesanan ibu perih adalah order terakhirnya untuk hari itu, berlari memasuki istana untuk melihat aksi Kangen Band. Mendadak, muncullah Leif yang masih mengenakan kostum pengawal istana, membawa sisir sebagai mikrofon. Ceritanya dia adalah Andika Kangen Band. “Coba kau pikirkan, coba kau renungkan, apa yang kau inginkan akan aku berikan…” dia bernyanyi dengan seksama di depan para pahlawan kita, ibu perih, dan pangeran nampan.
“Aaaaaa Andika! Andika!” seru Drizellalat, Cinderellaknat, ibu tiris, ibu perih, dan Anastasialan sambil mengulurkan tangan. Ya masa pangeran nampan mau begitu juga?
Andika dengan riangnya menjabat tangan-tangan yang ter-ulur bagai hantu-hantu dalam penjara di dalam permainan rumah hantu sambil terus menyanyikan lagu D.O.Y yang amat sangat nge-hits di kampung itu.
Ihsan kembali masuk ke lokasi drama. “Akhirnya, merekapun berpesta hingga puas sampai pagi. Bahkan ibu tirispun benar-benar mencium Andika Kangen Band. Pada akhirnya juga, mereka semua dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya setelah penderitaan yang tiada henti. Tamat.”
Kemudian para pemeran berhenti beraksi. Mereka maju kesebelah Ihsan, ada yang di kirinya dan ada yang di kanannya sehingga Ihsan pas di tengah-tengah. Kedelapan cowok-cowok itu lalu merunduk bersama-sama, bangunnya pun bersama-sama juga.
Para penonton bertepuk tangan sambil berdiri dari duduknya. Mereka semua tersenyum senang. Bahkan Andrepun tersenyum lebar, dia sangat terhibur sekali. Sekarang dia sudah benar-benar melupakan masalah yang membuatnya kesal tadi.
***
Dengan berakhirnya drama Cinderellaknat yang menghebohkan tadi, maka berakhir juga bab 20 ini. Untuk bab selanjutnya, bakalan diceritain soal persiapan The Comicses untuk gig pertamanya. Mulai dari nyari salon, nyari tempat pembuatan kaos, nyari tempat gig, promosi gig, dan lain-lain. Guest star yang muncul juga lebih banyak. Jadiiiii? Ikutin terus cerita tentang band remaja yang labil ini, see you on the next chapter! Ciao!
0 opinions:
Post a Comment