June 3, 2010

Bab 21

Bab 21
4x4

Singkat cerita, The Comicses berhasil membawakan lagu Jangan Menyerah yang dinyanyikan oleh D’ Massiv dengan sempurna, selain itu mereka juga telah berhasil meng-cover sejumlah lagu-lagu yang sudah ada sebelumnya. Mereka juga sudah membuat video klip amatir untuk di upload ke YouTube dan merekam demo CD yang akan disebar saat gig yang akan dilaksanakan sebentar lagi.Segala proses-proses inipun juga tidak berjalan semudah bernafas, dibutuhkan perjuangan yang keras agar semuanya bisa berjalan lancar. Bahkan Brody yang dicap anak alim saja harus menumpuk banyak sekali kebohongan-kebohongan pada orangtuanya agar bisa terus mengikuti proses-proses yang ada. Brody tahu, berbohong itu sangatlah tidak baik, tapi menjalani kegiatan band dengan banyak sekali teman-teman baru itu telah membutakan kealimannya. Dia lebih memilih berbohong terus menerus agar bisa mengikuti kegiatan band ketimbang mengambil resiko jika mengatakan yang sejujurnya. Seringkali dia mendapat teguran dan teguran dari kedua orangtuanya, mereka khawatir nilai Brody akan memburuk seiring dengan kesibukannya akhir-akhir ini. Yah, mereka juga sedikit curiga sih, tapi karena nilai-nilai Brody baik-baik saja dan Brody lihai sekali dalam mencari-cari alasan, kecurigaan itupun akhirnya sirna. Asal Brody tetap bisa mendapat nilai bagus, dia bisa terus menjalani kebohongan-kebohongannya.
Dan bukan hanya Brody saja yang menemui masalah selama proses-proses ini berjalan. Gabe dan Leif juga sering bermasalah. Belakangan ini, Gabe dipaksa belajar bisnis oleh orangtuanya, karena orangtua Gabe menghendaki, bukan, memaksa Gabe untuk menjadi seorang bussinessman. Gabe disuruh mengambil jurusan bisnis saat dia kuliah nanti. Sebetulnya Gabe tidak suka dengan hal ini. Tentu saja, siapa sih yang suka bila masa depannya ada yang mengatur? Tidak ada. Yang berhak mengatur dan menentukan masa depan seseorang adalah orang itu sendiri. Makanya, Gabe seringkali mengeluh pada teman-temannya soal pemaksaan ini. Padahal tadinya tidak ada masalah sama sekali, eh lama-lama Gabe harus berbohong juga agar bisa terus mengikuti kegiatan band, sama seperti Brody. Habis, menurutnya menjadi anak band itu jauh lebih menyenangkan ketimbang jadi seorang bussinessman. Berkutat di dunia permusikan jauh lebih menarik minatnya daripada berkutat di dunia keuangan.
Kalau Leif lain lagi. Sebetulnya, masalah anak ini sih tidak seberapa bila dibandingkan dengan Gabe dan Brody. Orangtuanya, terutama ibunya, hanya sekedar mengeluh saja. Mereka mengeluh sejak Leif dan Vero disibukkan dengan kegiatan band, Leif dan Vero jadi jarang sekali menghabiskan waktu bersama keluarga. Memang benar sih. Weekend yang ada selalu mereka berdua habiskan bersama dengan teman-teman dari The Comicses, begitulah seterusnya. Akhirnya, jika Leif dan Vero ingin tetap mengikuti kegiatan-kegiatan band, mereka berdua harus diantar kesana-sini oleh ibunya yang bisa menyetir. Ayah Leif dan Vero sibuk sekali, jadi tidak bisa mengantarkan kedua bersaudara tidak kandung itu meskipun di akhir pekan. Meskipun tidak bisa menghabiskan waktu berempat dengan maksimal, setidaknya Leif dan Vero bisa menghabiskan perjalanan kesana kemari dengan sang ibu. Jadi, hanya dalam sejumlah perjalanan tertentu saja Leif dan Vero bisa bersama-sama dengan yang lainnya.
Selain itu sih, tidak ada masalah. Pierre adalah seorang anak yang memiliki kebebasan penuh. Dia memiliki orangtua yang lengkap, tapi seperti tidak memilikinya sama sekali karena saking sibuknya kedua orangtuanya tersebut. Sama persis seperti Jared dan Rahel. Cove juga bisa pergi kemanapun kapanpun sesuka hatinya karena orangtuanya juga memberikannya kebebasan walaupun tidak sibuk seperti orangtua Pierre dan Jared. Sementara orangtua Matt sangatlah mendukung posisi Matt sebagai manager band sehingga dia diperbolehkan mengikuti semua kegiatan-kegiatan band dengan santainya. Yang cewek-cewek sih tidak ada masalah sama sekali.
Berbagai konflik-konflik serta persoalan-persoalanpun ikut menyertai berjalannya proses-proses menuju karir yang sebenarnya ini. Jared sempat bersitegang dengan Brody karena Brody terus-menerus melakukan kesalahan, Jared juga hampir merebut posisi Leif sebagai gitaris karena dia sudah ketagihan bermain gitar, Gabe juga ingin merebut posisi Jared sebagai drummer karena dia sudah mulai kehilangan minatnya pada keyboard, Cove juga sempat bertikai sebentar dengan Pierre karena dia sebetulnya iri berat pada cowok tajir itu, Velope dan Matt juga sempat bertengkar karena berbeda pendapat tentang sejumlah hal, dan masih ada beberapa persoalan lainnya yang membelit keempat belas tokoh-tokoh cerita ini. Tapi, akhirnya, semua persoalan itu dapat terselesaikan dan semua proses-prosespun dapat dilalui dengan baik.
Hanya saja, The Comicses sama sekali belum di promosikan, juga belum melaksanakan gig apapun. Jadi, hanya orang-orang terdekat saja yang tahu soal band ini. Nah, pada pertemuan sebelumnya yang tidak diceritakan, keempat belas tokoh cerita ini ditambah Ihsan dan Icha, dibagi atas empat kelompok yang masing-masing terdiri dari empat orang yang memikul tugas yang berbeda-beda. Kelompok satu beranggotakan Velope, Matt, Brian, dan Gabe. Kelompok ini bertugas mencari tempat gig pertama dan juga mempromosikan gig tersebut—pokoknya mengurus penuh soal gig, deh. Kelompok dua anggotanya Ihsan, Jared, Dennise, dan Rahel. Kelompok ini bertugas mencari salon dan tempat pembuatan kostum untuk gig, serta mempromosikan The Comicses secara langsung. Anggota kelompok tiga adalah Pierre, Leif, Firrina, dan Icha. Kelompok ini tugasnya mempromosikan The Comicses di dunia maya. Sedangkan kelompok terakhir anggotanya adalah Vero, Viona, Cove, dan Brody. Kelompok paling bontot ini bertugas mendesain apapun yang bisa di desain untuk keperluan The Comicses.
Ternyata, selama ini Gabe, Cove, dan Pierre mampu menyetir. Jadi bukan cuma si gila Jared saja yang bisa. Tentu saja yang lainnya kecuali Icha dan Ihsan yang sudah merasakan betapa mengerikannya disetirin sama Jared langsung pada protes. Kenapa ketiga orang itu menyembunyikannya? Padahal kan kalo mereka bilang, tak harus selalu Jared yang menyetir, kan? Jadi orang-orang tak perlu menderita. Kalo Cove beralasan bahwa dia baru akan menyetir jika keadaan sudah betul-betul mendesak, jadi kalo keadaan baik-baik saja dia tidak akan menyetir. Begitu. Gabe malah lain lagi, dia bilang dia tidak begitu suka menyetir, dia lebih suka jadi penumpang saja. Lain Gabe, lain pula Pierre. Dia tidak suka jika harus menyetir siang-siang atau sore-sore, saat jalanan padat. Dia baru akan menyetir jika jalanan sepi dan cuacanya bersahabat. Berhubung di kelompok satu tidak ada yang bisa menyetir selain Gabe, mau tidak mau dia harus menyetir.

***

Ada yang berbeda dari isi mobil yang disetiri Jared. Biasanya, jika dia yang menyetir, tepat disebelahnya duduklah Rahel, saudara kembarnya yang dipaksanya untuk duduk sebagai asisten penyetir yang setia. Tapi dalam perjalanan kali ini, hal itu tidak berlaku. Yang duduk disebelah Jared adalah Dennise. Jangan bercanda deh, semua pembaca juga tau kalo Dennise itu bukan adik kembarnya Jared. Lantas, kenapa hal ini bisa terjadi? Apa Jared dan Rahel kali ini bertengkarnya serius? Tidak, tidak, bukan begitu. Ini adalah salah satu bagian dari rencana jahat Jared yang bermaksud nyomblangin Rahel dan Ihsan. Alhasil, atas paksaan Jared, Rahel duduk berduaan di belakang bareng Ihsan.
“Ehm,” Jared berdehem. Menyindir Ihsan dan Rahel yang tak kunjung saling bicara juga meskipun sudah duduk sebelahan. Radio sengaja dimatikan, Jared juga tak henti-hentinya memperhatikan sisi belakang dari kaca yang terpajang di tengah-tengah mobil—itu loh, yang tergantung itu, yang bisa digerak-gerakkan.
Dennise menoleh heran ke arah Jared. Dia merasa ada yang aneh pada anak itu. Ya maklum sajalah, Jared kan belum memberitahukan rencana percomblangannya itu pada siapapun, termasuk Icha, orang yang paling bisa membantu rencananya ini.
“Lu kenapa sih? Aneh deh.” tanya Dennise dengan nada heran.
Jared diam saja. Pandangannya lurus kedepan, ke arah jalanan yang basah bekas hujan. Nggak tepat banget kalo dia mau menjelaskan soal keanehan pada dirinya itu pada saat itu juga. Wah, bisa makin kacau rencananya yang memang sudah kacau dari awal ini.
Rahel mencibir kesal. Kenapa akhirnya kejadian yang paling dia takutkan terjadi juga? Sudah bertahun-tahun lamanya Jared tidak peduli soal love life-nya. Dan sekarang? Dia peduli. Dan bahkan bukan sekedar peduli. Peduli sekali bahkan, amat sangat peduli, terlalu peduli, lebih tepatnya. Dan itu buruk. Bahkan bukan sekedar buruk. Buruk sekali bahkan, amat sangat buruk, terlalu buruk, lebih tepatnya. Percaya deh, keburukan dicomblangin sama kakak kembar seperti Jared itu mencapai tingkat dewa.
Ada lampu merah. Sebuah mobil yang berada di depan mobil yang ditumpangi oleh kelompok dua ini berhenti. Maka, mobil kelompok duapun berhenti juga.
Diam. Suasana sepi. Hening. Sunyi. Senyap. Tidak ada suara sama sekali kecuali suara AC dan suara rintikan hujan.
“Sepi bener. Di ramein bisa kali, nggak pada gagu kan?” kata Jared, memecah kesunyian yang ada. “Eh Denn, lu tau salon bagus kagak di sekitar sini? Atau nggak yang deket-deket daerah sini?”
“Nggak tau gue Jare, abis gue nggak kenal daerah sini sih,” kata Dennise. “Udaaah jalan-jalan aja ngasal nanti juga ketemu, lagian nggak mesti nemu salon duluan kan? Nemu tempat buat kostum juga bisa.”
Rahel menatap keluar jendela, kedua bola matanya bergerak-gerak kesana kemari, mencari suatu tempat bernama salon atau tempat pembuatan pakaian agar bisa terbebas dari situasi tidak mengenakan yang dialaminya sekarang. Tapi, kedua tempat itu sama sekali tidak ditemukannya. Yang ada hanya minimarket, warung-warung kecil, dan kios-kios makanan.
Jared batuk keras-keras, menyadarkan Rahel dari pencariannya. Makin lama batuknya makin aneh, makin ngaco. Maksudnya nyuruh Ihsan dan Rahel untuk segera ngobrol tuh, tapi yang ada malah ganggu pendengaran orang.
“Lo batuk ya, Jare? Nih, kebetulan gue ada permen mint.” Kata Ihsan sambil memberikan sebuah permen Woods pada Jared yang tengah terbatuk-batuk maksa.
Dennise dan Rahel cekikikan melihatnya. “Mampus lu Jare, emang enak malu,” gumam Rahel dalam hati. Jared berhenti batuk. Lalu dia menatap permen Woods yang dipegang Ihsan sejenak. Sebenarnya kan dia sama sekali tidak batuk atau sakit atau apa, tapi kan, boleh juga makan permen mint untuk menyegarkan pernafasan dan melegakan tenggorokan. Ujung-ujungnya Jared mengambil permen itu. “Thanks ya. Makasih, San.” Katanya dengan kesal. Ihsan jadi bingung.
Lampu merah masih menyala. Suara nyaring bungkusan permen Woods yang dibuka Jared memecah keheningan yang terjadi lagi. Duaaaar! Petir menggelegar. Yang lainnya cukup kaget, tapi tidak dengan Jared. Hap! Dia memasukkan permen mint itu dengan enaknya kedalam mulutnya.
Dennise tahu bahwa ada sesuatu yang direncanakan oleh Jared. Dia tahu dari batuk-batuk Jared yang dipaksakan tadi. Itu adalah sebuah isyarat untuk sesuatu. Sesuatu yang diinginkan Jared untuk terjadi… ya, ya. Dia merencanakan sesuatu pada orang-orang belakang, dia menginginkan sesuatu terjadi pada kedua orang belakang itu. Tapi apa? Dennise memang tidak peka.
“Eh, lu kenapa sih? Daritadi rusuh banget,” tanya Dennise sekali lagi. “Liat-liat kebelakang terus… ada apa sih? Heran gue.”
Jared memegangi dahinya. “Kagak, gua cuma mau mengawasi adek gua tercinta aja,” jawabnya sambil terus mengisap permen Woods dari Ihsan tadi. “Ya kan dia cuma berduaan sama Ihsan di belakang, gua khawatir nanti Ihsan di apa-apain lagi sama dia.”
“Oh gitu ya? Kok lucu sih?” kata Dennise. “Seinget gue yang bikin mereka berduaan di belakang ya lo sendiri, Jare.”
“Cih, nggak ngerti juga dia, terpaksa deh pake isyarat,” gumam Jared dalam hati. “Oh ya! Emang, sorry ya, gua lupa! Gua yang bikin Ihsan sama Rahel berduaan di belakang!” serunya keras-keras.
Rahel mengerutkan dahi. “Apaan sih lu? Berisik!”
“Tin tin!” mobil yang di belakang mobil orang-orang ini membunyikan klakson, tanda menyuruh mobil keempat orang ini untuk segera maju. Rupanya lampu merahnya udah abis, udah ganti jadi hijau. Dan mobil kelompok dua ini masih aja terdiam, makanya disuruh maju.
Kali ini justru yang terjadi malah sebaliknya. Hanya Jared yang kaget, sementara yang lainnya tenang-tenang saja. Tapi, tunggu dulu. Kagetnya Jared sepertinya bukan kaget biasa. Dia bukannya langsung mengomeli si pembunyi klakson, dia malah membisu. Sementara klakson dibunyikan terus-menerus.
“Lampunya udah ijo tuh Jare, jalan dong, nanti merah lagi.” Kata Ihsan.
“Sialan,” kata Jared. Suaranya jelas, layaknya orang yang bicara normal senormal-normalnya. Tapi justru itu tidak wajar. “Klakson sialan! Gara-gara itu permennya ketelen! Anjaaaa sakit banget ini leher gua! Masih gede lagi permennya! Tai baba!” gerutunya sambil menjalankan mobil. Yang lainnya malah ketawa.
“Makanya, jadi orang jangan rese! Kena batunya kan lu hahaha!” seru Rahel.
Jared merengut. “Diem lu,” katanya. “Eh kalo bisa nyari salon sama tempat kostumnya yang jaraknya deketan yak biar nggak repot.”
“Iye iye, lu sendiri juga jangan aneh-aneh lagi, tiba-tiba batuk-batuk nggak jelas… apaan tuh?” kata Dennise. “Jangan merhatiin belakang terus juga, nanti kelewatan lagi kalo ada.”
Rahel cekikikan. “Halah halah, Jared mengalihkan pembicaraan tuh, dih bisa banget.”
“Apa sih lu ikut-ikut aja dah, anak kecil ngempeng aja sana.” Kata Jared.
“Lah? Itukan hobi lu sampe sekarang, tadi pagi aja lu ngempeng pake kaki! Hahahahahaha!” seru Rahel. Bahkan Ihsan dan Dennise juga ikut tertawa. Membayangkan apa jadinya jika seorang Jared ngempeng pake kaki itu sudah sangat menggelikan, apalagi jika melihatnya betulan?
Jared yang tadinya tersudutkan kini bangkit kembali. “Eh lu jangan memutar balikan fakta dong! Yang ada juga tadi pagi elu tuh yang ngempeng! Udah gitu pake tangan orang lagi! Kemaren pake kakinya si mbok!”
“Ha? Kakinya si mbok? Idih amit amit astaghfirullah halazim,” kata Rahel. “Udahlah Jare lu ngaku aja, orang jelas-jelas lu yang suka ngempeng, bukan gue! Hih udah tua juga lu masih ngempeng, dasar sok imut!”
“Apaaa? Udah tua?” celetuk Jared. “Kita kan anak kembar, kalo gua udah tua, berarti lu juga! Hahaha!”
Ya, ya, ya, dan begitulah seterusnya. Jared dan Rahel berdebat lagi. Mungkin ini sudah yang ke 93647589103846575991725354758699183746589108565672819458 kalinya. Eh? Tidak mungkin ya? Memang tidak. Itu hanya sekedar perumpamaan saking seringnya mereka berdebat.
Bahkan, perdebatan tentang ngempeng me-ngempeng ini juga bukan satu-satunya. Rahel sengaja terus menerus mengajak Jared berdebat supaya dia tidak perlu ngobrol dengan Ihsan. Bahkan Jaredpun masuk ke dalam perangkapnya. Dia juga malah jadi sibuk berdebat dengan Rahel, sehingga tidak memperhatikan bagaimana perkembangan rencana percomblangannya yang gila itu. Ya maka begitulah, perjalanan mencari salon dan tempat pembuatan kostumpun diiringi dengan perdebatan kedua bersaudara itu dan juga suara rintik-rintik hujan. Akhirnya, setelah lama mencari-cari, ditemukanlah salon yang jaraknya dekat dengan tempat pembuatan kostum.
Masalahnya adalah, siapa dua orang yang pergi ke salon dan siapa dua orang yang pergi ke tempat pembuatan kostum? Oh ya, tempat pembuatan kostum yang ditemukan ternyata juga sekaligus berfungsi sebagai distro. Kebetulan sekali.
“Nah, sekarang, siapa dua orang yang ke salon?” tanya Dennise. Kenapa mesti salon duluan yang diperbincangkan? Padahal kalo dipikir-pikir, sebenarnya yang lebih penting itu justru tempat kostum, bukan salon. Tapi karena jarak salon yang lebih dekat ke tempat mobil berada, makanya salon duluan yang dibahas.
Jared melipat kedua tangannya. “Lho? Kok masih nanya lu?” tanyanya. “Ya udah jelaslah, si Ihsan sama Rahel!” serunya seenaknya sendiri. “Lu sama gua ke tempat kostum. Ayo, Jangan lama-lama.”
“Eh, mau kemana lu, berandal?” tanya Rahel sambil menarik tangan Jared yang mau kabur bersama Dennise ke tempat kostum, meninggalkan dirinya berdua dengan Ihsan. Untung aja masih sempet, coba kalo Jared dan Dennise udah kabur duluan. Sudah jelas, rencana percomblangan yang dirancang Jared semakin membahayakan dirinya. “Yang bener aja lu? Masa gue sama Ihsan yang ke salon? Yang ada juga gue sama Dennise yang ke salon, lu sama Ihsan ke tempat kostum!”
Jared melepaskan tangannya dari genggaman Rahel. “Enak aja lu, Dennise bareng gua! Lu sama Ihsan! Titik! Udah, nggak ada perubahan lagi! Memperlambat aja lu!” gerutunya. Kali ini dia menarik tangan Dennise untuk membawanya pergi ke tempat kostum. Dennise sudah bisa membaca apa maksud Jared yang sebenarnya.
Yang ditarik Jared adalah tangan kanan Dennise, sehingga Rahel menarik tangan kirinya. “Not so fast, Mr. Skinny!” serunya. Ihsan dan Dennise cekikikan. Mr. Skinny? Tuan ceking? Julukan yang konyol. “Dennise yang bareng gue! Lu sama Ihsan! Ngotot banget sih lu jadi orang!”
Jared menoleh ke arah Rahel. “Heh Ms. Fatty, yang ada juga elu yang ngotot! Nurut dong sama yang lebih tua! Gua bilang Dennise sama gua, elu sama Ihsan! Tinggal nurut aja susah banget sih, dasar pembangkang!” omelnya sambil terus menggenggam tangan kanan Dennise. Bahkan Dennise yang sedang ditarik-tarik itupun masih sempet-sempetnya cekikikan gara-gara Ms. Fatty. Ihsan yang seperti ditolak sana sinipun juga ikut cekikikan, karena menurut mereka berdua Ms. Fatty itu cukup lucu.
Rupanya Rahel masih belum mau kalah dari kakaknya yang hanya lebih tua lima menit itu. Dia masih saja menggenggam tangan kiri Dennise erat-erat supaya Jared tidak bisa membawanya pergi. “Nggak mau! Pokoknya gue sama Dennise!”
“Nggak bisa! Dennise sama gua!” seru Jared sambil menarik tangan kanan Dennise sekuat tenaga.
“Justru itu yang nggak bisa! Dennise harus sama gue!” seru Rahel sambil menarik tangan kiri Dennise, juga dengan sekuat tenaga. Dennisepun mulai kesakitan. Dia seperti tambang dan Rahel serta Jared adalah peserta lomba tarik tambang. Sayangnya dia bukanlah tambang. Dia manusia. Sama seperti Jared dan Rahel itu sendiri.
Ihsan yang rejectedpun juga jadi tidak tega melihat Dennise yang ditarik sana sini, dia tahu pasti Dennise sudah kesakitan. Dia harus melakukan sesuatu untuk menolongnya.
“UDAH DONG!!!” seru Dennise dan Ihsan bersama-sama dengan suara keras. Dalam sekejap, suasanapun hening. Jared dan Rahel berhenti menarik tangan Dennise.
Dennise berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jared dan Rahel. Tangan kirinya bisa dilepaskan dengan mudah, tapi tidak dengan tangan kanannya. Jared tidak mau melepaskan genggamannya dari tangan Dennise. Dia takut Rahel akan membawanya pergi begitu saja saat dia lengah. Menurutnya, Rahel itu sama liciknya dengan dirinya, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Satu-satunya yang licik disitu adalah Jared seorang.
Dennise mengerutkan dahi. “Aduh Jare, lepasin gue dong!” serunya. “Sakit nih tangan kanan gue, lo kira gue tambang apa ditarik-tarik gitu?”
“Bodo amat, lu ini yang kesakitan,” kata Jared. Tidak dengan senyuman apapun. Biasanya jika mengucapkan kata-kata jahat, ada senyuman yang mengembang di bibirnya, tapi kali ini tidak. Dia serius. “Pokoknya gua nggak bakalan ngelepasin lu, pasti nanti lu kabur sama adek gua. Enak aja! Gua nggak bisa dikadalin!”
Ketiga orang yang berada disitu kaget melihat tingkah laku Jared tersebut. Sebegitu kerasnya dia menghendaki Rahel dan Ihsan berduaan pergi ke salon, padahal jika dipikir-pikir kan, hal itu tidak penting. Jika memang dia mau nyomblangin Rahel dan Ihsan, ya nggak harus sebegitunya jugalah. Saat ini, tugasnya sebagai anggota kelompok dua jauh lebih penting daripada rencana percomblangannya itu. Jared tidak bodoh, seharusnya dia sadar akan hal itu. Seharusnya dia sadar bahwa tindakannya yang memaksa Ihsan dan Rahel untuk pergi berduaan ke salon hanya akan memperlambat saja. Padahal kedua tempat yang dicari sudah di depan mata. Masa, hanya karena perdebatan ini saja tugas mereka yang hampir berhasil ini harus gagal? Tidak lucu dong.
Di bab 17 kan tertulis bahwa Jared itu tidak main-main dalam setiap menjalankan rencana-rencana jahatnya, terutama pada Rahel. Inilah buktinya. Bahkan sekarang dia sudah tidak peduli lagi. Mau Ihsan sadar kek mau di comblangin sama Rahel, mau nggak kek, dia tidak peduli. Asalkan Ihsan bisa terus dekat-dekat dengan Rahel saja, meskipun harus menempuh cara yang tidak-tidak. Begitu juga sebaliknya, jika Rahel suka pada Ihsan tetapi Jared justru membencinya, apapun akan dilakukan Jared untuk menghancurkan hubungan Rahel dan Ihsan. Yang begini malah justru lebih buruk daripada percomblangan yang terjadi sekarang ini. Bahkan dia juga tidak segan-segan melakukannya pada orang-orang terdekatnya. Tidak bisa disangkal lagi, Jared adalah saudara kembar, kakak kembar, laki-laki, dan orang yang mengerikan.
Kalau bisa sih, lebih baik tidak usah mengenalnya sama sekali seumur hidup.
“Lu tuh… ih, jahat banget sih jadi orang,” kata Rahel. “Udahlah kak, lepasin Dennise. Gue nggak bakalan kabur sama dia kok, kasian tuh udah kesakitan begitu dia, udah kayak penculik aja lu.”
“Kak?” pekik Jared dan Dennise bersamaan. Dan saat itu jugalah Dennise berhasil melepaskan tangannya dari Jared yang lengah. Ternyata Rahel emang sengaja memanggil Jared “kak” supaya orang itu lengah dan Dennise berhasil melepaskan diri. Jared memang licik, tapi kalau Rahel lebih tepat disebut cerdas. Karena dia tidak jahat.
“Horeee! Makasih ya, Rahel!” seru Dennise penuh kemerdekaan.
Jared si penjahat menggerutu. “Sialan, lu sengaja ternyata! Brengsek lu! Dasar licik!” gerutunya sambil menunjuk Rahel.
Rahel si pahlawan hanya menjulurkan lidahnya ke arah Jared.
“Udah udah, biar adil, kita berempat gambreng aja,” kata Ihsan tiba-tiba. “Dua orang pertama yang warnanya beda sendiri ke toko kostum, sisanya ya ke salon. Hasilnya mutlak, nggak boleh diganggu gugat, suka nggak suka harus diterima.”
Dennise tersenyum. “Iya iya gue setuju banget sama Ihsan, buang-buang waktu nih kita daritadi!” serunya.
“Bukan kita Denn yang buang-buang waktu, yang pake kacamata tuh yang buang-buang waktu!” seru Rahel sambil melirik tajam ke arah Jared.
Jared mendelik. “Berisik! Udah cepetan gambreng! Banyak omong lu njing!”
“Santai aja dong lu, nyet!” balas Rahel.
“Udah woi buruan gambreng jangan ribut melulu.” Kata Ihsan.
“Hompimpah alaium gambreng!”

***

“Krak!” pensil yang digunakan Vero tiba-tiba patah. Seperti menandakan sesuatu yang buruk. Saat itu Vero sedang menggambar desain kostum Gabe. Karena pensilnya patah, alhasil gambar topi Gabe dari belakang yang sedang dibuat itu jadi sedikit rusak. Terpaksa bagian yang rusak itu harus dihapus dan diperbaiki, padahal desain kostum bagian belakang Gabe bisa dibilang hampir selesai. Apakah terjadi sesuatu yang buruk pada Gabe? Kebetulan, hari itu Gabe yang tidak terlalu suka menyetir harus menyetir.
Vero memandang sedih pensilnya yang patah. “Yah, patah… kok bisa patah sih?” keluhnya. “Padahal bentar lagi desain kostumnya Gabe selesai tuh, malah rusak gambar topinya.”
Ya. Dari kelompok dua yang sedang gambreng seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet tadi, kita beralih ke kelompok empat—kelompok yang bertugas mendesain segala keperluan band yang bisa di desain. Tapi untuk saat itu, mereka hanya mendesain kostum, poster gig, dan poster promosi saja. Kostum Gabe adalah kostum terakhir yang di desain, lima lainnya sudah selesai semua. Karena jumlah personil The Comicses ada enam orang, berarti bisa dibagi tiga atau dua dari segi warna, panjang lengan, gaya berpakaian, dan jenis desain. Supaya tidak ribet, warna yang diambil hanya dua, yaitu duet maut sepanjang sejarah yang tidak terbantahkan, hitam dan putih. Tiga orang bajunya berwarna hitam dan tiga orang lainnya berbaju putih.
Dua orang berbaju hitam dan bersepatu putih, dua orang berbaju putih dan bersepatu hitam, satu orang berbaju dan bersepatu hitam, dan satu orang berbaju dan bersepatu putih. Tiga orang memakai baju lengan panjang, tiga orang sisanya memakai baju lengan pendek. Satu orang harus memakai jas, satu orang harus memakai kemeja lengan panjang, dan seorang lagi kostum dasarnya memang lengan panjang. Sementara untuk kelompok lengan pendek, seorang harus mengenakan vest, seorang harus mengenakan suspender, dan seorang lagi hanya memakai kostum dasar seutuhnya yang berlengan pendek.
Bahkan untuk panjang celanapun juga dibagi tiga, dua orang memakai celana panjang seutuhnya, dua orang memakai celana yang menggantung, dan dua sisanya memakai celana pendek. Untuk jenis desainnya dibagi atas dua jenis, yaitu jenis komik dan jenis tiruan. Kalau yang jenis komik, sesuai dengan namanya, tentu saja desain kostumnya berupa komik mini. Sulit dibayangkan? Ada sebuah cerita pendek yang dikemas dalam bentuk komik mini pada sebuah baju? Baik bagian depan ataupun belakang baju sama-sama memuat komik mini. Wajar saja, toh nama bandnya aja The Comicses—orang-orang penyuka komik. Tidak etis rasanya jika desain kostumnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan barang penghibur ajaib itu.
Meskipun mengagumkan, tapi membuat desain jenis komik mini seperti ini sama saja dengan membunuh di pembuat kostum. Ada tiga buah, lagi. Apakah membuat kaus dengan desain seperti ini tidak rumit? Tentu saja sangat rumit. Tapi, walaupun si pembuat kostum ini masih seumuran dengan para tokoh-tokoh cerita ini, dia tidak bisa dianggap remeh. Baginya, desain komik mini ini hanya sedikit merepotkan. Dan baginya, jenis desain yang satunya lagi yaitu desain tiruan, sama saja dengan menghitung satu ditambah satu. Mudah sekali.
“Nih Ver, rautan,” kata Cove sambil memberikan sebuah rautan pada Vero. Rautan itu milik Viona, dia sudah mempersiapkannya setelah pertemuan yang memutuskan bahwa dirinya adalah salah satu yang harus mendesain-desain. Rautan itu sudah dekil, seperti sering sekali digunakan. “Dekil amat tuh rautan, lu apain sih Vi? Kejam bener.”
Vero mengambil rautan yang diberikan Cove tadi, lalu segera meraut pensilnya yang tadi patah. “Itu namanya bukan kejam, tapi Viona sering banget gambar,” katanya sambil terus meraut pensilnya. “Waduh, udah penuh banget nih tempat penampungan kotorannya, gue buang ah.”
Viona tampak tidak mendengarkan, dia sedang serius sekali memikirkan ide poster gig yang akan dibuatnya. Sementara itu, Vero yang sudah selesai meraut pensil menarik wadah kotoran rautan yang penuh sekali dengan ampas-ampas kayu bekas pensil yang diraut. Saking penuhnya, saat wadah itu ditarik keluar, ada sejumlah kotoran yang keluar.
“Ah! Gue tau!” seru Viona keras-keras sambil merentangkan kedua tangannya. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol wadah penampungan kotoran rautan miliknya yang lagi dipegang Vero. As a result, semua kotoran rautan yang ada di dalam wadah penampunganpun tumpah… tepat ke atas desain kostum Gabe yang hampir selesai.
Brody, Vero, Cove, apalagi Viona melongo melihatnya. Lagi-lagi kostum Gabe yang kena. Apakah ini hanya sekedar kebetulan belaka? Atau justru ini adalah sebuah pertanda? Pertanda buruk yang mengarah pada Gabe seorang? Atau pertanda buruk untuk kelompok satu? Apakah kelompok satu juga Gabe baik-baik saja? Apa yang terjadi pada mereka sekarang? Apa yang sedang mereka lakukan?
Brody menelan ludahnya dengan tampang khawatir. “Gabe lagi, Gabe lagi, ini cuma kebetulan kan?” tanyanya. Sekarang dia memang sudah lebih banyak bicara, tidak seperti sebelumnya yang selalu diam saja seperti orang bisu.
“Yaaa gua harep sih gitu,” kata Cove sambil memutar-mutar bola matanya. “Tadi pensilnya mendadak patah terus gambar topinya jadi rusak, sekarang abis diraut malah jadi kotor ketumpahan ampas rautan, ckckckck. Apakah si Anastasialan kena sial?” tanyanya sambil geleng-geleng kepala. Entah kenapa, sejak drama Cinderellaknat, Gabe dan Cove memang jadi akrab. Mungkin karena mereka berdua sukses mempelopori hancurnya alur cerita drama yang seharusnya berjudul Cinderella itu.
“Aduh, gara-gara gue jadi kotor begini desainnya, maaf ya Ver,” kata Viona sambil membersihkan desain kostum Gabe yang baru saja ketumpahan kotoran rautan. Kini desain itu jadi dekil, mirip-mirip rautan Viona itu sendiri. Hanya desain itu saja yang dekil, sementara yang lainnya bersih. Ironis sekali.
Vero tersenyum. “Udah nggak apa-apa kok,” katanya sambil membantu Viona membersihkan desain kostum Gabe. “Tapi kok… perasaan gue nggak enak ya? Aduh, mudah-mudahan aja deh ini emang cuma kebetulan.”
Benarkah begitu? Benarkah patahnya pensil dan tumpahnya ampas rautan pada kostum Gabe itu hanya sebuah kebetulan yang merugikan? Sekali lagi, apakah justru itu adalah kedua pertanda bahwa Gabe mengalami sesuatu yang buruk? Tenang saja, kita akan mengetahuinya sebentar lagi.

***

Rintik-rintik hujan, jalanan yang basah, langit yang mendung serta suasana yang kelabu menyeliputi perjalanan kelompok satu mencari tempat untuk gig pertama The Comicses. Keempat orang anggota dalam kelompok itu, yaitu Velope, Brian, Gabe, dan Matt telah menyelidiki berbagai macam tempat yang menarik perhatian mereka, tapi belum ada satupun yang pas. Harganya terlalu mahal, bayarannya terlalu murah, tempatnya jorok, tempatnya angker, hingga para pelayannya yang killer menjadi alasan kenapa kelompok ini belum juga menemukan tempat yang tepat.
Tidak seperti kelompok dua yang menganut sistem “lama di jalan, cepat menemukan tempat”, kelompok ini justru sebaliknya. Kelompok ini “cepat di jalan, lama menemukan tempat”. Singkatnya disebut sebagai berhenti-berhenti. Kelompok ini memang berhenti-berhenti. Sedikit-sedikit berhenti, sedikit-sedikit berhenti, seperti mau menyiksa si mobil saja. Jika si mobil itu hidup, mungkin dia akan mendamprat keempat anggota kelompok satu dan pergi meninggalkan mereka semua dengan penuh emosi akibat di eksploitasi. Tapi sayangnya, tidak seperti itu.
“Fuuuuh…” gumam Gabe si driver dengan lelah sambil mengadu jidatnya dengan stir. Baru saja mereka gagal untuk yang kelima kalinya. “Barusan yang kelima, lu-lu pada yakin kita bisa nemuin tempat buat nge-gig sekarang? Gua sih jelas kagak, capek gua berenti-berenti melulu.”
“Yah elu jangan gitu dong, Gabe! Jangan nyerah, jangan patah semangat!” seru Velope sambil menggebuk pundak Gabe dengan keras. Ugh! Jelas Gabe kesakitan. Velope memang anarkis. “Kalo lu nyerah gua panggil Gaby tau rasa lu!”
Seketika, Gabe bangkit dari stir. “Ha? Gab… Gaby?” pekiknya tak percaya. Langsung saja terbayang olehnya apabila dia dipanggil Gaby di depan yang lainnya. Mau dipermalukan berapa lama dia? Dan bukan cuma dia, Matt dan Brian juga langsung membayangkan bagaimana jadinya jika Gabe dipanggil Gaby. Alhasil, merekapun cekikikan sendiri.
Berbeda juga dengan kelompok dua, kelompok satu ini posisi duduknya ber-rotasi kecuali Gabe, tentunya. Baik Matt, Brian, ataupun Velope pernah duduk di kursi asisten penyetir. Untuk kali ini, giliran Velope yang duduk disebelah Gabe. Jadi cewek itu bisa saja menyiksa Gabe jika cowok itu patah semangat jika dia mau.
“Tai nih. Ini sih sama aja kayak nightmare, lebih parah malahan,” gumam Gabe dalam hati. “Iye iye dah nih kita cari lagi.”
Matt nyengir. “Nah gitu dong! Itu baru namanya Gabe, bukan Gaby! Hahahahaha!” serunya sambil menepuk sebelah pundak Gabe, bukan Gaby. Sepertinya mulai saat itu, Gaby adalah senjata ampuh untuk menyudutkan Gabe apabila dia berbuat yang tidak-tidak.
Maka begitulah, akhirnya keempat pahlawan kita yang tergabung dalam kelompok satu ini meneruskan perjalanan mencari tempat gig pertama. Lalu, seperti sebelum-sebelumnya, tak begitu jauh dari tempat kegagalan yang terbaru, ditemukanlah suatu tempat yang menarik lagi. Sekali lagi, kelompok ini berhenti sejenak untuk menyelidiki tempat menarik yang paling baru ini. Tempat terbaru ini adalah sebuah restoran asia yang bernama “Asianese”. Menganut warna coklat dengan desain biasa seperti resto pada umumnya. Tak banyak yang datang berkunjung ke Asianese saat kelompok satu datang. Sudahlah, toh tempat ini tidak nyata, hanya sebatas fantasi belaka, jangan terlalu dipikirkanlah.
“Kayaknya dibanding yang tadi-tadi, yang ini paling bagus deh.” Kata Brian.
“Iya, mudah-mudahan aja ini tempat yang pas, jadi gua bisa cepet-cepet berenti nyetir.” Kata Gabe dengan santainya.
Diam sejenak. Ketiga orang lainnya selain Gabe jadi bertanya-tanya sendiri, mengapa Gabe begitu tidak suka dengan kegiatan menyetir? Bukankah kegiatan itu seharusnya menyenangkan bagi seorang pria remaja sepertinya? Apa memang Gabe saja yang seleranya aneh? Harusnya disini yang seleranya aneh itu Cove, bukan Gabe. Atau justru ada rahasia tersembunyi dibalik ketidaksenangannya ini?
KLENENG! Bunyi lonceng kecil terdengar saat Velope membuka pintu resto ala Asia itu. Uh, ternyata dalamnya tidak seindah luarnya. Luarnya sih memang bagus, tapi dalamnya… astaga. Udah kotor, bau, kostumernya jorok-jorok semua, berisik, wah pokoknya semua keburukan yang mungkin dimiliki oleh sebuah restoran ada semua deh di resto itu.
Begitu lonceng itu berbunyi, dalam sekejap atmosfir kegelapan terasa seperti menyelubungi seluruh restoran itu. Membuat perasaan keempat pahlawan kita semua menjadi amat buruk. Resto macam apa ini? Membuat bulu kuduk berdiri saja. Bukan hanya kotor, bau, dan berisik saja, tapi Asianese ini juga angker dan aneh. Semua pengunjungnya berwajah suram seperti tidak punya masa depan. Para pelayanpun juga terlihat aneh.
“Erh, kayaknya kita salah tempat deh, iya kan?” kata Matt sambil menoleh ke arah ketiga teman-temannya. Mereka berempat sepakat untuk segera kabur dari resto mengerikan itu… tapi, sayangnya, ada dua orang cowok bertubuh besar yang tampak killer berdiri di belakang mereka. Kedua cowok yang sepertinya tidak segan-segan untuk menyakiti kelompok satu yang merupakan satu-satunya pengunjung remaja di resto itu sepertinya adalah bodyguard yang menjaga pintu supaya tidak ada yang bisa keluar apabila sudah masuk.
“Sial,” gumam Velope dalam hati. “Ini sih bukan cari tempat gig namanya, cari mati tapi!”
Matt gelagapan. “Eh nggak deng, bener, emang ini yang kita cari!” serunya cepat-cepat karena kedua bodyguard menaruh seluruh perhatian tepat kepadanya.
Lalu tiba-tiba Brian berjalan sendiri ke arah bangku kosong yang berjumlah empat buah. Tanpa pikir panjang lagi, tiga orang yang lainnya segera menyusul cewek itu. Matt duduk bersebelahan dengan Velope sementara Brian bersebelahan dengan Gabe.
“Gimana caranya keluar dari restoran neraka ini?” tanya Gabe seketika.
“Nah itu dia, gimana caranya kita ngelewatin dua orang itu?” Brian malah balik bertanya.
Lalu mereka berempat diam. Sama-sama memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa lolos dari dua orang bodyguard mengerikan yang berdiri di dekat pintu. Namun, belum ada satu idepun yang muncul di benak keempat orang itu, tiba-tiba…
“Halo!” seru seorang wanita keras-keras dengan nada ceria. Mengagetkan kelompok satu yang sedang berfikir bersama-sama. Kelompok satupun lantas menoleh ke arah suara, dan mereka melihat seorang cewek yang sepertinya setahun lebih tua dari mereka semua, mengenakan seragam pelayan lengkap dengan name tag-nya. Sudah jelas, dia adalah salah seorang pelayan restoran maut itu.
“Ah! Ngagetin aja lu!” seru Gabe galak tanpa peduli bahwa si cewek yang ngagetin dia itu adalah pelayan disitu. Soalnya dia juga nggak mau buang-buang uang buat makan di restoran yang jelas-jelas buruk begitu, jadi untuk apa berbaik hati dengan si pelayan?
Si pelayan malah tersenyum. “Ups! Maaf! Nama saya Nia, saya adalah pelayan unggulan disini,” kata si pelayan yang bernama Nia dengan bangga. “Kalian berempat tuh patut diistimewain soalnya jarang banget ada remaja-remaja ingusan yang sudi dateng kesini! Hahaha!” seru Nia, tertawa seperti setan.
Velope mengerutkan dahi. “Diistimewain? Diistimewain apanya? Diistimewain di tempat begini sih sama aja boong! Gue nggak heran kalo jarang ada remaja yang mau kesini, orang tempatnya aja kayak gini siapa yang suka! Kita aja kesini juga gara-gara kesasar! Iya nggak, Gabe?”
“Iyak, betul itu!” seru Gabe sambil mengacungkan jempol.
“Hohoho, saya sih udah nggak heran denger hinaan kayak gitu,” kata Nia sambil memamerkan giginya yang berantakan. “Oke, kalian berempat mau pesen apa? Kebetulan ada menu baru, buat kalian saya kasih appetizer gratis deh!”
Brian menggeleng. “Nggak deh mbak, kita berempat nggak pesen apa-apa, makasih,” katanya. “Appetizernya juga nggak usah mbak, kita berempat juga udah kenyang soalnya.”
“Kruyuk!” mendadak suara perut lapar Matt terdengar keras. Maka terbongkarlah kebohongan keempat orang ini. Dasar Matt, perutnya ternyata tidak bisa diajak bekerjasama.
Velope langsung mengadu jidatnya dengan meja sementara Gabe langsung memegangi dahinya.
Nia nyengir penuh kemerdekaan. “Nah, gimana? Saya denger dengan jelas kalo perutnya dia bunyi, artinya dia kelaperan, masa kalian bertiga tega sih nggak mau ngasih dia makanan?” katanya. “Eh jangan remehin makanan disini, makanan disini tuh enak-enak loh, menggugah selera! Buat kalian dikasih diskon 90% deh! Gimana?”
“Hah? Diskon 90%?” pekik kelompok satu serempak dengan tampang kaget.
“Aduh mbak Nia, mbak nih udah gila ya? Masa seenaknya aja ngasih diskon 90%? Mbak nggak takut dipecat apa?” tanya Velope. “Katanya mbak pelayan unggulan disini, unggulan dari segi mananya? Saya nggak percaya, nanti saya laporin manager mbak biar mbak dipecat!”
Entah kenapa, Nia malah tetap nyengir. “Dipecat? Hah? Dipecat? Hahaha!” dia malah tertawa. Harusnya Nia ini dilarikan ke rumah sakit jiwa. Sungguh. “Silahkan lapor ke manager saya, mbak! Silahkan! Saya nggak takut, saya nggak peduli! Paling-paling dia juga sama gilanya kayak saya! Hahahahahahahaha!”
Kelompok satu terdiam. Restoran bernama Asianese ini memang betul-betul aneh. Seabnormal abnormalnya sebuah restoran juga tidak mungkin pelayannya ada yang seperti ini. Dan memang ada sebuah rahasia dibalik keadaan restoran ini yang begitu memprihatinkan. Dapatkah kelompok satu mengungkap rahasia Asianese ini? Juga mampukah mereka keluar dari restoran menyeramkan ini?
“Oh iya, ini menunya,” kata Nia sambil memberikan menu restoran itu pada Brian. “Pesenan kalian ditulis aja disini, saya mau ngambilin kalian appetizer dan welcome snack yang gratis! Hohohoho!” serunya. Lalu dia lari secepat kilat dari meja kelompok satu untuk mengambil appetizer dan welcome snack.
“Apa-apaan sih nih restoran? Aneh abis, takut gue.” Kata Brian dengan nada panik.
Mendadak ponsel Gabe bergetar. Ada yang menelponnya. “Ada yang nelfon gua lagi, siapa sih?” katanya sambil mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celananya. Gabe tampak terkejut saat melihat si penelepon.
“Siapa Gabe yang nelfon lu?” tanya Matt, melihat Gabe terkejut ketika melihat layar ponsel.
“Mampus, nyokap gua lagi yang nelfon, jangan-jangan ketauan lagi kalo gua kabur.” Kata Gabe. Ya memang Gabe kabur dari rumah karena orangtuanya tidak mengizinkannya untuk pergi meskipun dia telah berbohong. Jadi ya mau tidak mau karena tugasnya penting yaitu mengurus gig pertama The Comicses, jadi Gabe memilih jalan pintas, yaitu kabur. Dan sepertinya ketahuan.
“Udah angkat aja Gabe.” Kata Velope.
Maka Gabepun mengangkat telfon dari nyokapnya itu. “Ha, halo?”
“Dimitri! Kamu kemana? Kamu kabur ya? Dasar anak bandel!” omel nyokapnya Gabe di telfon. Saking kerasnya suaranya, teman-teman Gabe dapat mendengar. Gabe langsung menjauhkan ponselnya dari kupingnya karena kaget dan keberisikan. “Ayo jawab sekarang kamu dimana! Awas kalo kamu nggak jawab, mama kunciin kamu biar kamu nggak bisa masuk rumah!”
Gabe mendesah. Tangannya mengepal. Dia sedang menahan seluruh emosinya pada saat itu. Lalu kemudian dia mendapat ide cemerlang. Ide untuk menjawab telfon nyokapnya tanpa harus memberitahukan keberadaannya sekarang. “Apa? Aduh, mama ngomong apa sih? Nggak kedengeran nih berisik banget soalnya, yah yah sinyalnya ilang! Udah ya ma nanti aku telfon lagi.” Kata Gabe cepat-cepat. Kemudian dia segera memutus telfon tersebut.
Belum sempat ada yang berkomentar atas tindakan Gabe barusan, tiba-tiba Nia sudah datang dengan welcome snack dan appetizer kebanggaannya. “Tadaaa! Saya balik lagi! Hihi cepet banget kan? Iya kan iya dong pasti kalian semua kaget deh!” seru Nia sambil meletakkan sebuah piring kecil jelek berwarna hijau toska. Diatasnya ada salmon mentah yang berlendir dan amis. Bahkan ada seekor lalat sekarat tak jauh dari salmon berlendir itu. Inilah yang dianggap Nia sebagai appetizer yang layak.
Kelompok satu memandang jijik appetizer itu bersama-sama. Hiii aromanya itu loh, tak tertahankan. Aromanya lebih buruk ketimbang wujudnya. Rasanya lebih baik mati saja deh daripada harus menghirup aroma salmon itu lebih lama lagi. Astaga, restoran macam apa sih ini? Betul-betul tidak waras. Kok bisa-bisanya sih masih ada pengunjung lain selain kelompok satu? Apa mereka sudah kehilangan akal sehat? Atau mereka juga tertipu dengan keadaan luar restoran ajaib ini seperti kelompok satu? Weleh weleh, dunia ini memang semakin gila.
Piring satu lagi berwarna biru donker. Isinya juga tak kalah buruk dari piring hijau toska. Isinya adalah nori yang direbus. Nori-nori bernasib buruk itu juga dilengkapi dengan air bekas rebusannya, jadi nggak disaring dulu. Langsung aja ditaroh disitu bersama dengan air-airnya sekalian. Bahkan ada sejumlah semut mati di atas air yang menggenang. Inilah yang dianggap Nia sebagai welcome snack yang layak.
“Wuekh,” kata Matt. “Mending gua mati kelaperan sekalian daripada harus makan ini, mau gratis kek diskon 90% kek sampe matipun gua nggak akan tertarik! Heh Nia, lu mau bunuh gua ya? Lu mikir dong pake otak, masa beginian lu kasih ke pelanggan? Lu tuh waras kagak sih?”
Nia cekikikan seperti penyihir. “Hihihi, gua waraslah! Emang lu? Itukan makanan enak! Hahahahahaha! Sekarang saya mau kamu makanin itu semua! Ayo cepet makan! Atau kamu mau saya makan? Hahahahahaha!”
“Nia!” tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Nia dengan tegas. Suara orang waras. Lantas Nia dan kelompok satu langsung menoleh ke arah suara waras itu. Rupanya yang memanggil Nia dengan tegas itu adalah seorang pelayan juga sama seperti Nia, bedanya yang satu ini berjenis kelamin laki-laki.
Pelayan laki-laki ini datang menghampiri meja kelompok satu yang ada Nia-nya. Rupanya dia seumuran juga dengan Nia. “Lu ngapain sih masih gangguin kostumer aja? Sana lu pergi!” serunya keras-keras sambil mendorong Nia.
Seperti biasa, Nia tetap ceria. “Iiih Budi! Lo jangan galak-galak dong! Kita kan sesama pelayan restoran! Lagian gue nggak gangguin mereka kok, tuh liat gue aja ngasih mereka appetizer sama welcome snack gratis! Baik kan gueee? Hihihihi!”
Budi—si pelayan cowok yang waras, tampak semakin geram. “Dulu iya, sekarang nggak!” serunya. Kelompok satu terperangah. “Gua minta lu ambil piring-piring ini, lu buang makanannya, lu cuci piringnya, terus lu balik lagi ke tempat asal lu! Jangan keluar-keluar lagi! Bikin susah aja sih lu bisanya!”
“Hehehe nggak mau aaah, paksa gue kalo bisa! Hahahaha!” seru Nia.
“Lu tuh ya, minta gua gampar ya?” kata Budi sambil mengangkat tangan kanannya. Nia langsung ketakutan, dalam sekejap dia lari secepat kilat tanpa melakukan apa yang Budi suruh sebelumnya sambil teriak-teriak ketakutan. Sudah pasti ada yang tidak beres dengannya, lebih tepatnya, kejiwaannya.
Budi hanya geleng-geleng kepala sambil menghela nafas. “Maaf ya kalian udah dimacem-macemin sama si Nia.” Katanya pada kelompok satu dengan tenang, berbeda sekali dengan yang tadi.
Brian tersenyum. “Udah nggak apa-apa kok, thanks ya udah bikin dia pergi,” katanya. “Oh ya, nama lo Budi kan? Lo pelayan disini juga?”
Budi mengangguk sambil mengambil piring-piring naas tadi.
“Gua tebak, pasti lu tau kan si Nia kenapa? Lu juga kayaknya tau apa yang terjadi dengan restoran ini.” Kata Gabe.
“Yaaa, gua tau persis malah,” kata Budi. “Sebaiknya kalian nggak usah tau. Tenang aja deh, gua bantuin kalian keluar dari sini.”
Velope tersenyum senang. “Ah yang bener lo? Serius? Asiiik makasih ya Budi!” serunya. “Tapi… kita kan baru aja kenal, gue jadi nggak enak. Gini aja deh, kita berempat baru mau nerima bantuan lo asal lo ceritain ke kita semua yang lo tau tentang Nia dan Asianese ini, gimana?”
Budi diem sejenak. “Heran gua, kenapa kalian malah mau tau sih? Gua aja yang tau malah nyesel banget,” katanya. “Tapi yaudahlah kalo kalian emang mau tau, nanti gua ceritain, tapi sekarang gua mau nyuci piring dulu.”
“Oh yaudah, jangan lama-lama, soalnya gua penasaran.” Kata Matt.
Budi hanya tersenyum. Lalu dia pergi meninggalkan kelompok satu untuk mencuci piring. Setelah beberapa menit, akhirnya dia kembali lagi ke meja kelompok satu untuk membeberkan semua rahasia dibalik restoran Asia ini.

***

“Done! Selesai!” seru Firrina. Akhirnya selesai juga pembuatan MySpace The Comicses. Firrina bersama Icha, Pierre, dan Leif tergabung dalam kelompok tiga. Mereka bertugas mempromosikan The Comicses dan menggali informasi di dunia maya. Baru saja mereka selesai membuat MySpace-nya The Comicses.
“MySpace selesai, Twitter gimana?” tanya Pierre yang sekomputer dengan Firrina. Di rumah Pierre ada banyak komputer karena dia dan teman-teman yang sering diundangnya sering sekali menggunakannya. Di kamar Pierre saja ada dua komputer seperti warnet mini.
“Ini bentar lagi selesai, oh ya tadi temen gue udah nanya-nanya tuh soal gig, kayaknya dia mau nonton.” Kata Icha sambil mengetik-ngetik. Icha dan Leif yang sama-sama memiliki account Twitter sama-sama mempromosikan The Comicses melalui tweets-tweets juga foto-foto yang ada. Sekarang Icha lagi membuat account Twitter khusus The Comicses yang passwordnya diketahui oleh The Comicses Crew.
“Oh bagus kalo gitu, ajak temen lu yang lain lagi Cha, gua mau ngambil desain dulu. Kali aja udah selesai, biar kita bisa liat sekalian di scan.” Kata Pierre. Oh ya, kelompok tiga inipun dibagi lagi kedalam dua kelompok. Pierre dan Firrina menggali informasi dan mengerjakan kebutuhan-kebutuhan The Comicses seperti mengupload video, mengescan, mengedit desain, dan lain sebagainya. Sedangkan Icha dan Leif cenderung mempromosikan saja.
“Sip!” seru Icha.
Lalu Pierre segera keluar dari kamarnya dan menuju ke tempat kelompok empat untuk mengecek dan mungkin mengambil desain yang dibuat oleh kelompok empat. Sementara itu, kita kembali lagi ke kelompok tiga.
Firrina tersenyum jahil. “Ah gue mau ngelanjutin nonton video yang tadi aaah.”
Icha menoleh ke arah Firrina. “Eh gue ikutan nonton dong, tadi gue mau ikutan malah dimarahin sama si Pierre,” katanya. “Leif, lanjutin kerjaan gue ya hehehe.”
“Oke!” seru Leif sambil tersenyum senang.
Icha lalu menduduki kursi yang tadi diduduki oleh Pierre. Karena Firrina dan Pierre yang mengupload video, jadi mereka berdua juga sekalian menonton video-video di YouTube. Mereka menonton sebuah video kocak yang mereka rahasiakan dari Icha dan Leif agar konsentrasi mereka berdua tidak terganggu.
“Haha itukan biar lo sama Leif nggak berhenti promosiin The Comicses,” kata Firrina sambil tersenyum. Kemudian dia meng-klik tab YouTube, dan tampilah gambar sebuah video kocak berukuran besar yang di pause.
Icha melotot melihat gambar video kocak itu. “Lah? Ini kan… Ini kan…” katanya terkaget-kaget.




(To Be Continued)

0 opinions:

Post a Comment