June 25, 2010

Bab 22

Bab 22
4x4 Lagi




Firrina mengerutkan dahi tanda heran melihat reaksi Icha saat melihat gambar video kocak yang ditontonnya bersama dengan Pierre. Icha sepertinya terkejut sekali, kenapa ya? Leif yang melanjutkan pekerjaan yang sedang ditangani Icha-pun jadi buyar konsentrasinya. Dia berhenti mengetik dan menoleh ke arah Icha dan Firrina.

“Kenapa, Cha? Lo kaget banget kayaknya,” kata Firrina.

“Ya ampun. Video ini gue sih tau banget, ini kan video Annoying Orange,” kata Icha sambil geleng-geleng kepala. “Emang kocak banget video-videonya Annoying Orange, gue aja ngakak sendiri di rumah kalo lagi nontonin.”

“Eh apaan sih apaan sih? Apaan yang kocak?” sambar Leif tiba-tiba.

Icha mencibir. “Yeee elu bukannya nerusin kerjaan gua malah ikut-ikutan mau nonton.”

“Udah udah nggak apa-apa Leif istirahat aja, yuk kita nonton nih videonya Annoying Orange rame-rame,” kata Firrina. “Ini videonya kocak banget, Leif, dijamin lo bakal ngakak deh nontonnya.”

Leif nyengir hingga matanya hampir menyerupai garis. “Oh ya? Asik dong! Gue emang lagi butuh hiburan!” serunya sambil bertepuk tangan sekali. Maka akhirnya mereka bertiga menonton video sederhana tapi amat menghibur itu sambil tertawa-tawa bersama-sama.

Sepertinya ketiga anggota kelompok tiga gembira sekali ya, tapi yang akan terjadi pada kelompok empat sebentar lagi tidak akan membuat para anggotanya merasa begitu. Karena lagi-lagi mereka diberi suatu kesialan yang merupakan tanda buruk seperti yang pernah terjadi di bab sebelumnya. Bedanya, jika di bab sebelumnya tanda itu mengarah pada Gabe yang merupakan anggota kelompok satu, kali ini tanda buruk itu justru mengarah pada Jared, yang merupakan salah satu anggota kelompok dua. Uh-oh, kira-kira, apa yang terjadi pada kelompok dua ya?

“Eh woi, desainnya gimana?” tanya Pierre pada kelompok empat yang sedang sibuk mengerjakan desain-desain. Saat itu keempat anggota lagi ngewarnain poster gig yang akan digunakan untuk menyebarluaskan gig pertama The Comicses.

Cove mendongakkan kepalanya ke arah Pierre. Tangan kanannya menggenggam sebuah spidol warna coklat—yang akan digunakannya untuk mewarnai gambar rambutnya sendiri. Betul-betul anak yang konyol. Jelas-jelas warna rambutnya itu hitam pekat. “Ha? Oh, iya, desain kostum udah selesai semua, tapi punyanya si Gabe rada kotor gara-gara kena kotoran rautan,” jelasnya.

Viona terus mewarnai tanpa melihat ke arah Pierre. “Ini kita lagi ngewarnain poster gig, bentar lagi juga selesai.”

“Oh,” gumam Pierre. “Mana desain kostumnya? Gua mau liat bentar.”

“Di deket Vero tuh.” Kata Brody sambil menunjuk ke arah Vero, tapi melenceng sedikit. Disitu, di arah yang ditunjuk Brody, ada setumpuk kertas HVS biasa yang tersusun rapi. Vero dan Viona kebetulan sama-sama paling merasa nyaman kalo ngegambar di kertas HVS normal, jadi tidak perlu kertas yang istimewa. Desain kostum yang paling atas dari tumpukan desain kostum itu adalah desain kostum milik Jared.

Desain kostum anak itu adalah desain tiruan, yang artinya menirukan rupa buruk dirinya. Bagian depan desain kostumnya tergambar wajahnya yang galak lengkap dengan kacamata, lehernya yang kurus, serta postur tubuhnya yang tinggi-kurus, memakai kemeja lengan panjang motif tartan dengan dalaman berupa t-shirt polos. Et, bukan sampai disitu saja, gambarnya berlanjut hingga sepatu. Memang di gambar itu ceritanya Jared yang jahat memakai kemeja lengan panjang yang kancingnya dibuka dengan dalaman t-shirt, tapi bawahannya justru celana pendek. Jadi dilihatnya terasa janggal. Sepatunya sih, sneakers biasa.

Ya begitulah pokoknya. Itu tidak penting, yang penting sekarang adalah apa yang akan terjadi pada desain kostum milik cowok sinting itu. Kelompok empat mengerjakan tugasnya di bagian rumah Pierre yang outdoor... ups, sepertinya jangan dilanjutkan, bisa-bisa, semua pembaca langsung bisa mengetahui apa yang bakal terjadi!

Begitu Pierre ingin mengambil tumpukan desain kostum itu, tiba-tiba ada angin yang lumayan kencang, tanda hujan akan turun sebentar lagi. Yah tidak begitu kencang sih, tapi cukup untuk menerbangkan sebuah kertas HVS bergambar depan-belakang. Dan… ya, bisa ditebak, desain kostum Jared yang berada paling atas—karena tidak diganjal oleh apapun, terbang bersama angin sebelum Pierre sempat mengambilnya. Lalu, desain-desain kostum yang berada di bawahnya juga ikut bergerak karena angin, tetapi masih bisa diselamatkan. Hanya desain kostum Jared saja yang tidak tertolong alias sukses terbang terbawa angin.

“Heh? Apaan tuh?” pekik Vero saat dirinya merasa bahwa ada sesuatu berwarna putih yang terbang terbawa angin. “Aduh, anginnya lumayan juga. Pasti mau hujan nih, langitnya aja udah mendung begitu.”

“Apaan apanya?” tanya Cove. “Iya nih pasti mau ujan, masuk aja yuk, daripada nih desain poster gig rusak gara-gara kena aer hujan.”

Pierre mengumpulkan tumpukan desain kostum yang mulai berantakan karena angin yang hanya sebentar itu dengan wajah masam. “Sialan, desain kostumnya si Jared ilang lagi kebawa angin!” umpatnya.

“Hah? Apa, Pierre?” pekik kelompok empat dengan nada dan tampang kaget. Mereka berempat menoleh ke arah Pierre secara serempak.

Pierre lantas mengulangi lagi perkataannya yang sebelumnya, cuma tidak sama persis, sih. Mendengar kata-kata menyakitkan itu, kelompok empat melongo selama beberapa detik. Kemudian mereka saling bertukar pandangan. Apa yang harus mereka lakukan? Bukan, bukan itu. Kalo itu sih tentu saja mereka harus mencarinya. Pertanyaan yang tepat adalah… dimana desain kostum Jared sekarang?

Itu adalah pertanyaan yang buruk, karena jawabannya adalah… adalah… bisa dimana saja, termasuk di tempat yang tak terduga maupun di tempat yang paling berbahaya sekalipun. Namun, walau bagaimanapun, kejadian ini merupakan suatu pertanda yang pastinya, buruk. Sama buruknya dengan pertanyaan di bagian akhir paragraf sebelumnya. Oke, menyaksikan bagaimana kelompok empat dan Pierre mencari desain kostum itu memang cukup seru, tapi menyaksikan apa yang terjadi pada kelompok dua jauh lebih seru. Jadi, sekarang kita pindah ke kelompok dua.



***



“Huh! Kenapa gua malah sama lu sih?” gerutu Jared, mengetahui bahwa hasil gambreng yang dilakukannya bersama ketiga anggota kelompok dua lainnya ternyata justru yang paling tidak diharapkannya.

“Yeee gue juga nggak mau sama lu! Mending gue sama Dennise aja deh! Ih!” seru Rahel. Ya, para pembaca. Jika anda semua lupa, buka lagi bab sebelumnya. Disitu tertulis bahwa kelompok dua yang anggotanya adalah Ihsan, Jared, Dennise, dan Rahel yang tugasnya adalah mencari salon dan tempat pembuatan kostum untuk gig melakukan gambreng untuk menentukan siapa-dan-siapa yang ke salon dan ke tempat kostum. Lalu kemudian diputus dan disambung dengan cerita dari kelompok empat. Inilah sambungan cerita kelompok dua yang terputus itu. Alur cerita ini memang membingungkan.

Akhirnya, Rahel dan Jared memaksakan diri pergi ke tempat kostum untuk menanyakan harga, contoh-contoh kaos yang pernah dibuat, dan hal-hal lain yang perlu dibicarakan soal pembuatan kostum untuk gig. Sedangkan Dennise bersama Ihsan pergi ke salon yang letaknya tak jauh dari tempat kostum.

Dengan entengnya Jared mendorong pintu masuk tempat kostum yang ternyata sekaligus distro yang lumayan berat itu hanya dengan satu tangan. Tempatnya cukup bagus. Ada beberapa pengunjung yang bisa dihitung dengan jari yang datang saat kedua saudara itu masuk. Tentu saja yang pertama kali mereka berdua lakukan adalah mengobservasi tempat itu. Karena tempat pembuatan kostum yang mereka datangi itu juga sekaligus distro, maka ada pakaian dan aksesoris yang dijual di sana. Karena distro itu unisex, maka Rahel langsung segera melihat-lihat pakaian yang dijual, sementara Jared menghampiri kasir untuk menggodanya, eh bukan, untuk menanya-nanyai soal pembuatan kostum.

“Mbak, kalo mau bikin kaos berapa harganya?” tanya Jared pada si kasir. Si kasir adalah seorang gadis seumuran tokoh-tokoh cerita ini yang perawakannya aneh. Dia memakai kacamata dan anting gantung yang agak kepanjangan. Poninya belah tengah, rambutnya panjang lurus hitam dan dikuncir buntut kuda. Dari penampilannya yang begitu, sulit dipercaya jika dia adalah salah satu pegawai di distro untuk remaja itu. Tapi… bisa saja dia cuma sekedar kerja sambilan, kan.

Si kasir menoleh ke arah Jared. Begitu melihat cowok itu, dia langsung merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah terlalu rapi. Kemudian dia tersenyum manis pada Jared, tapi sepertinya cowok badung itu sama sekali tidak tertarik padanya. “Ehm, mas ganteng tadi nanya apa?” si kasir ganjen malah balik bertanya. Apa-apaan ini? Pegawai macam apa dia ini?

Jared mengerutkan dahi. “Hah? Mas ganteng?” pekiknya. “Eh denger ya cewek aneh, gua tuh punya nama woi, jangan manggil gua sembarangan dong! Mas ganteng mas ganteng, panggilan apaan tuh?” dampratnya sambil menunjuk muka si kasir ganjen.

Habis dimarahi, bukannya introspeksi diri sendiri atau gimana, si kasir malah nyengir. Dia malah seneng dimarahin Jared. Okelah, sudah ada dua cewek gila di cerita 4x4 ini—yang pertama, Nia si pelayan restoran Asianese, dan yang kedua yah si kasir ini, yang namanya masih dirahasiakan.

“Aduh, jangan galak-galak dong mas ganteng, nanti aku ganti panggilannya jadi mas galak loh,” kata si kasir tanpa merasa bersalah sama sekali. “Tadi mas galak… eh, mas ganteng nanya apa sih? Aku ndak denger.”

Mas ganteng—nggak deh, mas galak jauh lebih bagus dan lebih cocok, berusaha mengatur nafasnya alias menahan marah. Mas galak kini sadar bahwa meladeni si kasir ganjen itu hanya membuang-buang waktu saja, jadi dia langsung to the point aja deh. “Bikin-kaos-harganya-berapa? Ke-THT-dulu-gih-kalo-nggak-denger.” Katanya. Eh, sebentar dulu, sebelum lanjut, apa tidak ada yang aneh pada dialog mas galak barusan? Tentu saja ada. Kenapa dibelakang setiap kata ada stripnya? Soalnya mas galak ngomong semua kata-kata itu pelan-pelan kayak mengeja.

“Oooo mas ganteng mau tau harga bikin kaos berapa? Hoalah mas, mas, kenapa nggak nanya daritadi?” kata si kasir ganjen dengan aksen Jawa yang kentalnya bahkan lebih kental dari minyak.

Sekali lagi, mas ganteng, eh mas galak, dua-duanya sama saja, berusaha menahan amarah yang semakin merajalela. Kata-kata “hoalah mas, mas, kenapa nggak nanya daritadi?” adalah pemicunya. Padahal jelas-jelas mas galak udah nanya soal harga bikin kaos dari awal juga. “Cepet kasih tau gua berapa harganya! Hergh!” seru mas galak geregetan. Kalau anda, para pembaca langsung nyanyi atau setidaknya inget lagu Geregetannya Sherina, berarti dugaan saya, si pengarang, benar.

Si kasir ganjen kemudian membaca tulisan di sebuah kertas yang ukurannya kecil sambil terus membetulkan kacamatanya. Sepertinya dia kesulitan membaca tulisan-tulisan di kertas itu. Nah, saat itulah, secara tidak disengaja, Jared alias mas galak, melihat name tag si kasir. Name tag itu bertuliskan Mutia, yang sudah pasti dan sudah jelas adalah nama si kasir ganjen. Tapi, itu aneh. Biasanya kan, yang memakai name tag bernama seperti itu pelayan restoran, bukannya pegawai distro. Sudahlah, itu tidak penting, yang penting kan sebentar lagi Jared bisa tau berapa harga pembuatan satu kaos di distro itu.

“Mas ganteng, harga bikin kaos itu tergantung jenis ukurannya, lama pembuatannya, sama tingkat kesulitan desainnya. Tapi harga termurahnya sih 250 ribu.” Kata si kasir ganjen, yang bernama Mutia, dengan entengnya. Tidakkah dia tahu bahwa kata-kata akhir yang dia ucapkan itu sangat mengejutkan sekaligus menyakitkan?

“Dua ratus lima… apa? Apa lu bilang?” tanya Jared bahkan sebelum ia berhasil mengucapkan dua ratus lima puluh.

Mutia cekikikan. “Aku bilang, harga-termurahnya-250-ribu, ke-THT-dulu-gih-kalo-nggak-denger.” Katanya, mengcopy perkataan Jared tadi. Seharusnya Jared malu total.

“250 ribu… 250? 250? 250?!?!” pekik Jared, dengan intonasi yang berbeda-beda. “Oh ya, gua ngerti. 250 ribu tuh harga kalo bikin banyak kaos kan? Iya kan? Nggak cuma satu kan? Daritadi kan gua bilangnya harga bikin kaos, bukan harga bikin satu kaos, jadi 250 ribu pasti harga bikin banyak kaos kan? IYA KAN, MUTIA?” tanyanya bertubi-tubi. Wah, wah, rupanya Jared kerasukan setan tiris nih, yang paling anti mendengar yang mahal-mahal. Karena dia berteriak pas ngomong “IYA KAN, MUTIA?”, maka orang-orang di distro itupun jadi kaget dan kemudian mereka semuapun menoleh ke arah Jared dan Mutia dengan tatapan heran sekaligus ngeri.

Krik, krik, suasana hening sejenak. Eh, kemudian ramai lagi, deh.

“Aku sih mau bilang iya mas, tapi 250 ribu tuh harga termurah bikin satu kaos, mas,” kata Mutia. “Tenang aja mas, bisa di nego kok, tapi kalo mas beruntung!” serunya, kemudian dia tertawa. Sementara Jared boro-boro mau ketawa, kedua matanya yang melotot tajam aja nggak bisa dibenerin untuk sementara saking kaget dan keselnya.

He, tau tidak, Mutia? Mempermainkan Jared adalah suatu kesalahan besar. Apalagi, lo kan nggak kenal dia. Jadi… hati-hati saja. Lo nggak akan tau, apa yang bakal dia lakukan sebentar lagi…

“HAH? SATU KAOS ECERANNYA 250 RIBU?!?! KALO BIKIN 6 KAOS JADI… SATU JUTA LIMA RATUS RIBU?!?!?! HOLLY SHIT!!!!! ITU SIH DUIT JAJAN GUA SETAUN!!!” teriak Jared keras-keras tanpa peduli keadaan sekitarnya. “LU, LU NGGAK SALAH LIAT APA? MASA ECERAN SATU KAOS 250 RIBU? YANG BENER AJA! MANA ADA YANG MAU BIKIN DISINI?!?!”

Karena suara Jared yang begitu keras, semua pengunjung yang ada disitu termasuk Rahel—yang pura-pura tidak mengenal Jared, mendengar seluruh perkataan Jared dari awal sampai akhir (yang di caps lock, tentunya). Dan karena mereka mendengar itu semua, mereka jadi berkomentar sendiri soal mahalnya harga pembuatan satu kaos di distro itu. Bahkan, ada sejumlah orang yang tadinya mau bikin kaos disitu, jadi mengurungkan niatnya tersebut karena mengetahui berapa harga eceran untuk pembuatan satu kaos saja. 250 ribu… itupun kan baru ecerannya, nah bagaimana jika ukurannya XXL, pembuatannya makan waktu lama, dan desainnya sangat sulit? Bisa bisa satu kaos harganya satu juta!

“Wah, lebay banget sih nih! Mana mungkin bikin satu kaos aja harganya sampe sejuta? Yang ngarang udah nggak beres nih otaknya!” kalau ini adalah sederetan kata-kata yang anda, para pembaca katakan, atau setidaknya, yang anda pikirkan, maka dugaan saya, si pengarang, adalah benar.

Tapi… tunggu dulu. Karena kata-kata tadi menyangkut si pengarang, maka inilah pembelaan si pengarang. Memang sih, harga membuat satu kaos mencapai satu juta itu amat sangat berlebihan, kemungkinannya kecil sekali, tapi… jika dilihat dari harga eceran pembuatan satu kaos yang dipatok oleh distro tak kenal ampun ini, kemungkinan kecil ini bukan berarti tidak mungkin, kan? Tidak tertutup kemungkinan bahwa harga pembuatan kaos ukuran M saja harganya bisa gila-gilaan mahalnya, meskipun pembuatannya cepat dan desainnyapun mudah.

Sekarang, coba pembaca bayangkan, masa membuat satu kaos ukuran XS polos yang mungkin pembuatannya hanya sehari semalam saja harganya 250 ribu? Lantas, bagaimana jika membuat enam kaos dengan berbagai ukuran, lama pembuatannya seminggu, dan desainnya terhitung sulit? Berapa kocek yang harus dikeluarkan? Apa benar harga ecerannya memang segitu? Atau justru Mutia si kasir ganjen aja nih yang salah liat? Bagaimana menurut anda, para pembaca setia?

Karena Mutia tidak memberikan jawaban dan Jared sudah terbakar emosi, maka cowok itu langsung menyabet kertas yang dibaca Mutia tadi untuk melihat sendiri kebenarannya. Setelah beberapa detik membacanya, cowok itu nampak lega. “Tenang aja saudara saudara sekalian, ternyata kasir kita ini yang salah liat. Harga eceran satu kaos yang sebenernya cuma 25 ribu kok.”

Dalam sekejap, seluruh distro merasa tenang dan lega. Lalu tidak begitu lama setelah itu, tiba-tiba muncullah seorang cowok dari pintu dibelakang Mutia. Cowok itu tinggi dan kurus, hanya saja tidak berkacamata.

“Aduh, Mutia, ada apa sih? Kok ribut bener? Siapa tadi yang tereak-tereak?” tanya si cowok yang baru muncul itu sambil garuk-garuk kepala.

Belum sempat Mutia menjawab, Jared sudah mengambil alih. “Gua yang tereak, gara-gara dia salah liat harga bikin kaos!” tukasnya kesal sambil melirik tajam ke arah Mutia. “Lu siapa? Manager disini? Pecat aja nih cewek, bikin panik aja!”

“Maaf, maaf, gua cuma pegawai paling unggul disini, jadi gua nggak bisa mecat dia,” kata si cowok yang justru tampak seperti seorang pemalas itu. “Mutia, lu balik aja gih, harusnya lu kan udah balik daritadi, kenapa lu masih disini?”

“Abis, aku belom puas latihan hari ini.” Kata Mutia dengan sangat murung. Oh, rupanya Mutia itu hanyalah seorang gadis yang sedang dalam pelatihan untuk menjadi seorang kasir di distro itu, pantas amatiran sekali dia.

Si cowok memutar bola matanya. “Lu selalu bilang gitu setiap gua suruh balik, udahlah lu balik aja sana, costumer ini biar gua yang handle.”

Dengan terpaksa, Mutia pergi meninggalkan kasir dan masuk ke pintu buat pegawai tempat si pegawai unggulan muncul tadi. Setelah pintu itu tertutup kembali, si pegawai unggulan yang ternyata bernama Irvan itu berbicara panjang lebar dengan Jared soal pembuatan kostum. Karena pembicaraan ini tidak menarik, maka sebaiknya tidak usah diceritakan saja. Setelah membicarakan soal pembuatan kostum hingga sedetil-detilnya, akhirnya pembicaraan mereka berduapun selesai. Sebelum Jared mengakhiri pembicaraan, dia meminta nomor handphone  Irvan, juga memintanya untuk menonton gig pertama The Comicses. Lumayan kan, menambah satu orang penonton. Kali aja Irvan juga mengajak beberapa temannya sehingga penonton jadi lebih banyak.

Rahel yang tertarik pada sebuah baju di distro itu dipaksa Jared pergi meninggalkan distro itu karena keperluan inti mereka sudah selesai. Sejumlah pengunjung menyaksikan pemaksaan itu, dan salah seorang dari mereka berkata, “Hah? Mereka saling kenal? Nggak nyangka gue, kirain nggak kenal sama sekali.”

Karena soal pembuatan kaos sudah jelas, saatnya Jared dan Rahel pergi ke salon untuk menjemput dua rekan mereka yang lainnya, yakni Dennise dan Ihsan. Rupanya mereka berdua juga sudah selesai, jadi akhirnya mereka berempat itu bertemu dari kejauhan. Setelah itu mereka berempat pergi bersama-sama untuk masuk kedalam mobil yang selanjutnya akan kembali ke rumahnya Pierre. Nah pada saat itulah, hujan turun disertai angin, juga kilat dan petir. Alhasil, kelompok dua kebasahan sedikit sebelum akhirnya berhasil masuk kedalam mobil. Saat mereka sudah berada di dalam mobil, hujan semakin ganas dan angin semakin kencang. Dan… mulai dari sinilah, sebuah tragedi yang merupakan perwujudan dari tanda buruk yang menimpa desain kostum Jared, dimulai…

“Sialan, parah nih hujannya! Kita nggak bisa balik sekarang!” gerutu Jared si pengemudi. Kali ini posisi duduk berubah, yang disebelahnya Ihsan, sedangkan yang dibelakang adalah Rahel dan Dennise.

“Eh, hp gue mana ya?” tanya Dennise sambil mencari-cari di dalam tasnya. Well, this is it. Inilah pangkal tragedi itu. “Kok nggak ada? Tadi perasaan gue taro disini deh…” gumamnya sambil terus mencari-cari. Tapi ponselnya tersebut tidak ditemukan.

“Lu carinya kurang teliti kali, pasti ada-lah di dalem tas lu, masa nggak ada sih?” kata Rahel yang memang sengaja tidak membawa handphone.

Jared si pengemudi mengebelakangi kursi duduknya. Lalu ia bersandar dengan santainya. Tidak peduli sama sekali pada Dennise yang sedang mengkhawatirkan keberadaan ponselnya. “Yaaa kalo emang lu udah naro di tas sih pasti ada, kalo kagak…” celetuknya.

Dennise yang lagi sibuk merogoh-rogoh tasnya langsung berhenti. Jared memang menyebalkan, tapi kata-katanya tadi itu harus diakui kebenarannya. Jangan-jangan, Dennise memang belum memasukkan ponselnya kedalam tas, lagi… Alias ketinggalan. Lalu cewek itu memejamkan matanya, berusaha mengingat-ngingat apa saja yang terjadi ketika ia berada di salon tadi bersama Ihsan. Seinget dia sih, dia tidak membawa ponselnya kedalam salon…

“Ah! Gue inget!” seru Ihsan dan Dennise kompakan tiba-tiba. Rupanya daritadi Ihsan juga mengingat-ngingat apa saja kejadian yang terjadi saat ia berada di salon bareng Dennise.

“Eh lu berdua kenapa sih? Udah dua kali kompakan gitu.” Sahut Rahel.

“Gue inget, Hel, gue inget! Ternyata gue bawa hp gue ke salon! Daritadi gue kira gue nggak bawa!” seru Dennise dengan kedua mata melotot.

“Haduh haduh kok perasaan gua nggak enak gini ya semoga nggak ada apa-apa dah males amat hujan-hujan begini,” kata Jared dengan nada orang tidak peduli.

Ihsan menoleh ke belakang. “Gue inget, tadi lu sempet ke WC kan? Jangan-jangan…” katanya, meniru gaya orang-orang di sinetron atau di film-film. Uh-oh, suasana semakin menegangkan, apa yang sebetulnya terjadi sih?

Diam sejenak. Dennise menatap Ihsan dengan mata menyipit, sedangkan Ihsan sendiri menatap Dennise dengan wajah khawatir. Rahel belum paham sementara Jared tidak peduli dan ia mulai tidur.

“Eh apaan sih maksudnya nggak ngerti gue serius,” kata Rahel sambil menatap Dennise dan Ihsan secara bergantian. Bagaimana? Apakah para pembaca juga belum paham seperti Rahel? Atau justru malah sudah paham betul? “Tadi kata Ihsan lu sempet ke WC kan, Denn? Jangan-jangan hp lu kecemplung kloset gitu maksudnya?”

Diam. Petir menyambar. Tidak ada yang tertawa. Padahal kalo dipikir-pikirkan lumayan juga tuh kata-katanya Rahel barusan. Tapi ternyata saat itu semuanya kecuali Jared sedang dalam keadaan yang begitu serius sehingga tidak bisa tertawa. Soalnya perkara ini bakalan berbuntut panjang.

“Apaan sih lu nggaklah,” kata Dennise ke Rahel. “Jangan-jangan hp gue ketinggalan di WC salon! Atau nggak bukan di WC-nya, intinya ketinggalan di salon!”

Ihsan menelan ludahnya. “Nah, itu dia yang paling gua takutin,” katanya. “Terus sekarang gimana? Mau kesana lagi?”

“Haaaaa yang bener aja lu? Hujannya deras begini juga! Mau sakit lu?” pekik Rahel sambil menunjuk ke jendela yang dihantam habis-habisan oleh air hujan. Hujan kali itu memang parah sekali, seperti ingin menjebak kelompok satu dimana mereka berada sekarang. Ditambah lagi angin yang bertiup kencang, menambah ketidakmungkinan kelompok satu untuk ke salon lagi.

Dennise memasang wajah masam. “Iya sih, tapi hp gue gimana? Kalo lama-lama di salon kan bahaya! Aduh gawat nih, bisa diapain gue kalo udah di rumah? Ah elah.”

Tiba-tiba Jared melek seperti iblis—yah, dia memang mendekati itu sih. Padahal dirinya udah hampir terseret kedalam dunia mimpi. Ia bangun karena ingin memberikan komentarnya. “Bukan kalo lama-lama lagi Denn, emang udah lama kan.”

Dennise menggerutu kesal. “Ah elu mah gitu banget sih bukannya bantuin gue juga!” serunya panik (ya iyalah, siapa sih yang nggak panik kalo ponselnya ketinggalan di suatu tempat?). “Aduuuh gimana nih? Hp gue kemungkinan besar masih di salon! Kalo dicolong orang gimana?”

“Bentar dulu deh, emang udah pasti bener-bener masih di salon hp lu Denn? Kali aja keselip gitu di tas lu atau dimana kek, masalahnya hujannya gede banget nih, pake ada anginnya segala.” Kata Rahel.

“Nggak salah lagi, pasti hp gue di salon! Gue inget banget!” seru Dennise yakin seyakin-yakinnya. Biasanya bener nih kalo udah begini sih. “Ah bodo amatlah, gue tetep mau ke salon!”

Ihsan dan Rahel berusaha mencegah niat Dennise yang nekat keluar untuk pergi ke salon walau harus menerobos hujan deras dan angin, tetapi saat Dennise membuka pintu mobil, pintunya tidak terbuka. Pintunya terkunci rapat-rapat.

“Yah, pintunya dikunci lagi! Aaaa gimana nih? Hp gue gimana? Kalo diambil orang gimana?” seru Dennise sambil terus memaksakan diri membuka pintu mobil. Kasihan si pintu. Hidup aja nggak malah jadi sasaran.

“I… I wouldn’t do that if I were you,” kata Ihsan sambil memandang pintu mobil dengan wajah prihatin. Bagaimana tidak? Dennise terus-terusan mencoba membuka pintu mobil yang jelas-jelas terkunci itu. Kalau rusak bagaimana? Itu kan juga harus dipertimbangkan.

Jared mencibir. “Yaelah selow aja kali, lu bukan bintang porno ini kan,” katanya seenak jidat. “Udah biarin aja hp lu diambil orang, toh nggak ada apa-apanya ini… atau jangan-jangan ada lagi.”

“Lu tuh jadi orang kenapa nyebelin banget sih, Jare? Kalo ngomong tuh disaring dulu, dong!” gerutu Rahel. “Seenaknya aja lu ngomong “Biarin aja hp lu diambil orang”, kalo lu yang jadi Dennise gimana? Palingan juga mewek lu.”

“Oh geez…” gumam Jared. “Kalo gua jadi Dennise sih gua tinggal minta ganti Pierre aja, susah bener dah. Yang mewek juga elu palingan,” katanya sambil menunjuk dahi Rahel. “Gua jadi curiga nih, jangan-jangan di hp lu banyak video dan foto… ya lu taulah maksud gua.”

Dengan cepat Dennise paham apa maksud Jared, padahal biasanya cewek itu tidak peka terhadap sesuatu yang tidak dijelaskan secara gamblang. “Eh! Enak aja lu! Emangnya gue keliatan kayak orang yang begitu, apa?” pekiknya.

Jared memandangi wajah Dennise sambil bergumam sejenak. Kemudian dia menghela nafas. “Technically, yes,” ujarnya.

Dennise sebetulnya tidak begitu mengerti apa maksud Jared, cuma karena laki-laki itu mengucapkan “yes” yang berarti “iya”, lantas ia pun menjadi berang karenanya. “Kurang ajar lu! Bukannya ngebantuin gue malah ngatain lagi! Udah deh lu diem aja sana tidur kek nungging kek apa kek!”

“Et sorry dah gua kan cuma becanda,” sergah Jared sambil melindungi dirinya dari serangan Dennise. “Udah lu tenang aja, gua ambilin hp lu di salon,”

“Hah? Eh, jangan lu dong! Nanti kalo lu sakit gimana?” pekik Rahel tiba-tiba.

Mendadak semuanya diam. Petir menyambar lagi. Hanya suara hujan yang menghantam mobil kelompok satu saja yang kedengaran. Dennise melotot, mulutnya menganga. Sementara Jared hanya melotot saja. Ihsan hanya kaget sedikit. Apa tadi kata Rahel? Apa tadi katanya, para pembaca? Bukankah itu suatu keajaiban besar?

“Lu, lu salah makan ya? Apa salah minum obat?” tanya Jared sambil memegang dahi Rahel.

Rahel mengelak. “Jangan geer dulu lu, gue ngomong gitu bukan berarti gue care sama lu hih ogah amat ngapain gue peduli sama lu?” tukasnya. “Lu kan mau nge-gig, pertama kali lagi, masa lu sakit? Gimana nanti? Kasian dong yang lain! Percuma aja kita kejebak begini sampe hpnya Dennise ketinggalan segala kalo gignya nggak jadi cuma gara-gara lu sakit!”

“Hah, tumben lu pinter,” kata Jared sambil tersenyum. “Tapi lu-lu pada tenang aja. Imunitas gua terpercaya, minuman gua hari-hari kan Kratingdaeng, Extra Joss, Hemaviton! Hujan segini doang? Bah, kecil!”

“Cih, dasar kuli bangunan,” celetuk Dennise. Lantas Ihsan terutama Rahel tertawa mendengarnya. “Lagian itu kan minuman-minuman buat energi, bukan buat imunitas! Gimana sih lu?”

“Udahlah Jare lu nggak usah banyak gaya deh, bilang aja minuman lu sehari-hari tuh susu bayi! Hahahahaha!” seru Rahel. “Kalo yang ngempeng-ngempeng itu sih gue masih nyepik-nyepik dikit, kalo ini nggak! Emang lu suka minum susu bayi kan! Jijay!”

Dennise terbahak-bahak mendengarnya, sementara Ihsan hanya tertawa saja. Apa-apaan si Jared itu? Padahal wataknya seperti itu tapi sukanya susu bayi. Apa dia sudah tidak waras?

“Sok imut lu Jare!” seru Dennise.

Wajah Jared memerah. Ia tidak mengelak sama sekali. Berarti yang dikatakan Rahel itu benar. “Abis susu bayi enak, sih… eh, jangan girang dulu lu, lu kira gua nggak tau apa? Lu kan suka makan bubur bayi! Malah lu lebih parah! Biskuit bayi lu emut-emutin!”

Kali ini wajah Rahel yang memerah. Sepertinya yang dikatakan Jared tadi juga benar. Intinya kedua saudara kembar ini sama-sama belum bisa melepas masa kecilnya.

“Eh kok jadi ngomongin ini sih? Hpnya Dennise gimana?” sahut Ihsan tiba-tiba. Menghentikan suasana ceria yang sudah terbentuk setelah suasana serius.

“Oh iya!” seru Dennise. “Udah deh nggak apa-apa gue aja yang ngambil! Itukan barang gue!”

“Lah masa lu sendirian, gitu? Jangan dong! Gue juga ikut deh!” seru Rahel.

“Salah lu berdua, yang harusnya pergi gua!” seru Jared. “Gua nggak bakalan maafin diri gua sendiri kalo lu berdua berhasil ke salon terus balik lagi kesini sementara gua duduk disini kayak orang tolol. Harga diri gua sebagai laki-laki bisa marah!”

Rahel tersenyum manis. “Wah, berat sih gue ngakuinnya, tapi omongan lu barusan keren juga. Nggak nyangka gue orang kayak lu bisa ngomong gitu.”

Jared tersenyum bangga. “Iya dong, gua gitu,” katanya. “Gua ini laki-laki coy, dan elu berdua perempuan. Enak aja gua kalah dari lu berdua, masa lu berdua mau ngelawan hujan segini deres gua kagak? Laki-laki sejati kayak gua nggak akan mau kalah dari cewek-cewek macem lu berdua. Jadi lu berdua diem aja disini, gua yang ke salon, oke?”

Belum sempat kedua cewek menjawab, Jared udah ngomong lagi. “San, lu ikut, nggak? Apa lu mau tetep disini aja, jadi banci?” tanyanya sambil menoleh ke arah Ihsan.

Ihsan mendesah. “Gue sih mau aja ke salon, tapi mending lu jangan ikut, Jare, beneran deh,” katanya. “Ya gue setuju sih sama pendapat lu barusan, tapi kan lu mau nge-gig. Kalo lu lagi sial terus lu sakit gimana?”

“Gue setuju sama Ihsan,” kata Dennise. “Soalnya kalo lu sakit kan udah pasti batal gig-nya. Kasian Gabe, Viona, Vero, Leif, dan yang lain-lainnya dong! Mereka kan juga berusaha buat gig ini, kalo sampe batal gara-gara lu sakit cuma gara-gara ini? Apa nggak nyesek tuh mereka semua?”

“Gue emang benci banget sama elu, tapi gue nggak bakalan maafin diri gue sendiri kalo ngebiarin lu sakit—soalnya itu berarti gue ngebiarin gig-nya batal! Enak aja, masa batal sih? Berarti pengorbanan waktu sama tenaga gue sia-sia dong!” seru Rahel.

“Kalo emang lu itu bener-bener laki sih, lu ngalah kali ini,” celetuk Ihsan sambil menepuk sebelah pundak Jared. “Lu ngalah bukan berarti lu kalah.”

Jared menepis pundaknya. “Kan tadi gua udah bilang, gua nggak akan maafin diri gua sendiri kalo Dennise, Rahel, atau dua-duanya ke salon itu terus balik lagi sedangkan gua bengong aja disini serasa orang idiot,” katanya. Rupanya ia tetap bersikeras untuk ke salon. Well, Jared memang ngototan. “Gua nggak peduli, udahlah, biarin aja gua pergi.”

“Aduuuh Jareeed! Jangan egois dong! Lu liat tuh hujan! Deres banget gitu juga! Berangin lagi! Tinggal nurutin kita-kita aja susah bener sih lu! Ini jadi kelamaan debatnya kan! Kalo hpnya Dennise udah keburu dicolong orang gimana? Lu mau tanggung jawab, hah?” omel Rahel sambil menunjuk-nunjuk jendela mobil.

Sebenernya sih, logikanya ya, hpnya Dennise udah pasti kecolong orang. Bayangkan saja, selama itu hpnya berada di salon—yang merupakan tempat umum, jadi siapa saja bisa kesitu. Cuma si pengarang pikirannya nggak begitu realistis, jadi ceritanya nggak seperti itu. Sebetulnya sih, cukup Dennise dan Ihsan saja yang pergi, cuma masalahnya adalah… Jared ngotot tetap ingin pergi jika ada cewek yang pergi, sedangkan Dennise sudah pasti pergi karena yang ketinggalan itu barangnya, nah tapi kan Jared mau nge-gig, kemungkinan besar dia bakal sakit jika tetep nekat ke salon ditengah hujan dahsyat itu. Ini dia nih permasalahannya. Coba aja kalo Jared nggak ngotot, selesai udah daritadi masalahnya.

“Lu juga harus liat, Hel, lu yakin mau nerobos hujan sederes itu sama si Dennise? Yang bener aja, nggak usah nekat deh,” tukas Jared. “Lu kira gua nggak punya perasaan apa? Mana tega sih gua ngeliat elu berdua sama Dennise jalan kaki ke salon padahal cuacanya bahaya begini? Belom lagi petir! Mana bisa gua enak-enakan disini sementara lu berdua menderita begitu? Apalagi kalo sampe lu berdua sakit…”

“Oooh jadi itu alesan sebenernya lu ngotot mau ke salon, kirain gue lu cuma sekedar nggak mau kalah dari mereka, eh ternyata lu sebenernya care banget sama mereka berdua.” Sahut Ihsan sambil tersenyum.

Wajah Jared memerah semu. “Are you kidding? Of course I care! Gua kan cowok sejati! Cowok sejati itu harus care sama cewek! Dan tentu aja, nggak boleh kalah dari mereka!”

“Biarin aja kita yang sakit, Jare, asal jangan elu…” kata Dennise.

“No no no, jangan khawatirin gua, lebih baik lu khawatirin diri lu sendiri kalo tetep ke salon tanpa gua,” kata Jared sambil geleng-geleng kepala. “Tenang aja… gua nggak akan sakit. Percaya deh.”

“Hmm…” gumam Rahel. “Eh, gue ada ide bagus nih,” katanya. “Daripada kita debat terus-terusan begini nggak selesai-selesai, gimana kalo yang pergi ke salon itu…”



***



“You know what, Rahel? Ide lu sih nggak jelek, tapi nggak bagus juga!” seru Jared keras-keras. “Ya nggak gini juga dong! Ini sih lu nyiksa gua namanya!”

“Abis mau gimana lagi? Lu ngotot, Dennise ngotot, semuanya ngotot, ya udah begini aja! Daripada kita nggak gerak sama sekali! Keburu diambil orang entar hpnya si Dennise kan kasian dia!” seru Rahel keras-keras juga.

Dennise menghela nafas. “Ya kalopun udah keambil kan seenggaknya kita udah usaha! Daripada diem aja di mobil!” serunya keras-keras.

“Aduh, ini sih nggak ada gunanya, tetep aja gue basah-basah juga!” keluh Ihsan keras-keras.

Kenapa ya? Kok keempat anggota kelompok dua ngomongnya keras-keras semua? Apa mereka berempat tuli serempak? Disamping itu, apa maksudnya Ihsan dengan “basah-basah juga”? Apa pula maksud Jared dengan “ya nggak gini juga dong! Ini sih lu nyiksa gua namanya!”? Jadi, yang terjadi adalah, kelompok dua mengikuti sarannya Rahel. Dan sarannya Rahel itu adalah… yang pergi ke salon justru mereka semua sekaligus. Hebat, bukan?

Ditambah lagi, payung yang kebetulan ada di bagasi mobilnya Pierre yang dipake oleh kelompok dua cuma ada satu. Jadi satu payung dipake untuk empat orang sekaligus. Payungnya juga biasa aja tuh, nggak ada istimewa-istimewanya, meskipun berada di bagasi mobil orang tajir seperti Pierre sekalipun. Yang megang payungnya tentu saja Jared, yang paling jangkung diantara semuanya. Sementara ketiga orang lainnya memaksakan diri untuk terus berada di bawah payung dengan cara mepet-mepet ke Jared. Tapi usaha itu tidak berjalan dengan begitu lancar—ya iyalah, mana ada satu payung biasa dipake empat orang untuk menghadapi hujan super deras plus berangin dan itu berhasil? Alhasil, ketiga orang selain Jared kebasahan, bahkan Jaredpun juga ikutan basah sedikit.

“Ayo! Kita jalan terus! Hujan begini sih nggak ada apa-apanya!” seru Jared sambil melangkahkan kakinya, melawan air dan angin yang mendera. Dedaunan berterbangan dari pohon, saking derasnya hujan, jalanan jadi putih seperti terkena kabut sehingga menghalangi penglihatan. Kurang buruk apalagi sih perjalanan ini? Belum lagi jarak dari mobil ke salon nggak begitu dekat.

“Ah! Itu dia! Salonnya udah keliatan!” seru Dennise dengan nada amat sangat bahagia. Karena bila salonnya sudah kelihatan, itu artinya kan mereka sudah dekat dengan tempat itu.

Dengan susah payah, kelompok dua berjalan ke salon setengah mati. Hanya untuk mengambil ponselnya Dennise yang ketinggalan disitu. Kalau sampai keburu dicolong orang, kira-kira apa yang bakal mereka berempat lakukan, ya? Berarti perjuangan mereka ini kan sia-sia saja. Selain itu, kemungkinan Jared tidak sakit akibat ini juga terhitung kecil, karena hujannya tuh amat sangat deras. Jadi, semoga aja The Comicses dikasih keberuntungan, sehingga si drummer Jared tidak sakit.

Begitulah, akhirnya kelompok dua berhasil setengah jalan. Lalu, sebuah bencana terjadi… lagi. Angin mengamuk, sehingga Jared si pemegang payung kesulitan dalam mengendalikan payungnya. Alhasil, payung itu terlepas dan terbang entah kemana. Jeger.

Jared melepas kacamatanya yang sudah terlalu basah untuk dipakai. Dalam sekejap, seluruh tubuhnya basah kuyup karena terkena air hujan. “Anjrit! Anginnya tai banget! Santai aja dong, tot!” gerutunya. Padahal lagi di situasi begitu juga, masih sempet-sempetnya cowok itu berkata kasar.

“Yah Jare, kalo lu nggak pake kacamata terus gimana dong? Nanti lu nggak bisa ngeliat, lagi,” kata Dennise.

“Minus gua nggak parah, jadi nggak masalah kalo nggak ada kacamata juga,” kata Jared sambil memasukkan kacamatanya ke dalam saku celananya. “Hmph, kalo udah gini sih nggak ada pilihan laen kecuali… lari.”

Kelompok dua diam sejenak. Mereka saling berpandangan satu sama lain sambil tersenyum. Berlarian di tengah hujan besar berempat sepertinya seru juga. Sakit? Ah. Sekarang mereka berempat apalagi Jared udah nggak peduli soal itu. Kapan lagi bisa menikmati hujan sederas ini?

Jared tersenyum. Sekarang posisinya dia udah kayak posisi orang yang mau lomba lari. “Are you ready, my fellas? Let’s go.”

Kemudian Ihsan, Rahel, dan Dennise juga berposisi sama seperti Jared. Mereka berempat persis seperti peserta lomba lari. Cuma bedanya, lomba lari yang satu ini ditemani hujan dan tidak ada garis finishnya. Oh ya, tidak ada pistol atau peluit yang menandakan perlombaan dimulai, juga.

“Satu… dua… tiga!” seru kelompok dua bersama-sama. Lalu setelah itu mereka berempat lari sekuat tenaga dengan penuh semangat dan canda tawa. Hujan dan angin seperti tidak berarti apa-apa lagi bagi mereka untuk saat itu. Padahal seluruh badan mereka sudah basah kuyup dan kedinginan.

Akhirnya mereka berempat sampai di salon dengan urutan sebagai berikut: Jared, Ihsan, Rahel, Dennise. Tapi meskipun sudah sampai, mereka tidak langsung memasuki salon, melainkan istirahat dulu sejenak, mengatur nafas dan menceritakan sedikit kesan tentang lomba lari yang baru saja mereka lakukan. Barulah mereka memasuki salon tempat ketinggalannya ponsel Dennise.

Salon itu lagi ramai—gara-gara diisi sama orang yang sekedar berteduh padahal udah nggak ada keperluan apapun lagi. Para pengunjung dan pegawai memandangi kelompok dua yang baru saja sampai dengan tatapan keheranan. Karena mereka berempat terlalu basah, jadi sudah bisa dipastikan bahwa mereka mati-matian ke salon itu. Kenapa? Ya kan para pegawai dan pengunjung salon nggak ada yang tau kenapa kelompok dua bersikeras ke salon, makanya mereka bertanya-tanya dalam hati.

“Ya ampun, Dennise! Ihsan! Kalian kok kesini lagi?” tanya si pimpinan salon yang bernama Eka. “Aduuuh kalian pasti kehujanan deh! Bentar ya, gue ambilin handuk.”

“Siapa tuh? Kok kenal lu berdua?” tanya Jared setelah Eka hilang dari pandangan.

“Dia pimpinan salon ini, namanya Eka,” kata Ihsan.

“Oooh… pantes,” kata Rahel dan Jared serempak.

Eka kembali lagi, dengan empat handuk besar di kedua tangannya. “Nih handuknya,” katanya sambil memberikan masing-masing handuk kepada kelompok dua. “Oh ya, lo berdua kenapa kesini lagi? Bawa temen lagi.”

“Hp gue ketinggalan Ka, makanya gue kesini lagi mau ngambil,” kata Dennise sambil terus mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Eka tampak terkejut. “Hp? Ah, iya iya iya. Yuni!” serunya sambil menjentikkan jari. Tak lama kemudian, datanglah seorang gadis berkacamata yang berperawakan seperti Betty La Fea. “Ini si Yuni, tadi dia katanya nemuin hp di meja kasir, mungkin itu hp lo kali.”

Dennise tersenyum girang. “Hah? Iya? Yes! Pasti itu hp gue!”

Yuni mengeluarkan sebuah hp dari saku bajunya. Dan ternyata memang benar, itu adalah hp milik Dennise. Jadi saat Dennise ke WC, dia menitipkan hpnya pada si kasir karena Ihsan lagi keluar. Nah si kasir iya iya aja, tapi hpnya Dennise nggak disimpen di tempat yang aman. Si kasir malah makan siang di tempat lain. Terus, Yuni menemukannya, tergeletak tak bertuan di atas meja kasir. Karena nggak ada yang tau itu punya siapa, Yuni menyimpannya di saku bajunya, kalau-kalau nanti si pemilik balik lagi. Lalu, Dennise kembali dari WC, bersamaan dengan kembalinya Ihsan. Belum sempat Dennise mengambil hpnya, Ihsan sudah mengajaknya untuk berbincang-bincang dengan Eka. Sehingga Dennise lupa total soal hpnya itu dan baru ingat saat sudah berada di mobil.

“Buset itu kasirnya parah banget deh, udah pecat aja! Hahaha.” Kata Rahel setelah mendengar cerita Dennise dan keterangan dari Yuni.

“Ya udahlah yang penting hpnya Dennise udah balik.” Kata Jared.

“Eh, kalian jangan pulang dulu! Tunggu aja hujannya reda disini,” kata Eka.

Kelompok dua menyetujui usul Eka tersebut. Mereka tidak nekat balik ke mobil lagi di tengah-tengah hujan yang masih deras. Jadi merekapun akhirnya berteduh di dalam salon hingga hujannya reda sambil ngobrol bareng Eka. Selain itu, mereka berempat juga mendapat treatment gratis karena salon itu udah di booking khusus untuk persiapan gig The Comicses—yang artinya memberikan keuntungan besar bagi Eka. Belum lagi yang bayar kan Pierre, jadi mungkin ditambah tip dan tanpa kembalian. Menurut Eka, kerugian memberikan treatment gratis untuk empat orang itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan keuntungan saat menghandle The Comicses saat persiapan gig nanti. Jadi, kenapa tidak?








(Bersambung… Lagi)

0 opinions:

Post a Comment