Bab 26
Ketahuan
Brody terpaku bagaikan patung lilin diatas panggung. Bedanya hanyalah Brody itu manusia, sedangkan patung lilin yah... patung. Mukanya cengo banget, mengundang keinginan orang-orang untuk segera melemparinya dengan tomat segar. Well, hanya sebagian sih yang terpancing keinginannya. Sebagiannya lagi terlalu kasian ngeliat tampang cengonya Brody.
Lama-lama para penonton ikutan terdiam. Mereka berhenti bersorak-sorai dan mengganti wajah mereka menjadi wajah bingung karena band yang berada di hadapan mereka semua malah menunjukkan pertunjukan patung.
Velope melempar sendok sup ke kaki kiri Brody. Brody sedikit kesakitan. "Heh! Ngomong dong, benga! Jangan diem aja het," omel Velope agak keras. Untungnya nggak mengundang perhatian siapapun.
"Ah, emm... Erh..." Brody gelagapan total. Bagus deh, semua orang mulai menganggapnya bodoh sekarang. Namun sebelum keadaan bertambah parah, Cove beranjak dari posisinya dan langsung menyabet mikrofon.
"Ngggiiiiiiing..." Desis si mikrofon, yang kayak menandakan bahwa dia menolak sabetan Cove.
Cove mengetuk-ngetuk si mikrofon beberapa kali. "Tes tes satu dua tiga..." Katanya. Suara nge-bassnya menyeruak ke seantero restoran. "Yo! Selamat malem semuanya!"
Penonton kembali bersorak.
"Makasih banget ya kalian semua udah mau dateng kesini buat ngeliat kita tampil, itu berarti banyak loh buat kita semua... Yegak, kawan-kawan?" Jelas Cove sambil menoleh ke arah rekan-rekan bandnya. Tentu saja semuanya menjawab "iya".
Kali ini giliran Gabe yang menyabet mikrofon dari Cove. Tapi si mikrofon tidak berdesis kali ini. "Emm... Kita cuma mau bilang, kita tuh masih bener-bener amatiran, jadi kita minta maaf banget banget baaanget kalo nanti menurut kalian performance kita jelek,"
Cove merebut si mikrofon lagi. "Oh iya, beli juga ya demo CD kita. Satunya cuma ceban kok, kalian bisa minta sama... Dia tuh, yang tampangnya tengil itu." Katanya sambil menunjuk Viona.
Viona tampak terkejut karena dirinya dibilang tengil didepan umum dan kini puluhan pasang mata sedang menatapnya.
Gabe menyabet si mikrofon sekali lagi. "Isinya tujuh lagu dalem negeri yang kita coverin. Well, it's not so good sih tapi not too bad juga, makanya beli aja terus dengerin deh!"
Kali ini justru Brody yang merebut mikrofon dari tangan Gabe. "Sebentar lagi kita bakal nampilin lagunya D'Massiv yang judulnya Jangan Menyerah, sama kayak kita yang nggak pernah nyerah ngadapin banyak cobaan,"
Para penonton bertepuk tangan dan bergembira.
"Kita? Bukannya elu aja tuh yang punya banyak cobaan?" Celetuk Cove saat dia berbalik menuju posisinya di ujung kiri. Brody nampak terkejut mendengarnya karena Cove mengucapkannya dengan serius. "Hahah nggaklah gua cuma becanda,"
Lalu, setelah itu, keenam personil The Comicses sudah siap kembali di posisi masing-masing. Aba-aba kali ini datangnya dari Pierre. "Uno dos tres quarto," katanya. Fortunately, yang lainnya udah terbiasa mendengar aba-aba ini, jadi tidak ada masalah.
Tidak ada masalah pada aba-aba, begitu juga dengan performance The Comicses. Keenam cowok-cowok pahlawan cerita ini berhasil membawakan lagu Jangan Menyerah dengan sangat baik. Para penonton tampak menikmati sekali pertunjukkan musik ini. Saat lagunya sudah selesai, para penonton bertepuk tangan dengan senang. Betul-betul gig pertama yang sukses. Well, tunggu saja hingga saat makan-makan nanti. Ada sesuatu yang mengejutkan.
"That was awesome! Great job, guys!" Seru Velope sambil ber-hi-five-ria dengan para cowok di backstage. Dia tidak datang sendiri, ada Vero dan Brian juga disana.
"Keren keren keren, salut gua sama lu-lu pada," kata Matt. "Performance kalian lebih bagus dari latihannya, enggak nyangka gua orang-orang kayak lu-lu ini bisa bawain lagu sebagus itu."
Leif meninju pelan lengan Matt. "Ah lebay lo, nggak segitunya juga kali," katanya dengan cengiran. "Kita kan cuma ngebawain lagi lagunya D'Massiv doang, itu sih semua band juga bisa."
Tiba-tiba si manager restoran yang menyebalkan datang. Dia tersenyum lebar. Senyumannya buruk sekali. "Bagus! Bagus! Kerja yang bagus! Fantastico!" Serunya sambil bertepuk tangan. "Kalo kalian mau, kalian bisa jadi live music permanen di restoran ini! Gimana? Mau nggak?"
"Our payment, please," Kata Jared dengan suara rendah. Tangannya sudah siap menerima sumbangan sebesar 50 ribu. "Inget ya pak, bukan kayak gitu perlakuan yang pantas buat calon aset penting restoran, if you know what I mean,"
Diam.
"Nanti kita pikirin lagi soal tawaran bapak." Kata Pierre.
Si manager berhenti tersenyum. Kemudian dia merogoh saku celananya. Segepok uang tunai dikeluarkannya. Kemudian uang tunai itu dilemparkannya ke arah Jared, dengan sigap Jared menangkapnya. "Hmph, dasar anak-anak kurang ajar. Baru sukses sedikit aja udah belagu, apalagi kalo udah tenar nanti? Saya harap saat itu nggak akan ada."
"Well, saya harap saatnya bapak dinaikin gajinya nggak akan ada." Celetuk Vero.
Semuanya tertawa kecuali si manager. Sambil mengumpat, orang menyebalkan itu pergi meninggalkan backstage.
"Bodoh," kata Jared sambil tersenyum licik. "350 ribu jadi satu juta. This must be our lucky day," katanya.
"Buset, cepet banget mas ngitungnya." Kata Brian.
Gabe geleng-geleng kepala. "Ckckck Brian, pemahaman lu terhadap hidup masih kurang," katanya. "Yang namanya duit sih nggak akan bisa diitung lama-lama! Udah nafsu duluan soalnya mau tau jumlahnya berapa,"
"Eh eh btw itu 650 ribunya mau diapain?" Tanya Velope dengan nada penuh harap.
"Diapain? Ya dibalikin..." Kata Brody. Namun sebelum anak itu sempat menyelesaikan kata-katanya, yang lainnya udah berseru "NGGAK!!!" Bareng-bareng. Jadi jelas sekali usul mulia-nya itu ditolak mentah-mentah.
"Naif lo Brod," kata Cove sambil melipat tangannya. "Nanti aja kita rundingin bareng-bareng sama yang laen di meja makan,"
Mendengar kata "makan", Matt langsung bereaksi kimia. "Oh iya! Astaga kok gua bisa lupa sih kalo bayaran kita nggak cuma 50 ribu doang tapi juga sama makanan gratis?" Katanya sambil menepuk dahi sendiri. "Ayo kita ke meja makan! Tunggu apalagi?"
***
The Comicses kini sudah berasa kayak artis professional, bagaimana tidak? Saat mereka berjalan menuju meja makan, banyak penggemar--yang merupakan teman-teman para anggota, manager, dan para asisten yang menghampiri mereka. Tidak hanya itu, saat mereka sudah duduk di meja makanpun, masih ada juga sejumlah penggemar yang menghampiri. Dan ketika semua penggemar sudah selesai berbincang-bincang dengan The Comicses Crew, saatnya mengurusi si duit dadakan.
Segepok uang tunai berjumlah 650 ribu tergeletak lemas tak berdaya di atas meja makan sebuah restoran. Uang tersebut dipandangi oleh 28 pasang mata.
"My oh my," kata Velope sambil geleng-geleng kepala. "Mimpi apa ya gue semalem? Tiba-tiba dapet 650 ribu karena kebegoan seseorang,"
Mungkin inilah balasan untuk orang menyebalkan seperti si manager itu. Lagian ngeluarin duit bukannya diitung dulu malah main lempar aja, bayaran juga bukannya dipisah malah digabung sama keperluan-keperluan lainnya. Yah... Beginilah jadinya. Kehilangan satu juta rupiah karena kesalahan yang bodoh.
"Ini duit kita apain ya enaknya? 650 ribu coy! Lumayan banget!" Seru Brody.
"Kalo 50 ribu buat cewek-cewek, masih ada sisa 300 ribu. Lumayan buat bersenang-senang hari ini!" Seru Gabe sambil nyengir.
Matt melotot. "Nggak! Semuanya gua yang simpen!" Serunya keras-keras. Dalam sekejap suasanapun hening. Tidak mungkin tidak ada yang dengar itu.
"Our stingy mingy manager say what?" Kata si kembar Jared dan Rahel, bahkan ekspresi wajah merekapun kompak. Dasar anak kembar.
"Umm... Maksud gua, maksud gua... Gua setuju sama kata-katanya Gabe tadi, gitu hehe," kata Matt dengan gelagapan.
Yang lainnya hanya diam sambil menatap Matt dengan tatapan sinis.
Velope memulai aksinya. Dengan santai dia mengambil satu lima puluh ribuan dari segepok duit tunai yang berada di tengah-tengah meja makan yang luas. Lalu Brian, Firrina, Viona, Rahel, Dennise, dan yang paling terakhir Vero mengikuti. Matt berusaha keras menyembunyikan keberatannya. Dia memang betul-betul pelit--ini bisa jadi masalah nantinya.
"Permisi, La Fettucene-nya," kata salah seorang pelayan cowok yang memang kayak pelayan restoran banget. Dengan kaku dia meletakkan suatu makanan yang disebut dengan La Fettucene itu ke atas bagian meja di hadapan Matt, Velope, dan Cove.
Lalu satu per satu makananpun datang. Karena tidak ada apapun yang menarik saat makan-makan berlangsung, langsung aja deh di skip ke bagian menjelang akhir makan-makan. Ada suatu hal ekstra menarik yang terjadi pas saat ini.
"Ting tong!" Suara orang ngomong ting-tong itu adalah ringtone Matt, ada seseorang yang nelfon dia. Lantas Matt mengambil ponselnya dan melirik ke layar. Nomer ponsel yang muncul, bukan salah satu kontak Matt.
"Siapa nih? Gua nggak pernah liat nomer ini dah," gumam Matt. Untuk sesaat Matt ragu mau menjawab telepon itu atau tidak, tapi akhirnya dia jawab juga. "Hallo?"
"Hallo? Apa saya sedang bicara dengan Mirza, manager band The Co... The Comicses?" Tanya si penelpon. Suaranya kedengaran kayak bapak-bapak mapan.
Matt mengerutkan dahi. "Iya, ini siapa ya?"
"Oh, saya ownernya restoran Day N' Nite, kamu masih inget kan sama restoran saya itu?"
"Hah? Ownernya Day N' Nite?" Matt memekik.
Pekikannya itu membuat seseorang yang duduk berdekatan dengannya tercengang. Mendadak dirinya mengalami flashback. Ingatannya yang telah buta kini sudah tidak buta lagi. Dia ingat semuanya sekarang. Benar-benar semuanya hingga sedetail-detailnya. Dia terpaku, tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Sendok dan garpu yang dipegangnyapun jatuh dilepasnya.
"Iya, saya ownernya Day N' Nite. Jadi gini, saya udah mempertimbangkan secara matang soal kekurangan bayaran sama jam tampil kalian, nah keputusan terakhirnya saya bakal naikin bayaran kalian," kata si ownernya Day N' Nite. "Jam tampil kalian setengah jam lagi tapi nggak masalah kalo kalian telat, yang penting kalian udah latihan kan?"
"I, iya sih pak... Cuma maaf banget nih pak, band saya baru aja selesai tampil di restoran Applause. Terus mereka juga punya acara lain lagi, jadi kayaknya nggak bisa deh pak. Bapak ngasih taunya telat,"
"Kamu nggak bisa bujuk temen-temen kamu? Atau nggak gini aja deh, terserah kalian mau dateng jam berapa aja asal jangan diatas jam setengah sembilan, gimana?"
"Hmm... Gimana yah pak? Susah nih kayaknya, abis pada kecapekan gitu. Terus jalanan lagi macet-macetnya, jadi kayaknya mustahil deh pak. Maaf banget pak, coba aja bapak kasih taunya lebih cepet, mungkin kita terima pak."
"Yaudah kalo gitu, saya harap temen-temen kamu bisa berubah pikiran. Jangan lupa save nomer saya ya Za, kalo bukan hari ini mungkin kalian bisa nge-gig di Day N' Nite lain hari... Tapi saya nggak yakin bakalan ada live music lagi,"
"Oooh iya iya iya pak, sekali lagi maaf ya pak The Comicses nolak tawaran bapak, makasih banyak udah nelfon saya,"
Gabe pasrah. Hancur sudah semua pengorbanannya sekarang. Matt sudah menolak tawaran gig di Day N' Nite yang merupakan hasil jerih payahnya. Walaupun dia tidak memberitahu yang lainnya, kecil kemungkinannya The Comicses bakal menerima tawaran itu. Yasudahlah, mungkin menyandang status mantan pacar Tuti tanpa mendapatkan keuntungan apapun tidak akan terlalu buruk. Setidaknya itulah yang berusaha dikatakan Gabe pada dirinya sendiri.
Meskipun masih dibayang-bayangi kegalauan, tetapi sebagian besar diri Gabe justru merasa lega. Dia malah nggak mau kalo pengorbanannya ketauan, soalnya nanti temen-temennya jadi kebingungan mau nerima tawaran tadi apa nggak... Itupun belom tentu terjadi. Makanya, daripada harus menerima kenyataan bahwa teman-temannya mengabaikan pengorbanan besarnya, lebih baik jika pengorbanannya itu tidak diketahui.
"E e eh, tunggu sebentar pak jangan ditutup dulu telfonnya," kata Matt. "Bapak tau nomer saya darimana? Terus kok bapak bisa tau nama saya, nama band saya, dan kalo saya pernah ke Day N' Nite? Seinget saya, saya nggak pernah ngasih tau nomer hp saya ke Amel deh... Tapi yang semua tadi itu Amel yang bilang ke bapak ya?"
"Bukan, bukan. Saya tau nomer kamu dan lain-lainnya itu dari salah satu anggota band kamu, jadi dia bujuk saya langsung buat naikin bayaran band kamu dan ngerubah jam tampil band kamu. Saya lupa namanya siapa... oh iya, dia pacarnya Tuti juga. Jadi saya ngerubah pikiran saya gara-gara anggota band kamu itu pacarnya Tuti, pelayan kepercayaan saya."
Matt melotot. Yang didengarnya barusan sama saja seperti "hidupmu bakal berakhir dalam beberapa detik lagi". "Hah demi apa? Bapak salah orang kali, masa sih salah satu anggota band saya bela-belain ngebujuk langsung bapak gitu? Udah gitu jadian sama Tuti lagi! Ah nggak mungkin! Bapak pasti salah orang!"
"Loh dia nggak ngasih tau kamu? Saya kira dia udah ngasih tau kamu sebelum ngebujuk saya. Nggak, saya nggak mungkin salah. Saya inget banget mukanya, yang saya lupa cuma namanya, kalo kamu nggak percaya, ya kamu tanya aja anggota band kamu satu-satu."
"Iya deh pak, maaf sekali lagi band saya udah nolak tawaran bapak. Makasih banyak atas tawarannya ya pak,"
"Iya iya sama-sama."
Telfon terputus. Saatnya pengorbanan Gabe terbongkar.
Matt menatap anggota The Comicses satu per satu, mencoba memperkirakan siapa sih yang dimaksud sama si bossnya Day N' Nite tadi? Siapapun itu, dia benar-benar nekat. "Eh eh woi diem bentar dah," katanya. Yang memperhatikan pembicaraannya tadi cuma Gabe doang, sisanya makan dan ngobrol.
Butuh usaha lebih keras lagi buat bikin semuanya diam. Ujung-ujungnya berhasil, kok. "Tadi ownernya Day N' Nite nelfon gua, terus dia nawarin kita gig disana soalnya dia udah naikin bayaran kita sama ngubah jam tampil kita, tapi gua tolak."
"Hah? Kenapa lu tolak, Matt? Kenapa nggak bilang-bilang kita dulu?" Tanya Jared.
"Ya gimana nggak gua tolak orang kita gignya hari ini juga tapi sebelum jam stengah sembilan, mana sempet?" Kata Matt sambil mengunyah spaghetti-nya.
"Aaaaapa? Hari ini juuuuuga?" Pekik Viona. "Mana keburu? Lagian kita kan juga baru aja selesai tampil tadi, masa nge-gig lagi? Maruk banget,"
"Eh tapi tunggu dulu deh, kok aneh sih? Dia tau nomernya Matt darimana coba? Terus tiba-tiba nelfon seenaknya nyuruh kita nge-gig hari ini juga, iiih siapa lo?" Kata Velope.
"Nah, Vel! Itu dia!" Seru Matt layaknya habis mendengar jawaban atas pertanyaan tersulit. "Dia bilang ada salah satu anggota The Comicses yang bujuk dia langsung, dan yang lebih gila lagi... Si orang itu tuh pacarnya Tuti! Tuti, Vel, Tuti!"
Brian berdiri dari duduknya. "DEMI APA? Nggak, nggak, nggak mungkin. Pasti dia salah, itu pasti!" Pekiknya. "Nggak mungkin ada diantara The Comicses yang sudi jadian sama Tuti! Boro-boro jadian, ngeliat aja udah ogah kali!"
Brody menepuk pundak Brian saat cewek itu sudah duduk lagi. "Sabar Ian, sabar... Nafas Ian, nafas... Banyak orang disini Ian, ini tempat umum."
"Iya gue tau Brod tapi gue nggak bisa sabar! Udah dendam kesumat nih gue sama tuh pelayan satu! Anjing!" Gerutu Brian sambil memukul meja dengan kepalan tangannya.
Jared mengangkat kedua tangannya. "Satu hal yang pasti adalah... Orang itu bukan gua," katanya. "Sorry ye, seumur hidup gua nggak akan pernah mempertaruhkan harga diri gua demi orang laen meskipun orang laen itu deket sama gua."
"Iya lo nggak usah bilangpun kita semua juga udah tau kali kalo bukan lu orangnya," celetuk Firrina. "Kalo lo orangnya, mungkin besok kiamat."
Leif menggaruk-garuk kepalanya. "Ini lagi pada ngomongin apa sih? Gue sama sekali nggak ngerti..."
Butuh 15 menit lebih untuk menjelaskan semuanya pada Leif dan juga membuatnya mengerti sepenuhnya.
"Rupanya ada yang jatuh cinta nih sama Day N' Nite sampe rela jadian sama orang kayak gitu," kata Matt. "Masalahnya siapa orangnya?"
"Whoever he is, his action is unacceptable," kata Pierre.
Tiba-tiba Gabe berdiri dari duduknya. Tidak ada yang menyadari bahwa hanya dirinya seorang yang sama sekali tidak berkomentar sedikitpun soal perkara ini. Hal itu tak lain dan tak bukan adalah karena dialah orang yang dimaksud.
"Gabe? Kenapa lo?" Tanya Vero.
"Erh... Sebenernya yang lu semua omongin itu... Gua..." Kata Gabe dengan suara yang dipelankan. Ada yang dengar tidak, ya?
Rupanya tidak.
"Apa? Lu ngomong tadi?" Tanya Cove yang berada tak jauh dari Gabe.
"Iya, orang yang kalian maksud itu gua..." Gabe mengulangi perkataannya. Tetapi hasilnya sama saja, tidak ada yang dengar.
Dennise mengerutkan dahi. "Apa lu bilang tadi? Kecil banget suara lu,"
Gabe mengepalkan kedua tangannya. Bersiap untuk meledak. "Yang kalian maksud itu gua!" Serunya lantang. Kali ini hanya orang-orang tuli saja yang tidak mendengarnya. "Orang yang ngebujuk bossnya Day N' Nite sama yang jadian sama Tuti itu... Gua! Pratama Dimitri alias Gabe! Guuua!"
Yang lainnya melongo sambil menatap Gabe sementara cowok itu duduk kembali.
"What what what what what did you saaay?" Tanya Viona dengan nada lagu What Did You Say-nya Jason Derulo.
"Gabe... Kenapa?" Tanya Firrina.
Gabe mendesah. Akhirnya terbongkar sudah soal pengorbanannya. Sepertinya pepatah "sepandai-pandainya tupai melompat tetap akan jatuh juga" itu memang benar. "Well, soalnya pas gua disana... Gua denger omongannya Velope, kayaknya keadaan udah mendesak banget. Jadinya yah... Begini. Lagian gua juga udah naksir banget sama Day N' Nite."
Semuanya langsung menatap Velope dengan tatapan tajam. Velope serasa bagai penjahat ulung.
"O, omongan gue yang mana sih? Lo jangan sembarangan dong, Gabe!" Pekik Velope panik.
"Ck, tenang aja kenapa sih," tukas Gabe. "Omongan lu yang pas lu telfonan sama Vero, yang katanya fans-fans udah pada ngamuk itu,"
Velope bertatapan dengan Vero. "Oooh yang itu! Ya ya ya inget gue." Kata mereka berdua serempak.
"Wait a minute, wait a minute," kata Pierre. "Gabe's girlfriend is a waiter?" Tanyanya dengan nada tidak percaya.
"No, you mean my ex-girlfriend," sergah Gabe.
"Astaga astaga Gabe! Lo gila apa? Lo... Lo sadar nggak sih betapa buruknya si Tuti itu? Hah?" Desis Brian ketus. Yah secara dia yang menaruh dendam paling besar terhadap pelayan rese itu.
Gabe menoleh ke arah Brian dengan tampang kuyu. "Iya gua tau Ian, tapi mau gimana lagi? Cuma itu satu-satunya cara..."
"Lu kenapa nggak bilang ke kita kalo lu lagi berjuang buat Day N' Nite?" Potong Cove secepat kilat.
"Masalahnya di situ, Lalat. Gua lupa," kata Gabe sambil memelas. "Pas gua inget, eh kelompok tiga udah nemuin Applause. Kalo gua tetep bilang, kan belom pasti perjuangan gua berhasil, kalo Day N' Nite gagal terus Applause dibatalin... Rugi besar dong kita."
Diam sejenak. Semuanya sibuk memikirkan soal pengorbanan Gabe yang mengejutkan ini. Terutama Leif--mendengarnya saja dia sudah pusing. Otaknya tidak mampu menerima begitu banyak kata-kata yang rumit. Lama-lama dia bisa gila karena memikirkan maksudnya.
Jared beranjak dari duduknya, kemudian dia menarik lengan Gabe. Gabe tersentak kaget dan menepis lengannya dari genggaman Jared yang kuat. Yang lainnya juga ikut beranjak.
"Ayo cabut dari sini sekarang juga!" Kata Jared.
"Hah? Kemane?" Pekik Gabe.
"Kemana? Ya ke Day N' Nite-lah! Kemana lagi? Ayo!" Seru Jared sambil beranjak pergi.
***
"Jared! Jared! Aduuuh apa-apaan sih lo? Seenaknya aja deh!" Gerutu Rahel sambil berlari mengejar kakak kembarnya itu.
Dennise melirik jam tangannya. "Waduh udah jam segini, mana keburu Jare?"
"Ck, udahlaaah selow aje. Telat juga nggak masalah, emangnya sekolahan apa harus right on time?" Kata Jared tanpa melihat ke arah teman-temannya.
Cove berlari hingga dirinya tepat berada disebelah Jared. "Lu yakin tetep mau nge-gig di Day N' Nite malem ini juga? Elu nggak capek apa? Lagian kalo kita telat banget emang masih bisa?"
"Capek sih iya, secara gua gebuk-gebuk drum, tapi kan kasian Gabe tuh sodara perempuan lu," celetuk Jared sambil menunjuk batang hidung Cove. "Dia udah berkorban gitu buat kita, sampe merelakan diri jadi pacarnya pelayan restoran yang katanya buruk banget itu. Gila, salut gua sama dia. Gua sih nggak akan bisa berkorban sejauh itu buat orang laen... Harga diri man, harga diri!"
"Iya... Maka itu," kata Cove. "Eh eh eh tunggu bentar dah, ini kan bukan jalan ke tempat kita parkir tadi... Ya Tuhan Jared, ini jalan ke pintu keluar!"
"Yup, I've got a brilliant plan. We can't count on traffic, so... Matt!" Seru Jared sambil melemparkan kunci mobil ke arah Matt, kunci itu dengan sukses tertangkap. "Lu nyetir pake mobil yang gua pake dari sini ke Plaza Indonesia, gua sama yang lain pake kendaraan umum. Kalo perlu kita semua jalan kaki!"
Velope berdiri tepat disebelah kuping kiri Jared. "Apa? Jalan kaki? Dari sini ke Plaza Indonesia?" Pekiknya keras-keras. "Gila lo, Jare! Otak lo perlu diperiksa tau nggak! Lo kira Plaza Indonesia dari sini tinggal nyebrang?"
"Nggak usah teriak-teriak gitu Vel, emang rencananya Jared nggak bakal berhasil," kata Pierre.
Jared berhenti berjalan. Yang dibelakangnya jadi nabrak satu dengan yang lainnya. Jared melipat kedua tangannya, menatap Pierre dengan sinisnya. "Maksud omongan lo apa tuh barusan hah?"
"Lho, lo lupa ya?" Pierre memegang dahinya sejenak. "Jared, kita kan kesini pake dua mobil, kalo Matt ngurusin mobil yang lu pake, terus mobil satunya lagi siapa yang ngurus?"
Diam. Saatnya jangkrik yang bicara.
"Astaga... Demi Tuhan, cewek-cewek ada yang bisa nyetir nggak?" Tanya Jared sambil menoleh ke arah para cewek. "Siapa kek gitu masa nggak ada sih?"
Firrina mengangkat tangannya. "Gue. Tapi masih belom lancar-lancar banget sih... Nggak apa-apa nih?"
"Udah nggak apa-apa! Matt, kasih kunci mobilnya ke Firrina!" Seru Jared layaknya seorang pelatih baseball. "Kalian berdua ngurusin mobil, kita berangkat dulu ke Plaza Indonesia!"
"Iya... Hati-hati ya, semoga berhasil." Kata Firrina dengan nada khawatir.
***
Perasaan Gabe bercampur aduk seperti adonan kue mentah yang di mixer. Senang, kaget, lega, bingung, bercampur menjadi satu. Ternyata dugaan buruknya selama ini tidak terjadi, justru sebaliknya. Teman-temannya terutama Jared bersemangat untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanannya. Tapi, meski begitu... Tetap saja ada hambatannya.
"Eh bentar dulu dong, gue capek nih," kata Dennise. "Gue kan nggak bisa lari lama-lama."
"Ya elah elu baru keluar dari Sency aja udah ngos-ngosan gitu," celetuk Cove. "Kayak gua dong masih segar bugar, perjalanan kita kan masih panjang."
Velope geleng-geleng kepala. "Itu artinya lo mesti sering-sering olahraga biar... Holy crap! What's that?!" Pekiknya keras-keras ketika dia tidak sengaja melihat jalanan yang super-duper-macet.
"Wah, wah... Kalo jalanannya kayak begini sih bisa-bisa besok pagi baru nyampe sana," kata Brody.
"Udahlah, kita pulang aja," kata Gabe tiba-tiba dengan nada sedih dan kecewa. "Gua hargain banget kok usaha lu-lu pada, tapi kalo keadaannya nggak memungkinkan banget kayak gini... Ya mau diapain lagi?"
"Jangan gitu ah Gabe, kita pikirin gimana caranya biar bisa tetep nge-gig disana, ya!" Seru Vero sambil menepuk sebelah pundak Gabe dengan senyuman manis di wajahnya. "Kan lo udah berkorban buat kita, sekarang giliran kita yang berkorban buat lo."
Gabe tersenyum. Kayaknya dia hampir nangis. "Thanks, guys."
"Eh tapi tapi, Matt sama Firrina gimana?" Tanya Viona. "Kalo jalanan macet begini sih, sia-sia aja mereka ke Plaza Indonesia juga!"
"Udah udah tenang aje, mereka berdua kan pinter, pasti mereka ada cara sendiri buat ngatasin masalah mobil-mobil itu," kata Cove.
"Ya... Sekarang kita sendiri gimana? Sampe sana kita mesti ke restoran Day N' Nite udah gitu nge-gig lagi, wadaooow nggak kebayang dah capeknya," keluh Pierre.
"Eh... Di sekitar sini ada rumah sakit gitu nggak?" Tanya Jared.
Perhatian untuk para pembaca, jika ternyata di sekitar Sency sama sekali tidak ada rumah sakit, maka anggap saja ada dulu untuk sementara waktu khusus untuk membaca bagian cerita ini. Soalnya si pengarang udah stuck dan dia nggak tau ada rumah sakit di sekitar Sency apa nggak. Harap maklum ya, dia cuma manusia biasa.
"Ada kok, emang kenapa Jare? Lu baru sadar kalo lu ternyata sakit jiwa dan harus dirawat di rumah sakit dan bukannya keliaran kayak gini?" Ejek Rahel.
"Bukan!" Gerutu Jared. "Gua ada ide... Ide yang sangat brillian dan fantastis... Muahahahahaha!"